<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665</id><updated>2011-04-22T14:08:22.911+09:00</updated><title type='text'>Cerpen Tuteh</title><subtitle type='html'>He he he he!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>49</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-113488998696328886</id><published>2005-12-18T16:11:00.000+09:00</published><updated>2008-02-10T21:46:18.733+09:00</updated><title type='text'>Home Alone</title><content type='html'>"Jangan lupa besok datang ke rumah ya, Ju. Aku tunggu lho. Bye bye." Siska meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya. Cewek berkulit putih dengan rambut sebahu ini baru saja ditelepon Juju, teman sekelasnya di SMU Negeri 1 Ende. Mereka sama-sama tergolong murid pintar dengan kemampuan berpikir seperti kerja pentium 4 pada perangkat komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siskaris Damian.." panggil mama. Siska menoleh ke arah pintu kamar mama. Hanya mama yang sering memanggilnya begitu, nama lengkap!&lt;br /&gt;"Igh mama cantik banget..." puji Siska. Mama memakai gaun biru tua dengan payet berwarna senada di bagian kerah.&lt;br /&gt;"Mama dan papa ke gereja dulu ya. Kamu hati-hati di rumah." ujar mama. Malam ini giliran mama dan papa ke gereja, mengikuti misa kebaktian Natal. Sedangkan Siska memilih besok pagi saja. Tak lama papa pun muncul di belakang mama.. orang tua Siska pun berangkat ke gereja Kathedral.. gereja termegah di kota kecil Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menutup pintu, Siska menyeduh secangkir teh panas dan mengambil stoples kue keju yang dibikin mama beberapa hari yang lalu. Ah, senangnya.. besok hari Natal dan malam ini Siska asik menikmati kue yang rasanya enak banget. Bengong sendiri di depan televisi menonton sajian acara tivi yang begitu-begitu saja, Siska pun beranjak ke kamar dan membongkar koleksi dvd-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Titanic.. duh bosan! Twister keren sih tapi aku sudah menontonnya berkali-kali.. Hmm yang ini.. Duplex, War Of The World, Princess Diary, Lavender.. hah Meteor Garden? Gini hari masih juga aku simpan film-film ini." omel Siska saat membongkar film koleksinya. Kemudian mata Siska menumbuk cover dvd yang bertulis HOME ALONE 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aha, ini aja. Meskipun film lama, tapi masih bagusan ini daripada The Greench itu. Nonton ini aja ah, kan lucu.. lumayan ngehibur sambil nungguin mama dan papa pulang dari gereja." ujar Siska. Ia pun kembali ke ruang tivi dan menghidupkan pemutar dvd dan memencet tombol AV pada remote kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian Siska pun terpingkal-pingkal menonton set demi set filim Home Alone 3. Tak terasa, kue keju telah separuh stoples amblas ke perutnya. Teh pun telah ludes dari cangkirnya. Tak sampai 3 jam, filim pun berakhir dengan ditangkapnya para penjahat. Siska mengelap air mata yang keluar gara-gara kebanyakan ketawa. Ia pun melirik jam di dinding.. sudah  hampir 3 jam papa dan mama ke gereja, tapi belum pulang juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin papa dan mama masih ngobrol dengan Romo Frans atau Pater Dami." begitu kata Siska. Tak lama cewek manis ini pun tertidur di sofa dengan dimana televisi masih menyala.. terdengar kidung Natal yang indah dari salah satu stasiun televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya Siska terbangun.. melihat jam dinding berbentuk Tweety di depannya, Siska tahu ia berada di kamar. Keningnya berkerut. Siapa yang menggendong dan memindahkannya ke kamar? Bukannya semalam ia tertidur di sofa ruang televisi? Siska menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia ingat sesuatu.. hari ini HARI NATAL!! Kembali Siska melirik si Tweety di dinding.. sudah jam 12 siang??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ampun.. mampus! Aku gak ikut misa Natal!" keluh Siska kecewa dan gusar. Ia bergegas mandi dan keluar kamar. Suasana rumah nampak sepi, tak seperti biasanya bila hari Natal tiba. Siska memanggil mama dan papa, namun tak ada yang menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maa, paa.." digedornya pintu kamar papa dan mama. Namun tetap saja tak ada seorang pun yang menyahuti panggilannya. Siska beranjak ke dapur, hendak minum air. Saat hendak membuka pintu kulkas, Siska mendapati satu kertas kuning post-it yang ditempel disitu. Segera Siska melepaskannya dan membaca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'SISKARIS DAMIAN.. TADI PAGI PAPA DAN MAMA DITELEPON TANTE YUNI.. SUAMI TANTE YUNI MENINGGAL DUNIA SAYANG. PAPA DAN MAMA BERANGKAT KE BALI PAGI INI DENGAN NUSANTARA AIR.. BAIK BAIK YA DI RUMAH. Peluk Cium, mama.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"APA!!!!??? Aku ditinggal sendiri? Aduh, bijimana dong nih? Aku harus gimana dong?" keluh Siska bingung. Ia tak pernah merayakan Natal sendirian di rumah. Papa dan mama selalu ada.. selalu bersama orangtuanya. Sebagai anak tunggal, Siska memang manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gugup Siska mencari nomor telepon rumah tante Yuni di notel kecil dekat pesawat telepon.. 0274.. lalu ia memencet sederetan angka nomor telepon. Tapi sayang, teleponnya sedang dipakai, yang terdengar hanya nada pendek berulang-ulang. Kesal, Siska membanting gagang telepon. Ia marah, kesal, bingung, benci.. ini Natal dan papa juga mama meninggalkannya seorang diri di rumah. Tak terasa air matanya mengalir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pa, ma.. mungkin selama ini aku belum bisa mengikuti semua kehendak papa dan mama. Aku masih suka main ke rumah Juju saat pulang sekolah. Aku masih suka mengejek orang gila yang sering lewat di depan rumah.. aku memang jahat! Aku memang manja! Tapi plis pa, ma.. jangan tinggalin aku sendiri di rumah.. ini kan Natal.. aku harus kemana? Kakek dan nenek udah gak ada.. keluarga papa semuanya di Maumere.. adik mama satu-satunya di Jogja.. Aku gak mau sendirian.. Tuhan.. jangan marahin Siska dong..." Siska terus menangis di depan pesawat telepon.. Setiap kali ia me-redial nomor telepon tante Yuni, nada yang sama masih terdengar.. nada sibuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PAPA!!! MAMA!!! JANGAN TINGGALIN AKU SENDIRI DONG!! AKU IKUT KE JOGJA!!!!!!!!!!!" jerit Siska, melepaskan semua sesak di dada. Ia merasa sebagai orang yang paling sendiri di dunia.. ia terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siska?? Siska?? Kamu kenapa sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska merasa punggungnya diguncang seseorang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu gak pa pa kan, sayang?" .. Perlahan Siska membuka matanya yang terkatup dan basah.. TERNYATA SISKA HANYA BERMIMPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Papa! Mama!" Siska merangkul papa dan mamanya. Ia menghela napas pangjang dan lega. Papa dan mama memandangnya heran. Penasaran..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok nangis?" tanya papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi aku nonton filim home alone terus ketiduran.. terus mimpi.. mimpinya papa dan mama ninggalin Siska di hari Natal.. mimpinya ngeri lagi.. suami tante Yuni meninggal jadi papa dan mama harus ke Jogja.." ujar Siska sambil menyeka air mata. Dalam hati ia bersyukur, ini hanya mimpi. Mendengar penuturan Siska, papa dan mama tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siska, kalau mimpinya orang meninggal sih artinya justru bagus." kata mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tapi aku takut kan ma ditinggal sendiri. Di hari Natal, lagi!" balas Siska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan kamu gak sendiri, Sis.." kata papa sambil menatap Siska penuh sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud papa.. di rumah kita ada penunggunya gitu? Hiiii ngeriii kayak di filim filim dong?" Siska bergidik ngeri. Membayangkan ia sendirian dari tadi, menonton film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm kok larinya ke setan sih, Sis? Maksud papa, jangan pernah kamu merasa sendiri, karena Tuhan Yesus akan selalu menjaga kita.. keberadaannya lebih dekat dari urat nadi di leher kita, lho." ujar papa bijak. Siska terdiam, mencerna kalimat papa barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang benar. Siska sadari, ketakutannya sama sekali tidak beralasan. Mimpinya hanyalah bunga tidur.. yang kalau kata orang syaraf terbawa emosi saat kita menonton atau melakukan sesuatu sebelum tidur. Siska tersenyum dan kembali memeluk papa dan mama. Dalam hati ia berkata, "Yesus, kan kusebut namamu di setiap do'a.. kan kuingat namamu disetiap helaan nafas.. engkau sahabatku.. engkau penghiburku.. engkau pelindungku.. engkau lah penolongku.. Selamat Natal Yesus.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska melepaskan pelukannya dari papa dan mama dan berkata, "SELAMAT NATAL PA, SELAMAT NATAL, MA. Semoga tauladan Yesus akan selalu menjadi lilin penerang dalam perjalanan hidup kita.. jangan lupa, besok pagi bangunkan aku.. aku harus ke gereja.." ujar Siska.. diciumnya pipi papa dan mama sekilas dan masuk ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-113488998696328886?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/113488998696328886/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=113488998696328886' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113488998696328886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113488998696328886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/12/home-alone.html' title='Home Alone'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-113401197624790823</id><published>2005-12-08T12:18:00.000+09:00</published><updated>2008-02-10T21:47:36.629+09:00</updated><title type='text'>Merinding Disko!!</title><content type='html'>Siang ini, sepulang sekolah, Marten mengajak Petrus main kerumahnya. Awalnya Petrus menolak. Maklum, sebagai anak asrama, Petrus mengemban pekerjaan yang tidak sedikit; seperti memasak, mencuci, menyapu dan menyeterika bajunya sendiri. Pokoknya hidup mandiri deh! Namun Marten terus mendesak sehingga akhirnya Petrus luluh juga. Cowok yang berasal dari sebuah desa di luar kota Ende ini pun mengikuti ajakan Marten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petrus dan Marten baru saja bersahabat. Wajar saja, mereka kan baru satu bulan duduk di kelas 1 SMU. Sebagai anak desa, wawasan Petrus terus bertambah ketika ia mengenal dan kemudian berteman akrab dengan Marten. Marten, yang lulusan sebuah SMP swasta di kota Ende, mengajarkan banyak hal baru pada Petrus.. Seperti naik motor, bermain komputer atau bermain aneka game yang ada di telepon genggam Marten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba mereka di rumah Marten, Petrus diajak makan siang; mereka makan siang berdua, karena orangtua Marten sedang ke luar kota. Melihat tampang Petrus yang LLB alias Lucu lucu blo'on, terbersit ide gila di benak Marten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Petrus, lebih baik malam ini kamu tidur di rumahku saja." tawar Marten. Petrus terkejut mendengarnya. Mana mungkin bapak kepala asrama yang terkenal kejam bin laden itu mengijinkan?&lt;br /&gt;"Tidak mau."&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Bapak asrama pasti tidak mengijinkan."&lt;br /&gt;"Alah, kamu tenang saja.. nanti setelah makan siang, aku antar kamu kembali ke asrama sekaligus minta ijin pada kepala asrama! Gimana? Setuju kan?"&lt;br /&gt;Petrus menimbang-nimbang. Sesaat kemudian, Marten berkata, "Nanti malam kamu puas-puasin deh bermain komputerku!"&lt;br /&gt;Akhirnya Petrus pun setuju. Mereka melanjutkan makan siang, kemudian duduk mengaso di halaman belakang rumah Marten. Dibawah pohon mangga yang terletak di halaman belakang, terdapat bangku yang terbuat dari bambu; asik banget duduk disitu, apalagi saat siang begini dimana matahari menyengat dengan ganasnya! Menjelang sore, Marten mengantar Petrus kembali ke asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, bapak kepala asrama mengijinkan Petrus menginap di rumah Marten. Malam ini, tepat pukul 10; Petrus sedang asik memainkan Zuma di komputer milik Marten. Sedangkan Marten asik tiduran di karpet sembari mendengarkan siaran radio Gomezone FM, radio terfungky di kota Ende. Terdengar suara si penyiar; Milano, seru membacakan sms request dari para pendengar. Salah satu sms itu dikirimkan oleh Marten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jarum jam menunjuk pukul 11, Marten melirik Petrus sambil menyeringai.&lt;br /&gt;"Petrus, aku ngantuk nih. Hayo tidur!" ajak Marten.&lt;br /&gt;"Kamu tidur duluan saja. Tanggung nih, udah sampe level empat!" balas Petrus cuek, matanya tak lepas dari layar monitor.&lt;br /&gt;"Pet.. Hoi Petruss!! Sebenarnya aku takut."&lt;br /&gt;"Takut kenapa?"&lt;br /&gt;"Dirumahku ini, setiap menjelang jam dua belas malam, sering terdengar suara-suara yang menakutkan."&lt;br /&gt;Mendengar omongan Marten, Petrus tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;"Hahahah.. ada-ada aja. Sudah tinggal di kota, masih saja takut!"&lt;br /&gt;"Ya sudah, yang penting aku sudah kasih tau lho!" kata Marten. Marten pun naik ke tempat tidur, tak lupa ia membawa telepon genggamnya yang bermerk Nokia 6600 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat tidur, Marten pura-pura tertidur, namun sesekali matanya melirik jam yang tergantung di dinding, tepat diatas kepala Petrus. Senyum Marten tambah lebar begitu jarum jam menunjuk pukul 11 lebih 55 menit.&lt;br /&gt;Marten membalikkan badan, menggenggam telepon genggamnya dengan hati-hati dan mulai memencet tombolnya. Tak lama terdengar suara yang sangat menakutkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"MARTTEEENNNNN... suara.. kunn.. kun..." Petrus tercekat; ia berdiri dan berlari ke arah ranjang kemudian memeluk Marten dari belakang.&lt;br /&gt;"Apaan sih Petrus!?" omel Marten pura-pura. Marten kembali memencet tombol play dan suara kuntilanak pun kembali terdengar.&lt;br /&gt;"MARTEEEEENNNNN.. Hiiiii ngeriiii saya tobat tidur di rumahmuuuu.." ujar Petrus semakin mempererat pelukannya. Marten merasakan belakang lututnya bergetar... tak tahan juga berpanas ria dipeluk Petrus, akhirnya meledak lah tawa Marten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haahahaha."&lt;br /&gt;"Marten!! Jangan ketawa!! Nanti kuntilanak dengar!" ujar Petrus. Marten bangkit dari ranjang dan ia melihat Petrus yang memeluk guling dengan lutut gemetar.&lt;br /&gt;"Hahahaha.. keta tipuuuuuuuu.. itu kan suara ringtone hape!! Dasar Petrus penakut! Tadi bilang tidak takut.. dasarr!!"&lt;br /&gt;Mendengar omongan Marten, Petrus melempari bantal ke arah sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"DASAR!! GARA-GARA KAMU SAYA JADI MERINDING DISKO deh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 nov 2005&lt;br /&gt;(buat Rouf, thanks atas title blognya, Merinding Disko.. jadi saya bisa bikin cerita ini deh heheeh).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-113401197624790823?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/113401197624790823/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=113401197624790823' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113401197624790823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113401197624790823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/12/merinding-disko.html' title='Merinding Disko!!'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-113322564639831971</id><published>2005-11-29T09:51:00.000+09:00</published><updated>2008-02-10T21:48:55.250+09:00</updated><title type='text'>Cinta Obin</title><content type='html'>Namanya Obin. Cowok yang tampangnya jauh dari kesan cakep dengan kacamata setebal pantat botol itu bersekolah di sebuah SMU swasta di kota Ende. Selain tampang yang jauh banget nget dari nilai 8, Obin termasuk dalam kategori, bukan cowok cool, bukan cowok model, bukan cowok seksi apalagi cowok atletis. Cowok dengan rambut kriwil ini justu akan gugup setengah mati bila berhadapan dengan cewek, apalagi cewek yang disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bukan rahasia lagi kalau Obin naksir teman SMPnya yang bernama Bulan. Bukan pula suatu kebetulan bila sekarang mereka berdua duduk dikelas yang sama; yaitu di kelas 10/1 SMU mereka. Saat lulus SMP, Obin mendengar Bulan mendaftarkan diri di SMU swasta tersebut, makanya dengan riang gembira meskipun melewati perjuangan yang keras menentang kehendak orangtua, Obin pun bersekolah di SMU yang sama dengan bulan. Seharusnya Obin bersekolah di Sekolah Kelautan, seperti kehendak orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obin mempunyai seorang sahabat bernama Jeki; yang pembawaannya sangat jauh berbeda dari Obin. Jeki itu cool banget dengan wajah ganteng berhidung tinggi. Belum lagi hobbynya ber-taekwondo.. benar-benar cowok idola deh. Makanya jangan heran kalau Jeki sering menerima surat kaleng syarat muatan arus listrik cinta dari para pemuja rahasianya. Namun Jeki, bukanlah cowok yang suka memanfaatkan kesempatan. Dengan halus ia menutup diri dari serangan surat kaleng, sms, telepon ataupun coklat gratis. Jeki hanya tidak ingin ada yang kecewa karena ia tidak bisa mencintai cewek semudah membalik telapak tangan. Sebenarnya ada satu cewek yang disukai Jeki, cewek itu adalah Bulan!! Tetapi, demi menjaga perasaan Obin, Jeki tidak pernah jujur tentang perasannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan lancar hingga suatu hari Bulan menghampiri meja Obin dan Jeki.&lt;br /&gt;"Jek, saya ada perlu sama kamu. Nanti istirahat pertama saya tunggu di gedung tempat kamu latihan taekwondo." ujar Bulan pada Jeki, tanpa menoleh sebelah mata pun pada Obin. Obin yang dasarnya suka gugup, tidak bisa berbuat banyak. Ia cuma bisa menatap keindahan Bulan.. matanya, hidungnya, pipinya yang memerah.. senyumnya yang memikat... ah, lidah Obin kelu! Bahkan untuk bilang, "Eh Bulan.." ia tidak sanggup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bulan berlalu, baru lah Obin berani buka mulut.&lt;br /&gt;"Jek, sayah.. sayah.." Obin terbata-bata.&lt;br /&gt;"Ya kamu kenapa, Bin?" tanya Jeki yang tidak heran lagi melihat tingkah Obin.&lt;br /&gt;"Sayah cemburuh lhoooo." Obin melunasi kalimatnya.&lt;br /&gt;"Hahahaha. Cemburu kenapa?"&lt;br /&gt;"Kalian kan.. mauh ketemuan.." Obin menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;"Obin, apa pun yang kami bicarakan nanti, pasti saya bocorin ke kamu. Tenang saja man!" hibur Jeki. Sebenarnya Jeki sendiri bingung, apa yang harus ia lakukan. Kalau ternyata Bulan menyukai dirinya, apa yang harus ia katakan pada Obin? Kalau ternyata Bulan tidak membicarakan masalah hati, maka ia tidak akan terlilit dillema antara; Obin, Bulan dan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.45&lt;br /&gt;Obin menghindari ke lapangan basket sedangkan Jeki pergi menemui Bulan di gedung serba guna tempat ia berlatih taekwondo. Gedung serbaguna sering dipakai untuk latihan paduan suara, menari, taekwondo bahkan arisan para guru. Di dalam gedung, Bulan sudah menanti kedatangan Jeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Jek, maaf merepotkanmu." ujar Bulan. Jeki melemparkan senyum maut seorang perayu sandiwara cinta.&lt;br /&gt;"Oh no problem kok, Lan. Bilang saja apa yang kamu inginkan, dengan senang hati saya akan membantu.."&lt;br /&gt;"Ini tentang.."&lt;br /&gt;"Tentang saya kan? Hahahaha.. maaf, narsis nih."&lt;br /&gt;"Ini tentang.."&lt;br /&gt;"Eh Bulan, nanti malam kamu ada acara gak? Kita ke kafe yuk? Ngopi-ngopi gitu deh."&lt;br /&gt;"Ini tentang.."&lt;br /&gt;"Bulan.."&lt;br /&gt;"Jeki.."&lt;br /&gt;"Bulan.. kamu.. kamu.."&lt;br /&gt;"Iya Jek, aku.. aku.."&lt;br /&gt;"Iya? Kamu kenapa Bulan?"&lt;br /&gt;"Aku suka.."&lt;br /&gt;"Iya?? Teruskan, Bulan??"&lt;br /&gt;"Aku suka............OBIN!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-GEDUBRAKZ-!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu setelah kejadian di gedung serbaguna; dimana dengan sangat terpaksa Jeki harus menelan pil kekecewaan, Obin dan Bulan nampak asik berdua di perpustakaan kota yang terletak di jalan Diponegoro kota Ende. Suasana sore itu cukup cerah. Obin memakai celana jengki dan kemeja kotak-kotak merah yang sangat norak. Sedangkan Bulan memakai rok jins dan blus putih yang sangat serasi di tubuhnya. Hari Sabtu ini mereka keluar berdua untuk ke-2 kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Obinnn.. coba denger deh.. para netters merasa sangat terganggu akan kehadiran hacker ini.. Hacker tuh apaan sin, Bin?" tanya Bulan. Ia mengangkat wajah dari buku panduan Internet yang dibacanya barusan. Di depannya Obin menarik napas satu-satu dengan peluh membasahi kening..&lt;br /&gt;"Hacker itu orang yang suka membongkar email sampai website orang lain di internet." jawab Obin lancar.&lt;br /&gt;"Bin, habis dari sini kita ke MM kafe yuk?" ajak Bulan. Obin mulai menampakkan gejala rabies stadium empat!!&lt;br /&gt;"Eee.. eee... ke sanah ngapain?" tanya Obin bego. Bulan tersenyum simpul.&lt;br /&gt;"Bantuin yang punya kafe.. nyuci piring.. masak.."&lt;br /&gt;"Hehehe.. Bulan.. bi.. bisah ajah.." balas Obin.&lt;br /&gt;Sore itu, setelah pulang dari perpustakaan kota, Obin dan Bulan berjalan kaki menuju kafe MM yang terletak di jalan Banteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Bulan sendiri pun menyukai Obin. Katanya Obin itu cowok unik yang tidak ada duanya. Selain tampang ngepas dan agak dipaksa, kacamata pantat botol dan rambut kriwil adalah OBIN BANGET. Pacaran sama Obin, Bulan tidak saja bebas dari rasa cemburu karena notabene ia tak punya saingan sama sekali, melainkan juga mendapatkan banyak pengetahuan.. soalnya Obin pinter sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bulan, pacaran dengan cowok ganteng itu cuma bikin makan hati! Dicemburi banyak cewek, digosipin, dicerca, ditindas, dijelek-jelekin sampai di telpon kemudian dimaki-maki! Pacaran sama cowok ganteng itu susah, karena cowok yang ngerasa ganteng kebanyakan suka memanfaatkan kegantengannya untuk membagi cinta. Bulan tahu kalau Jeki pun suka padanya, namun ia lebih memilih Obin. Karena.. baginya Obin adalah cowok yang tidak ada duanya di dunia ini, yang bisa membuatnya merasa NYAMAN dalam pacaran tanpa harus dikejar perasaan resah, gelisah, gundah, takut, cemburu sampai marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan alasan siang itu Bulan justru mengajak Jeki ketemuan, karena Bulan ingin Jeki yang ngasih tahu ke Obin kalau dia menyukai cowok berambut kriwil itu.. Bulan merasa, ia harus memulai, karena kalau ia terus menunggu, Obin gak akan pernah bisa memulai!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, jauh dari kafe MM, di rumah Jeki. Cowok ini sedang asik menerima telepon dari seorang pemuja rahasianya. Sudah nyaris 3 jam mereka ngobrol di telepon! Papa dan mama Jeki sampai keki dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah kisah cinta Obin ;)&lt;br /&gt;Akhirnya ia mendapatkan apa yang dikejarnya dari SMP.. yaitu cinta Bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nov 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-113322564639831971?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/113322564639831971/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=113322564639831971' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113322564639831971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113322564639831971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/11/cinta-obin.html' title='Cinta Obin'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-113273882477021724</id><published>2005-11-23T18:27:00.000+09:00</published><updated>2005-11-23T18:40:24.783+09:00</updated><title type='text'>Dibawah Jendela</title><content type='html'>Mara duduk di bawah jendela kamarnya. Gadis usia 17 tahun ini bengong menatap rinai hujan yang belum berhenti juga sejak siang tadi saat ia pulang sekolah. Rintik hujan berubah menjadi hujan deras, kemudian kembali melemah dan berubah menjadi rintik kembali. Seperti itu terus menerus selama hampir 2 jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat seperti ini, pikiran Mara langsung meloncati peristiwa demi peristiwa, dari saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Saat dimana ia masih merenda kasih bersama Ario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di kelas 1 SMU, Mara sudah tahu kalau Ario menyukainya. Hal tersebut ditunjukkan Ario dengan perhatian-perhatian kecil cowok ganteng itu. Mulai dari pertanyaan "Pulangnya sama siapa, Ra?" atau "Nanti malam aku telpon ke rumah boleh ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mara dan Ario memang sekelas, dan hal tersebut seakan menjadi gerbang yang memberikan kesempatan pada Ario untuk lebih mendekatkan diri pada Mara. Walhasil, setelah 6 bulan mereka sekelas, Ario pun berani menyatakan perasaan sukanya pada Mara. Mara yang memang menyukai Ario pun menerima uluran cinta yang menanti sambutan cintanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik ke kelas 2, Mara dan Ario tidak sekelas dikarenakan mereka memilih jurusan yang berbeda. Mara memilih IPS sedangkan Ario memilih IPA. Namun cinta mereka kian lengket. Tiada hari tanpa pulang bareng, ke perpustakaan bareng, nyari kaset favorit bareng atau sekedar kongkow di kafe.. mereka menikmati indahnya jalinan cinta yang kian bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mara merayakan ulangtahunnya yang ke-17 pada dua bulan yang lalu, ia mengundang semua teman-temannya, baik yagn sekelas atau yang tidak sekelas lagi. Acara malam itu cukup ramai meskipun di luar rumah, hujan turun dengan derasnya. Pukul 10 malam, pesta pun bubar. Sebelum pulang, Ario menarik Mara ke sudut teras dan melingkarkan tangannya ke leher cewek tercinta itu. Kaki mereka mulai basah terkena cipratan air hujan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa ini?" tanya Mara di malam itu.&lt;br /&gt;"Ini bukti cintaku padamu, Ra. Cinta yang tiada ujung.. cinta kita akan seperti kalung ini, gak ada ujungnya, selalu bertemu dan bersatu. I love you, Ra." bisik Ario di kuping Mara.&lt;br /&gt;"Love you too.." balas Mara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10 lebih 15 menit, Ario nekat pulang ke rumah mengendarai motornya. Sementara itu, Mara langsung ke kamar karena kak Ipeh si pembantu rumah tidak mengijinkan ia ikut membereskan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11 malam, Mara menerima telepon dari Fikri, adik si Ario. Dan semuanya menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mara mengusap air mata yang menetes di pipi. Dia masih duduk di bawah  jendela kamar, menatap bengong hujan yang turun di luar sana. Setiap kali hujan turun, sadar atau tidak, Mara akan duduk di bawah jendela, menatap kosong ke luar sana.. membiarkan pikirannya meloncati peristiwa demi peristiwa yang ia alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang lalu, di malam pesta ulang tahunnya yang ke-17, ia ditinggalkan Ario untuk selamanya. Ario yang tidak memakai helem dalam perjalanan pulang ke rumah mengendarai Kawasaki Ninjanya, mejadi kabur penglihatannya.. dan dalam keadaan ngebut, Ario tak bisa lagi menghindari bongkahan batu yang diletakkan nyaris di tengah jalan, yang tertutupi oleh genangan air hujan; entah oleh siapa.. tujuan batu tersebut diletakkan disitu adalah agar para pengendara tidak menambah kecepatan ketika melewati genangan air.. namun sayang, yang terjadi justru sangat fatal.. hilangnya nyawa seorang Ario...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mara kembali mengusap air mata. Ia mengelus kalung pemberian Ario.. lalu ia bergumam, "Rio, seandainya malam itu bukan malam nahasmu, maka cinta kita akan tetap seperti kalung ini, tiada ujung.. cinta kita adalah cinta yang tiada ujungnya. Tapi sekarang, ijinkan aku melepaskan kalung ini. Dia akan menjadi sejarah dalam hidupku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 November 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-113273882477021724?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/113273882477021724/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=113273882477021724' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113273882477021724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113273882477021724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/11/dibawah-jendela.html' title='Dibawah Jendela'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-113230864837251106</id><published>2005-11-18T19:09:00.000+09:00</published><updated>2005-11-18T19:10:48.383+09:00</updated><title type='text'>Aku Tahu, Kau Bukan Untukku</title><content type='html'>Aku tahu, kau bukan untukku. Mungkin sejak buyut Adam dan Hawa turun ke bumi, semua cerita tentang kita yang akan bergulir memang harus berakhir pada kehampaan. Ya, karena kau memang bukan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau, adalah pria yang kurasa paling tepat mengisi kekosongan jiwa. Memberi semangat baru yang membangkitkan rasa aneh, debar di dada.. cinta. Kau memang bukan pria pertama yang menyentuh jiwaku dengan cinta, namun jejak yang kau tinggalkan sesudahnya, tertanam kuat di jiwa.. aku mencintaimu! Aku mencintaimu lebih dari cinta yang pernah menyapa hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dirimu, aku melewati proses pembelajaran tentang diri, hidup dan cinta. Kau pula yang mengajarkanku untuk membedakan cinta, sayang dan suka. Tiga hal itu mempunyai perbedaan yang sangat tipis, yang terkadang manusia tak bisa memilah-milahkannya. Dan bersama dirimu, aku sadari aku merasakan cinta yang dahsyat. Cinta yang akhirnya membuatku menyadari bahwa aku tidak mencintai dia, aku cuma menyukainya.. ah.. aku tetap mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau, priaku. Tapi kau bukan untukku. Karena telah ada wanita lain yang lebih pantas dan berhak memilikimu seutuhnya. Lalu siapa aku? Mungkin diriku hanya seonggok sampah yang berharap dikais untuk dijadikan barang berguna. Naifkah diriku? Ah.. yang kutahu aku mencintaimu, mencintai pria yang bukan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau, tetaplah bersinar. Tetaplah menjadi matahariku. Yang senantiasa menyinari hari-hari sepi tanpamu. Kekosongan ini, adalah kekosongan tanpa dirimu, namun dengan sinarmu yang meskipun dari jauh, aku tetap terhangatkan oleh kasih sayang dan cintamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pada akhir dari perjalanan ini aku tahu, kau memang bukan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 nov 05&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-113230864837251106?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/113230864837251106/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=113230864837251106' title='1 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113230864837251106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/113230864837251106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/11/aku-tahu-kau-bukan-untukku.html' title='Aku Tahu, Kau Bukan Untukku'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-111375271985996630</id><published>2005-04-18T00:41:00.000+09:00</published><updated>2005-04-18T00:45:19.863+09:00</updated><title type='text'>Antara Tita, Ibu, Dendi dan Dori</title><content type='html'>"Assalamu'alaikum!! Tita pulang!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak Tita. Namun tak ada seorang pun yang menyahutinya. Loh? Ibu kemana? Dendi kemana? Biasanya sore-sore begini ibu dan Dendi yang adalah oma dan cucu, akan terlibat dalam obrolan seru .. maksutnya berantem gara-gara rebutan nonton tivi!! Namun kali ini Tita cukup dibuat heran. Kok sepi?? Kemana sih ibu dan Dendi??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu? Ibu!!???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban. Tita mengechek kamar ibu. Sepi. Di kamar Dendi pun sama sepinya. Di ruang tamu, kedua-nya juga nggak ada. Tita segera ke ruang sholat, ibu dan Dendi tetap nggak keliatan!! Wah,.. gawat nih. Kok rumah dibiarkan terbuka pintu-pintunya sedangkan orang-orang pada nggak keliatan?? Mengundang pencuri dong!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja makan Tita mendapati secangkir kopi yang masih panas. Artinya, sebelum dia pulang dari kantor jam 4 tadi, ibu masih di rumah ini. Lalu sekarang kemana?? Tita menjadi gelisah sendiri. Hal-hal yang tak enak memenuhi pikirannya. Ah,.. kemana sih ibu dan Dendi? Masa mereka tega ninggalin rumah tanpa mengunci semua pintu dan jendela? Masa mereka tega membiarkan Tita ngopi sendirian??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit .. sepuluh menit .. setengah jam. Ups, hampir jam 5! Tita belum juga berganti pakaian, masih menggunakan celana panjang dan blazer kerjanya. Kopi telah setengah diteguknya dan nggak ada tanda-tanda kemunculan ibu dan Dendi!! Kemana sih!?? Tita jadi uring-uringan sendiri. Menjadi tak enak dengan keadaan yang membuatnya merasa menjadi manusia sebatang kara. God!! I want them back now. Tapi mereka sebenarnya kemana??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibbbbuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jeritan Tita yang membahana menyebabkan terdengarnya langkah kaki dari belakang rumah .. siapa!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tita .. udah pulang sayang?? Kopinya udah diminum??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu muncul bareng Dendi. Tita cemberut. Huh ibu. Masa nggak tau sih kalau Tita paling sebel ditinggal sendiri? Apalagi kalau pulang kantor nggak ada yang menyambut?? Fiuh. Ibu dan Dendi nampak pucat .. ragu-ragu .. takut. Hei hei .. what's wrong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta .."&lt;br /&gt;"Duh ibu .. Dendi .. kok keliatan gugup gitu sih? Ada apa sebenarnya? Dan kenapa semua pintu dibiarkan terbuka sedangkan ibu dan Dendi nggak ada? Nah,.. ibu dan Dendi ini dari mana?? Masa iya sih tadi nggak denger Tita kasih salam??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Dendi semakin pucat. Keduanya saling lirik .. keduanya kemudian duduk. Dendi langsung meminum susuk coklat panasnya dan ibu mengelap keringat di keningnya. Tita mengeluarkan tisu dan membantu ibu mengelap keringat yang bercucuran disitu. Tita sayang ibu. Tita cinta ibu. Juga Dendi, keponakan yang telah menemani mereka sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekarang kelas 6 sd!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya Tita sedikit lebih pelan. Dia merasa sesuatu telah terjadi. Yang menyebabkan ibu dan Dendi nampak seperti orang bersalah yang gugup sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu juga Dendi dari kebun belakang Ta."&lt;br /&gt;"Ngapain?"&lt;br /&gt;"Ngg .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu melirik Dendi. Dendi terdiam dengan sejuta wajah penuh misteri. Ah!! Tita paling nggak suka dibuat penasaran seperti ini. Dihirupnya kopi yang tinggal setengah hingga tandas. Ditatapnya sang ibu tercinta lekat-lekat. Meskipun nampak keriput disana sini .. namun Tita masih dapat melihat sisa-sisa kecantikan masa muda ibunya. Masih banyak kasih sayang yang terpancar dari sang ibu .. Tita tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu .. ada apa? Bilang saja. Tita nggak marah kok."&lt;br /&gt;"Kamu belum masuk ke kamar mu??"&lt;br /&gt;"Belum. Malas banget dah kalau pas pulang kantor ibu dan Dendi nggak ada. Jadi nggak mood .. ke kamar sekalipun!!"&lt;br /&gt;"Kalau gitu kamu masuk ke kamarmu dulu sayang .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita mengerutkan kening. Loh .. ada apa sih!??? Tita menurut. Beranjak dari ruang makan menuju kamarnya. Nggak ada yang berubah. Ranjang berlapis seprei biru masih ditempatnya, seperangkat stereo disamping komputer masih nangkring dengan manisnya, Doraemon besar pun masih tersenyum gokil dari sudut kamar... Dan Dori .. ga ada!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"IBBBBUUUU!!! DENDDDIII!!! DORI KEMANA!!???" Tita lemes melihat aquarium mini-nya kosong melompong. Nggak ada ikan hias biru yang Tita sendiri nggak tau jenisnya apa .. yang selalu membuatnya melupakan stress dan masalah-masalah. Ikan biru yang dinamainya Dori gara-gara mirip banget sama Dori sahabat papa si Nemo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta .. Dori sudah ibu kubur di kebun belakang. Tadi ibu dan Dendi bersihin kamarmu .. nggak sengaja ibu menyenggol aquarium dan jatuh. Dendi terkejut dan nggak sengaja juga menginjak Dori .. langsung mati Ta. Maafin kami Ta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak wajah penyesalan disitu. Tita sedih. Dihampirinya aquarium mini berbahan 'mica' yang memang nggak bakal pecah meskipun terpelanting ke lantai .. namun isinya kosong. Yang ada hanya kehampaan. Tita keluar kamar dengan mata berkaca-kaca. Segera dia menuju kebun belakang. Di sana ada gundukan kecil banget .. Dori ada disitu .. Tita menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Dendi saling pandang dengan wajah menyesal. Tita berlutut di tanah dan mengelus gundukan tanah kecil tersebut. Dalam hati Tita berkata 'selamat jalan Dori, mungkin kamu nggak bisa menghiburku lagi, tapi aku akan selalu mengingatmu...'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, maafin kami yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita berdiri, membalikkan badannya dan trenyuh melihat mata ibunya yang berkaca-kaca. Dendi menatapnya dengan wajah ketakutan .. oh ibu,.. Dori bukan apa-apa dibanding ibu. Ibu lah yang terbaik bagi Tita. Bisik batinnya lagi. Tita mendekati ibu dan memeluk ibunya hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, Tita memang cinta Dori .. tapi cinta Tita pada ibu dan Dendi melebihi segalanya. Tita sayang ibu dan Dendi .. jangan sedih gitu dong bu .. hehehe. Nah, sekarang ganti baju dan kita keluar makan!! Ayo lah bu .. Dendi!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu terkejut. Dipeluknya Tita kian erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, bila Tita kehilangan Dori .. itu bukan lah masalah besar meskipun Tita sangat mencintainya. Tapi bila Tita kehilangan ibu, nggak ada lagi yang membuat kopi .. dan memeluk Tita seperti ini. Bila Tita kehilangan Dendi, nggak ada yang akan menjadi tempat Tita mendongeng. Jadi... lupakan Dori dan sekarang kita cari dinner di luar .. oke??"&lt;br /&gt;"Hoooooorrree!!! Dendi mau kwetiau!!"&lt;br /&gt;"Apa pun boleh .. asal nggak boleh sesedih ini lagi .. janji??"&lt;br /&gt;"Janjiiiiiiiiiiiiiiii!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tuteh--&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-111375271985996630?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/111375271985996630/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=111375271985996630' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111375271985996630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111375271985996630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/04/antara-tita-ibu-dendi-dan-dori.html' title='Antara Tita, Ibu, Dendi dan Dori'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-111340815457575500</id><published>2005-04-14T01:00:00.000+09:00</published><updated>2005-04-14T01:02:34.580+09:00</updated><title type='text'>Friends</title><content type='html'>Blak..&lt;br /&gt;Bungkusan rokok dengan merek internasional terlempar ke meja. Susi menatap Juju. Juju membalas tatapan Susi.. Hei, what's wrong!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop it!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Susi mencekal pergelangan tangan Juju dan merampas paksa sebatang rokok yang sudah menyala. Juju memberontak. Namun Susi tak peduli, mematikan rokok dan menarik sahabatnya ini untuk duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Come on girl, it's just for fun!" kata Juju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Just for fun!? Gue tau elu sedang kacau. Tapi jangan begini dong say. Ngerokok hanya akan menambah beban elu!" balas Susi. Juju menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No. I love smoke.. it's make me feel better... Susi honey,.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lu gak boleh terus-terusan begini Ju. Mana Juju yang gue kenal dulu? Cewek mapala yang bikin semua pejantan gemeteran lututnya!?" kalimat Susi menikam ulu hati Juju. Benar, sekarang ini, dirinya ibarat helai daun yang pasrah tertiup angin. Berkumpul bersama onggokan sampah yang siap dibakar pun, ia rela. Susi membelai rambut Juju lembut. Dia tau, Juju terluka.. dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lebih menyakitkan dari patah tulang saat gue ditabrak fuso.. gue gak sanggup Sus." wajah Juju mendung seketika. Butiran bening mengalir di kedua pipinya yang tak ber-make up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua orang pernah terluka Ju. No body's perfect!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue tau itu.. seandainya elu yang berada di posisi gue saat ini, elu pasti akan melakukan hal yang sama.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maybe. Tapi gue tau, elu pun pasti akan datang dan melakukan hal yang sama, seperti yang gue lakukan sekarang." balas Susi cepat. Bahu Juju berguncang. Perih akibat luka batin yang ditorehkan Arman sangat menyayat... semakin dipikir, semakin basah luka itu karena darah yang terus mengalir. Susi meraih Juju kedalam pelukannya. Sahabatnya ini, sungguh beruntung... tapi juga sungguh sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka diwisuda, Juju langsung diterima bekerja pada sebuah bank pemerintah sedangkan Susi harus luntang lantung cari kerjaan. Toh akhirnya Susi harus puas dengan pekerjaannya sebagai guru playgroup. Sungguh diluar rencananya.. diluar garis pendidikan yang diperolehnya di perguruan tinggi. Sarjana Ekonomi Management, hanya bisa menjadi seorang guru playgroup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Juju tunangan sama Anwar, seorang pengusaha top yang adalah nasabah terpilih pada bank mereka, Susi dan Tio (mantan pacar Juju saat kuliah), datang bersama-sama. Memberi dukungan dan do'a. Pada saat yang sama, Susi tengah dijodohkan orangtuanya dengan Rafki, kerabatnya, seorang koki ternama sekaligus pemilik sebuah restoran terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life goes on as it is.&lt;br /&gt;Susi menikah. Yang diketahuinya, Rafki pria yang baik dan bertanggung jawab. Setelah Susi melahirkan Qaqaq, putra pertamanya bersama Rafki, Juju pun menyusulinya menikah sama Anwar. Semuanya lancar-lancar saja. Mereka tetap saling berhubungan. Sekedar tanya kabar via sms. Menjemput Susi di playgroup dan mengajaknya ke salon. Lunch berdua sambil mengenang masa sekolah. Makan malam bareng suami mereka. Menemani Susi mengantar Qaqaq ke dokter kalau Rafki sedang sibuk... Terkadang Susi dan Qaqaq diijinkan Rafki menemani Juju bila Arman harus ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arman yang selalu bepergian. Tak pernah sekali pun mengajak Juju dengan alasan-alasan yang kurang masuk akal. Namun Juju tak pernah ambil pusing. Kesibukan dia sebagai wanita karier pada bank pemerintahan membuatnya cukup pandai mengendalikan perasaan. Namun, pada usia satu tahun Qaqaq, Juju menelpon Susi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arman pengkhianat Sus.. gue harus cerai dari dia.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disini lah mereka sekarang. Ruang keluarga rumah Juju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ju, Allah itu baik. Dia mau menunjukkan ke elu kalau Arman itu gak baik. Sekarang.. bukan nanti. Karena kalau ditunjukkan nanti, saat kalian udah punya anak, elu akan tambah hancur Ju... bersyukurlah karena semua ini udah berakhir. Alasan-alasan Arman yang kurang tepat setiap kali hendak bepergian akhirnya gak elu dengar lagi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ju... sekarang ini bukan saatnya berkata 'kenapa ini harus terjadi?' .. namun saatnya elu berkata 'semua ini sudah berakhir, akhirnya' .. elu harus bisa bangkit Ju. Toh elu bukan ibu rumah tangga yang bergantung sepenuhnya pada Arman. Elu itu wanita karier yang tangguh! Elu denger gue kan say?? Meskipun hampir setiap hari gue bilang begini.. gue pengen elu BENER-BENER dengerin gue... lu denger kan???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nothing to loose&lt;br /&gt;Your love...&lt;br /&gt;[mltr, nothing to loose]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juju menarik tubuhnya dari pelukan Susi. Dipandanginya wajah Susi dalam-dalam. Sahabat... selalu ada saat engkau berada dalam susah dan senang... Juju mengangguk pasti. Diambilnya tissue dari dalam tas Susi dan membersihkan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, gitu dong... Ini baru namanya Juju sahabat gue. Senyum pliss.. hehehe. Jadi inget tukang foto pas kita diwisuda hahahaha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tergelak berdua. Juju menarik napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sus, thanks ya? Dua bulan terakhir setelah gue tau Arman selingkuh, rokok selalu jadi teman gue di kala menanti panggilan sidang dari pengadilan agama... Seminggu ini setelah kita resmi bercerai, gue semakin terpuruk Sus. Namun elu... dengan semua kalimat bijak itu, selalu datang nemanin gue... ternyata, rokok bukan sahabat sejati yah? Hihihihi..." Juju cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Juju cekikikan sendiri, Susi teringat akan cowok-cowok di masa kuliah mereka. Cowok-cowok yang sering dikerjai Juju. Kecuali Tio. Ouw, muncul satu ide menarik di benak Susi. Namun ide itu akan disimpannya hingga Juju benar-benar pulih dari kejatuhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sus, mas Rafki pa kabar? Tu pria baik... selamat ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabar mas Rafki dan Qaqaq baik-baik aja. Nanti kalau sudah dua tahun usianya, Qaqaq akan gue masukin ke playgroup. Abissss... pinter banget dia! Hmmm by the way.. elu ngasih selamat .. untuk apa?" Susi balas bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... buat pernikahan elu yang menurut gue sukses.. aman.. gue jadi iri heheh." goda Juju sambil mengedipkan mata. Susi tertawa renyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha.. oh.. kirain selamat karena Qaqaq udah mau punya adeq hahaha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha? Bener lu? Gue aja gagal.. elu malah dah mau dua?! SELAMAT!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya berpelukan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;As we go on, we remember&lt;br /&gt;All the time we had together&lt;br /&gt;[Vit C, Graduation]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tuteh--&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-111340815457575500?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/111340815457575500/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=111340815457575500' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111340815457575500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111340815457575500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/04/friends.html' title='Friends'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-111276947737331857</id><published>2005-04-06T15:24:00.000+09:00</published><updated>2005-04-06T15:37:57.386+09:00</updated><title type='text'>Cowok L-Man!!</title><content type='html'>&lt;em&gt;GEDUBRAKZ!!!!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara benturan yang cukup keras terdengar hingga semua user warnet terperangah. Tita meringis sambil memegangi lututnya. Gadis dengan rambut yang selalu dikepang dua ini langsung bertampang pelangi .. merah kuning ijo!! Mana lagi satu sosok yang baru memasuki warnet ikut-ikutan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta!! Elu ga pa pa??" tanya Firman menghampiri bos-nya ini. Si pemilik warnet yang adalah teman semasa kuliah-nya juga. Tita menggeleng.&lt;br /&gt;"Gue ga pa pa .. tapi kalau lutut terbentur meja bisa membuat gue lebih kurus, gue rela .." jawab Tita sambil bergumam. Firman melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma'af? Elu ga pa pa kan?" satu suara kemudian membuyarkan lamunan Tita akan ratu kencantikan sejagad berbody aduhai dan membuat Firman mengerti mengapa Tita yang seyogia-nya menuju komputer nomer 9 untuk menyerahkan hasil print,.. malah kebentur meja. Ada cowok L-Man sih di depan  pintu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engga, gue ga pa pa hehehe." Firman tersenyum simpul. Mulai deh Tita cengengesan nggak jelas gitu kalau liat cowok L-Man .. alias cowok legit, mempesona, atraktif dan natural gitu deh. Hihihi. Cowok itu ikut tersenyum. Baginya, bukan hal baru lagi bila ada cewek jadi salah tingkah bila berhadapan dengannya. Namun bila cewek itu yang 'berporsi besar' seperti yang ini .. ajaib!! Karena menurut pengalamannya sendiri, cewek-cewek dengan porsi besar biasanya rada cuek sama sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iya, gue Tita .." setelah mengucapkan itu, Tita menyadari betapa cerobohnya dia. Bah!! Bisa-bisa dibilang cewek agresif dong? Tita menggigit bibirnya sendiri .. salah satu dari '10 pantangan bila bertemu cowok cakep' telah dilanggarnya. Ouww My God! Firman meraih kertas dari tangan Tita, lalu dengan tertawa kecil menuju komputer nomor 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan si cowok sungguh di luar dugaan.&lt;br /&gt;"Gue Aji. Hmm, ada komputer yang kosong?" Tita belum menjawab .. matanya menatap kagum sosok Aji dengan tinggi 177 dan rahang kokoh dimana ada hidung mancung ikut nangkring di wajahnya. What!? 177?? My type!! Aji melambaikan tangannya di depan wajah Tita hingga gadis ini gelagapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya kamar kecil ada di belakang .. yuk gue tunjukin jalannya." dan Firman pun nggak dapat menahan tawanya. Dihampirinya Aji yang bengong nggak tau harus ngapain di depan Tita.&lt;br /&gt;"Ta, aduh gue punya bos kok culun gini sih? Yuk mas ke sana .. komputer sebelas kosong tuh." Aji mengedikkan bahu dan mengekori Firman, meninggalkan Tita yang masih terperangah .. waw .. punggungnya,.. turun lagi kebawah. Pikiran Tita mulai ngawur!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Firman!! Jangan menggoda terus dong ah!!" pipi Tita bersemu merah. Firman terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Melihat keadaan Tita, mau nggak mau Firman ikut prihatin .. takut teman sekaligus bos-nya ini frustasi gara-gara ada cowok L-Man yang begitu lamanya nge-net sampai Tita capek mondar-mandir agar bisa melirik 'Aji' dari samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untung gue cowok Ta. Coba kalau cewek, udah gue tanyain nomor handphone nya tauk!!" Firman memanas-manasi.&lt;br /&gt;"Provokator lu! Gue udah melanggar satu dari sekian aturan bila cewek ketemu cowok cakep .. jangan melanggar yang lainnya, bisa-bisa gue nggak bisa dapetin dia .." what?! Demi masyarakat dan sekitarnya!! Firman sampai harus keluar cafe untuk melepas tawanya yang membahana. Tita mencibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Tita dan Firman setelah menutup warnet jam 9 adalah nongkrong di cafe favorit mereka yang letaknya nggak seberapa jauh dari warnet dan rumah. Lagi pula pada jam segitu, cafe belum terlalu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuuww,.. dasar cowok!! Nggak tau apa kalau Aji itu cowok sejuta wanita yang dengan .. ouw my God!! Itu kan .. Firman kemana nih?? Aduuuhh .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji memasuki cafe .. di belakangnya baru lah Tita melihat Firman yang masih menahan tawa dan pandangan mata menggoda. Aji menghampiri Tita.&lt;br /&gt;"Hei ketemu lagi sama si bos!!" tanpa basa basi Aji langsung mengambil tempat di depan Tita. Firman pun akhirnya bergabung kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo mas ketemu lagi." Aji dan Firman toss di udara. Tita berusaha menahan degup jantungnya yang kian tak teratur. Ditarik bibirnya membentuk sebuah senyum manis .. semanis mungkin. Tapi hasilnya malah membuat wajahnya terlihat lebih lucu. Bos macam apa ini!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu mau minum apa Ji? Pesen aja, biar gue yang bayar..." di dalam hati Tita memuji kalimatnya barusan. Yess!! Sikap seperti itu dibutuhkan oleh wanita terhadap cowok yang didemeninnya. Pernah dibacanya dari sebuah buku .. buku apa? Ah lupa!! Saking banyaknya buku yang dilahap cewek 'besar' ini sampai-sampai dia kebingungan sama judul bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yah? Kalian minum apa? Gue ikutan aja deh." jawab Aji.&lt;br /&gt;"Hmm milkshake ama cheese burger.. Mas!! Mas!!" Tita lalu melambaikan tangannya memanggil pelayan. Firman sudah mulai meredakan tawanya. Aji mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan pria menghampiri mereka. Namun astaga naga .. Tita dan Firman dibuat kaget lagi,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya mbak? Eh pak Aji. Ditunggu bapak loh di dalam, tadi sempet denger bapak ngomel-ngomel katanya baru pulang dari Munich kok malah nggak melepas kangen sama bapak .. malah cari warnet duluan hehehe." Tita pun pingsan!! Eh nggak ding,.. Tita bengong. Habis sudah!! Apa yang bisa dikatakannya sekarang? Firman terdiam. Nggak berani ngakak lagi, takut kalau Tita tambah depresi. Hihihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita memperhatikan layar monitornya. Firman masih sibuk sama user yang terus menerus minta diajarin. Ah dasarnya si Firman juga kalau lihat user cewek cakep jadi salah perjuangan sendiri. Biarpun nggak dipanggil pun dia bakal nyamperin si user dengan segudang pertanyaan dan pernyataan yang nggak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali Tita mengetik kata 'Aji' lalu 'Aji-cafe-teropa' di google, namun apa yang diinginkannya tetap saja nggak nemu. Google kurang canggih nih! Batinnya. Yang didapatnya hanyalah Aji Pangestu dengan berita-berita yang nggak perlu. Ada juga Aji dan Aji dan Aji .. para pemilik weblog alias anak blogger yang saat ini menjamur!! Komunitas blog memang luar biasa!! Tita nggak putus asa .. dicobanya terus dan terus hingga telepon di sampingnya berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibiarkan telepon itu berdering beberapa saat hingga Firman melongokkan kepalanya dari jauh .. Tita cemberut dan meraih gagang telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Santana Cyber Cafe selamat siang. Dengan Tita ada yang bisa dibantu?" suara di seberang kemudian terdengar menarik napas panjang.&lt;br /&gt;"Ada .. gue pengen bicara sama si bos pemilik warnet." Tita mengerutkan keningnya. Nggak tau apa kalau Tita lagi sibuk berkonsentrasi mencari 'Aji' di google? Siapa tau dirinya bisa menemukan jawaban atas tanda tanya besar yang terus bergelayut di benaknya sejak semalam .. sejak bertemu Aji di Cafe Teropa tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya gue sendiri. Dari siapa nih?"&lt;br /&gt;"Aji."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Tita melotot seketika. God!! Pucuk di bayam, sayur bening tiba nih!! Pasti Aji mendapatkan nomor telepon warnetnya dari operator telkom atau dari buku petunjuk telepon! Waw. Menduga .. mengira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngg .. eh .. ya .. ada perlu apa Ji?? Warnet kosong nih. Kalau elu mau nge-net sekarang .. boleh kok!!" ujar Tita rada bingung .. yeaaa .. biasa lah. Tau kan gimana grogi nya cewek bila diajak bicara sama cowok yang menjadi impian nya?? Huah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue juga lagi nge-net kok sekarang .. tapi di rumah. Gue hanya mau bilang sorry kalau kemarin ninggalin elu dan Firman begitu saja .. soalnya rada nggak enak juga sih sama calon mertua hehehe .. tau kan kalau calon mantu baru balik dari luar negeri?? Bukannya ke tempat mertua, malah ke warnet hehehe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg!!! Seperti dihantam berkati-kati godam .. kepala Tita terasa pusing dan hatinya teriris!! Sah'elaaaahh!! Firman mendekati Tita, dipandanginya wajah Tita yang berubah menjadi pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta? Tita? Elu masih disitu??"&lt;br /&gt;"Oh yaa .. masih. Ga pa pa deh soal tadi malam. Segitu aja dipikirin toh Ji."&lt;br /&gt;"Ok deh, thanks ya .. oia, warnet elu ngetop ya di kota ini? Waktu gue tanyain ke operator nomor teleponnya, langsung dijawab tanpa dicari!!"&lt;br /&gt;"Hehehe .. thanks."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sampai disitu. Tita terduduk lemas. Jendela google di-close nya. Percuma .. toh Aji sudah punya pacar .. mungkin malahan sudah bertunangan! Bapak mertua euy!! Tita melirik Firman yang dibalas dengan lirikan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Man, gue pulang. Elu jagain aja sampai user terakhir cabut trus warnet elu tutup aja deh .. kuncinya bawa ke rumah gue nanti .. atau kalau elu capek, bawa pulang aja kunci beserta duitnya .. atau kalau elu .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman meraba kening Tita. Pucat sih,.. jadi khawatir juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue anterin ke rumah elu aja deh nanti. Elu ga pa pa kan?? Atau perlu gue panggilkan taxi? Elu,..??"&lt;br /&gt;"Nggak usah. Gue naik ojek saja. Thanks ya Man." Tita meraih ranselnya dan meninggalkan Firman yang melongo .. bengong .. nggak ngerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita duduk di teras rumah. Menatap bintang di langit. Menunggu kedatangan Firman yang katanya akan membawa kunci warnet. Merasakan resah hatinya. Apaan sih Ta!? Baru juga sehari elu lihat si Aji, kok jadi kayak gini? Come on girl! Aji bukan lah apa-apa dibanding cowok-cowok lain yang sudah pernah membuatmu patah hati .. maksutnya,.. Aji belum menjadi bagian di dalam hidupmu kan? Baru sehari Ta .. coba pikirkan Edo yang udah tiga minggu sempat jalan bareng elu. Atau Dony yang ngaku cinta,.. tapi toh hanya bertujuan mempermainkan elu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan-bisikan di hatinya terus bergema. Tita cemberut. Dugh. RX King milik Firman terparkir di depan rumah. Firman melepaskan helem dan menyapa Tita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei Ta!! Nih gue bawain kunci ama duitnya. Elu hitung dulu deh .."&lt;br /&gt;"Nggak usah. Gue percaya elu Man. Tanpa elu,.. mana mungkin warnet gue bisa berjalan mulus? Oh iya, elu mampir dulu atau langsung jalan nih? Gue buatin minum nih kalau mampir dulu." ujar Tita. Firman nggak menolak ajakan Tita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, keduanya terlibat dalam obrolan yang 'nggak seru' .. Tita nampak lemes banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta,.. sebenarnya elu kenapa? Gue yakin, pasti ada hubungannya sama telepon yang elu terima tadi siang di warnet." tembak Firman nggak mau tau. Nggak pakai perasaan lagi. Dia turut prihatin kalau Tita jadi kayak gini.&lt;br /&gt;"Seratus buat elu. Tau nggak!?..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengalirlah cerita dari bibir Tita. Mendengar itu, Firman ingin tertawa rasanya. Namun demi menjaga perasaan Tita, ditahannya tawa itu, berganti dengan sebuah kuluman senyum. Habis??? Lucu sih .. dasar Tita!! Cowok yang bukan apa-apa nya saja sudah membuat dia menjadi manusia setengah hidup begini. Nasib!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah lah Ta. Elu sih aneh."&lt;br /&gt;"Iya .. gue tau .. gue memang aneh. Tapi apa salah!?"&lt;br /&gt;"Ta!! Plis dong ah .. nggak ada yang salah dengan perasaan. Tapi apa yang elu rasakan ke Aji itu hanya 'sesuatu' yang bersifat sementara. Gue yakin, setelah malam ini, besok elu bisa lebih baik lagi .. plis Ta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita menimbang-nimbang. Bener juga ya? Cowok L-Man selalu menjadi obsesi nya selama ini. Dan sialnya, nggak semua cowok bisa menjadi cowok L-Man idolanya!! Dan nggak semua cowok L-Man doyan sama cewek 'super besar' seperti dirinya. Dunia rasanya rada nggak adil kan? Tapi ini lah dunia!! Yang diciptakan dengan milyaran perbedaan fisik, pemikiran, psikogis dan tetek bengeknya. Untung bukan hidung bengek .. nggak kebayang kan kalau di tengah malam buta hidung terbatuk-batuk? Hihihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnet lumayan ramai. Tita dan Firman dibuat sibuk dengan rengekan user dan permintaan ini itu. Belum lagi yang minta di print datanya. Fiuh!! Benar-benar hari yang melelahkan. Agak siangan dikit, Tita menelpon mama nya di rumah agar jatah lunch dikirim saja ke warnet karena salah satu dari mereka berdua enggan keluar warnet buat cari lunch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Capekk!!!" ujar Firman sedikit keras. Biar saja para user melongokkan kepala mereka .. sibuk amat!! Batin Firman. Cowok ini menghempaskan pantatnya di sofa kecil yang berdekatan sama meja Tita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaaa!!!"&lt;br /&gt;"Pa'an!?"&lt;br /&gt;"Taaaa!!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita nggak melepaskan pandangannya dari layar monitor. Berita gossip di siang hari boleh juga nih disantap .. sembari menunggu kiriman lunch dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sibuk Ta!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita terkejut. Diangkatnya kepala dan melihat Aji berdiri disitu!! Bueh .. baru saja Tita lepas dari bayang-bayang Aji setelah melewati perjuangan yang nggak kenal letih selama beberapa hari .. Aji adalah orang lain yang nggak perlu dipikirkannya. Yea, anggap saja Aji bukan lah cowok L-Man yang selama ini diidam-idamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aji!??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita melirik Firman yang tersenyum puas. Dalam hati Firman berkata,.. siapa suruh dipanggil dari tadi nggak noleh? Kan gue mau kasih tau kalau idola elu nongol!! Firman bangkit ke belakang. Kebelet dia hihihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan datangnya? Kok gue nggak menyadari??"&lt;br /&gt;"Baru aja kok. Hmm,. elu sibuk Ta?"&lt;br /&gt;"Enggak tuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji duduk di sofa mungil dan memperhatikan Tita .. wiw, terus terang Tita kembali gregetan sendiri. Dia bangkit dan bergabung dengan Aji disitu. Namun sebelumnya Tita mengambil dua minuman bersoda dari kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thanks."&lt;br /&gt;"Ada perlu Ji?? Mau nge-net?"&lt;br /&gt;"Nggak. Gue kesini pengen ngomong sama elu Ta. Itu pun kalau elu nggak sibuk." ujar Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita langsung terbayang cowok-cowok yang selama ini pernah mendekatinya. Ujung-ujungnya hanya berbuntut curhat soal cewek mereka dan pinjem duit!! Bueh .. Tita mengatur degup jantungnya .. sulit juga duduk berhadapan dengan Aji. Perjuangannya beberapa hari ini seolah hilang tak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, mungkin gue rada kurang ajar ya? Kita baru aja kenalan dan gue udah berani pengen curhat ke elu .. gue sesek Ta .. gue pengen nangis tapi gue cowok .. gue .. gue seolah kehilangan segalanya begitu tiba kembali di Indonesia Ta,.." sampai disitu Aji berhenti .. meneguk minumannya dan merilekskan punggung nya ke sandaran sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm .. nggak masalah lah. Lagi pula gue nggak gitu mikir soal teman baru atau teman lama. Emangnya ada apa? Keliatannya elu suntuk banget Ji?" jawab Tita, berusaha sebijak mungkin yang dilanjutkan dengan pertanyaan to the point! Tita memang nggak bisa berbasa basi. Ugh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu ada lagu-nya Ada Band nggak Ta? Semalam gue lihat di tivi, gue pengen dengarin lagu itu lagi .. bingung gimana harus jelasin ke elu. Tapi kalau elu dengerin lagu itu, mungkin elu bisa ngerti keadaan gue sekarang." Tita menarik napas lega .. fiuh .. untung bukan masalah duit .. dan Tita pun bangkit. Dicarinya file mp3 di komputer dan mulai mengeraskan volume yang tadi hanya terdengar sayup-sayup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh Ada Band .. yang paling ngetop sekarang sih manusia bodoh. Elu pasti nggak tau judulnya kan? Biarin dah user gue ngamuk kalau volumenya kebesaran!!" Aji mengangguk. Lambat laun terdengar ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dahulu terasa indah tak ingin lupakan&lt;br /&gt;Bermesraan selalu jadi satu kenangan manis&lt;br /&gt;Tiada yang salah hanya aku manusia bodoh&lt;br /&gt;Yang biarkan semua ini permainkan ku&lt;br /&gt;Berulang-ulang kali,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba bertahan sekuat hati&lt;br /&gt;Layaknya karang yang dihempas sang ombak&lt;br /&gt;Temani hidup dalam buai belaka&lt;br /&gt;Serahkan cinta tulus di dalam takdir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal tingah laku mu buat ku putus asa&lt;br /&gt;Kadang akal sehat ini tak cukup membendungnya&lt;br /&gt;Hanya kepedihan yang slalu datang mentertawakanku&lt;br /&gt;Dan belahan jiwa tega menari indah&lt;br /&gt;Diatas tangisanku .....&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aji kemudian telungkup di atas meja. Tita berdiam diri,.. nggak tau harus berbuat apa. Menepuk bahunya? Ah,.. nanti gue dibilang agresif deh aw. Tita menggigit bibirnya gemas. Ada apa sih sebenarnya??? Aji adalah orang baru di dalam hidupnya, yang telah merebut perhatiannya [seperti cowok L-Man yang lain], yang kemudian ingin dihilangkannya dari pikiran karena sadar kalau semua ini hanya impian, sekarang malah datang padanya dalam keadaan begini rupa. Ada apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman melewati mereka dan mengedipkan sebelah matanya ke Tita. Huuww, Tita mencibir. Dasar Firman. Gih dah sana,.. cari perhatian user cewek aja sana, jangan ganggu gue!! Batin Tita. Lagu itu berakhir. Aji mengangkat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, ulangi lagi .. and you'll know what the hell happened to me!" Tita bangkit dan mengulangi lagu itu .. masih dalam kebingungan. Setelah putaran ke dua [kayak lari maraton saja yah?:P] Aji bangkit dan keluar warnet .. nggak kembali lagi. Tita menyeret Firman ke belakang warnet. Firman bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum elu ngomong .. gue mau bilang GUE NGGAK NGERTI!!"&lt;br /&gt;"Itu dia .. ada apa sih sebenarnya??"&lt;br /&gt;"Ya nggak tau lah! Padahal gue udah seneng lihat elu udah bisa melupakan Aji, si cowok L-Man yang igh ugh .. blah!"&lt;br /&gt;"Man,.. mungkin kah .. mungkin kah Aji dijadikan manusia bodoh? Ighhh siapa lagi yang tega menjadikan Aji manusia bodoh!?"&lt;br /&gt;"Jawabannya simpel loh Ta .. dan semua orang yang mendengar lagu itu jadi tau apa yang sudah terjadi .. kekasihnya lah yang membuat dia merasa telah menjadi manusia bodoh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita menggigit bibir. Kesian yah????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu setelah kejadian itu, di warnet yang ramai, diantara kesibukan Tita dan Firman, Aji datang dengan senyum khasnya. GEDUBRAKZ!!! Tita kembali menabrak meja dan Firman hanya bisa menarik napas panjang. Fiuh. Kapan sih elu bisa berubah Ta? Bisik batin Firman. Namun begitu cowok ini melihat Aji di pintu warnet, dia tersenyum sendiri. PANTAS!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu nggak pa pa kan Ta????" tanya Aji kuatir.&lt;br /&gt;"Engga Ji .. kalau nabrak meja bisa bikin gue kurus. Gue mau  lah nabrak meja setiap hari hihihi." jawab Tita gokil. Aji nyengir lebar.&lt;br /&gt;"Kalau gitu gue mau deh bantuin elu nabrak meja setiap hari hehehe." jawaban yang cukup menghipnotis Tita hingga angan-angannya melayang pada sebuah candle light dinner yang romantis dengan Firman sebagai pemain biola .. persis cewek-cewek Bond!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah elu Ji."&lt;br /&gt;"Suer! Gue mau kok .. ikhlas lagi ..." wajah Tita bersemu merah. Diajaknya Aji duduk di sofa .. lalu membiarkan winamp nya memperdengarkan Ada Band dengan Manusia Bodoh. Dalam hati, dia yakin Firman dan para user akan ngomel panjang pendek .. hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, ganti dong!! Gue nggak mau jadi manusia bodoh lagi .. cariin lagu yang enak dong,.. maklum,.. sekian lama di Munich, gue jadi telmi ama lagu-lagu Indonesia." pinta Aji. Tita bingung. Wah,.. lagu apa yah yang tepat? Lalu dipilihnya Joy Tobing yang menyanyikan ulang lagu milik Chrisye, Seperti yang kau minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lagunya Chrisye yang dinyanyiin ulang sama Joy Tobing, Indonesian Idol itu loh hehehe bukan American Idiot kayak yang dinyanyiin Greenday!!" Aji tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;"Bagus liriknya."&lt;br /&gt;"Iyah,.. aslinya nggak nge-beat gini .. tapi gue lebih suka sama versi yang ini, soalnya .. hmm .. seperti memberi semangat baru yah?"&lt;br /&gt;"Yup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama mereka terdiam, membiarkan suara emas Joy mengisi relung hati .. Aji menatap Tita berlama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta,.. elu nggak sibuk kan?"&lt;br /&gt;"Ah elu Ji!! Tiap kali datang ke sini .. pertanyaannya pasti yang itu-itu juga. Gue nggak sesibuk orang kantoran lah hehehe. Emangnya ...??"&lt;br /&gt;"Ta,.. hm,.. apakah elu dan Firman .. ada sesuatu? Maksut gue .." Tita menggigit bibirnya. Apakah ini maksutnya .. waw .. bila saja candle light dinner itu menjadi kenyataan[?]&lt;br /&gt;"Firman itu sahabat sejati gue!! Udah jadi saudara gue!! Ngaco abis lah kalau gue dan Firman harus ada apa-apanya hehehe." jawab Tita cepat .. cie .. ngubah image secepat mungkin Ta??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, elu percaya pada hubungan cinta yang bermula dari sebuah tragedy?" tanya Aji tiba-tiba. Tita terkejut. Sandra Bullock banget nggak sih? Itu kan kalimat Sandra dan Keanu di Speed.&lt;br /&gt;"Percaya. Dari mana pun bermula sebuah hubungan cinta, yang penting gimana kita bisa menjaganya .. memelihara cinta itu .. setia .. percaya .. ya seperti itu lah." jawab Tita sok berdiplomatis. Cie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu .. elu mau kan menjalin sebuah hubungan yang bermula dari tragedy elu menabrak meja???" Tita melongo. Diam.&lt;br /&gt;"Ta!? Plis dong .. kok ngelamun?" Tita gelagapan.&lt;br /&gt;"Ya,.. mau-mau aja sih .."&lt;br /&gt;"Kok kesannya nggak serius gitu?"&lt;br /&gt;"Ya gue mau. Tapi sayang Ji .. semua cowok L-Man yang gue demen, udah punya gandengan semua!! Bahkan ada yang hanya pengen manfaatin gue .. yea .. hanya karena gue 'besar' gini .. igh banget nggak sih?" mau nggak mau Tita sedikit bercerita tentang cowok-cowok L-Man'nya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahahah .. kok cowok L-Man? Kayak iklan aja tauk!" kata Aji disela tawanya.&lt;br /&gt;"Iya .. L Man itu sama dengan Legit Mempesona Atraktif dan Natural hihihi."&lt;br /&gt;"Hahahahahahahahah .. hihihihi .. elu lucu Ta!!"&lt;br /&gt;"Iggggghh gitu deh!" Tita melempari bantal kursi ke Aji. Wah, untung bukan kaleng bekas minum ya Ta???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, gue tau .. gue nggak bisa menjadi seperti yang elu minta .. gue nggak bisa datang dengan cinta ke elu. Tapi setelah gue terpuruk setelah menyadari gue dijadikan manusia bodoh oleh Lisa dan gue sendiri,.. gue sadar ... gue bangkit. Gue pengen ngebuktiin kalau gue bisa menjadi cowok yang nggak dipermainkan lagi hanya karena gue nggak selevel dengan .." Tita terperangah! God!! Ingin rasanya diraba kening Aji .. jangan-jangan Aji terkena syndrome 'fatgirl' nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksut elu apa Ji?"&lt;br /&gt;"Ya kayak lagu itu .. awalnya gue mikir .. mungkin gue bakal merusak hubungan elu sama Firman, ternyata enggak. Gue yakin .. gue .. hm .. elu mau kan jadi milik gue Ta? Utuh? Yang nggak membagi perasaan elu ke orang lain? Yang nggak memandang sebuah hubungan sebagai media publisitas .. yang mana yang paling menguntungkan,.. itu yang dipilih??" Tita pingsan. Nggak lama Tita siuman lagi,.. mengingat nggak bakal ada yang sanggup mengangkatnya dari lantai bila sampai pingsan beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu sakit Ji?"&lt;br /&gt;"Masa gue dibilang sakit hanya karena gue jujur ke elu Ta?"&lt;br /&gt;"Maksut gue .. justru gue yang seharusnya mempersembahkan lagu ini ke elu karena .. gue sempat sakit gara-gara mendengar elu punya calon mertua. Si pemilik cafe kan? Firman ampe kebingungan .. gue lemes .. nasib gue selalu begini bila naksir cowok L-Man. Sempet gue mikir khayalan gue terlampau tinggi .. tapi elu malah .." Aji tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin elu berpikir gue menjadikan elu pelarian gitu yah? Engga Ta,.. yakin deh, gue suka elu .. gue pengen elu jadi milik gue utuh. Gue rasa, elu memahami arti mencintai itu seperti apa."&lt;br /&gt;"Ya .. baru dasar-dasarnya saja sih."&lt;br /&gt;"Dasar yang kuat akan lebih baik .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita terdiam. Candle light dinner sudah didepan mata!! Impian gadis 'super besar' seperti dirinya mungkin kah menjadi kenyataan??? Ini gila. Nggak akan ada orang yang mempercayai hal ini. Dirinya dan Aji?! Oh God. She wants him .. she loves him at the first sight, but it's too fast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini terlau cepat Ji."&lt;br /&gt;"Kalau elu percaya cinta yang bermula dari sebuah 'tragedy' elu pasti percaya ini. Seminggu lagi gue di Indonesia rasanya cukup membuat elu mengerti gue dan gue mengerti elu ... bisa kah??"&lt;br /&gt;"Gue ... mau ..." hanya itu yang bisa diucapkan Tita. Lalu,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ji, elu percaya cinta pada pandangan pertama .. terutama lagi karena cinta pada penampilan fisik cowok L Man?" tanya Tita. Aji mengangguk.&lt;br /&gt;"Sometimes, fisik menjadi alasan utama. That's not a big problem Ta. Toh nanti elu bisa menilai .. gue ini cowok yang seperti apa sebetulnya." balas Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah!! Nggak usah basa basi lagi!! Mas Aji, traktir dong .. ngerayain jadiannya bos gue dan mas Aji." tau-tau Firman sudah duduk diantara mereka tanpa berniat kurang ajar. Tita merutuk panjang pendek dan Aji ngakak nggak karuan. Tawa pertama .. penuh kebebasan .. yang baru sekali ini dilakukannya sejak kepulangannya ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke. Nanti malam gue traktir deh .. sudah jelas itu!!! Gimana Ta?" wuih,.. Tita tersipu malu sampai pengen nangis. Kok secepat dan semudah ini? Baru saja dia berpikir untuk melupakan tentang cowok-cowok L-Man, eh sekarang malah udah jadi 'pacar' cowok L-Man dengan permulaan yang malu-maluin!! Dengan tragedy yang terjadi padanya dan pada Aji. Tita mengangguk menyetujui usul Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;*&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tita tersenyum sendiri membaca email dari Aji. Cinta mungkin baru bersemi di hati mereka. Awal nya menjalani hubungan atas dasar tragedy .. suka .. saling membutuhkan. Aji merasa dirinya bisa dijadikan 'andalan' yang selalu siap dan setia .. dirinya menganggap Aji sebagai cowok L-Man yang selalu diimpikannya. Kenyataan yang terjadi sungguh di luar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh bulan sudah Aji kembali ke Munich .. Seminggu sebelum tujuh bulan yang telah menjauhkan mereka, mereka justru kian didekatkan oleh perasaan yang 'aneh' dan membuat perut seperti dibolak balik. Firman mengerti, bila Tita sudah senyum sendiri di depan monitor, artinya ada email dari Aji, atau mereka bahkan lagi chating berdua. Berbagi rasa,.. pemikiran,.. hati,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama bermain dalam khayal tentang cowok L-Man, bahkan pernah dipermainkan oleh salah satu dari mereka, akhirnya Tita mendapat kan apa yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpinya. Bila cinta tak pandang usia, itu betul. Bila cinta nggak pandang fisik, itu telah dibuktikannya. Bila impian membuat kita bisa termotivasi untuk mewujudkannya, itu telah dijalaninya. Tita tersenyum .. bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Firman .. ini browsernya ngadat!!" jerit seorang user cewek.&lt;br /&gt;"Apa sih? Kok ngadat sih sayang? Bensinnya habis kali??"&lt;br /&gt;"Ha??"&lt;br /&gt;"Elu manis deh kalau bengong gitu .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-111276947737331857?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/111276947737331857/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=111276947737331857' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111276947737331857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111276947737331857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/04/cowok-l-man.html' title='Cowok L-Man!!'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-111217256348364338</id><published>2005-03-30T17:47:00.000+09:00</published><updated>2005-03-30T17:49:23.486+09:00</updated><title type='text'>Ada Apa Denganmu?</title><content type='html'>Knapa seh?&lt;br /&gt;Ada apa denganmu sobat?&lt;br /&gt;Knapa kamu menjadi sosok yang gak aku kenal? Sejak kapan kamu jadi begini? Kamu marah? Marah sama siapa? Pada apa? Semua orang punya hak dan keinginan untuk marah. Namun, belum pernah aku melihat orang bisa semarah ini hanya karena... cemburu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kalau cemburu pada tempatnya sih, no problem lah.&lt;br /&gt;Aku heran banget, marahmu jelas gak pada tempatnya. Kamu marah karena Fred lebih memilih Rena ketimbang dirimu? So, what's the point? Kamu cinta Fred? Ah, bukan kah sejak dulu, kamu yang selalu memanfaatkan Fred untuk tujuan-tujuan tertentu? Padahal Fred telah sungguh-sungguh mencintai kamu looohhh.. ah sobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bodoh sebetulnya Fred atau kamu?&lt;br /&gt;Uhm, menurut aku sih, kamu yang bodoh. Kamu lebih memilih cowok lain ketimbang Fred. Karena cowok-cowok itu, punya something yang bisa dibanggakan. Kuliah di luar negeri mungkin? Punya banyak harta mungkin? Atau... cowok-cowok itu lebih vulgar dalam urusan mengajakmu ml?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payah nih.&lt;br /&gt;Aku sebagai sobatmu, hanya ingin bilang, kamu telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu berharga. Ibarat mencari intan di pasir! Fred begitu baik dan sangat terbuka. Jujur dan setia... Bahkan Fred tak mempersoalkan masalah keperawanan seorang wanita!! Yang aku tau pasti, kamu gak memilikinya lagi. Masih ingat pendarahanmu di tempat mak Prim? Mengapa selama ini kamu menjadi buta!? Oh iya, aku lupa... kamu kan buta kalau sudah berurusan sama harta. Sigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, aku hanya bisa bilang : terima lah semua ini dengan ikhlas. Fred bukan apa-apa mu. Dan Fred, cowok baik itu, sudah sepantasnya mendapatkan Rena. Mereka pasangan yang cocok, menurutku sih. Jadi, kamu yang bukan apa-apanya Fred, gak usah jadi aneh begini. Sampai-sampai aku mempertanyakannya.. ADA APA DENGANMU!!!!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dugaanku benar, kamu jadi aneh dan suka marah-marah begini karena cemburu pada hubungan Fred dan Rena. Kamu salah. Kamu ngaca dong sobat. Aku sebagai orang dekatmu, hanya bisa menyarankan, belajar lah dari pengalaman. Karena pengalaman guru yang paling berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, gak usah merecoki hubungan mereka. Apalagi berniat menghancurkan hubungan indah mereka. Kamu dengan hidupmu, mereka dengan hidup mereka. Kamu hanya akan menumpuk dosa dengan membeberkan kejelekan Rena di mata Fred... hahahah... bagi Fred, Rena adalah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah sobat.&lt;br /&gt;It's going for nothing gitu loh.&lt;br /&gt;Mending sekarang, benahi hidupmu. Jangan ml sembarangan, dan pilihlah cowok yang tepat untukmu. Yang gak tinggi,.. yang gak rendah,... I hope you can understand. Semua ini aku pertanyakan. Semua ini aku katakan, karena aku adalah sobatmu. Bukan kah sobat terbaik, adalah sobat yang mau mengakui kejelekan sobatnya sendiri? Mengerti yah? Jangan sampai aku bertanya-tanya lagi.. ADA APA DENGANMU!??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-111217256348364338?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/111217256348364338/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=111217256348364338' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111217256348364338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/111217256348364338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/03/ada-apa-denganmu.html' title='Ada Apa Denganmu?'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-110541457433746404</id><published>2005-01-11T13:27:00.000+09:00</published><updated>2005-01-11T12:36:14.336+09:00</updated><title type='text'>First Flight Out</title><content type='html'>Jakarta. Aku duduk di depan komputer sebuah warnet yang selalu ramai. Disinilah tempat aku menghabiskan waktukku dari hari ke hari tiga bulan terakhir ini. Mencoba menghilangkan pesona Firly dari otakku. Huh, gadis itu, brengsek! Kalau tau dia dijodohkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya, tidak mungkin aku bertahan pada hubungan kami, cinta kami. Kenapa tidak dari awal dia jujur padaku? Kenapa dia membiarkan cinta yang ada dihatiku tumbuh dan berkembang selama hampir setahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah lama mengenal Firly. Dia adik kelasku di smu, smu negeri di Ende - Flores. Lulus smu aku melanjutkan kuliah di Universitas Flores di Ende. Meskipun telah beda dalam dunia pendidikan, aku masih sering ketemu Firly, karena dia termasuk murid privat Matematika di rumah. Duduk di bangku kelas tiga, orangtuanya berharap nilai-nilai-nya lebih bagus di mata pelajaran yang satu ini, mengingat jurusan yang dipilihnya adalah IPA. Oke, Firly memang manis, rambut ikalnya, kulit sawo matangnya, mata indahnya dan hidung bangirnya selalu membuatku gemas. Lambat laun perasaan itu muncul. Aku tak lagi sekedar mengagumi kecantikan dan pribadinya, lebih dari itu, aku jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar aku jatuh cinta padanya. Dalam seminggu 3 kali dia datang ke rumahku untuk mengikuti privat Matematika. Seperti kata pepatah, cinta datang dari sebuah rutinitas. Yah, itulah yang aku alami. Daripada perasaan ini kusimpan dan membuat sikapku bertambah grogi didepannya, mending ku utarakan saja. Maka, dengan modal dekat, suatu sore di rumah, aku bilang ke dia "Firly, ka'e cinta kamu." diantara buku-buku dan kalkulator. Kae, panggilan kakak laki-laki bagi masyarakat Ende. Dan tau apa jawab dia? "Aku juga cinta ka'e." Nah loh, aku bahagia bukan main. Gayung bersambut! To the point! Tanpa basa basi kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun pacaran. Layaknya orang pacaran, aku sering maen ke rumahnya setiap malam minggu dan orangtuanya menerimaku dengan baik. Well, bagiku, ini awal yang baik. Hubungan kita berjalan mulus, nyaris tanpa halangan berarti. Firly lulus smu dan melanjutkan kuliah di Universitas yang sama denganku. Dia menolak kuliah di luar pulau. Otomatis kita bertemu hampir setiap hari dan bunga cinta itu berkembang setiap harinya. Bila tidak ke rumahnya, maka aku mengajak dia ke pantai, menikmati sunset di pantai Ende yang jaraknya amat dekat dari kampus satu, Universitas kami. Atau aku mengajaknya nonton bola berdua bila ada pertandingan sepak bola yang berlangung tepat di depan kampus kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firly pun masih sering ke rumahku, bukan untuk privat Matematika lagi, melainkan untuk bertemu aku, cintanya. Cinta yang indah bukan? Sederhana namun berkesan. Hmm, aku bahagia. Saat-saat yang paling menyenangkan adalah bila sedang berdua dengannya, menghirup aroma orchid dari tubuhnya dan menatap wajahnya yang manis. Ugh, aku cinta Firly. Papa dan mama, rasa-rasanya telah mencium gelagat cinta kami. Thanks God, aku memilik orangtua yang sangat pengertian. Mereka tak terlalu turut campur, yang penting bagi mereka adalah baiknya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan, dua bulan, enam bulan, sembilan bulan .. cintaku terbentur dinding dan aku dibuat menjadi laki-laki separuh nyawa. Kembali pada suatu sore di rumah saat Firly datang ke rumah dengan wajah kuyu.&lt;br /&gt;"Hei, ayo duduk. Wajahmu kenapa? Habis nangis?" tanyaku begitu dia duduk di sofa ruang tamu. Aku duduk di hadapannya dan dia tertunduk.&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Aku .. ka'e, maafkan aku." Ujarnya kemudian dengan mata berkaca-kaca. Hei hei, ada apa ini?&lt;br /&gt;"Maaf untuk apa? Ada apa sebenarnya Ly?" berondongku. Kuseka air mata yang mulai jatuh di pipinya. Penasaran aku dibuatnya. Aku pindah duduk disampingnya, menggenggam tangannya lembut dan aroma orchid itu kembali menikam jiwaku.&lt;br /&gt;"Ka'e .. selama ini aku tidak jujur. Aku begitu takut kehilangan cinta kita. Aku salah ka'e, amat salah." Aku menarik napas dalam. Ada apa sebenarnya? Hal apa yang menjadi penyebab mendung di wajahnya yang manis?&lt;br /&gt;"Sekarang minum dulu, nanti baru cerita, oke?" kusodori cangkir teh kehadapannya, dia menerima dan meneguknya sedikit lalu meletakkan kembali cangkir ke meja. Come on baby, talk to me!! Tereak batinku.&lt;br /&gt;"Hmm Ka'e janji tidak akan marah?" aku menggangguk pasti.&lt;br /&gt;"Selama ini aku telah berbohong. Pada ka'e dan pada orangtuaku. Pada ka'e aku menerima cinta yang begitu tulus, karena aku memang mencintai ka'e!! Pada orangtuaku aku bilang, ka'e datang ke rumah untuk mengajariku mata kuliah yang tidak kumengerti. Karena aku .. telah dijodohkan oleh mereka dengan keponakan papa yang tinggal dan kuliah di Denpasar." Deg!! Jantungku seperti berhenti berdetak. Omong kosong apa ini?! Firly menatap aku takut-takut.&lt;br /&gt;"Ka'e??" aku menarik napas panjang.&lt;br /&gt;"Jelaskan sekali lagi .." pintaku. Seakan-akan berharap aku pasti mendapatkan penjelasan yang berbeda kali ini. Tapi tidak, aku semakin kecewa.&lt;br /&gt;"Maafkan aku ka'e. Tolong, mengertilah aku. Aku mencintai ka'e makanya aku menerima cinta ka'e saat itu. Tapi aku tidak jujur pada ka'e kalau aku telah dijodohkan dengan Danu, keponakan papa itu. Aku berharap ada keajaiban yang bisa menyatukan kita. Kepada papa dan mama aku mengaku ka'e datang ke rumah untuk mengajariku mata kuliah yang kurang aku pahami." Lagi-lagi aku menarik napas panjang. Aku telah berjanji untuk tidak marah. Tapi hatiku? Cintaku? Aku kecewa. Ini cintaku yang paling indah dan akhirnya amat sangat pahit!&lt;br /&gt;"Pulanglah sekarang Ly, lupakan aku karena kita memang harus berpisah. Jangan ingat ka'e lagi, oke?" dia terperangah tak percaya.&lt;br /&gt;"Tapi ka'e, aku mencintaimu, aku sama sekali tidak mencintai Danu dan kita … aku dan Danu baru bertemu dua kali, lebih dari itu, tak ada hubungan apa pun antara aku dan Danu. Ka'e …!!!" aku menggeleng. Jangan mencintaiku lagi, itu salah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit, meninggalkan dia sendiri, aku keluar, memacu tiger 2000 ku dengan perasaan tercabik-cabik. Angin sore Ende menerpa wajahku. Firly, aku mencintaimu, tapi apa daya, takdir berbicara lain. Padahal bila kamu mau jujur sejak awal, keadaannya tidak akan seperti ini. Sore itu aku keliling kota kecil tercinta tanpa tujuan, tanpa teman. Aku perlu sendiri, menenangkan pikiran dan hatiku. Tak mudah bagiku menerima semua ini, tapi aku harus. Aku tidak mau Firly dimarahi orangtuanya karena mencintai aku. Biarlah, dia perlu belajar mencintai Danu, keponakan papanya. Menjelang malam baru aku kembali ke rumah dan mendengar laporan mama kalau Firly menangis cukup lama sebelum pulang. Biarlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku bertemu Firly di kampus. Tapi sikapku kubuat biasa-biasa saja. Toh sekarang tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Putus. Broke! Pisah! Bah! Aku muak! Firly, berusaha menyapaku, tapi tidak, dia hanya bisa menunduk, tanpa kata. Lebih baik bagiku dan dirinya untuk tidak saling bertegur sapa dulu agar kami bisa saling melupakan tanpa rintangan yang berarti. Aku laki-laki, pantang bagiku untuk merebut cewek yang bukan milikku!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini lah yang akan dirasakan oleh semua insan yang patah hati akibat putus cinta. Aku seperti hidup dengan separuh nafas. Seperti kata pepatah, hidup enggan mati tak mau! Apa pun yang aku lakukan terasa hambar tanpa Firly. Parahnya lagi, aku bahkan menolak memberi privat Matematika pada lima orang muridku! Tiga orang siswa smp dan dua orang siswa smu. Untuk apa aku mengajari mereka lagi? Pikiranku buntu, di hadapan mereka aku lebih banyak bengong. Actually, aku malah tak mengajari mereka, mereka justru belajar sendiri. Tak ada gunanya kan? Dan hal itu justru semakin memperburuk keadaan. Papa ngamuk-ngamuk padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kamu apa sebenarnya?" tanya papa.&lt;br /&gt;"Tidak ada pa."&lt;br /&gt;"Tidak ada? Kasihan anak-anak itu, mereka muridmu, tanggung jawab dong Stef!"&lt;br /&gt;"Stef hanya ingin istirahat pa."&lt;br /&gt;"Istirahat? Seperti petani yang ingin istirahat? Buruh pabrik yang ingin melepas lelah? Kamu tidak secapek dan seletih mereka Stef, hanya sepersekian jam dari waktumu mengajari anak-anak itu!!"&lt;br /&gt;"Papa tak mengerti, Stef belum bisa .. "&lt;br /&gt;"Belum bisa melupakan Firly? Jangan cengeng kamu!"&lt;br /&gt;"Papa memang betul-betul tak mengerti!!"&lt;br /&gt;"Apa katamu?!"&lt;br /&gt;"Ah sudahlah pa .. Stef bosan! Stef jenuh .. ingin sendiri .."&lt;br /&gt;"Kamu!! ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran yang paling hebat dalam hidupku itu semakin menyudutkan aku. Aku memilih untuk hengkang sementara waktu dari Ende. Aku manusia, bila jatuh butuh dukungan dan hiburan. Papa mungkin tak mengerti perasaanku dan aku mencintai kedua orangtuaku juga kedua adik perempuanku. Makanya, bagiku lebih baik pergi untuk sementara waktu dari mereka, dari pada timbul lagi pertengakaran berikutnya yang lebih hebat. Aku tak ingin bertengkar, apalagi dengan papaku sendiri. Aku mencintai papa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang, aku di Jakarta. 3 bulan sudah kejadian itu lewat. 3 bulan yang sulit, karena otakku masih belum mampu melupakan pesona Firly. Gadis manisku itu! Cintaku itu! Waktuku habis di warnet bila temanku berangkat kuliah. Disini, aku bergaul dengan dunia maya, dunia tanpa batas. Meskipun usahaku untuk melupakan Firly masih belum berhasil, aku harus mencoba. Harus! Karena Firly bukan untukku, telah ada Danu, pria yang dijodohkan orangtuanya. Sheat! Biarpun telah terpisah ribuan kilo dari Flores, masih saja otak ini tak sanggup melupakannya. Fiuh. Hari telah menjelang malam, aku pulang ke kost Glen, sahabatku itu. Jarak warnet dan kostnya amat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woi, sudahlah, lupakan Firly! Untuk apa sih mikir cewek itu? Masih banyak cewek di dunia Stef, Firly bukan satu-satunya. Atau kamu mau aku jodohkan dengan teman kuliahku?!" ujar Glen begitu aku dan tampang kusutku masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;"Ngawur, siapa yang mikir Firly?!" dia tertawa. Ah sahabat, memang susah menyembunyikan apa pun dari Glen.&lt;br /&gt;"Mata kamu itu tidak pernah bisa berbohong Stef. Aku mengenalmu lebih dari orangtuamu sendiri, ingat itu." Ujarnya lagi. Benar, Stef sudah seperti saudaraku sendiri. Masa smp dan smu yang mendekatkan kami. Susah, senang, aku dan Stef selalu bersama. Dia adalah penumpang tetap tiger 2000 yang dibelikan papa begitu aku masuk smu.&lt;br /&gt;"Iya iya .. sudah .. diam. Tidak usah bicara soal Firly lagi, pusing aku mendengarnya. Jauh-jauh ke sini untuk melupakannya, mana bisa kalau kamu terus menyebut namanya?" balasku. Glen kembali tertawa.&lt;br /&gt;"Come on! Be a man…" eh? Emang aku banci? Dasar Glen.&lt;br /&gt;"Sudah makan?" tanyaku kemudian. Dia menggeleng.&lt;br /&gt;"Makan yuk .. di warung depan .." ajakku. Glen mengangguk semangat.&lt;br /&gt;"Thanks God!! Lapar banget neh. Yuk!" begitu dia membuka kamar, muncul Anton, mahasiswa asal Ambon, teman kost Glen.&lt;br /&gt;"Woi, ada telpon buat kamu." Aku dan Glen saling pandang.&lt;br /&gt;"Siapa? Aku atau Stef?" tanya Glen lagi.&lt;br /&gt;"Glen." Kata Anton cepat. Glen berlari kecil ke ruang tamu, aku menyusulnya dari belakang. Diraihnya gagang telepon dan mulai bicara di telepon. Berabe kalau itu telepon dari ceweknya. Bisa-bisa jam sepuluh kita baru mengisi perut. Glen memanggilku dengan bahasa isyarat.&lt;br /&gt;"Oh, ada tante, sebentar. Stef!! Mamamu!" mama meneleponku? Ada apa kah? Aku dikeluarkan dari Universitas? Lebih bagus, aku bisa melanjutkan kuliah disini. Biar jauh sekalian dari Firly.&lt;br /&gt;"Ya ma?" suara mama di seberang. Sekedar 'say hello' dan papa langsung mengambil alih pembicaraan.&lt;br /&gt;"Stef, besok pagi, penerbangan pertama. Sampai di Ende sore .." hanya itu yang dikatakan papaku. Aku disuruh pulang? Tepatnya diperintahkan pulang tanpa perlu berkelit? Telepon ditutup. Aku gamang. Glen menatapku heran. Aku balas menatap sahabatku itu. Kuajak dia ke warung depan. Lebih baik aku makan dulu, perutku semakin perih. Lapar.&lt;br /&gt;"Glen, tadi telepon dari Ende." Ujarku disela-sela mengisi perut.&lt;br /&gt;"Tau. Kan aku yang menerima duluan." Jawabnya sambil menyeruput kopi susu panas.&lt;br /&gt;"Aku disuruh papa pulang ke Ende besok pagi-pagi sekali."&lt;br /&gt;"What happened? Ada yang gawat?? Ortumu baik-baik saja kan?" tanya dia lagi sambil melotot.&lt;br /&gt;"Andai aku tau apa yang sedang terjadi .. intinya aku disuruh pulang besok dengan penerbangan pertama, subuh kali ye?" kataku lagi. Glen kembali melotot.&lt;br /&gt;"Jadi kamu pulang besok? Kok cepet? Hehehe. Ya udah lah, kalau memang papa mu ingin kamu pulang, pulang dulu sana. Nanti kalau mau ke sini lagi, datang saja, aku siap menerima!" kata Glen bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah aku pulang? Pulang ke Ende sama artinya dengan bertemu Firly kembali dan aku kembali kacau! Aku belum siap, mentalku yang 'krupuk' ini belum sanggup menatap cewek itu dulu. Tapi suara papa tadi begitu tegas. Papa memang orang yang tak suka bertele-tele kalau bicara, to the point. Adakah sesuatu yang penting dan mendesak? Yeah, deep inside my heart, I do miss them. Aku rindu papa, mama dan dua orang adikku, Leli dan Femy. Boleh lah, seperti kata Glen, bila aku masih ingin kembali ke Jakarta, aku tau kemana harus menginap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, aku mengepak bajuku yang tidak banyak ke ransel, aku memutuskan pulang. Aku bingung, dan kebingunganku ini bisa terjawab bila aku pulang ke Ende, kota kecil yang aku cintai. Dimana ada sosok Firly yang aku cintai pula. Uffss, inilah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh sekali aku sudah ke soekarno-hatta, beli tiket. Untunglah, penerbangan ke Surabaya tidak penuh pagi itu. Glen mengantarku dengan senyum mengembang.&lt;br /&gt;"Jangan lupa kasih kabar ya bro!" katanya sambil meninju lenganku. Oke, aku balas meninjunya sebelum menuju pintu keberangkatan. Masih dengan segudang kebingungan. Pesawat transit di Surabaya. Dari Surabaya ganti pesawat lagi ke Denpasar. Di denpasar aku naik foker ke Bima dan lanjut ke Ende. Bandara H. Hasan Aroeboesman nampak di bawah begitu pesawat akan landing. Kecil. Inilah kota ku. Turun dari pesawat, di ruang tunggu kulihat papa telah menunggu. Aku berjalan ke arah papa dan mencium tangannya.&lt;br /&gt;"Pa .."&lt;br /&gt;"Baguslah kamu pulang. Papa tunggu dari jam tiga tadi, pesawat terlambat setengah jam." Kata papa. Aku mengangguk. Tiger 2000 ku masih sama, masih enak ditunggangi. Kuboncengi papa pulang ke rumah. Rumahku, masih sama, tak ada yang berubah dalam 3 bulan terakhir. Yang beda mungkin suara ramai dari dalamnya. Suara orang tertawa dan mengobrol. Begitu mereka mendengar derum tiger, spontan Leli dan Femy adikku berhambur keluar.&lt;br /&gt;"Ka'e Stef datang!!!!" aku memeluk mereka .. ah adik-adikku. 3 bulan rasanya seperti 3 abad! Mereka menyeretku masuk ke ruang tamu. Deg! Disitu ada Firly, orangtuanya dan mamaku. Well, semoga semua ini dapat menjawab kebingunganku diperintahkan pulang segera ke Ende. Ajaib rasanya melihat Firly kembali, duduk bersama orangtuanya di ruang tamu, tempat dimana aku menyatakan cintaku padanya dan memutuskan cinta itu penuh luka.&lt;br /&gt;"Hai all .." mereka tersenyum. Senyum Firly, masih sama seperti yang dulu, senyum yang aku rindukan.&lt;br /&gt;"Ka'e!!!!" Firly bangkit dan memelukku. Wow, malu rasanya dipeluk dia di depan umum seperti ini. Papa mengajak aku dan Firly duduk. Duduk disamping Firly, menghirup aroma orchid itu lagi, cintaku seratus persen kembali di hati ini. Tuhan, tolong aku, jangan persulit keadaan.&lt;br /&gt;"Minum dulu nak." Mama mengangsongkan segelas air es padaku. Kuteguk dengan hati-hati. Semua mata tertuju ke arahku. Hei hei, aku bukan artis!!&lt;br /&gt;"Stef, sekarang saatnya kita bicara." Suara om Cepy, papa Firly. Aku menatap pria separoh baya itu. Usia om Cepy nyaris sepantaran usia papa.&lt;br /&gt;"Ya om." Jawabku.&lt;br /&gt;"Om dan tante mau minta maaf."&lt;br /&gt;"Untuk apa? Om dan tante tidak bersalah apa pun padaku."&lt;br /&gt;"Minta maaf bukan karena kesalahan saja kan? Pada keadaan pun kita patut minta maaf." Balas om Cepy cepat. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;"Keadaan lah yang membuat kami berniat minta maaf padamu."&lt;br /&gt;"Ya om."&lt;br /&gt;"Kamu dan Firly pacaran, benarkah?"&lt;br /&gt;"Pernah pacaran, kami telah pisah."&lt;br /&gt;"Ya ya .. katakanlah begitu. Kalian pacaran lalu pisah."&lt;br /&gt;"Betul om."&lt;br /&gt;"Telah lama Firly kami jodohkan pada Danu keponakan om yang kuliah di Denpasar."&lt;br /&gt;"Aku tau om, makanya aku dan Firly pisah."&lt;br /&gt;"Ya betul. Om kaget waktu tiga bulan lalu Firly pulang ke rumah dengan wajah kuyu, dia menangis. Dari situ om dan tante mengetahui, sebenarnya hubungan kalian telah lebih dari seorang guru privat terhadap muridnya, lebih dari seorang kakak angkatan pada adik kuliahnya. Selama ini kami hanya tau, kamu datang ke rumah untuk menjelaskan pelajaran yang kurang dipahami Firly. Tapi sore itu menjawab semuanya, Firly terbuka pada kami. Dia mencintai kamu."&lt;br /&gt;"Aku juga mencintai Firly om, lebih dari apa pun." Disampingku, Firly meraih lenganku ke dalam gelayutannya. Hmmm .. aroma orchid itu ..&lt;br /&gt;"Kami jelas kaget. Bagi kami, Firly tentu setuju dengan perjodohan itu, menurut kami, Firly bisa bahagia bersama Danu. Mengingat orangtua Danu adalah kakak om, om tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka telah dijodohkan sejak lama meskipun baru bertemu dua kali saat Danu liburan ke Ende. Kami sama sekali tak tau, setelah itu Danu sama sekali tidak mendekati Firly seperti pria yang mencintai wanita. Danu nyaris tak pernah berkomunikasi dengan Firly."&lt;br /&gt;"Hmm .."&lt;br /&gt;"Stef .."&lt;br /&gt;"Ya om."&lt;br /&gt;"Setelah kalian pisah, Firly menjadi gadis pemurung tanpa keceriaan. Dia begitu 'down' putus darimu. Dia begitu tersiksa begitu tau kamu pergi ke Jakarta. Dia stress. Tapi kami toh tak dapat berbuat apa-apa."&lt;br /&gt;"Aku pun seperti itu om .. sama .."&lt;br /&gt;"Sampai sebulan lalu, om mendapat telepon dari Denpasar. Danu menghamili teman kuliahnya. Om jelas kaget."&lt;br /&gt;"Oh?"&lt;br /&gt;"Ya .. om kaget .. kok bisa begitu?"&lt;br /&gt;"Namanya juga manusia om."&lt;br /&gt;"Ya ya .. dan Firly menangis kembali, tapi sinar matanya lebih ceria, kita bicara lagi. Om bertanya, apakah dia masih mencintaimu?"&lt;br /&gt;"Aku memang masih mencintai ka'e pa, tidak ada yang berubah." Firly ikut bicara. Tangannya semakin erat di lenganku.&lt;br /&gt;"Kami akhirnya membiarkan Firly memilih pilihannya sendiri. Dan kamu adalah pilihannya. Tak ada yang lain. Tapi masalahnya, kamu begitu jauh, di Jakarta. Firly ingin meneleponmu, tapi dia malu. Dia takut. Datang ke sini saja dia tidak berani."&lt;br /&gt;"Ya .."&lt;br /&gt;"Akhirnya om dan tante memutuskan, kami lah yang harus ke sini. Kami lah yang harus bicara, demi Firly, putri kami. Keputusannya, semalam kami ke sini, bicara pada orangtuamu. Mereka tidak berani mengambil keputusan dan meneleponmu ke Jakarta."&lt;br /&gt;"Ya, saat itu aku dan Glen hendak keluar cari makan."&lt;br /&gt;"Kami hanya berharap kamu mau pulang, mendengar sendiri semua ini dan memberi keputusan. Kami tau alasan kamu ke Jakarta. Untuk itu lah kami meminta maaf."&lt;br /&gt;"Tidak usah maaf-maafan om."&lt;br /&gt;"Oke, kalau begitu, kalian berdua bicaralah, kita yang tua-tua mau ke belakang dulu, rugi dong kalau satenya dibiarkan saja." Kata papa dan mengajak om Cepy beserta istrinya dan mama ke halaman belakang. Pastilah Leli dan Femmy yang ditugaskan membakar sate. Pesta penyambutan kepulanganku kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang tamu ini, ruang tamu yang menjadi tempat aku mengajari Firly Matematika, tempat dimana aku menyatakan cintaku dan tempat cinta kami berakhir 3 bulan lalu. Kini, ruang tamu ini kembali menjadi tempat bersatunya kami. Bersatu? Ya, aku mencintai Firly, dan untuk bersatu kembali kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ka'e .. aku .. kangen .." kurangkul Firly ke dalam pelukanku. Aroma orchid itu menenangkan jiwaku. Aku cinta Firly.&lt;br /&gt;"Sama sayang, aku juga."&lt;br /&gt;"Ka'e masih mencintaiku setelah semua itu?"&lt;br /&gt;"Masih, tak berkurang meskipun ingin aku hilangkan."&lt;br /&gt;"Aku malah tak berusaha menghilangkannya."&lt;br /&gt;"Bagus."&lt;br /&gt;"Ka'e .. maafkan aku sekali lagi yah?"&lt;br /&gt;"Hmm ya ya .. tapi ada syaratnya."&lt;br /&gt;"Apa itu?!"&lt;br /&gt;"Close your eyes dear .."&lt;br /&gt;"Close? Hmm .."&lt;br /&gt;"Come on .." dia manut. Bibir itu!! Aku mendekati bibirnya, tanganku erat di rahangnya dan kucium dia sepenuh hati. Aku begitu menginginkan gadis yang pernah kukatai brengsek ini! Aku pernah merutuki ketidakjujurannya. Tapi aku mencintainya. Itu tak dapat aku pungkiri.&lt;br /&gt;"Ngghh .. ka'e .." desahnya. Aku akhiri. Masih banyak waktu kan?!&lt;br /&gt;"Luv you .."&lt;br /&gt;"Luv you too."&lt;br /&gt;"Makan sate yuk? Aku lapar." Kugenggam tangannya, mengajaknya ke halaman belakang, berbaur dengan yang lainnya. Aku pasti .. yeah, first flight out ku membuahkan hasil yang memuaskan. Glen, tunggu saja ceritaku nanti. Firly, luv you .. this is the end of this story, but not the end of my story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuteh--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-110541457433746404?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/110541457433746404/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=110541457433746404' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/110541457433746404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/110541457433746404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2005/01/first-flight-out.html' title='First Flight Out'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109996344609338655</id><published>2004-11-09T10:21:00.000+09:00</published><updated>2004-11-09T10:36:45.753+09:00</updated><title type='text'>D-a-m-a-i</title><content type='html'>"Damai ... bisa tolongin ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis manis itu mengangguk sehingga rambutnya yang sebahu ikut terguncang. Bu Philo menyodorkan sebuah map padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong diketikin yah, ada sepuluh surat yang nanti siang akan dikirim oleh kurir. Ndak bisa selesai semuanya juga ndak pa pa .. kamu bisa melanjutkannya besok. Tetapi lima surat pertama tolong diselesaikan ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Damai mengangguk patuh dan menerima map biru dengan tulisan 'Surat Penting' pada covernya. Setelah bu Philo kembali ke ruangannya, Damai mulai membuka map tersebut dan melaksanakan perintah sang atasan. Atasan yang baik dan tak pernah marah padanya meskipun dirinya berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tempo waktu yang singkat Damai telah menyelesaikan delapan surat. Format surat tersebut rata-rata sama, Damai hanya perlu mengkopi dan mengganti isi yang berbeda dari setiap surat. Hal mudah. Damai ingin bu Philo memberinya tugas-tugas yang lain yang sekiranya lebih menuntut kemampuannya secara tuntas. Kemampuan satu-satunya yang dimiliki gadis usia dua puluh dengan wajah oval yang jenaka. Tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sebelas siang, selesai sudah sepuluh surat yang menjadi tugasnya. Segera di print dan digabungkannya dengan surat contoh. Damai melepaskan kacamatanya dan menarik napas lega. Menanti pekerjaan apa lagi yang akan disodorkan bu Philo padanya. Bu Philo, atasannya, direktris perusahaan kontraktor yang diwarisi wanita paruh baya itu dari sang suami yang telah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya ibu ingin Opet, putra bungsu ibu yang meneruskan usaha ini, tapi menurut ibu Opet masih belum mampu, masih kuliah, masih suka ngumpul sama teman-temannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian apa yang pernah diucapkan bu Philo padanya. Damai sendiri tak begitu mengetahui sosok Opet itu seperti apa. Dia termasuk orang baru disini. Namun dari cerita-cerita bu Philo, Damai dapat menarik kesimpulan. Opet, anak bungsu yang manja yang masih suka menggantungkan hidupnya pada orangtua walaupun dia sendiri sebenarnya mampu bekerja pada perusahaan milik almarhum ayahnya. Dari cerita bu Philo sendiri Damai pun tau, Opet tak jarang terlibat pertengkaran dengan 2 orang kakaknya yang kesemuanya cowok. Rendra, dokter anak yang sukses dan menolak memegang pucuk pimpinan pada perusahaan ayahnya. Siwa, putra kedua yang memilih menjadi seniman ketimbang mengurusi perusahaan yang bergerak pada bidang yang amat jauh dari minatnya terhadap seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Damai, lima surat yang penting sudah diselesaikan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Philo berjalan ke mejanya dan meraih map tadi. Terpancar rasa puas dari wajah wanita setengah baya tersebut begitu melihat sepuluh surat telah diselesaikan Damai. Damai sendiri heran, sebenarnya bu Philo bisa meminta karyawan lain untuk menyerahkan tugas tersebut padanya dan mengambilnya kembali bila telah selesai diketik, namun bu Philo sedikit membuatnya merasa istimewah. Tak hanya bu Philo, semua teman-teman sekerjanya selalu membuatnya merasa istimewah meskipun tak ada nilai istimewah apa pun yang bisa ditemui di dalam dirinya. Damai tersenyum, membalas senyuman sang atasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Damai, kamu nanti lunch bareng ibu saja ya, kita lunch di kantor ibu, tadi ibu sudah pesan ke Opet untuk mengantar dua box lunch ke sini. Semoga anak bandel itu ndak lupa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai mengangguk setuju. Pukul 12 tepat Damai telah jenuh menunggu, menunggu pekerjaan lain yang bisa dilakukannya, namun pekerjaan itu tak kunjung datang, Damai jenuh bermain freecell, maka dengan segera dimatikannya komputer begitu jarum jam menunjuk angka 12. Bu Philo tak biasa telat lunch. Ruangan kantor sang atasan terasa sejuk dengan aroma jeruk yang segar. Damai duduk berhadapan dengan bos nya yang mana sang bos membalas tatapan gadis belia tersebut. Kebisuan mereka terganggu dengan kehadiran seseorang yang ribut dan suka banyak bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maamaaa!! Nih Opet bawain lunch pesanan mama tadi. Mama sengaja mesen dua box kan? Satu buat mama, satu nya lagi buat Opet. Opet lapar berat, tapi karena tau mama pasti ngajak Opet makan siang bareng, ya Opet tahan-tahan deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan Damai menumbuk sosok tinggi dengan cengiran yang jahil dan tatapan lucu. Cowok itu, yang pastilah Opet, membalas tatapan Damai dengan pandangan yang tak kalah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngg .. maaf, mama lagi ada tamu yah?"&lt;br /&gt;"Bukan tamu, ini Damai, karyawan disini juga."&lt;br /&gt;"Karyawan?! Plis deh ma!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Damai memerah seketika. Sepasang mata Opet seakan-akan menelanjangi dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah gadis itu terasa panas. Bukan karena malu, lebih lagi karena marah. Dia marah pada tatapan melecehkan itu. Tatapan yang paling dibencinya sejak dia mengerti mengapa dirinya selalu diperlakukan berbeda dari yang lain. Kali ini mata Damai terasa panas .. jangan sampai menangis Mai, batinnya bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bhrruuu .. haya phraamiitt mhhakkaaaa .. nnnn dhii lrruuuaarrr ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opet lebih terkejut lagi. Bu Philo tak mampu menahan Damai, kursi roda gadis itu telah melewati pintu dan menghilang. Tinggal lah Opet yang mengigit bibirnya sendiri. Bersalah kan, atau?? Bu Philo menggeleng lemah dan menarik napas dalam. Sedikit kesal atas sikap putranya yang kekanak-kanakan. Opet duduk di hadapan mamanya, bersalah .. gelisah .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma, Opet minta maaf .. Opet ga tau kalau dia ternyata juga gagu .."&lt;br /&gt;"Opet!! Tingkahmu itu betul-betul keterlaluan. Seenaknya saja dan ndak pernah berpikir dulu untuk bicara dan bertindak!!"&lt;br /&gt;"Opet hanya melakukan apa yang ingin Opet lakukan ma!!"&lt;br /&gt;"Tanpa peduli perasaan orang lain?"&lt;br /&gt;"Entahlah .. yang jelas Opet ga berniat melukai perasaan dia."&lt;br /&gt;"Dia punya nama .. Damai!!"&lt;br /&gt;"Plis dong ma .. Opet mana tau namanya Damai!"&lt;br /&gt;"Seperti kamu ndak tau kalau dia gagu alias ndak bisa bicara .. begitu!!?"&lt;br /&gt;"Ya .. ya .. seperti itu lah."&lt;br /&gt;"Keterlaluan .. nafsu makan mama hilang .. kamu makan saja lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opet memandang mamanya dengan pandangan tak percaya dan jutaan perasaan tak enak. Sikapnya memang selalu salah di mata mama dan kakak-kakaknya. Tapi sikapnya barusan .. juga salah di matanya sendiri. Opet mengigit bibir pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai keluar dari ruanga bu Philo menuju kamar mandi. Air matanya tumpah saat itu juga. Kelewatan. Opet memang anak atasannya, tapi kelakuan cowok itu tanpa tata krama. Gadis itu sadar, dirinya memang gadis cacat yang menggantungkan hidupnya pada kursi roda. Dia sadar, tak mampu berbicara dengan baik karena gagu .. tapi telinganya, rasanya .. masih berfungsi dengan baik. Dan apa yang terjadi barusan di ruangan bu Philo, menusuk jiwanya yang paling dalam. Damai terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan diatas sana, dengarkan Damai yah .. Damai nggak ingin seperti ini, tapi apa daya, sejak lahir Damai dinyatakan cacat oleh dokter. Damai nggak bisa menggunakan kedua kaki yang dianugerahi Tuhan untuk Damai. Hidup Damai hanya bisa digerakkan oleh kursi roda ini. Bintang yang berkelip diatas sana, dengarkan Damai yah .. Damai ingin sekali bisa berkomunikasi dengan sesama, tapi apa daya, sejak lahir Damai mengalami kesulitan berbicara, Damai dinyatakan gagu sejak usia 8 tahun saat Damai tak mampu berbicara sepatah kata pun dengan baik. Tapi Damai berusaha untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Damai masih dapat mendengar, Damai masih dapat merasakan, seperti Damai masih dapat melaksanakan pekerjaan yang sekarang dengan kedua tangan Damai sendiri. Menjadi seorang juru ketik pada perusahaan kontraktor milik bu Philo. Damai tau, semua orang menyayangi Damai .. lebih pada rasa iba atas keadaan Damai .. Damai terima kasih pada mereka. Tapi kejadian siang tadi membuat Damai terpukul .. Opet begitu jijik melihat Damai duduk bersama bu Philo, Opet begitu ngeri membayangkan Damai yang cacat menjadi karyawan ibu nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai menarik napas panjang dan menarik gordyn biru dengan gambar bulan bintang favoritnya untuk menutupi kaca jendela kamarnya. Perlahan kedua tangannya mendorong kursi roda ke sisi ranjang dan tertatih menggunakan kedua tangannya untuk memindahkan tubuhnya ke kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, malam ini Damai ingin tidur, Damai lelah .. lelah memikirkan sikap Opet. Damai tak mau Opet memohon maaf, tapi paling tidak, ada wajah bersalah setelah kejadian tadi siang. Namun Damai kecewa Tuhan, Opet sama sekali tak menyesali kata-katanya. Tuhan .. temani Damai tidur yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memanjat do'a, gadis itu tertidur .. pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Damai .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai mendongak, bu Philo berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan pandangan bersalah. Damai tau, bu Philo pasti ikut menyesali kelakuan Opet kemarin siang, tapi Damai tak ingin wanita baik hati ini ikut merasa bersalah. Semua itu kesalah Opet, bu Philo jauh dari ini semua. Damai tak pantas marah pada bu Philo hanya gara-gara kelakuan Opet yang kurang sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haayaa ... graa pha pah bhuuuuww .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Philo tersenyum penuh arti, dia tau Damai terluka, sebagai seorang ibu, dia dapat membaca pancaran luka di mata Damai atas ulah Opet kemarin. Namun apa hendak di kata? Opet adalah anak yang keras kepala dan suka seenak hati bila bicara. Bu Philo sempat bicara kembali pada Opet kemarin malam, namun watak keras kepala Opet malah keluar bila dikasari. Apalagi dipaksa untuk minta maaf, mana mau sih seorang Opet minta maaf? Diberi bayaran berapa pun tetap saja dia tak bakal minta maaf meskipun dia tau sikapnya salah banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu minta maaf yah atas ulah Opet kemarin.”&lt;br /&gt;“Thiiddaaakk apha apha bhuuww ..”&lt;br /&gt;“Ibu tau kamu terluka Damai .. kamu mau kan maafin Opet?”&lt;br /&gt;“Iiiiyyaaaa bhuwww.”&lt;br /&gt;“Makasih yah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, pada saat yang bersamaan Opet muncul. Maksut Opet sejujurnya adalah untuk meluruskan keadaan yang sempat tak enak kemarin siang, namun begitu melihat mama nya meminta maaf pada Damai, rasa tak enaknya muncul, jiwa mudanya, sikap congkaknya sebagai anak atasan seakan tercolek. Opet tak terima sang mama meminta maaf pada Damai! Rencananya menjadi kacau. Ditahannya emosi dan memilih untuk tak mengganggu percakapan mamanya dan Damai dan memperhatikan dari balik meja yang lain. Begitu bu Philo kembali ke ruang kerjanya, Opet segera menghampiri Damai. Damai terkejut melihat kedatangan Opet yang begitu tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh .. kamu jangan sok yah! Mama boleh saja minta maaf ke kamu, tapi itu ga berarti aku juga minta maaf! Muak aku melihat tampangmu di perusahaan ini!!”&lt;br /&gt;“Khhaammuuu??”&lt;br /&gt;“Bicara saja susah, masih mimpi kerja kantoran!!”&lt;br /&gt;“Opphheett, hayaaahhh trriiddaaakk bbbherrmakssutt ....”&lt;br /&gt;“Alah alah!! Diam!! Gadis cacat seperti kamu bisa apa sih?!”&lt;br /&gt;“Khammhuu shendhirriii bbbhhissaa aapphhaa?? Khaaammuhh jjuggaaa haanyyaa bbiisaa hhuraaa-huurraaahh thannphaaahh mmmau bberruusaahaa ddhan kkerjjahh, kamhhuu ggaagg bishhaa aphhah phunnn!!!”&lt;br /&gt;“Kamu!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertatih-tatih Damai bicara, dia kesal pada sikap Opet yang seenak perut itu. Matanya terasa panas, perlahan tangannya mendorong kursi roda menjauhi Opet, menjauhi meja kerjanya sendiri menuju kamar mandi. Mata Damai basah. Kesal sekali mendengar  kata-kata Opet yang jelas-jelas melecehkannya. Sebenarnya dia salah apa sih? Anak bandel itu benar-benar keterlaluan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Opet adalah musuhnya meskipun sejak kejadian itu pula, Opet tak pernah lagi datang ke kantor mamanya, cowok itu seakan lenyap di telan bumi!! Damai merasa lega dengan tak melihat sosok Opet dalam hari-harinya. Lebih baik begitu bukan? Dari pada hatinya hanya akan dibuat sakit oleh tingkah anak manja itu! Bagi Damai, Opet lebih baik tak usah menampakan batang hidungnya lagi di kantor itu, Damai benar-benar muak dalam ketidak berdayaan dan perasaan terhina yang amat sangat hanya dengan mengingat wajah Opet! Kebencian Damai benar-benar tak dapat ditolerir lagi, seperti sikap Opet yang tidak tau diri itu. Bukan salah Damai bila dirinya memasukan lamaran kerja sebagai juru ketik pada perusahaan kontraktor bu Philo, bukan salahnya juga bila bu Philo lantas menerimanya menjadi pegawai disitu. Dia hanya ingin membuktikan pada dunia bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang berarti meskipun dalam posisi serba kekurangan seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai sadari, kebaikan bu Philo lebih karena kecacatan yang diidapnya. Namun dirinya toh dapat membuktikan kemampuan jari-jari tangannya sebagai juru ketik perusahaan. Bukan salahnya juga bila teman-teman sekantor memperlakukan dirinya lebih istimewah seperti perlakuan bu Philo padanya. Semua itu sama dengan seperti bukan salahnya bila terlahir sebagai gadis cacat! Toh semua orang tak ingin dilahirkan dengan kekurangan-kekurangan itu, semua orang ‘seandainya dapat memilih’ pasti ingin terlahir sempurna. Namun kehendak Allah siapa yang sanggup menolak apalagi melawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun sudah lamanya setelah kejadian yang tak mengenakan itu. Sejak itu pula Opet memang tak pernah datang kembali, terluka kah dia dengan kata-kata Damai yang patah-patah dan kurang jelas itu? Kalau iya, artinya dia pun tau bagaimana perasaan Damai terluka dengan kata-katanya sendiri yang tak sedap di dengar. Namun jauh di lubuk hati Damai, dia telah melupakan masalah itu .. disadarinya, itu adalah selingan yang harus dihadapinya dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Philo sendiri seakan enggan membicarakan masalah itu lagi. Lagi pula, itu hanya masalah kecil dibandingkan dengan masalah yang dihadapi perusahaan mereka di tahun-tahun beliau memegang jabatan sebagai pimpinan tunggal. Pekerjaannya sudah tentu lebih menyita waktunya yang berharga ketimbang memikirkan masalah itu. Bagi bu Philo, kejadian itu telah lama lewat, 3 tahun yang lalu! Dan disadari atau tidak, bu Philo tak lagi mau berkeluh kesah tentang keluarganya pada Damai. Ibu yang baik hati itu sadar, Damai memiliki masalah sendiri, sehingga biar saja masalah rumah tangganya diendap sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tahun yang cukup tentram bagi perusahaan bu Philo, sampai pada suatu siang, sosok Opet datang dengan gayanya yang amat jauh berbeda! Bu Philo memeluk Opet dan mengajak semua karyawan berkumpul di aula. Di depan mereka, para karyawan, Opet berdiri dengan gagahnya disamping sang mama dengan stelan jas hitam dan senyum memikat. Semua mata memandang tak percaya, seakan Opet yang ada sekarang adalah Opet yang dirombak habis-habisan dalam 3 tahun! Tak terkecuali Damai. Gadis itu merasakan sesuatu yang beda dari Opet. Tatapan Opet sama sekali tak tertuju padanya. Kalaupun pandangannya bersirobok dengan Opet, maka yang dilihatnya disitu adalah tatapan mata yang sedingin es. Entah kenapa Damai merasa merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak dan ibu semua .. adik-adik semua, kalian semua tentu tau, ini Opet, anak ibu yang paling bungsu. Well, dalam 3 tahun ini Opet kerja keras menyelesaikan kuliahnya. Minggu yang lalu Opet diwisuda, Insinyur loh sekarang ..”&lt;br /&gt;“Wah hebat bu!!” celetuk salah seorang staf.&lt;br /&gt;“Iya, hebat! Karena nilai-nilainya begitu bagus. Well, seharusnya memang Opet lah yang menjadi pimpinan disini, namun berhubung Opet masih baru, dia perlu belajar akan sistem kerja kita. Ibu harap, dalam tiga bulan ke depan Opet bisa menyerap semua ilmu yang akan ibu ajarkan padanya. Opet lah yang nantinya akan menggantikan ibu, ibu telah letih bekerja selama ini.”&lt;br /&gt;“Plok plok plok!!” semua yang ada disitu memberi tepuk tangan yang meriah, termasuk Damai. Opet memang beda .. jauh berbeda dari Opet yang pernah dikenalnya 3 tahun yang lalu. Opet yang pernah mencelanya habis-habisan dengan mengolok-olok cacat yang diidapnya. Damai tersenyum .. getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 bulan yang terlalu cepat berlalu .. 3 bulan Opet berkutat dengan tumpukan buku dan jurnal perusahaan yang harus dipelajarinya dari sang mama. Bu Philo sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Opet di ruang kerjanya, mengajari banyak hal sehubungan dengan tugas Opet untuk menggantikan posisinya sebagai pucuk pimpinan. Opet sendiri sama sekali tak pernah menoleh ataupun melirik padanya. Damai merasakan hatinya jadi ikutan lumpuh. Opet selalu tersenyum manis dan bercanda dengan pegawai yang lain, namun bila Damai tiba-tiba muncul, Opet akan diam seribu bahasa dan memilih hengkang dari tempat itu. Begitu anti pati nya kah Opet terhadap dirinya? Terhadap cacat yang diidapnya? Damai merasakan jiwanya terpukul .. Opet masih membencinya setelah 3 tahun berselang, Opet seakan ingin membalasnya dengan cara yang berbeda .. sama sadisnya namun dengan cara yang lebih halus. Opet masih membencinya. Damai kembali merasakan matanya basah. Cengeng!! Janganlah menjadi gadis cengeng Damai! Lagi-lagi batinnya berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, mimpi buruk Damai pun dimulai. Sehari setelah pesta perpisahan bersama bu Philo yang cukup meriah berlangsung di aula kantor. Damai tau, Opet adalah pimpinannya sekarang, dan dia sendiri mendengar dari mulut Opet,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai, aku ga sama dengan mama, aku ingin setiap pagi kamu ke kantorku dan mengambil sendiri semua surat dan catatan yang harus diketik, mengingat tugas kamu disini adalah sebagai juru ketik, maka berkerjalah sebagai juru ketik yang baik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bicara pun Opet tak mau menatapnya, tatapan Opet tertumbuk pada layar komputernya dengan window freecell. Oh My God .. pasti Opet akan mengomentari kebiasaanya nge-game saat jam kerja. Tapi tidak, Opet hanya bicara itu dan berlalu tanpa senyum, tanpa suara yang ramah. Damai tau Opet saat ini tengah membalas sakit hatinya. Tidak adil!! Sungguh tidak adil, karena Damai sama sekali tak mampu membalas sakit hatinya .. Damai mendesah .. ini kah akhir karirnya sebagai juru ketik??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opet adalah sosok pemimpin yang ulet dan penuh kedisiplinan. Entah kemana dibuangnya semua sikap amburadulnya selama ini. Setiap pagi tiba di kantor, Opet pasti telah menunggunya mengambil berkas yang akan diketik di ruang kerjanya. Ruang kerja itu kini lebih terkesan maskulin, bunga-bunga yang tak perlu disingkirkan, diganti dengan miniatur mobil atau bangunan. Opet selalu menunggunya setiap pagi dengan tatapan sedingin es. Damai merasakan beban pekerjaannya bertambah banyak. Memang sih, selama ini gadis itu mengharapkan pekerjaan yang lebih menuntut kemampuannya sebagai juru ketik, tapi yang dialaminya sekarang benar-benar menyita seluruh waktu kerjanya dan membuatnya letih. Tak ada lagi waktu senggang untuk nge-game. Tak ada lagi yang namanya nasehat untuk beristirahat bila dirinya letih. Yang ada hanya kerja dan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa temannya sendiri pun merasakan hal yang sama. Para kepala bagian dituntut untuk lebih mengeksploitasikan kemampuan mereka di bidangnya masing-masing. Bahkan Opet tak segan-segan mengancam untuk mengganti mereka dengan tenaga-tenaga yang lebih handal. Betul-betul mesin pekerja!! Pagi buta sudah nangkring di ruang kerjanya dan malam hari baru lah dirinya dapat pulang ke rumah. Hanya Opet yang begitu, karena para pegawai memilih untuk pulang tepat waktu, jam 4 sore. Untuk apa berlama-lama di kantor bila yang mereka temui bukan lagi canda dan obrolan ringan yang biasa dilontarkan bu Philo, melainkan tuntutan untuk kerja dan kerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opet akhirnya mempekerjakan seorang sekretaris baru. Sekretaris yang mengatur semua surat-surat dan jadwalnya, sedangkan Damai bekerja semata-mata untuk mengetik dan mengetik setiap harinya. Padahal, ada lembaran-lembaran yang akan sia-sia bila di print ulang, namun Opet selalu membuatnya sibuk!! Damai sadar, dirinya tak mampu menjadi seorang sekretaris!! Penampilannya sungguh buruk! Opet membutuhkan obyek yang bisa membuat matanya kembali segar bila dirinya penat dengan pekerjaan. Apalagi bila mereka tengah mengejar tender besar, maka Opet akan seperti orang gila yang teriak sana, teriak sini. Opet memang berbeda, tapi entah kenapa Damai lebih memilih Opet yang dulu, bukan Opet yang sekarang. Meskipun Opet yang dulu pun tak punya hati sedikit pun untuk bermanis sikap padanya, namun Damai akan lebih memilih Opet yang dulu, yang baru dua kali ditemuinya dengan suasana yang tak enak. Seandainya Damai dapat memilih .. tapi tidak, Damai tak diberi pilihan apa pun!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu setahun Damai masih bertahan pada pekerjaannya ini. Mamanya sendiri sering memintanya untuk berhenti bekerja saja. Tak tega rasanya si mama melihat tampang anaknya yang keletihan setiap pulang kerja dalam satu tahun belakangan ini, sejak bu Philo digantikan oleh Opet. Damai tak usah capek-capek bekerja, toh orangtuanya masih amat mampu membiayai hidupnya, ditambah lagi permintaan kakek dan neneknya yang tinggal di kampung nelayan, yang selalu merindukan kehadiran Damai di tengah mereka, Damai yang mereka sayangi. Damai yang sejak balita tinggal bersama mereka dan pindah ke kota begitu menginjak usia sekolah. Namun sebagai gadis cacat, dirinya terus tertantang untuk membuktikan kemampuan diri sendiri, tapi sampai kapan? Sampai suatu hari saat dirinya dibentak Opet hanya karena ada satu kata yang kurang dalam surat yang diketiknya!! Damai dimarahi di depan Novi –sekretaris baru- dengan kata-kata yang pedis. Terlebih pada kecacatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tuh heran sama mama, orang cacat kok diijinkan bekerja disini! Sudah tau cacat, mana mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai marah, benci sekali mendengar kata-kata Opet yang menyudutkan seperti itu. Bu Philo tak akan memperlakukannya seperti ini. Bu Philo akan mendatanginya dan menjelaskan kesalahan ketiknya. Tapi Opet? Baru sekali ini Damai berbuat kesalahan, dirinya telah dibantai tanpa ampun oleh Opet. Damai tak kuat. Tak sanggup lagi bekerja pada perusahaan kontraktor ini, letih, capek, lelah, jenuh .. semua campur aduk jadi satu dan menghasilkan satu surat pengunduran diri darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, dengan pasti Damai masuk ke ruang kerja Opet. Disana, Opet tengah asik membaca koran pagi. Damai tersenyum, Opet cukup terperanjat, gadis ini tersenyum! Ditunggunya sampai Damai mengambil map berisi berkas yang akan menjadi pekerjaannya dalam sehari ini, tapi gadis itu mematung di hadapannya dan duduk dengan tenang di kursi rodanya. Opet menunggu .. tapi masih cuek membaca koran. Damai berdehem lalu meraih satu amplop putih dari tas kerjanya dan menyerahkan amplop itu ke hadapan Opet. Tanpa banyak bicara Damai segera mendorong balik kursi rodanya dan keluar ruang kerja Opet. Hari ini dirinya telah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bukan karena tak sanggup bekerja lagi, lebih karena tak sanggup menghadapi sikap Opet yang menurutnya sudah kelewatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini pula Damai diantar papa nya ke luar kota, ke pinggiran .. ke sebuah kampung nelayan pinggir pantai yang asri. Damai merasakan seluruh otot syarafnya bersorak gembira!! Dia bebas sekarang! Di kejauhan rumah kakek nenek, sepasang suami istri usia senja itu menanti kedatangan mobil mereka dengan senyuman penuh harap. Damai tau, disinilah tempatnya dulu, masa kecil yang membahagiakan. Sampai usia 7 tahun Damai dijemput papa untuk bersekolah di kota. Damai merindukan tempat ini, aroma lautnya yang khas dengan tempat pelelangan ikan yang selalu ramai dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai!! Cucu kakek sekarang telah besar!! Cantik sekali kau Mai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai memeluk pria tua itu, kakeknya .. diciuminya tangan dan pipi sang kakek yang berlutut di samping kursi rodanya. Nenek menghambur ke arah mereka dan ikut mengharu birukan suasana dengan tangisannya. Tangis bahagia seorang nenek terhadap cucu yang amat mereka sayangi. Damai terharu .. disinilah tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai, papa kembali ke kota yah? Kamu baik-baik disini, nanti kalau ingin ke kota, telpon saja papa dan mama, nanti papa jemput, oke?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai mengangguk setuju dan mencium tangan papanya. Mobil papa menjauh seiring dengan kelegaan besar yang dirasakan hati gadis itu. Disini, yang ada hanya laut, orang-orang ramah, ikan-ikan berserakan di tempat pelelangan ikan, pasir dan ombak yang merasuki kuping .. tak ada Opet dengan tatapan dinginnya, tak ada Opet dengan bentakannya yang menggelegar .. Damai merasa begitu damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak Mai!! Vika ke tempat lelang dulu yaaaaa .. nanti Vika kembali ke sini!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai mengangguk setuju. Vika adalah bocah usia 7 tahun yang menjadi sahabatnya dalam 6 bulan terakhir ini. 6 bulan sudah dirinya menjadi penduduk di kampung nelayan ini kembali. Vika adalah sahabat yang setia menemaninya ke mana saja. Vika selalu setia mendorong kursi rodanya setiap pagi dan sore dan menemani Damai memandangi laut lepas. Apalagi saat matahari akan kembali ke peraduannya, Damai dan Vika menatap takjub pada pendar cahaya keemasan yang diakibatkannya .. sunset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursi rodanya tegak di atas pasir yang menghitam setiap kali dijilati ombak. Damai tersenyum, setiap pagi mendatangi pantai ini bersama Vika, maka yang dilihatnya adalah langit yang tersenyum padanya, hatinya serasa dialiri air dari mata air pegunungan sejati. Setiap pagi pula Damai mendendangkan lagu ini bersama Vika ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan terangi malam diam sribu bahasa&lt;br /&gt;Menanti sepercik harapan dalam khayalan&lt;br /&gt;Fajar yang berkilau datang membuka hari&lt;br /&gt;Sinarmu memberi harapan yang bersahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah warna pada cahaya&lt;br /&gt;Menjadi lukisan pagi&lt;br /&gt;Bukalah renda agar cahaya&lt;br /&gt;Sinari damainya hati kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinarmu memberi harapan yang bersahaja ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah warna pada cahaya&lt;br /&gt;Menjadi lukisan pagi&lt;br /&gt;Bukalah renda agar cahaya&lt;br /&gt;Sinari damainya hati kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak Mai!! Kakak Mai!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai mendengar panggilan Vika .. ah bocah itu, selalu memberi keceriaan dalam hidupnya. Damai menoleh, pasti Vika ingin memamerkan gigi hiu lagi padanya, atau karang laut yang ditemui dalam perjalanan dari tempat pelelangan ikan menuju pantai. Tapi mata Damai tertumbuk pada satu sosok tinggi yang amat sangat dikenalnya namun seakan terlupakan dalam 6 bulan terkahir ini .. Opet. Darah dalam tubuhnya seakan dipaksa mengalir lebih deras dari biasanya, hatinya berdegup kencang, sama seperti masa-masa yang telah lama lewat. Untuk apa Opet mencarinya? Mencarinya? Atau hanya kebetulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Damai ..”&lt;br /&gt;“Hhhaaaiiihhh ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu masih sama seperti yang dulu, tak berubah sedikitpun. Yang berubah adalah tatapan mata Opet, lebih hangat dari biasanya. Damai menggigit bibirnya kesal. Untuk apa Opet menemuinya?? Kalau pun memang Opet ingin menemuinya. Tapi untuk apa? Damai sama sekali tak pernah memikirkan Opet, sekali duakali dia memang sempat membayangkan wajah Opet, tapi tidak lebih dari itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mai .. aku mencarimu.”&lt;br /&gt;“Mmmeennccaarrrhhiiikuuhh??”&lt;br /&gt;“Iya, aku ingin bicara banyak padamu. Setelah sekian lama .. aku akhirnya berani juga datang ke rumahmu dan meminta alamat tempat tinggal kakek dan nenekmu disini. Cukup sulit menemui alamatnya .. hmm aku ingin bicara Mai .. boleh kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai terdiam, menatap laut lepas di depannya yang tenang, tapi hatinya tak setenang laut. Bersama Opet hanya akan membuat dirinya seakan kembali pada masa-masa sulit dalam hidupnya. Kebisuan melanda diantara mereka, Opet berjongkok disampingnya, ikut menatap laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai, aku tau kamu pasti lebih suka disini, menikmati ketenangan di kampung ini kan? Tapi kampung ini ga membutuhkan kamu Damai, aku lebih membutuhkan kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai terkesiap mendengar ucapan Opet barusan. Opet lebih membutuhkan dirinya? Untuk dimaki-maki? Untuk dilecehkan? Untuk dihina? Cukup sudah dirinya mendapat perlakuan tak adil dari sosok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai, dengarkan aku bicara yah? Kalau hatimu ga mau menerima kehadiranku disini, tapi paling tidak, dengarkan saja apa yang akan aku bicarakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opet menarik napas panjang yang berat, seolah ingin melepaskan semua kepenatan yang diciptakannya sendiri. Opet bicara ... pelan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Damai, aku minta maaf atas semua kelakuanku yang semena-mena padamu selama ini. Aku begitu konyol dalam bertindak. Awal perjumpaan kita di ruang kerja mama saja telah membuat hatimu terluka .. tapi ketahuilah, kali kedua kita bertemu, seharusnya bukan pertengkaran yang terjadi, aku ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di hari sebelumnya. Namun entah kenapa, begitu aku melihat mama bersama mu dan meminta maaf padamu, hatiku seakan ga terima! Aku cemburu melihat perhatian mama yang begitu besar padamu Mai. Aku marah, dan kita bertengkar .. well, bukan kita .. aku lah yang marah-marah padamu dengan ucapan yang pedas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini Opet terdiam. Damai menahan napasnya .. ingin tau kelanjutan dari kalimat panjang yang baru saja didengarnya. Bohong? Benar? Bohong? Benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mai, tau kah kamu? Jawabanmu yang kasar dengan kata-kata yang hampir tak jelas ditelinga itu justru menjadi cambuk bagiku di kemudian hari. Kamu benar! Kamu yang cacat saja masih mau bekerja dan berusaha, sedangkan aku? Aku hanya bisa berfoya-foya, hura-hura dan menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas. Aku tercambuk Mai, aku termotivasi untuk segera menyelesaikan kuliah dan menjadi pimpinan di kantor. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa! Aku bisa menjadi manusia berguna dan lebih baik dari yang pernah kamu katakan. Aku ingin kamu membuktikan kemampuanku bekerja mengurusi perusahaan mama, menggantikan mama disana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhuuu ggahhgg thaauuu mmaakksshutttmuuhh bbeegghiittuhh.”&lt;br /&gt;“Iya, mana mungkin kamu tau, karena setiap hari yang ada hanya bentakan dan maraku padamu kan? Aku bahkan membuat pekerjaanmu menjadi begitu sulit. Aku ingin kamu marah dan berontak Mai! Tapi kegigihan dan kuatnya hatimu membuatku semakin berusaha menyudutkan posisimu sebagai gadis cacat! Naifnya aku Mai .. naif!! Aku ingin kamu meminta maaf padaku, memohon padaku untuk bersikap lebih lunak padamu, tapi apa yang kudapat? Surat pengunduran seorang Damai, juru ketik terbaik perusahaan yang handal!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Damai memerah mendengar itu. Dirinya wanita, dipuji seperti itu tentu saja membuatnya ketar ketir juga. Ditatapnya Opet, apakah ini Opet yang pernah dikenalnya dulu? Kalau saja dia diberi pilihan kembali .. dia akan memilih pilihan yang ketiga .. Opet yang saat ini duduk jongkok disampingnya dan mencurahkan isi hatinya dengan lebih manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enam bulan Novi menggantikan posisimu, aku malah semakin bete, Novi taunya hanya dandan dan bersolek! Surat-surat dan berkas-berkas banyak yang keteteran, aku sampai kelimpungan dibuatnya. Saat itu lah aku sadar, aku membutuhkanmu Mai, bukan Novi atau juru ketik yang baru! Aku membutuhkan jari-jarimu untuk melengkapi pekerjaanku. Jadi Damai, maukah kamu kembali bekerja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai kembali terkesiap .. ini seperti lukisan pagi yang sering didendangkannya bersama Vika. Vika nampak asik dikejauhan bermain bersama ombak kecil yang memukul kakinya yang kurus ceking. Nasib anak kampung nelayan yang serba kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thaaphhihhh aakkhuu cchhaachaatt.”&lt;br /&gt;“Demi Tuhan Damai!! Jangan bicara begitu! Dimana Damai yang kukenal dulu? Damai yang tegar meskipun keadaanya cacat? Damai, dengar yah .. aku mohoooonn padamu untuk kembali bekerja .. semua pegawai, teman-temanmu .. pak Broto, Aminah, Gery, dan yang lain-lain mengharapkanmu kembali. Aku pun begitu!!”&lt;br /&gt;“Bbbeennarrrrkhhahh??”&lt;br /&gt;“Ya .. aku serius, aku jujur Mai, hargailah keseriusanku dan kejujuranku ini. Aku ga menekanmu dengan dua hal ini, tapi ketahuilah Mai, aku seperti mati tanpamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai terdiam, menatap langit yang semakin merah. Bila benar begitu, dia mau kembali bekerja dan mendapati meja beserta komputernya kembali. Bila benar begitu, dia akan berusaha semampunya mendukung perusahaan yang telah memberinya banyak kesempatan itu. Bila memang OPET mengharapkan dirinya kembali, dia akan kembali, pasti itu .. Damai menoleh pada Opet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bhaikkllhhaaahh .. bbhhesshookk aakhhuu mhhinnttaaah pphhaphaah jjemphutt.”&lt;br /&gt;“Ga usah, malam ini juga kita kembali ke kota, aku telah bicara pada kakek dan nenek, juga pada orangtuamu. Mereka menyerahkan semua padamu, bila kamu setuju, aku diijinkan membawamu kembali ke kota nanti malam.”&lt;br /&gt;“Oohhhyhhaah??”&lt;br /&gt;“Hu`uh .. sekarang kita pulang yuk, aku dorong yah ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Opet hendak mendorong kursi roda Damai, Vika menjerit dari jauh dan berlari menghampiri mereka. Kakinya nampak kotor dengan pasir yang melekat basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vika yang dorong!! Vika yang dorongin!! Itu tugas Vikaaa!!”&lt;br /&gt;“Iya, kita gantian saja yuk?!”&lt;br /&gt;“Ga mauuuu Vika saja yang mendorong .. kakak temani kakak Mai ngobrol saja.”&lt;br /&gt;“Tapi ..”&lt;br /&gt;“Ophhetttt .. bhiiarrkhann sajhaahh.”&lt;br /&gt;“Oke.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga Opet membawa Damai pulang ke kota atas ijin kakek nenek dan orang tua Damai setelah di telpon. Vika menangis ingin ikut. Damai trenyuh, telah menjadi niatnya menjadikan Vika adiknya .. malam itu juga Damai memohon pada orang tua Vika agar Vika diijinkan ikut dengannya ke kota, bersekolah di kota, Vika akan menjadi adik angkatnya. Damai yang cacat telah berbuat banyak hal untuk orang lain. Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mobil yang sejuk, Opet berhati-hati menyetir mobil membelah jalanan desa terus menuju jalan antar kota .. menuju kota mereka. Menuju kehidupan yang lebih baik, dengan harapan yang lebih baik pula. Disampingnya Damai tertidur pulas, gadis ini begitu teguh, kukuh dan kuat, Opet ingin seperti Damai. Vika tertidur di jok belakang dengan wajah bocahnya yang lugu. Opet menghidupkan radio agar dia tak diserang kantuk ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibayang wajahmu kutemukan arti dan hidup&lt;br /&gt;Yang lama lelah aku cari di masa lalu&lt;br /&gt;Kau datang padaku kau tawarkan hati nan lugu&lt;br /&gt;Selalu mencoba mengerti hasrat dalam diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mainkan untukku sebuah lagu&lt;br /&gt;Tentang negeri di awan&lt;br /&gt;Dimana kedamaian menjadi istananya&lt;br /&gt;Dan kini tengah kau bawa aku menuju ke sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hatimu penuh dengan bahasa kasih&lt;br /&gt;Yang terungkapkan dengan pasti&lt;br /&gt;Dalam suka dan sedih ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuteh, Juni 2004 &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109996344609338655?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109996344609338655/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109996344609338655' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109996344609338655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109996344609338655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/11/d-m-i.html' title='D-a-m-a-i'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109808115918212608</id><published>2004-10-18T15:29:00.000+09:00</published><updated>2004-10-18T15:32:39.183+09:00</updated><title type='text'>Adilkah??</title><content type='html'>(catatan: cerita ini sudah pernah diposting di blog mami vi3-thx)&lt;br /&gt;by :  tuteh--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah lama menyapa, rembulan mengintip dari balik awan dan menyungingkan senyum. Aku berdiri di bawah jendela kamar dan menatap langit hitam bertabur bintang dengan bercak hitam awan di atas sana. Satu jam yang lalu teman-temanku pamit pulang setelah perayaan ulangtahunku yang ke 29 berakhir. Bukan pesta besar seperti layaknya para abg merayakan kebahagiaan hari lahir ini, hanya sekedar ngobrol bersama mengenang masa lalu dan makan-makan. Itu cukup bagiku. Aku merasa telah amat tua untuk berpesta pora merayakan ulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, udah tau kabar Sandy belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Rena tadi membuatku sedikit tersentak. Kabar? Sandy? Ah,.. Sandy yang pernah kucinta. Kutarik napas panjang dan membalas senyuman rembulan dari atas sana. Getir. Kubiarkan angin malam menerpa wajahku, perlahan tapi pasti memoryku bersama Sandy melintasi lorong waktu, menembusi dinding jiwa lalu menyatu bersama kepingan puzzle dari masa kini, aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal Sandy saat kami sama-sama tercatat sebagai siswa smu Biru dan selalu sekelas. Ketertarikanku padanya rasanya wajar saja, mengingat Sandy adalah cowok cool yang terkadang suka jaim terhadap kaum hawa. Sikapnya yang cuek bila berdekatan dengan teman-teman cewek membuatku begitu menyukainya. Namun ada yang salah dari rasa ini, saat itu aku telah memiliki dan dimiliki Pram, cowokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau, Sandy agak kesal padaku karena sikapku yang katanya ‘centil’ dan sok imut. Ah, masih kuingat bagaimana Sandy dan teman-temannya meledek kepang dua rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idih idih, norak deh ah!" Romi mengikuti langkahku dan menarik-narik kepang dua rambutku. Aku melotot, pura-pura hendak marah, namun begitu melihat cengiran lebar dari satu sosok di samping Romi, semua marahku seakan luruh begitu saja.&lt;br /&gt;"Mau jadi siti nurbaya nih?" aku menepis tangan Romi dari rambutku.&lt;br /&gt;"Sirik aja kamu!" umpatku. Tangan Romi kembali menarik kepangan rambutku dan berucap,..&lt;br /&gt;"Terotet!!! Persis terompet bunyinya hahahaha." sebelum hantaman ranselku mengenainya, Romi telah jauh menghindar. “Maafin Romi yah.” Ucap Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubunganku dengan Sandy awalnya biasa-biasa saja, selayaknya para remaja bersahabat. Lagi pula hubungan cintaku dengan Pram bukan lagi menjadi rahasia, rasa-rasanya semua orang pun tau kalau aku adalah milik Pram, demikian pula Sandy. Lambat laun semuanya berubah saat kami ternyata sama-sama menjadi anggota kelompok belajar. Awalnya aku menolak, masa sih aku sekelompok dengan Sandy? Namun pak Yunus, guru Bahasa Indonesia kami itu, tak pernah mau berkompromi. Meskipun ada lima orang yang tergabung di dalam kelompok belajar kami, namun nampaknya hanya aku dan Sandy lah yang paling aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami murni sobatan, meskipun ada rasa suka padanya, aku tak mau merusak persahabatan kami. Pada pelajaran tertentu aku dan Sandy malah sering diskusi bareng dan saling debat. Tak jarang kami justru menjadi partner untuk urusan mencari data di perpustakaan sekolah yang berbuntut makan bareng di kantin. Yang aku herankan adalah, aku lebih menyukai kebersamaanku dengan Sandy dibandingkan dengan Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu waktu, aku dan Pram ribut. Gara-gara Pram ketahuan mengirim surat cinta untuk Linia. Aku marah besar padanya. Pram mengelit, membantah kalau surat itu berasal darinya, namun setelah kudekati Linia dan bertanya langsung, Linia membiarkan aku membaca surat itu .. air mataku tumpah. Ada sesal, namun kelegaan lebih menguasaiku saat itu. Lega? Ya lega, karena dengan berpisah dari Pram, akan lebih besar kesempatanku mendekati Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hubungan cintaku bersama Pram yang diketahui semua orang, perpisahan kami pun menjadi bahan gosip di mana-mana. Setiap kali ke kantin, kuping ku menangkap obrolan tentang diriku. Melewati teman-teman yang bergerombol pun masih saja aku mendengarnya. Tidak hanya itu, saat aku tengah serius mencari bahan diskusi di perpustakaan, masih jua mereka menggosipkan perpisahanku dengan Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah bila aku memilih untuk berpisah dari Pram? Pram telah melukaiku dengan berselingkuh bersama Linia. Untuk apa mempertahankan hubungan yang telah ‘patah’ seperti itu? Hanya akan membawa kami pada pertengkaran demi pertengkaran akibat dari curiga dan tak ada lagi kepercayaan dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, tabah yah, aku tau mereka selalu membicarakanmu.” Ujar Sandy di suatu sore, diantara buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja ruang tamu rumahku.&lt;br /&gt;“Makasih San.” Ujarku tulus.&lt;br /&gt;“Seringkali orang bertanya untuk hal yang sebenarnya telah mereka ketahui dengan maksut memperluas jawaban yang sudah ada.” Bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu lah Sandy. Menyikapi segalanya dengan kepala dingin. Aku akui, setelah putus dari Pram, Sandy lah tempatku berbagi suka dan duka. Sandy lah yang setia mendengar uneg-uneg dan sumpah serapahku. Dengan setia dia akan menjadi pendengar yang baik lalu memberikan solusi yang tepat untukku. Lambat laun, rasa suka itu berubah menjadi cinta. Benar kata pepatah, cinta akan datang karena kebersamaan. Bagaimana tidak? Awalnya saja aku telah menyukainya,.. kebersamaan kami selama ini rasanya cukup pantas merubah suka menjadi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“San, pacarmu siapa sih?” tanyaku, berusaha mencari tau statusnya.&lt;br /&gt;“Ga ada.” Jawab Sandy tegas.&lt;br /&gt;“Masa iya sih kamu ga punya pacar?” tanyaku tak percaya.&lt;br /&gt;“Emang. Kenapa? Mau jadi pacarku yah?” ah,.. pertanyaan atau pernyataan? Yang jelas wajahku memerah karenanya.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu bersedia menjadi pacarku?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Bila mungkin, kenapa tidak?” yea, asa jiwa seolah terjawab sudah. Tanpa penegasan,.. tersamar tapi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mata .. berusaha mengingat kejadian apa yang berlaku setelah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,.. kukuhnya Sandy agar mendapat restu dari orangtuaku untuk pacaran. Aku amat terkejut mendengarnya. Mana mungkin papa mengijinkan aku pacaran? Well, aku memang pernah pacaran dengan Pram, namun itu pun secara sembunyi-sembunyi. Tapi Sandy? Dia tak mau pacaran ala ‘backstreet’ yang katanya amat kekanakan. Dia ingin menjalin cinta yang direstui oleh orangtuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Sandy nekat bicara pada orangtuaku.&lt;br /&gt;“Om ga ngijinin kalian pacaran, titik!” kiamat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duniaku terasa runtuh. Tanganku sedingin es, duduk di samping Sandy, menerima kuliah yang diberikan papa tanpa memberi kami kesempatan untuk membantah apalagi melawan. Sandy pulang dengan tangan hampa, aku merasa kehilangan. Kekecewaan menyelimuti perasaanku malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, aku tau alasan orang tuamu ga ngijinin kita pacaran.” Lagi-lagi perpustakaan kota menjadi tempat kami melepas rasa. Digenggamnya tanganku.&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Keyakinan.” What? Keyakinan?&lt;br /&gt;“Maksutmu?”&lt;br /&gt;“Fi, mengertilah, aku moslem dan kamu nasrani .. lihat lah perbedaan itu. Orang tua mu mana mungkin setuju?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap matanya yang dingin namun berakhir dengan basahnya mataku. Demi Tuhan aku mencintai cowok ini, aku tak mau berpisah darinya sedetik pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku cinta kamu Pram.”&lt;br /&gt;“Aku juga Fi, ketahuilah, kamu cinta pertamaku meskipun aku bukanlah cinta pertamamu. Kamu lah wanita pertama yang pernah menyentuh sisi batinku yang paling dalam.” Aku pun menangis.&lt;br /&gt;“Then let me love you and be your love.” Harapku.&lt;br /&gt;“Hhhhh .. sebenarnya aku tak setuju pacaran seperti ini. Aku akan bicara kembali pada papamu.” Berbicara kembali denga papa? Apakah Sandy mengira papa akan merubah keputusannya?&lt;br /&gt;“Tapi San, papa ga mungkin merestui kita pacaran!”&lt;br /&gt;“Let me try again honey.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Sandy dan aku bicara pada papa. Duh sulitnya prinsip yang dipegang teguh oleh Sandy!&lt;br /&gt;“Om, mungkin om sudah tau maksut kedatangan saya. Om, biarkanlah kami pacaran karena saat ini kami ga mungkin lagi dipisahkan.” Papa menatap tajam ke arah kami. Tanganku kembali dingin, keringat halus membasahi keningku.&lt;br /&gt;“Hmm,...” papa berdehem.&lt;br /&gt;“Untuk saat ini saja om.” Pintanya pasti. Aku rasa, tak semua cowok bisa se-gentle Sandy.&lt;br /&gt;“Hmmm,.. baiklah. Kalian tau kalau kalian berdua ga mungkin bersatu karena hal-hal tertentu .. mengerti kan? Oke lah untuk sekarang kalian pacaran, tapi dengan satu komitmen, kalian harus berpisah setelah lulus smu. Terima atau tidak?” aku dan Sandy terkejut mendengarnya.&lt;br /&gt;“Terima om.” Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit. Tapi bahagia. Perasaanku saat itu amat lah sulit dijabarkan dengan kata-kata. Pacaran dengan komit putus. Tapi toh aku jalani semuanya bersama Sandy. Mencintai Sandy ibarat melempar senyum pada dua buah cermin pada saat yang bersamaan. Akan terpantul dua senyum yang lebih manis dari senyumku. Sandy begitu baik dan penuh pengertian padaku. Perlahan sikapku yang sok imut dan kecentilan berubah menjadi lebih dewasa. Aku belajar dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun mencintai Sandy dan dicintai oleh nya membuatku berharap agar waktu tak usah berjalan, biarlah semuanya terhenti dalam keadaan yang seperti ini. Dimana ada cinta dan bahagia yang bersatu erat dalam jiwa. Gerimis cinta dan kasih sayang membasahi kami setiap waktu dalam perjumpaan dan kebersamaan. Dari Sandy pula aku mengerti, bahwa cinta bukan lah hal yang sulit untuk di mengerti. Biarkan cinta mengalir apa adanya dia, sampai pada satu titik dimana cinta tak dapat mengalir lagi .. berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sosoknya aku menerima kelapangan jiwa untuk ‘siap kehilangan’ orang yang paling kita cintai pada suatu saat nanti. Belajar lah untuk sebuah kehilangan yang telah ‘pasti’ menanti kami di depan. Semua ini adalah ‘kesepakatan’ bersama antara papa, Sandy dan aku. Sakit. Amat sangat sakit bila mengingat kami harus berpisah setelah manisnya cinta yang kami reguk bersama. Namun lagi-lagi Sandy selalu dapat membuatku tersenyum,.. nikmatilah hati ini, karena hari ini takkan terulang esok. Esok akan datang dengan hakikatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun yang indah pun akhirnya usai. Setelah lulus smu, kami mengejar deadline yang tersepakati meskipun secara terpaksa. Mengapa waktu berjalan begitu cepat?! Aku masih haus akan cinta dan curahan kasih sayangnya. Aku masih ingin terus bersamanya dan tak ingin berpisah darinya sedetik pun. Aku masih ingin merasakan hangatnya dekapan dan lembut bibirnya. Aku masih mencintai Sandy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fi, harus sampai disini lah jalan yang kita tempuh. Semua nya terasa indah yah?”&lt;br /&gt;“San,.. aku engga mau.”&lt;br /&gt;“Ga mau apa? Ingat apa kata papamu.”&lt;br /&gt;“San,.. kesannya kamu ga cinta aku yah?”&lt;br /&gt;“Siapa bilang? Sudah kubilang kamu cinta pertamaku, pertama Fi, ga mudah melupakan yang pertama.”&lt;br /&gt;“San,..”&lt;br /&gt;“Episode hidup kita yang ini telah berakhir Fi, kuatkan lah hatimu, terapkan pembelajaran yang kita jalani selama ini. Bukan kah kita telah banyak belajar selama tiga tahun ini? Mengertilah bahwa ..”&lt;br /&gt;“Cinta bukanlah hal sulit untuk di mengerti. Biarkan dia mengalir apa adanya sampai pada satu titik dia ga bisa mengalir lagi .. pisah.” Kulengkapi kalimatnya. Sandy tersenyum dan mengacak rambutku mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemesraan yang harus BERAKHIR!! Sakit!! Kecewa!! Tapi aku harus menerimanya. Nelangsa hatiku. Papa pun rupanya tak mau berlama-lama membiarkan aku terus bertemu dengan Sandy. Aku dikuliahkan di luar negeri. Australia,.. terpisah jutaan jejak kaki dari Sandy. Namun hatiku masih terasa dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini. Setelah betahun-tahun semua itu berlalu, hati ini masih saja terasa dekat dengannya. Karena kebersamaan kami bukan hanya berlandaskan nafsu sesaat, lebih dari itu, ada pengertian, setia dan pembelajaran untuk lebih dewasa dalam menghadapi setiap cobaan yang mengiringi langkah kami. Sampai saat ini, telah 26 usiaku, rasa itu masih ada di hati walaupun kuantitasnya tak lagi sebanyak dulu,.. namun masih ada. Mataku basah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap bulan diatas sana, masih juga dia tersenyum, menghiburku dengan sinar indah yang jatuh di wajah. Aku menutup jendela kamar. Cukup sudah mengenang Sandy. Biarkan namanya tetap ada di hatiku, tertumpuk bersama nama-nama yang lain, yang pernah singgah di sana. Kubaringkan tubuhku di ranjang dan meraih handphone. Kupasang headphone dan menghubungkannya pada handphoneku. Radio .. kegemaranku sebelum tidur adalah mendengar radio siaran malam yang penuh melody romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagu yang tepat kudengar saat ini, kembali mengiris perasaanku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah memutuskan tak lagi bersama,..&lt;br /&gt;Karna rintangan yang ada tak henti menghadang,..&lt;br /&gt;Haruskah ku menepis resah ini,..&lt;br /&gt;Salahkah aku atas perasaan ini,..&lt;br /&gt;Yang tak mampu menutupi,..&lt;br /&gt;Aku masih cinta kamu,..&lt;br /&gt;Biarkan aku pilih jalan tuk sendiri,..&lt;br /&gt;Tanpa harus ada lagi,..&lt;br /&gt;Cinta selain dirimu kasih,..&lt;br /&gt;Keyakinan yang memisahkan kita,..&lt;br /&gt;Buatku bertanya,..&lt;br /&gt;Adilkah ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya,.. adilkah semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109808115918212608?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109808115918212608/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109808115918212608' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109808115918212608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109808115918212608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/10/adilkah.html' title='Adilkah??'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109745924293195685</id><published>2004-10-11T10:45:00.000+09:00</published><updated>2004-10-11T10:47:22.930+09:00</updated><title type='text'>Satu Janji</title><content type='html'>Aku kangen padanya. Pada binar indah matanya. Dua lesung pipi-nya. Rambut kriwilnya yang jatuh di pipi. Derai tawanya yang renyah. Giginya yang berbaris rapih. Ciuman lembutnya yang kemudian memanas. Tubuh langsingnya yang selalu ingin kupeluk. Pada airmatanya bila sedih melanda. Pada otaknya yang smart. Pada selera pakaiannya yang asal terkesan menyembunyikan kemolekan tubuhnya. Pada semua yang dimiliki Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada Juli. Pada lima tahun yang lalu perjumpaan kami di bawah gerimis. Pada motornya yang rusak, yang memberiku kesempatan untuk mengantarnya pulang. Pada ucapan terima kasih pertama yang keluar dari bibirnya atas kebaikanku. Pada secangkir teh hangat yang dibuatnya untukku. Pada hari berikutnya saat aku mengantarnya ke bengkel. Aku kangen pada semua yang ada pada Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada cewek berhati baik itu. Pada persahabatan yang ditawarkannya. Pada perhatian yang diberikannya untukku. Pada keterkejutannya tatkala aku bilang 'cinta',.. Pada sikap menerimanya yang tulus. Pada pengakuan cintanya kemudian setelahnya. Pada kebersamaan yang kami reguk berdua. Pada hari-hari kuliah penuh cinta, mengunjungi pertunjukan teater dan wakuncar yang romantis di rumahnya. Pada genggaman jemari pertama kami di dalam mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada cewek tercinta ini. Juli. Kangen pada air mata kesedihan empat tahun lalu saat ayah-nya tercinta dipanggil Illahi. Pada kedukaan yang menyelimuti harinya. Pada kebangkitannya yang keras untuk kembali ceria. Pada jiwa tabahnya menjalani hidup ini bersama mama tercinta. Pada kepercayaannya untukku, bahwa dia tidak sendiri, selalu ada aku yang setia menemaninya. Kekasih jiwanya. Belahan hatinya. Aku kangen Juli. Cewek tercintaku,.. aku kangen padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada cewek tegar ini. Kangen pada kenyataan pahit yang harus diterimanya saat aku mendua. Kangen pada keputusannya tiga tahun lalu untuk meninggalkanku karena kebodohanku sendiri. Pada airmata yang sempat kuusap dari pipinya dengan penuh permohonan untuk  memaafkan salahku itu. Selalu kangen pada maaf yang diberikannya setiap kali aku berbuat salah. Dia cewek tercinta yang paling mengerti 'siapa aku' yang sesungguhnya. Padanya lah cintaku berlabuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada Julie. Pada ciuman pertama kami yang lembut dan datar setelah kebodohanku. Pada lidahnya yang melilit lidahku di dalam rongga mulutnya. Pada hangatnya ciuman kami yang berikutnya. Pada panasnya ciuman kami yang ke sekian kali nya. Pada elusan jemarinya dirambutku saat kulumat mesra bibirnya. Pada erangannya atas nakalnya tanganku diatas tubuhnya. Aku kangen pada pribadinya yang tidak bergaya hidup bebas,.. keliaran dan kesopanan seorang wanita,... semua kutemui pada dirinya. Ah Juli,.. taukah kamu kalau aku kangen padamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada Juli. Pada Setahun yang lalu saat motornya diseruduk bis dari belakang akibat rem yang blong. Pada jeritan kesakitannya setelah siuman di rumah sakit. Pada airmata yang meleleh di pipinya karena kehilangan kedua kakinya. Pada kerapuhannya yang,.. sumpah,.. ingin aku sirnakan semua pedih itu agar Juli dapat kembali menjadi cewek ceria, milikku utuh. Aku kangen untuk ikut menjerit bersamanya di jembatan,.. mengenang kedua kakinya yang telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada Juli. Pada sikap bodohnya untuk menegak arsenik lalu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan aku disini. Terpekur di nisannya tanpa tau harus berbuat apa. Tanah itu masih merah,.. kesedihan hidupnya adalah milikku. Air mata nya adalah punyaku. Cintanya adalah hak-ku utuh!! Tapi jiwanya adalah milik Yang Kuasa. Juli pergi bukan karena menegak arsenik melainkan pergi karena ajal. Ajal yang digariskan Tuhan untuknya. Dengan cara apa pun manusia pergi dari dunia, itu karena ajal. Ajal lah yang berbicara seperti itu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen Juli!! AKU BERTERIAK!! TUHAN, AKU KANGEN PADA CEWEK TERCINTAKU yang telah memberiku cinta seutuhnya dan mengajarkan padaku untuk mencintai-nya dengan tulus tanpa paksaan. Aku cinta Juli dan saat ini perasaanku begitu terdesak oleh rasa kangen. JULI!!! Aku kangen padamu,.. janjiku untukmu saat itu ga akan pernah aku lupakan,.. I WILL LOVE YOU ALWAYS. But if God want you to leave this world,.. nobody can hold it!! Aku kangen kamu Juli. Kangen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selama ini hanya kupendam rinduku&lt;br /&gt;Walau kini hanya bayang kasihmu&lt;br /&gt;Cahaya sinar dari hatimu&lt;br /&gt;Kini hanya jadi teman mimpiku&lt;br /&gt;Satu janji telah kuucapkan untukmu&lt;br /&gt;Tapi kini sirna tanpa ada prasangka&lt;br /&gt;Walaupun hanya sesaat&lt;br /&gt;Seharusnya .. hatiku hanya untukmu&lt;br /&gt;Seandainya .. aku menjadi milikmu&lt;br /&gt;Sejujurnya .. tiada yang lebih darimu&lt;br /&gt;Semestinya .. tiada yang lain darimu&lt;br /&gt;Walau kini hanya hias tawamu&lt;br /&gt;Yang kan temani isi hatiku&lt;br /&gt;Satu janji telah kuucapkan untukmu&lt;br /&gt;Tapi kini sirna tanpa ada prasangka&lt;br /&gt;Walaupun hanya sesaat&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Olrait mitra muda dimana saja kamu berada, itu tadi persembahan terakhir saya untuk malam ini,.. THE LOVE MUSIC akan kembali besok mengisi malam-malam kamu semua, stay tune in Brilian Radio, after this Nuno will take my place with KISAH MALAM,.. cya!!" kuletakkan headset dan melambaikan tangan pada Nuno dari balik dinding kaca ini. Ah,.. aku kangen Juli. Lagu itu membawa perasaanku melayang pada kebersamaan kami di hari lampau. Janji itu akan selalu kupegang, aku cinta padanya. Sampai kutemukan yang bisa menggantikan Juli di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109745924293195685?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109745924293195685/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109745924293195685' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109745924293195685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109745924293195685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/10/satu-janji.html' title='Satu Janji'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109644897428173650</id><published>2004-09-29T18:08:00.000+09:00</published><updated>2004-09-29T18:09:34.283+09:00</updated><title type='text'>Firs, Last Kiss</title><content type='html'>Sinar matahari menembusi kisi-kisi jendela dan membias di pelupuk mataku. Ah, sudah pagi rupanya. Pulas sekali tidurku sampai-sampai aku lupa bangun untuk menjalankan sholat Subuh. Capek, letih dan lemes,.. itu lah yang membuat aku tidur seperti orang mati. Pekerjaan kantor begitu menyita waktu ku akhir-akhir ini. Seandainya aku bisa memilih, aku lebih suka bila bos yang lama tak dimutasikan ke daerah lain. Bos yang baru begitu gila kerja dan menganggap semua karyawan ibarat robot!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih handphone dan mengaktifkan nya. Rentetan sms yang masuk kemudian membuatku tertawa bahagia. Ah, hari ini aku berulang tahun! Hampir saja aku lupa. Berapa sudah usiaku sekarang? Tiga puluh dua. Pria dewasa dengan usia tiga puluh dua masih saja mendapat sambutan yang hangat di hari ulang tahunnya. Sebetulnya aku tak begitu memikirkan hari ulang tahun, namun aku tetap berterima kasih kepada mereka yang telah begitu peduli padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca satu persatu sms itu. Yang paling jorok adalah sms dari Rudi, teman mainku ke cafe bila malam hari aku suntuk. Dasar Rudi. Satu sms yang datang kemudian cukup membuat kening ku berkerut,..&lt;br /&gt;"Selamat Ulang Tahun Hero, I just wish you luck .. always luck."&lt;br /&gt;Wo wo wo .. seumur hidupku, hanya satu orang yang pernah begitu familiarnya memanggilku dengan sebutan 'hero' ... dia adalah seseorang dari masa lalu, yang telah terlupa setelah sepuluh tahun ini .. pagi ini dia datang dengan sms yang membuat perasaanku larut dalam haru biru. Dari mana pun dia mengetahui nomor handphoneku aku hanya bisa bilang, Yuli, terima kasih masih mengingatku, maaf bila aku tidak membalas sms darimu, aku tak boleh karena aku tak ingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata orang bijak, sesuatu yang pernah menjadi masa lalu akan terlintas jua meskipun dalam bentuk yang samar-samar. Masa lalu akan kembali jua meskipun kita telah lama menguburnya. Kenangan memang selalu menjadi kenangan, tapi kenangan itu pernah menjadi bagian dari hidup kita dan mengisi salah satu dari episode hidup kita. Kenangan adalah kita dimana kita adalah kenangan itu sendiri. Dia, Yuli,....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal Yuli saat menginjak bangu smu. Tercatat sebagai siswa yang selalu bersaing dalam urusan nilai pelajaran. Kuakui, seandainya saja aku malas belajar, Yuli pastilah lebih unggul dariku. Tapi ego ku sebagai laki-laki tentu saja tak mau, aku harus mengungguli Yuli dan aku bisa. Yuli, gadis biasa dengan kecerdasan yang tidak biasa. Aku mengenalnya, dekat dengannya dan menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatanku bersama Yuli memuncak saat naik ke kelas dua smu. Yuli dan aku, dua remaja haus petualang dan selalu mencoba sesuatu yang baru, yang ditawarkan oleh dunia. Menjadi dekat dengannya membuatku tersadar, kami begitu mirip satu sama lain. Meskipun di sekolah kami terlihat sebagai siswa yang pintar dan baik, namun tidak lah begitu bila kami berada di luar lingkungan sekolah. There's so many adventure yang ingin kami arungi bersama. Dunia malam menjadi sahabat kami bila otak telah penat dan suntuk. Minat kami pada buku dan musik pun sama. Bahkan tak jarang kami menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk membaca satu buah buku bersama-sama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik kelas tiga smu, banyak gosip yang beredar bila kami pacaran. Santer nya gosip itu akhirnya membuat kami berhadapan di suatu malam, dibawah cahaya bulan .. romantis namun terjaga.&lt;br /&gt;"Yul, gosip itu .."&lt;br /&gt;"Aku tau, biarkan saja."&lt;br /&gt;"Biarkan saja?"&lt;br /&gt;"Iya, kalau memang tak benar, biarkan saja, nanti gosip itu hilang sendiri."&lt;br /&gt;Jawabnya .. pasti dan tegas. Aku terdiam. Biarkan saja gosip itu .. biarkan saja, toh nanti akan hilang sendiri, diterbangkan angin jahil yang membawa gosip hangat lainnya sebagai pengganti. Semuanya terlewati hingga kami lulus smu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini takdir bila aku dan Yuli dapat terus bersama, karena kami berdua tercatat sebagai mahasiswa pada universitas dengan fakultas yang sama. Takdir kah? Atau memang ada keinginan kuat dari hatiku dan hatinya untuk terus bersama? Entah lah, yang masih dapat kuingat, sejak berpredikat sebagai mahasiswa, kami tak hanya dekat dalam batas sahabat .. lebih dari itu, hidupku adalah hidupnya, demikian pula sebaliknya. Seperti dua sayap yang saling berdampingan demikian dekatnya tanpa dapat bersatu. Seperti sepasang telinga yang begitu dekatnya namun tak dapat bersatu. Gengsi kah dinding itu? Pemisah rasa hati yang bergelora? Tidak .. itu adalah komitmen. Komitmen yang tercetus dari bibir Yuli sendiri,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita adalah sahabat, teman sejati sampai kapan pun .. kamu adalah hero ku, yang setia dan selalu sedia untukku... sahabat sejati!!" ah! Ingin sekali aku memintanya untuk meralat kata-kata itu karena aku tau, Yuli tak mungkin melanggar apa saja yang telah ditetapkannya sebagai suatu komitmen walaupun dia harus meregang nyawa. Harga diri kah? Gengsi!! Mengapa? Tak suka kah dia padaku? Aku suka dia! Tak cinta kah dia padaku? Aku cinta dia! Bila dia tak suka dan tak cinta padaku, mengapa sikapnya begitu membuat aku terpesona? Aku tau diri, aku bukan lah pengemis cinta, kami akan tetap seperti ini, teman sejati meskipun sesungguhnya aku mengharapkan kami lebih dari sekedar berteman. Gosip yang kembali beredar berikutnya kami tepis. Kami adalah sahabat .. tapi aku?? Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah menangis semalaman dibahuku, dalam kegelapan mobil bututku. Dia pernah memaki ku habis-habisan bila kugoda dia pacaran sama dosen mbeling yang terkenal sablengnya itu. Dia pernah mengajariku caranya membuat martabak. Dia pernah memusuhiku gara-gara aku tak mampu melepas kebiasaanku merokok. Dia pernah mencuci dan menyeterika baju-bajuku di saat aku tergolek lemah karena thypus. Dia pernah menyuapiku saat aku kecelakaan mobil dan terluka parah. Dia pernah tidur bersama ku tanpa hasrat dari seorang wanita terhadap laki-laki. Atau, mungkin saja ada, namun demi komitmen bodoh yang pernah diucapkannya, dia menahan? Yang pasti, aku merutuki hasratku yang brutal untuk menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua yang ada pada Yuli, hanya satu yang paling kubenci. Kesetiaan dia menjaga sebuah janji, sebuah komitmen, sebuah sumpah yang pernah dilontarkannya, baik sadar atau tidak sadar. Aku benci itu!! Aku pernah memohon pada Tuhan agar Yuli tak usah menjadi gadis yang terlalu setia pada sebuah ikrar, tapi do'a ku tak jua terjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tahun terakhir dari rangkaian masa kuliah, aku mengenal seorang gadis Manado yang manis. Cintaku tersambut. Citra, nama gadis itu, menerima hasratku untuk menjadikannya kekasihku. Sudah saatnya lah aku melupakan cintaku pada Yuli. Sudah saatnya lah aku membagi sebagian waktuku bersama Yuli untuk orang lain,.. gadis lain,.. yang dapat kumiliki seutuhnya. Yang dapat menjawab semua cinta di hati ini. Bukan gadis yang (mungkin) cinta, tapi terlalu besar egosentrisnya untuk mengakui perasaan yang sama dari hatinya. Satu hal yang kemudian membuatku tersadar, bukan kah aku dan Yuli adalah pesaing nilai pelajaran? Bukan kah kami sebetulnya musuh untuk meraih nilai terbaik? Apakah karena itu Yuli lantas memendam rasa di dalam hatinya? Karena dia tak mau diperbudak cinta dan terpaksa harus mengakui kekalahan? Kalah akan penguasaan rasa hati atas otak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku begitu yakin? Karena setelah Yuli mengetahui hubunganku bersama Citra, dia menjauh dariku. Aku dapat melihat luka itu, menganga lebar dari pancaran bola matanya. Aku menyaksikan kemarahan yang tersirat dari wajahnya bila secara kebetulan aku, Yuli dan Citra bertemu. Dapat kudengar ketusnya jawabannya untuk semua pertanyaan yang Citra lontarkan. Soal kedekatan kami yang seperti saudara kandung!! Aku gamang, harus bagaimana aku menyikapi Yuli? Aku tak bisa berbuat apa pun lagi, sungguh tak bisa ... tak ada yang bisa menolong aku dan Yuli karena .. satu kesalahan fatal telah aku lakukan .. fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai diwisuda, aku terus dibikin repot dengan persiapan pernikahan. Tak hanya itu, aku juga harus menyusun konsep surat lamaran pada perusahaan sahabat ayahku. Semua itu begitu menyita waktuku sampai-sampai Yuli seolah terlupakan begitu saja. Sampai pada suatu malam, dimana keesokan harinya aku harus berangkat ke Manado untuk melangsungkan akad nikah, Yuli datang padaku. Terkejut .. haru .. semua tercampur aduk di dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mendoakanmu hero, semoga kamu bahagia." ada yang mengalir di kedua pipinya .. Yuli menangis.&lt;br /&gt;"Terima kasih Yuli." lihat lah .. sampai detik ini pun dia sama sekali tak mau mengakui perasaan hatinya.&lt;br /&gt;"Hero .. entah ini apa .. tak usah kamu jelaskan .. aku merasa kehilangan yang amat sangat. Aku merasa hidupku tak lagi sempurna sejak kamu menjadi kekasih Citra. Semua bertambah tak sempurna lagi saat kemarin kuterima undangan dari adikmu. Hero,.. entah ini apa .. aku salah .." my God! Kuraih kepalanya, kubenamkan ke dalam dekapan .. everything is over now Yul, semua itu karena kerasnya hatimu memegang sebuah prinsip!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu cinta Yuli .. itu cinta. Cinta yang tak pernah mau kamu akui walaupun seribu cara telah kutempuh agar kamu mau mengakuinya." Yuli terisak, menumpahkan semua sesak di hati.&lt;br /&gt;"Tak usah jelaskan .. tak usah .. tak usah jelaskan lagi ini apa .. tak usah hero. Karena semuanya sudah usai .. aku selalu berpikir bahwa aku gadis yang cerdas, yang dapat membuat rencana dan mewujudkannya. Bahwasanya saat kita diwisuda nanti, aku dapat mengakui rasa ini padamu. Tapi aku lupa, ada Dia diatas sana yang menjadi dalang hidup kita .. ada rentang waktu yang sedetik saja dapat membuat manusia berubah. Aku sadar, aku takkan pernah diberi kesempatan ke dua oleh Tuhan atas rasa percaya diri dan ego yang begitu besar .. aku sama sekali tak berharga di mata Tuhan karena aku telah menolak rasa indah yang dianugerahiNya padaku ..." ah!! Seandainya waktu dapat diputar kembali pada masa itu,.. aku tetap tak mungkin memilihmu lagi Yuli .. tak mungkin. Bila kamu pernah mempunyai komitmen, demikian pula aku. Aku laki-laki, sepenuhnya bertanggung jawab pada diriku sendiri dan pada Citra, yang telah membuatku belajar untuk mencintainya dengan kasih sayang nya yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuli, semua yang pernah terjadi pada kita akan tetap menjadi kenangan di dalam hidup kita. You are the best for me, meskipun kita tak mungkin bersatu. Seandainya Tuhan memberi mu kesempatan sekali lagi dengan yang lain, belajar lah dari hal ini ..." Yuli mengangguk getir. Kupandangi dua bola matanya. Aku akan pergi darimu Yul, untuk selamanya, mengarungi hidupku yang baru, yang lain, dengan gadis yang lain pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kugenggam wajahnya dengan jemariku, kudekati wajahnya dan aku mencium bibirnya lembut. Bibir yang selama ini ingin aku rasakan dan nikmati. Ini adalah ciuman pertama kami, yang akan menjadi ciuman terakhir kami. Delapan tahun bersama, berakhir dengan satu ciuman lembut .. yang berubah menjadi panas dan dalam .. very deep kissing .. first kiss, last kiss!! Masih terasa dinginnya bibir itu. Masih dapat kurasakan tapi harus kusingkirkan. Aku tak mau itu menjadi duri dalam kehidupan rumah tanggaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas? Pagi-pagi kok ngelamun! Tuh ditungguin sulung ma bungsu, mereka tak mau sarapan bila papa nya belum meniup lilin ulang tahun." Citra, my woman, my wife forever.&lt;br /&gt;"Lilin ulang tahun? Sejak kapan?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Sejak bungsu mulai bersosialisasi dengan teman sebaya di playgrup dan diundang ke pesta ulang tahun temannya tahun lalu. Bungsu selalu merengek lilin ulang tahun hihihihih." aku terpana. Bungsu ku telah pintar!! Dia dan si sulung adalah malaikat kecil yang membuat hidupku terasa lebih berwarna. Bila dulu alasanku untuk hidup adalah demi membahagiakan Yuli, maka sekarang alasanku untuk hidup adalah untuk menghidup dan membahagiakan tiga malaikat ku ini, Citra, sulung dan bungsu .. I love you ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109644897428173650?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109644897428173650/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109644897428173650' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109644897428173650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109644897428173650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/09/firs-last-kiss.html' title='Firs, Last Kiss'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109608465359895096</id><published>2004-09-25T13:06:00.000+09:00</published><updated>2004-09-25T12:57:33.600+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!! [[ 6 ]]</title><content type='html'>Denis bangkit dan mendekati Mine. Bila saat itu di pelataran parkir Mine dapat menjerit histeris ketakutan setengah mati ketika didekati, maka Denis ingin saat ini Mine menjerit histeris pula .. barangkali dengan cara itu Denis dapat menguak tabir gelap yang disembunyikan gadis ini. Mine menggeser tubuhnya menjauhi Denis .. 'jangan dekati saya ..' .. bisik hati Mine berulang-ulang. Denis meraih pundak Mine dengan kedua tangannya. Dan apa yang diinginkan terjadi, Mine menjerit histeris, ketakutan dan berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sentuh saya!! Pergi pergi!! Jauhi saya .. pergi!! Saya ke sini hanya ingin minta maaf Den .. hanya itu! Maafkan saja saya dan saya janji akan pergi dari sini!!"&lt;br /&gt;"Kalau saya masih ingin tetap menyentuh kamu seperti ini bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis menarik Mine kasar hingga tubuh gadis itu terjerembab ke dalam pelukannya. Mine semakin histeris saat Denis malah menggendongnya dan membawanya masuk ke kamar. Mine menjerit sejadinya dengan air mata berurai, tangannya memukul apa saja dari diri Denis. Wajah Denis, pundak Denis, dada Denis .. semuanya. Mine meronta .. Mine nggak ingin diperlakukan secara nggak adil lagi. Mine trauma .. trauma masa kecil yang terus membayanginya. Denis menghempaskan Mine di kasur empuknya dan mengunci pintu kamarnya segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluarkan saya dari sini!!!! Siapa saja tolong saya!!"&lt;br /&gt;"Diam!! Saya nggak akan berbuat apa-apa sama kamu Mine .. jadi diam!!"&lt;br /&gt;"Keluarkan saya!! Saya nggak mau apa yang dilakukan pak Kristo terulang kembali, jangan biarkan saya masuk ke dalam lorong hitam yang telah perlahan saya tinggalkan Den .. please .."&lt;br /&gt;"Enggak! Sebelum kamu jelaskan siapa pak Kristo yang .. siapa pun dia, sebelum saya mengerti. Setelah itu baru saya mau memaafkan kamu dan membiarkan kamu pulang."&lt;br /&gt;"Nggak .. saya nggak mungkin menceritakannya pada siapa pun!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine duduk meringkuk sampai ke sudut ranjang, menarik bantal untuk menutupi dirinya sendiri. Denis duduk di sofa kecil, sesantai mungkin menatap tajam ke arah Mine. Mata Mine berputar-putar sekeliling kamar Denis, seperti ini lah rasanya dulu .. seperti ini lah rasanya disekap di dalam ruang kepala sekolah dan diperkosa secara keji oleh bajingan yang telah membusuk di kubur itu!! Mine sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke now, just tell me your paint."&lt;br /&gt;"Saya nggak mau! Saya punya hak untuk nggak bercerita kan?"&lt;br /&gt;"HAK!! Hak dan hak!!"&lt;br /&gt;"Saya memang punya hak kan? Saya .."&lt;br /&gt;"Siapa pak Kristo? Pacar gelap kamu? Cukong yang menjadi kekasihmu?"&lt;br /&gt;"Bukan!! Jangan bilang begitu lagi pada saya!!"&lt;br /&gt;"Lalu siapa dia?"&lt;br /&gt;"Hu .. hu ... jangan paksa saya."&lt;br /&gt;"Saya harus!! Karena saya peduli padamu gadis bodoh!!"&lt;br /&gt;"Peduli? Kamu peduli? Kamu .. "&lt;br /&gt;"Saya peduli .. kamu satu-satunya cewek yang menarik perhatian saya sejak kelas 1 smu, selama itu saya dapat menahan diri .. karena saya tau, kamu menutup diri untuk dunia luar. Tapi hari ini saya ingin kamu tau Mine, saya sayang kamu, saya peduli!!"&lt;br /&gt;"Tidak!! Kamu nggak peduli pada saya .. kamu dan semua manusia sama saja, bajingan!!"&lt;br /&gt;"Dan pak Kristo bukan bajingan?"&lt;br /&gt;"Dia lah yang paling bajingan!! Dia lah yang merusaki hidup saya! Dia lah yang membuat saya seperti ini!!"&lt;br /&gt;"Apa yang dia buat sampai kamu seperti ini?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine terdiam .. air matanya kembali mengalir deras .. sulit rasanya berada dalam posisi seperti ini. Mine menggigit bibirnya sendiri, haruskah dirinya berbagi semua pedih ini bersama Denis? Bersama cowok yang terang-terangan mengaku sayang padanya? Bull sheet!! Mine memeluk bantal kian erat dan menangis terus. Denis bangkit dari duduknya dan menghampiri Mine perlahan. Mine semakin meringkuk di sudut ranjang dan ketakutan setengah mati. Denis berlutut di hadapan Mine dan menyingkirkan bantal perlahan .. diraihnya Mine ke dalam pelukannya dan Mine kembali menangis dengan keras, tersedu-sedu. Begitu terlukanya hati gadis ini, batin Denis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine, saya bukan pak Kristo .. jadi berbagilah dengan saya."&lt;br /&gt;"Saya nggak sanggup Den, nggak sanggup."&lt;br /&gt;"Come on, saya sahabatmu, saya yang paling peduli padamu .. see? Saya nggak ngapa-ngapain kamu kan? Saya hanya ingin kamu berbagi. Saya janji, seandainya ini rahasia terbesar dalam hidup kamu, rahasia ini akan terus menjadi rahasia kita, oke?"&lt;br /&gt;"Kamu janji nggak akan menceritakannya pada siapa pun?"&lt;br /&gt;"Janji .. sumpah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine menarik napas panjang .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Kristo kepala sekolah saat saya SD."&lt;br /&gt;"Uhmm .. terus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengalirlah kepedihan itu dari bibir Mine. Jantung Denis seakan dipalu ribuan martil begitu tabir itu terkuak .. kepalanya serasa ditindih langit tatkala Mine menceritakan baygon cair itu .. ditatapnya gadis yang penuh air mata ini lembut. Keterlaluan!! Usia belia Mine menyimpan semua ini sendiri, nggak merasa perlu bebagi dengan orang lain seperti dirinya merasa nggak perlu mengenal dunia luar, terkukung dalam dunianya sendiri agar hidupnya tak lagi terusik. Ya, Denis mengerti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine, itu terlalu berat untuk kamu tanggung sendiri."&lt;br /&gt;"Tapi selama ini saya sanggup menyimpan nya dalam hati saja."&lt;br /&gt;"Kamu sebetulnya amat kuat .. amat!"&lt;br /&gt;"Berjanjilah untuk nggak menceritakan semua ini pada orang lain."&lt;br /&gt;"Saya sudah bersumpah. Dan akan saya ingat itu sampai kapan pun."&lt;br /&gt;"Jadi .. sudah boleh kah saya pulang?"&lt;br /&gt;"Masih nggak boleh."&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;"Saya ingin mendengar .. apakah kamu menerima sayang dari hati saya atau enggak."&lt;br /&gt;"Sayang?"&lt;br /&gt;"Ya, saya cinta kamu Mine, demi Tuhan saya sayang kamu, saya peduli sama kamu, .. sebab itu lah saya ingin tau .. apa yang membuat sikap mu begitu sulit untuk di mengerti."&lt;br /&gt;"Saya nggak pantas untuk dicintai karena saya nggak pantas untuk mencintai."&lt;br /&gt;"Kata siapa?"&lt;br /&gt;"Kata saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis bangkit, membiarkan Mine terpekur sendiri di kasur. Cowok itu menatap keluar jendela, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mine, gadis yang patut dikasihani, hidup telah berlaku nggak adil padanya di masa kecil. Masa muda yang harusnya dilewati penuh canda dan keceriaan justru dilalui cewek itu penuh sikap tertutup bahkan nggak mau sekali pun mencoba indahnya masa remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine, kemari lah .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Mine bangkit .. berdiri dalam diam di sisi Denis, menatap keluar jendela. Yang didapatinya adalah pohon palem dan lampu taman juga suasana siang yang terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lihat sinar matahari kan?"&lt;br /&gt;"Ya .."&lt;br /&gt;"Sinar matahari saja mau menemani kegundahanmu .. apalagi saya."&lt;br /&gt;"Ya .. saya tau."&lt;br /&gt;"Lihat saya .. lihat mata saya .. "&lt;br /&gt;"Saya lihat .."&lt;br /&gt;"Apa yang kamu lihat?"&lt;br /&gt;"Mata kamu .."&lt;br /&gt;"Pintar!!"&lt;br /&gt;"Den?"&lt;br /&gt;"Itu lah .. kamu hanya bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang sama setelah kejadian pedih itu. Karena itu lah sikap mu menjadi begitu menyebalkan. Kamu menganggap semua manusia sebiadab pak Kristo. Dan kamu menutup diri kemudiannya karena nggak ingin hal itu terulang kembali."&lt;br /&gt;"Tapi saya telah mencoba untuk keluar dari kubangan hitam ini .."&lt;br /&gt;"Bagus .. saya tau, saya memperhatikan perubahan besar dalam dirimu."&lt;br /&gt;"Itu karena kamu Den."&lt;br /&gt;"Oh yah?"&lt;br /&gt;"Ya .. melihat luka di matamu .. saya seperti melihat cermin diri saya sendiri. Selama ini saya terluka .. selama ini saya memendam luka itu sendiri .. saya sepenuhnya sadar, orang lain pun bisa terluka, bukan hanya saya."&lt;br /&gt;"Pintar!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine terdiam dan berlalu dari situ, duduk di kasur empuk dan merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Pergi pergi!! Luka dan pedih ini .. pergilah kalian! Denis menghampirinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Denis .. demi Tuhan .. saya lega .."&lt;br /&gt;"Hush .. sudah, jangan menangis lagi. Rugi rasanya menangis .. Saya pun lega Mine, lega banget .. seolah-olah beban itu adalah beban saya sendiri."&lt;br /&gt;"Den .. terima kasih yah?"&lt;br /&gt;"Untuk apa?"&lt;br /&gt;"Untuk semua .. saya nggak bisa menyebutkan satu per satu. Semua Den, untuk semua saya hanya bisa bilang terima kasih."&lt;br /&gt;"Saya lega mendengarnya .. saya sendiri nggak menyangka, secepat ini kamu menyadari .. hidup itu indah."&lt;br /&gt;"Ya .. dan saya nggak mau membiarkan hidup yang indah ini terlewati begitu saja karena masa lalu yang pahit."&lt;br /&gt;"Pintar!! Itu lah yang ingin saya katakan padamu. Nikmatilah hidup ini Mine. Masa lalu biarlah terkubur bersama bangkai pak Kristo, lihatlah masa depan yang terbentang panjang di hadapanmu. Hidup ini hanya satu kali dan setiap orang pernah terluka, bahkan ada yang lebih pedih darimu."&lt;br /&gt;"Ya saya tau."&lt;br /&gt;"Pintar!!!"&lt;br /&gt;"Den .. saya boleh pulang? Saya akan menjawab apa yang ingin kamu dengar tentang perasaan saya .. tapi ngga sekarang."&lt;br /&gt;"Oke .. kamu nggak pa pa pulang naik motor sendiri?"&lt;br /&gt;"Enggak .."&lt;br /&gt;"Oke .. hati hati yah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis mengantar Mine ke depan pagar rumahnya dan terus memperhatikan sosok Mine dan motornya mengecil di belokan ujung gang. Apa yang nggak diketahui Denis adalah, motor Mine dihantam secara brutal oleh bis yang oleng dan nggak sanggup mengendalikan rem-nya sesaat setelah memasuki jalan besar. Mine tersenyum dalam diam. 'Thanks Den, sebelum saya pergi dari dunia ini, kamu telah mengajari saya dan membuka hati saya untuk menerima dunia luar. Thanks.' .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Denis terkejut sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-end-&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109608465359895096?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109608465359895096/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109608465359895096' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109608465359895096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109608465359895096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/09/si-jutek-6.html' title='Si Jutek!! [[ 6 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109591227670849188</id><published>2004-09-23T13:25:00.000+09:00</published><updated>2004-09-23T13:04:36.706+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!!  [[ 5 ]]</title><content type='html'>Buku-buku tangan Denis memutih akibat kepalan tangannya yang kuat dan keras. Seakan dengan begitu, kemarahannya dapat terlampiaskan. Mata Denis terluka, Mine tau itu. Gadis itu hanya dapat menggigit bibirnya. Denis berdiri dan berujar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om dan tante, maaf saya pamit dulu .. Assalamu'alaikum."&lt;br /&gt;"Loh .. Mine!! Cepat minta maaf, sudah berulang kali ibu bilang, jangan bersikap ketus begitu!!"&lt;br /&gt;"Nggak pa pa tante .. saya pamit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis melangkah keluar tanpa menoleh pada Mine lagi, Mine berlari ke kamarnya, meninggalkan ayah dan ibu nya yang kebingungan setengah mati. Memang bukan hal yang baru lagi bila Mine bersikap aneh seperti tadi, namun keketusan dan tajamnya kata-kata Mine tadi memang sudah keterlaluan dan membuat mereka terperanjat. Mine mengunci diri di kamar. Menggendong Tide dan matanya basah. Tanpa disadarinya, satu sisi hatinya ikut terluka, ikut pedih melihat bola mata Denis yang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine mondar mandir di kamarnya sendiri, gelisah. Niat belajarnya terbang entah kemana. Yang ada di kepalanya hanya kelebatan kejadian yang baru saja terjadi. Berhenti di depan cermin, Mine melihat wajahnya sendiri, wajah seorang gadis remaja yang jarang tersenyum. Tatapan Denis yang penuh luka gara-gara ucapannya membuatnya seolah bercermin ... itu lah dirinya, terluka dan kecewa pada hidup yang nggak adil. Rahasia hidupnya hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Mine kecil yang terluka dalam nggak pernah mau berbagi dengan siapa pun, bahkan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kematian pak Kristo, sempurna. 'Toh untuk apa ayah dan ibu tau? Mereka nggak dapat menggembalikan kesucian ini?'. Mine menggigit bibirnya pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tide mengerang pelan, seakan mengerti kegundahan hati tuannya. Mine menciumi Tide penuh sayang dengan mata basah. Seperti ini lah rasa bersalah itu, bisik hatinya pelan. Seperti ini lah .. dan Denis pasti dilanda kemarahan yang amat sangat, seperti kemarahannya di masa kecil dahulu. Seperti itu lah! Mine ingin rasanya berteriak memuntahkan semua beban di hatinya, Mine memeluk Tide erat seakan enggan melepaskan kucing mungil itu lagi. Tide menggesek-gesekan kepalanya di pipi Mine, seakan ingin membagi ketenangan agar nggak ada lagi air mata di pipi gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kejadian itu, Mine sadari, Denis menjauh darinya. Denis berusaha untuk nggak melakukan kontak apa pun dengannya, meliriknya saja tidak! Mine sadari sepenuhnya kemarahan Denis akibat kata-kata kasarnya, akibat nggak adanya toleransi dari dalam dirinya. Mine dirundung rasa bersalah yang besar, rasa bersalah yang akhirnya membawanya pada penyesalan. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat? Mengapa saat itu Mine begitu angkuh dan terlalu percaya pada diri sendiri? Tepatnya, dirinya memang seperti itu. Dirinya begitu sulit menerima orang lain dalam hidupnya, nggak sudi menerima orang lain merecoki kehidupannya yang selama ini nggak terusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Denis dapat melihat sedikit perubahan pada diri Mine. Gadis itu mulai mau mengajak Saski ngobrol. Saski sendiri secara pribadi ikut kaget. Mine biasanya jarang mengajaknya berbicara, namun beberapa hari belakangan ini Mine seperti telah membuka diri terhadap orang lain. Seiring dengan itu, semakin jarang pula teman-teman sekelasnya mendengar celetukan bernada jutek dan melecehkan dari Mine. Mereka seperti melihat seorang Mine yang baru. Denis sesungguhnya ikut senang, namun dirinya tetap pada kukuhnya gengsi sebagai cowok yang dilukai. Meskipun dia sadar Mine nggak akan datang untuk meminta maaf padanya, masih saja harapan itu memburat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian kelulusan SMU sebentar lagi dimulai. Mine yang memang pintar nggak kelewat deg deg-an seperti teman-temannya yang lain. Otaknya yang briliant nggak usah diragukan lagi. Setiap hari sepulang sekolah, Tide selalu menemaninya belajar, nggak lupa Mine menghadiahi Tide coklat agar kucing itu betah berlama-lama duduk di atas meja sambil makan coklat dan memandangi tuannya belajar. Mine mengacak-acak rambut Tide lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tide, sebentar lagi saya ujian loh .. saya janji, setelah ujian, masalah yang terjadi antara saya dan Denis harus segera diluruskan. Saya tau Tide .. semua ini bermula dari diri saya sendiri .. Tapi saya nggak salah kan? Saya terlampau takut untuk bersosialisasi dengan orang lain, karena saya takut kembali mengalami kepahitan itu .. Tide mengerti kan?"&lt;br /&gt;"Meong .. meong .."&lt;br /&gt;"Heheheh .. saya belajar dulu yah Tide .. kamu abisin saja coklat itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine berkutat kembali pada buku-buku pelajarannya, seminggu lagi ujian Akhir SMU atau EBTANAS akan dimulai. Mine ingin meraih nilai yang bagus. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri. Lebih lagi, ada rencana besar dalam hidupnya. Dia ingin melakukan sesuatu .. Mine mendesah dan meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku. Malam ini dingin sekali. Dirapihkannya buku-buku pelajaran dan meraih Tide ke dalam gendongannya. Ini minggu tenang .. para siswa nggak diberi pelajaran selain ulangan ringan yang sekiranya dapat membantu mereka menyelesaikan soal ujian akhir nanti. Tapi Mine, sesungguhnya telah siap menghadapi ujian bila ujian itu dilakukan malam ini juga! Gadis briliant itu puas pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hip Hip Huraaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua siswa yang siang itu bergerombol di luar aula sekolah berteriak riuh. Rata-rata nampak terlihat wajah siswa kelas tiga yang sebentar lagi akan meninggalkan smu Biru ini. Mereka berteriak puas penuh kegembiraan begitu pak kepala sekolah menyatakan kelulusan yang 100% untuk smu Biru. Mine yang saat itu duduk agak jauh dari teman-teman yang lain ikut tersenyum. Barangkali itu senyum yang kesekian yang dapat di hitung dengan jari oleh teman-temannya. Mine nggak peduli .. yang jelas dirinya dapat lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya buah kerja kerasnya selama ini dapat terpetik. Mine ternyata menjadi satu-satunya murid dengan nilai tertinggi, di atas delapan untuk semua mata pelajaran. Terang saja Mine bisa mendapat nilai bagus begitu, otaknya briliant! Bila teman lain ke disko, maka Mine memilih mengurung diri di kamar untuk belajar atau bercengkerama bersama Tide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Mine mencari-cari .. sosok itu .. dimanakah dia? Mine mencoba meneliti satu per satu gerombolan teman-temannya, namun sosok itu nggak kunjung ditemuinya. Dengan modal nekat Mine menghampiri Heru, salah seorang teman kelasnya yang juga dekat dengan Denis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Her .."&lt;br /&gt;"Hei Mine .. ada perlu?"&lt;br /&gt;"Iyah .. kemana Denis?"&lt;br /&gt;"Loh, kamu nggak tau yah? Denis hari ini nggak ikutan mendengar pengumuman kelulusan karena dia lagi berkemas!"&lt;br /&gt;"Berkemas? Denis berkemas? Mau kemana?"&lt;br /&gt;"Denis sendiri bilang, lulus atau enggak, dia tetap pergi dari sini."&lt;br /&gt;"Denis mau kemana?"&lt;br /&gt;"Entahlah .. Denis sendiri nggak bilang tujuannya."&lt;br /&gt;"Hmm makasih yah."&lt;br /&gt;"Sama-sama Min .. sejujurnya saya seneng ngeliat kamu sudah jauh berubah."&lt;br /&gt;"Terima kasih .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Mine tak urung memerah juga. Betul kah dirinya telah berubah? Betulkah kata-kata yang di dengarnya dari Heru barusan? Oh, semua ini berkat Denis! Berkat mata terluka cowok itu. Mine tau harus kemana setelah ini, rumah Denis. Mau atau nggak-nya Denis memaafkannya, Mine harus minta maaf dan berterima kasih. Meskipun untuk itu dia harus terluka lagi .. bila .. bila Denis kasar padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine kembali mencari Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Her .. Heru!"&lt;br /&gt;"Ya? Ada perlu lagi?"&lt;br /&gt;"Ngg .. iya .. setelah ini kamu nggak kemana-mana kan?"&lt;br /&gt;"Aku dan teman-teman sekelas berencana ke cafe buat rayain ini."&lt;br /&gt;"Ngg .. kalau gitu nggak jadi deh."&lt;br /&gt;"Weits .. bilang saja .. siapa tau saya bisa membantu?"&lt;br /&gt;"Saya mau minta tolong kamu temani saya ke rumah Denis."&lt;br /&gt;"Oh itu ... hmm boleh lah, setelah mengantar kamu ke sana saya masih bisa menyusul teman-teman ke cafe."&lt;br /&gt;"Sekali lagi makasih yah Her."&lt;br /&gt;"Never mind .. by the way, saya antar sekarang saja yuk?!"&lt;br /&gt;"Baik lah .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine melajukan motornya mengikuti Heru yang lebih dulu di depan sebagai penunjuk jalan. Hatinya dag dig .. semoga Denis mau menerima permintaan maafnya. Semoga Denis sadar, karena dirinya lah, kukuhnya sikap cowok itu lah yang dapat merubah Mine .. meskipun baru perubahan kecil, tapi semua teman-temannya sendiri mengakui perubahan itu. Mine mengikuti arah Heru yang berbelok kiri, memasuki perumahan menengah keatas. Jalan Sam Ratulangi, blok C nomor 14, disitu lah Heru berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yuk Min!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine memarkir motornya di belakang motor Heru dan nggak lupa mengunci stir. Rumah Denis besar, bergaya victoria dan dipenuhi pohon-pohon palem yang hijau rimbun. Di garasi Mine dapat melihat mobil milik Denis yang diparkir disitu. Heru memencet bel rumah. Mine berdiri mematung di belakang Heru, menanti pintu itu dibuka. Perlahan pintu terkuak dan kepala Denis muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Her!! Kok nggak kasih tau dulu kalau mau kesini .. Mi ..??"&lt;br /&gt;"Saya hanya mengantar Mine kok Den, nanti malam anak-anak pada niatan ke sini, tapi kita kudu ke cafe dulu sama teman-teman sekelas."&lt;br /&gt;"Ya oke .."&lt;br /&gt;"Cabut dulu Den .. Min .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru melangkah menjauhi mereka dan keluar pagar, sosoknya menghilang seiring dengan derum tiger 2000 nya. Denis membuka pintu lebar-lebar dan masuk tanpa mempersilahkan Mine untuk masuk. Tapi kaki Mine menuruti kata hatinya untuk masuk ke dalam rumah itu dan duduk di sofa ruang tamu. Rumah Denis terasa adem. Ruang tamu itu bernuansa biru muda yang menyejukkan mata. Dindingnya dipenuhi foto-foto anggota keluarga itu, ada orang tua Denis, Denis dan seorang gadis manis. Denis duduk di sofa yang berseberangan dengan Mine, menatap Mine penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa kesini?"&lt;br /&gt;"Uhm .. saya .. saya dengar kamu mau berangkat?"&lt;br /&gt;"Iya .. pergi jauh dari sini."&lt;br /&gt;"Kenapa? Bukan karena saya kan?"&lt;br /&gt;"Pede amat kamu .. jelas bukan karena kamu .. saya hanya ingin pergi saja."&lt;br /&gt;"Maaf .. uhm .. "&lt;br /&gt;"Mau ngomong apa? Bicara saja, nggak perlu sungkan."&lt;br /&gt;"Maaf kalau saya mengganggu kegiatan kamu berkemas Den."&lt;br /&gt;"It's oke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine menarik napas panjang, menyusun kembali kata-kata yang sempat disiapkan tadi namun berserakan kembali dalam ruang benaknya. Dari mana dia harus memulai? Dia tau Denis masih marah padanya, dari mana harus??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Denis, saya minta maaf."&lt;br /&gt;"Untuk apa?"&lt;br /&gt;"Kejadian di rumah saya beberapa bulan yang lalu."&lt;br /&gt;"Yang mana?"&lt;br /&gt;"Den please, saya minta maaf .. kamu tau kejadian yang mana, kamu terluka, kamu marah, saya minta maaf."&lt;br /&gt;"Jangan sok tau mengatakan saya terluka dan marah."&lt;br /&gt;"Tapi kamu benar-benar terluka kan?"&lt;br /&gt;"Itu pasti, siapa saja .. "&lt;br /&gt;"Jadi .. saya minta maaf Den .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Mine basah. Denis menatap wajah gadis jutek di hadapannya ini dengan perasaan nggak menentu. Ini lah gadis yang menarik perhatian terbesarnya dalam 3 tahun terakhir. Ini lah gadis yang begitu individual tanpa merasa perlu bersosialisasi dan bertoleransi pada orang lain. Dari gadis ini pula sejujurnya Denis ingin mengetahui sebab sikap ketus nya. Dari sini pula Denis merasakan sesuatu yang lain dari dalam hatinya, seperti saat Mine menjerit ketakutan di pelataran parkir begitu Denis mencoba mendekati. Ada sesuatu yang disembunyikan gadis ini dari kehidupannya. Dan Denis tertantang untuk mengetahuinya, karena dia peduli .. dia .. dia sayang pada Mine. Rasa yang selama ini berusaha ditutupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-bersambung-&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109591227670849188?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109591227670849188/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109591227670849188' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109591227670849188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109591227670849188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/09/si-jutek-5.html' title='Si Jutek!!  [[ 5 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109504717270520398</id><published>2004-09-13T13:45:00.000+09:00</published><updated>2004-09-13T12:46:12.706+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!!  [[ 4 ]]</title><content type='html'>Alunan lembut 'paint my love' dari MLTR mengusik pendengaran Mine. Denis dengan tenang menjalankan mobilnya. Mine berjaga-jaga, tegang sekali rasanya. Pandangannya lurus ke depan dengan sesekali melirik pada sosok ganteng(?) di sampingnya. Mine merutuki kejadian hari ini yang menyudut kan dirinya pada posisi sulit. Mau nggak mau harus mau! Hak! Dia butuh haknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rumahmu dimana Mine? Alamatnya?"&lt;br /&gt;"Kamu bisa menurunkan saya disini. Saya bisa pulang ke rumah naik taxi."&lt;br /&gt;"Great, kenapa hal itu nggak terpikirkan oleh saya yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciitttt .. Denis mengerem mobilnya mendadak. Mine terjungkang ke dashboard, kepalanya sedikit terbentur. Denis menatap Mine, marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mencoba membantu Mine, sayang sekali, kamu nggak pernah mau menghargai bantuan siapa pun."&lt;br /&gt;"Itu terserah pada saya, jangan sok ngatur saya!"&lt;br /&gt;"Ya ya ya .. saya nggak pernah berniat ngatur hidup kamu kan? Kenapa kamu sampai berpikir sampai ke situ?"&lt;br /&gt;"Saya turun."&lt;br /&gt;"Tunggu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis mengunci semua pintu mobil .. clek .. locked! Mine mendengus kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bisa kah kamu sedikit lebih toleransi pada orang lain?"&lt;br /&gt;"Emang perlu?"&lt;br /&gt;"Pertanyaan bodoh murid pintar!"&lt;br /&gt;"Saya nggak minta pendapat kamu akan pintar atau bodoh."&lt;br /&gt;"Kamu tau? Kamu bisa menjadi ahli debat negara kita!"&lt;br /&gt;"Tau atau nggak, itu tetap bukan urusan kamu."&lt;br /&gt;"Sumpah Mine, saya menyerah menghadapimu."&lt;br /&gt;"Bagus. Toh kamu nggak akan saya anggap sebagai apa-apa."&lt;br /&gt;"Apa-apa? Siapa-siapa Mine, bukan apa-apa. Oh saya lupa, hak kamu dong untuk bicara seperti itu. Maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine lelah. Denis makhluk langka yang paling kukuh yang pernah mencoba mendekatinya. Yang pernah mencoba berkomunikasi dengannya, lebih dari yang pernah dilakukan orang lain. Perlahan ada rasa 'terlindungi' merasuki relung-relung jiwanya. Sebatas rasa melindungi .. nggak lebih. Mine nggak ingin merasakan 'yang lebih' itu, karena dia nggak mau. Gerimis perlahan reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Antar aku pulang .. jangan banyak bicara. Jalan Tulip nomer sembilan."&lt;br /&gt;"Oke ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Denis kembali melaju membelah jalanan. Sisa-sisa gerimis menodai aspal menjadi lebih hitam. Alunan 'paint my love' berganti dengan suara seksi Brandy, everything I do, I do it for you. Mine melengos. Untuk apa semua lagu-lagu cinta ini? Cengeng!! Mereka berhenti tepat di depan gerbang rumah Mine. Tante Dida terlihat cemas mondar mandir di teras rumah. Mine turun tanpa mengucapkan terima kasih pada Denis. Denis nggak mempermasalahkan hal itu, karena itu lah Mine. Gadis individual yang sombong dan kadang nggak tau caranya bersosialisasi dengan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine sayang .. oh .. tante cemas sekali .. "&lt;br /&gt;"Terima kasih karena telah ikut cemas tante, saya masuk dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Dida memandangi pundak gadis itu menghilang ke dalam kamar. Sempat dilihatnya mobil itu melaju. Kekasih Mine? Baguslah bila putri tunggal majikannya itu memiliki kekasih untuk berbagi. Sehingga tingkahnya nggak meledak-ledak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tide!! Tide!! Dimana kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tide bersembunyi di bawah boneka beruang coklat dan memandang Mine dengan pandangan jenaka. Mine meraih Tide, menggendong kucing ajaib itu dan membawanya ke jendela kamar. Dari jendela ini pandangan Mine tertumbuk pada halaman samping rumah yang dipenuhi aneka bunga milik ibu. Sebenarnya bunga-bunga itu milik tante Da, karena tante Da lah yang merawat mereka. Mine keluar ke dapur dan mencari roti untuk Tide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Non Mine .. kucing itu apa nggak sebaiknya dikasih makan nasi dan ikan?"&lt;br /&gt;"Bibi nggak usah ngajarin saya caranya merawat kucing."&lt;br /&gt;"Maafkan bibi non."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine membiarkan Tide menghabiskan dua lempeng roti iris dan mengamatinya penuh rasa puas. Kucing pintar. Tunggu saja sampai kamu besar, saya akan mengajari kamu caranya berbicara dengan bahasa manusia Tide! Kata hati Mine. Kamu akan menjadi sahabat sejati saya yang akan menemani saya berkeluh kesah. Kamu sahabat sejati saya Tide .. saya suka kamu. Tide menjilat-jilat remahan roti yang tersisa di piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi, buatkan satu gelas susu."&lt;br /&gt;"Baik non."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bi Parti menuruti saja kehendak Mine, dari pada kena bentak? Malu rasanya wanita setua dirinya bila harus dibentak-bentak anak smu. Mine memegang gelas berisi susu dan membiarkan Tide menjilat-jilat susu dengan lidahnya dan meregangkan kaki-kakinya kekenyangan. Dipungutnya Tide dari lantai dapur, menggendong dan mencium hidung Tide trus berlalu ke kamar. Bi Parti hanya bisa menatap dengan pandangan nggak percaya. Dari jauh tante Dida memperhatikan saja. Tante Dida nggak berniat mengajak gadis itu makan siang kali ini, tentu saja Mine telah makan siang bersama kekasihnya tadi. Tante Dida tersenyum puas, walaupun sebenarnya anggapannya itu salah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang beranjak malam, langit malam yang nggak gemerlap karena sedikit mendung. Mine asik di kamarnya, belajar. Lagi-lagi pintu kamarnya diketuk halus, suara tante Dida terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine, dipanggil ayah dan ibu. Ada tamu yang ingin bertemu denganmu."&lt;br /&gt;"Iya, sebentar lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu? Siapa? Mine mendengus kesal, waktunya selalu terganggu dengan ketukan halus di pintu dan suara tante Dida yang memanggil. Ayah dan ibu pasti telah pulang, sudah jam tujuh malam. Mine keluar kamar dan menemui kedua orangtuanya di ruang tamu bersama .. Denis. Ayah dan ibu tersenyum menatapnya dan mengajaknya duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine sayang, ayah dan ibu kaget waktu mendengar cerita tante Dida tadi, baguslah kalau kamu telah memilih Denis sebagai pacarmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai tersengat ribuan tawon Mine mendengarnya. Denis pun nggak kalah terkejutnya. Apa yang telah terjadi? Mine duduk dan menatap Denis marah. Denis menatap Mine dengan pandangan mata kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf om .. tante .. saya .."&lt;br /&gt;"Sudahlah .. om dan tante nggak melarang kalian pacaran kok, asalkan kalian pacaran baik-baik, oke?"&lt;br /&gt;"Maksut saya om .."&lt;br /&gt;"Tante dan om sudah mendengar cerita dari tante Dida tadi .. terima kasih yah telah mengantar Mine pulang. Katanya motor Mine ngadat?"&lt;br /&gt;"Iya, dan tujuan saya malam ini hanya mengantar motor Mine yang telah baik kembali tante."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine naik darah ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya nggak ada hubungan apa pun dengan Denis, ayah. Saya bukan pacarnya demikian sebaliknya. Dan Denis, kamu nggak usah datang ke sini merengek pada orang tua saya untuk menjadi kekasih saya!! Saya benci kamu, tapi saya hargai kebaikan kamu hari ini. Mulai detik ini jangan pernah .. jangan pernah mengganggu ketenangan hidup saya lagi. Ayah dan ibu, maaf kalau tante Da telah salah anggap .. salah menafsirkan .. Denis, saya harap kamu pulang sekarang juga!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelakian Denis terusik. Dirinya sama sekali ngak merengek-rengek pada orangtua Mine seperti anggapan gadis jutek ini! Dirinya hanya ingin mengembalikan motor Mine. Dia peduli, karena Mine telah menarik sebagian perhatiannya. Tapi yang terjadi ini menoreh luka di hatinya. Denis menatap Mine dengan pandangan terluka yang amat dalam, nggak disangka Mine akan berucap seperti itu dihadapan orang tua gadis itu. Mine dapat merasakan tatapan terluka itu menusuk hatinya. Lebih terluka dari tatapan Denis usai perkelahian mereka .. lebih dalam .. Mine dapat melihat tatapan itu .. sama persis ketika dirinya bercermin. Denis terluka, Mine menggigit bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-bersambung-&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109504717270520398?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109504717270520398/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109504717270520398' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109504717270520398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109504717270520398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/09/si-jutek-4.html' title='Si Jutek!!  [[ 4 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109479100525830802</id><published>2004-09-10T13:27:00.000+09:00</published><updated>2004-09-10T13:36:45.256+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!!  [[ 3 ]]</title><content type='html'>Mine menggigit bibirnya, menahan perih yang kembali basah di hati. Dipejamkan matanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu boleh saja terlihat sebagai bocah SD, tapi tubuhmu .. ck ck ck .."&lt;br /&gt;"Ampun pak .. ampun .. bebaskan saya ... Bapak mau apa???? Saya masih kecil pak ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kristo, guru Matematikanya yang sekaligus Kepala Sekolah itu bahkan seperti kesetanan setiap kali mendengar rintihan yang keluar dari bibir mungil Mine kecil. Mine kecil yang tak berdaya berada dalam himpitan pak Kristo. Mine sempat mendengar ketukan kecil di pintu kantor kepala sekolah, dan suara seorang wanita terdengar memanggil pak Kristo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Kris .. pak Kris .. bapak masih di dalam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine ingin menjerit, tapi pisau itu melengket erat di lehernya. Bocah SD yang nggak punya keberanian. 'Siapa pun diluar!! Tolong saya'. Hanya itu yang terucapkan di dalam hati Mine. Mine kecil dinodai oleh kepala sekolahnya sendiri. Mine kecil yang nggak berdaya. Hidup begitu nggak adil baginya. Apakah seperti ini nasib semua makhluk kecil yang tak berdaya? Mine menangis dalam keputus asaan. Siapa pun nggak mampu menolongnya dari nafsu bejad sang kepala sekolah seperti siapa pun seakan nggak dapat menolongnya dari kehidupan yang sangat individual yang dianutnya sejak kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine kecil yang malang. Menjadi pemurung dan kehilangan jati diri setelah kejadian itu. Disesalinya panggilan kepala sekolah usai jam sekolah dengan alasan memberinya materi tambahan sebagai siswi yang dicalonkan untuk mengikuti olimpiade Matematika antar SD se-rayon. Bukan materi tambahan yang didapatkannya, melainkan petaka terbesar dalam hidupnya. Mine masih ingat saat dirinya memang menjadi juara dalam olimpiade Matematika dan memenangkan piala, uang berikut piagam. Masih diingatnya kata-kata pak Kristo saat upacara bendera yang memujinya habis-habisan di hadapan ratusan teman sekolahnya, tapi Mine meludah penuh nista dan menatap pak Kristo dengan tatap seorang pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan sebelum ujian EBTANAS, Mine kecil telah matang menyusun rencana balas dendam yang dianggapnya sebanding dengan kebejatan yang dilakukan pak Kristo pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine membuka matanya perlahan .. menatap Tide yang masih tertidur. Air matanya membanjir kini .. kembali memorinya meloncat pada berita kematian pak Kristo yang mengejutkan setelah meneguk teh manis dari gelas minumnya sendiri. Mine menggigit bibirnya lebih keras, sekeras hatinya saat itu sembunyi-sembunyi ke dapur sekolah, memasukan cairan baygon secukupnya ke dalam gelas pak Kristo yang ada tanda nama sang kepala sekolah, lalu kembali bermain bersama teman-temannya tanpa rasa bersalah. Botol kecil bekas baygon cair itu dilenyapkannya ke dalam wc sekolah saat seisi sekolah panik atas kematian pak Kristo yang amat tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus tersebut sempat ditangani pihak yang berwajib. Namun siapa yang sangka gadis kecil yang sebentar lagi meninggalkan sekolah itu lah pelakunya? Siapa yang dapat mengkaitkan kematian pak Kristo dengan dendam seorang bocah karena diperkosa guru Matematika yang sekaligus kepala sekolah itu? Mine kecil yang polos, lolos dari jerat hukum dan melanjutkan hidupnya yang tersisa dengan ke-ketusan dan kejutekan. Kasus itu ditutup setelah sekian lama tak pernah ditemukan pelakunya. Mine menutup diri dari dunia manusia, selain menjalankan lakonnya sebagai anak dari keluarga mampu dan menjadi murid sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine bangkit dan menghapus air matanya. Allah, maafkan hamba. Batin Mine berulang-ulang setiap kali kejadian itu terlintas di benaknya. Mine membenci semua manusia, laki-laki, perempuan .. semua!! Mine membenci laki-laki yang menurutnya bajingan semua. Mine membenci wanita .. wanita yang 'mengapa saat itu nggak mendobrak pintu kantor kepala sekolah?' Mine merutuki semuanya .. semua!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan di pintu kamar kembali mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine sayang .. ada telepon untukmu."&lt;br /&gt;"Dari siapa tante Da?"&lt;br /&gt;"Temanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman? Mine nggak merasa telah memberikan nomor telepon rumahnya pada siapa pun. Bahkan Mine memilih untuk menyimpan semua handphone yang dibelikan ayahnya di lemari, ketimbang harus bersosialisasi dengan teman-temannya melalui handphone. Diusutnya air mata dan membersihkan wajahnya dengan tisue. Keluar kamar, Mine meraih gagang telpon yang tergeletak di meja kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;"Tuan putri .. apa kabar?"&lt;br /&gt;"Jangan pernah memanggil saya dengan sebutan itu."&lt;br /&gt;"Oh tuan putri .. marah? Apakah hanya tuan putri saja yang bisa marah?"&lt;br /&gt;"Denis, maaf .. sekarang waktu saya untuk berisirahat."&lt;br /&gt;"Ouw .. jadi saya harus membuat janji dulu bila ingin berbicara dengan tuan putri?"&lt;br /&gt;"Denis .. jangan pernah memanggil saya .."&lt;br /&gt;"Tuan putri .. oke .. kalau saya panggil si jutek mau?"&lt;br /&gt;"Sama saja, saya punya nama."&lt;br /&gt;"Ya ya ya .. punya nama, tapi nggak punya hati nurani!"&lt;br /&gt;"Hentikan!!"&lt;br /&gt;"Kalau saya nggak mau bagaimana dong."&lt;br /&gt;"Saya yang akan menutup telepon .. beres."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine membanting gagang telpon dan berlalu ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante Da .. kalau ada yang menelpon lagi, bilang saja saya tidur siang."&lt;br /&gt;"Baik Mine sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine menggeretakkan gerahamnya dengan rasa marah yang amat sangat dan kembali ke kamar. Kali ini Mine benar-benar ingin tidur dan melupakan semua kejadian yang menggangu pikirannya. Masa lalu .. masa sekarang .. masa depan .. Mine ingin melupakan semuanya .. semua. Enam tahun sudah kejadian itu, semua berubah .. Mine nggak berubah, tetap menjadi gadis individual yang nggak peduli pada sekitarnya. Cukup ironi memang, seorang mantan pemenang olimpiade Matematika yang memang jago dalam urusan berhitung kemudian memilih jurusan Bahasa saat kelas 3 smu. Mine sesungguhnya muak pada Matematika .. pada pak Kristo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah kejadian perkelahian antara Genio dan Denis. Seminggu itu pula Mine berusaha menghindari Denis, dia nggak ingin cowok itu merecoki kehidupannya lagi. Dia muak. Rupanya Denis tau dan mengerti, cowok itu nggak berniat mengganggu Mine lagi. Cukup sudah pembicaraan di telpon diputuskan Mine saat dirinya tengah berniat menggoda cewek itu, namun dengan maksut meminta maaf di akhirnya. Denis tau salah, telah menghempaskan tangan Mine ke meja dan membuat gadis itu meringis kesakitan. Namun sikap Mine sungguh nggak bisa dipahami dan ditolerir, seperti Mine nggak mampu mentolerir orang lain di sekitarnya. Denis berpendapat, Mine sebentar lagi akan menjadi gila. Si jutek yang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu siang yang mendung. Mine berdiri mematung di pelataran parkir yang mulai sepi kendaraan. Motornya ngadat, entah apa yang terjadi, motornya nggak mau hidup saat distater. Mine mencoba terus, namun hasilnya nihil. Saat yang nggak menguntungkan itu, sosok Denis muncul di kejauhan, berjalan bersama beberapa teman cowok sekelas mereka. Mine membuang muka, pura-pura melihat ke tempat lain. Tapi gerombolan Denis kian mendekat. Mobil Denis diparkir nggak jauh dari motornya. Denis tau, nggak ada gunanya mencoba menyapa Mine, demikian pula teman-temannya. Mereka menganggap Mine nggak ada disitu, seperti Mine selalu menganggap mereka nggak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis melihat kecemasan di wajah Mine. Kenapa? Apa yang terjadi? Biasanya Mine kan memilih pulang lebih dahulu, kenapa sekarang gadis jutek itu justru berdiri mematung disamping motor-nya? Mau nggak mau Denis mendekati Mine, barangkali dengan jalan ini dia dapat berbaikan kembali dengan gadis ini, meskipun dia tau usahanya mungkin akan membawanya pada kesia-siaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Mine .. kok belum pulang?"&lt;br /&gt;"Bukan urusanmu."&lt;br /&gt;"Hei .. saya bertanya baik-baik. Cobalah untuk menoleh pada sekitarmu!"&lt;br /&gt;"Dan berhentilah berbicara kasar pada saya!!"&lt;br /&gt;"Oke oke.. saya bicara baik-baik sekarang. Kenapa kamu belum pulang? See?? Saya bicara baik-baik bukan? Saya nggak memanggilmu dengan tuan putri lagi bukan? Saya bicara tanpa membentak lagi bukan?"&lt;br /&gt;"Ya .."&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Motor saya ngadat."&lt;br /&gt;"Oh .. biar saya lihat."&lt;br /&gt;"Nggak perlu!"&lt;br /&gt;"Mine .. saya hanya ingin menolong, nggak lebih!"&lt;br /&gt;"Saya nggak butuh pertolonganmu. Pulang sana."&lt;br /&gt;"Sampai kapan kamu mau terus disini? Sebentar lagi pasti turun hujan. Oke oke.. pakai lah handphone saya untuk menelepon siapa saja yang kamu anggap dapat membantu."&lt;br /&gt;"Tidak, terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis menarik napas panjang dan kesal pada sikap Mine yang ketus ini. Wajar saja Mine dijauhi semua orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Den! Kita cabut duluan yo!"&lt;br /&gt;"Selamat merayu patung dewi congkak! Huahahahah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Denis meninggalkan mereka disitu. Denis masih berdiri mematung dan menatap Mine dengan pandangan tak mengerti. Gadis congkak yang bodoh! Belagu amat pintar dalam pelajaran, tapi sesungguhnya benar-benar bodoh! 'Mengapa saya harus peduli?' Denis bertanya dalam hati .. iya mengapa? Toh Mine nggak butuh dipedulikan. Tapi ada sesuatu dari hati Denis .. sesuatu yang menyebabkannya terus bertahan menemani kebisuan diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine, saya antar pulang saja yuk?"&lt;br /&gt;"Tidak. Terima kasih."&lt;br /&gt;"Mine, motormu saya titipkan ke penjaga sekolah dan kamu ikut saya pulang!"&lt;br /&gt;"Tidak, saya bilang tidak. Terima kasih."&lt;br /&gt;"Well Mine, ini sudah jam tiga! Orang tua mu pasti sibuk mencari kamu. Berbuatlah sesuatu untuk dirimu sendiri."&lt;br /&gt;"Ayah dan ibu nggak pernah peduli saya mau berbuat apa .. itu hak saya."&lt;br /&gt;"Hak dan hak!! Hanya itu yang bisa kamu katakan heh??"&lt;br /&gt;"Itu hak saya!!"&lt;br /&gt;"Hak!! Tau apa kamu tentang HAK!!!"&lt;br /&gt;"Saya tau! Seperti saya tau hak saya dibungkam sejak dulu!!"&lt;br /&gt;"Hei ... ???"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis dapat melihat mata Mine berkaca-kaca. Hak dan air mata? Sheat!! Apa yang sebenarnya telah terjadi? Denis mendekati Mine, mencoba mencari celah agar Mine mau menitipkan motornya pada penjaga sekolah dan mau diantari pulang. Mine menjauh dan menatap Denis dengan pandangan jijik. Dia nggak ingin sosok yang mendapat sedikit perhatian hatinya ini mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis menyentuh pundah gadis itu .. yang terjadi sesudahnya sungguh di luar perkiraan Denis. Mine menjerit ketakutan dan histeris. Untung sekolah telah sepi. Kalau tidak? Bisa-bisa Denis dianggap berniat melakukan tindak senonoh pada Mine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine??"&lt;br /&gt;"Jauhi saya!! Jauhi saya sekarang juga atau nasibmu akan sama seperti pak Kristo!! Jauhi hidup saya!! Pergi pergiiii!!!!!!"&lt;br /&gt;"Mine sudah!! Jangan bersikap kekanakan begitu ..Mine .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denis meraih Mine ke dalam pelukannya dan membiarkan dadanya menjadi sasaran tinju Mine yang berapi-api. Napas Mine memburu di dera rasa takut dan trauma masa lalu .. laki-laki!! Dia benci laki-laki! Dia nggak sudi disentuh laki-laki!! Tapi pelukan Denis menguat .. napas Mine ngos-ngosan, histeris dan rasa takut yang dalam membuatnya berkeringat. Denis mendekapnya erat seakan nggak akan melepaskannya lagi. Mine sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine .. saya antar pulang sekarang, oke? Entah .. seperti katamu nasib saya akan seperti pak Kristo yang .. ah who ever!! Saya nggak kenal!! Ayo .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine terperangah .. ini kah cowok congkak itu? Ini kah Denis? Ini kah cowok yang pernah membuatnya sedikit memperhatikan sekaligus dibencinya? Namun dapat dirasakannya kehangatan dan kebaikan cowok itu begitu dirinya di dekap? Seakan Denis ingin mengalirkan rasa aman di hatinya? Mine menghapus air matanya. Baru lima belas menit sesudahnya dirinya mau pulang bersama Denis, membiarkan motornya dititipkan pada penjaga sekolah. Disini dia sekarang, disamping Denis, di dalam mobil cowok ini. Mine duduk menjauhi Denis .. bersandar pada pintu mobil. Denis hanya dapat menggelengkan kepala nggak mengerti .. Otaknya betul-betul blank atas semua ini. Blank!! Gerimis mulai turun membahasi bumi, titik air itu tetap halus dan tak menjadi kasar, hanya gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-bersambung-&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109479100525830802?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109479100525830802/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109479100525830802' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109479100525830802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109479100525830802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/09/si-jutek-3.html' title='Si Jutek!!  [[ 3 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109375452066847510</id><published>2004-08-29T13:39:00.000+09:00</published><updated>2004-08-29T13:42:00.670+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!!  [[ 2 ]]</title><content type='html'>Rumah bergaya modern namun tetap terkesan sederhana itu berdiri anggun diantara rumah-rumah lain yang lebih mewah, lebih mahal dan lebih lux. Mine menghentikan motornya di depan gerbang, membuka gerbang dan mendorong motornya masuk melewati pagar lalu mengunci kembali gerbang di belakangnya. Ini rumahnya, tempat dirinya mendapatkan kehangatan bersama Tide, yang nggak didapatnya dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine tau, nggak akan ada jawaban yang didengarnya. Ayah dan ibu nya tentu saja belum pulang kerja jam segini. Tante Dida yang menjadi pengurus rumah tangga pasti tengah sibuk di dapur bersama bi Parti, sibuk mengatur menu, sibuk memerintah tukang kebun dan tukang sapu rumah. Mine langsung masuk ke kamarnya, berganti baju dan mencuci muka. Dihidupkannya komputer dan mulai memasukan lagu-lagu favoritnya ke list winamp. Dicari-carinya Tide di setiap sudut kamar. Namun sosok itu tak kunjung tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tide!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali panggil, satu sosok hitam mungil dengan bulu-bulu berkilat dan mata jenaka keluar dari kolong lemari pakaian. Kucing mungil yang dinamainya Tide itu naik ke ranjang dan bermanja-manja pada boneka panda besar berwarna coklat yang setia menemani tidur tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah makan?"&lt;br /&gt;"Meong meong .."&lt;br /&gt;"Saya punya coklat .. Tide mau?"&lt;br /&gt;"Meonggg..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tide adalah kucing mungil yang dipungutnya dari depan rumah dalam kondisi menggenaskan. Satu kaki terluka, bulu-bulu yang semrawutan kotor dan erangan kesakitan yang menyayat hati. Tide kucing kecil yang pintar, yang tau dimana harus membuang kotoran tanpa harus menyusahkan Mine untuk membersihkan. Bahkan Tide termasuk kucing ajaib yang memakan semua jenis makanan!! Dalam sehari, Tide bisa kekenyangan coklat yang dibeli Mine khusus untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tide pintar .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine memungut Tide dan mencium hidung kucing itu penuh sayang. Sikap yang amat jauh berbeda bila dirinya tengah berada di tengah-tengah sesama manusia, teman-temannya, ayah dan ibunya, tante Dida, bahkan pembantu sekalipun! Perlahan-lahan mp3 mengalun melalui celah-celah speaker aktiv mini miliknya. Saat-saat favoritnya, bermain bersama Tide dan mendengarkan lagu. Bila sudah begini, Mine sampai lupa makan! Lupa segalanya. Nasib putri tunggal ini sebenarnya amat beruntung, tapi entah kenapa, sejak menginjak bangku kelas 6 SD, Mine mulai menutup diri dan berkutat dalam dunianya sendiri. Tak pelak lagi, dirinya sering diomelin sang ibu dan dinasehatin ayah. Tapi tetap saja perilakunya nggak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Tide, Mine dapat berkomunikasi dengan bagus dan mencurahkan rasa sayangnya tanpa takut. Namun sikapnya berubah menjadi ketus begitu berhadapan dengan sesama manusia, dia mengalami kesulitan untuk bermanis diri terhadap sesama. Apalagi terhadap teman-teman sekolahnya. Mine terkenal aneh sejak menginjak bangku SMP, sikap lupa pada dunia luar yang melandanya saat kelas 6 SD itu nggak dapat keluar dari dirinya begitu mengenal seragam putih biru. Mine nggak punya teman karib, dijauhi teman-teman kecuali teman sebangkunya dan memilih untuk hidup dengan dunianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak bangku SMU, sikap Mine tetap nggak berubah. Mine seakan nggak ingin menikmati masa remaja yang seharusnya dapat dinikmatinya tanpa beban dengan posisinya sebagai anak tunggal dari keluarga mampu. Nggak punya teman bukan masalah bagi Mine, karena saat kelas 1 smu dia justru memiliki Tide, kucing kesayangannya yang setia menemani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine sayang ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine terlonjak kaget .. Tide melingkarkan tubuhnya semakin nyaman diatas bulu-bulu boneka panda coklat. Suara tante Dida lembut seiring dengan gedoran halus di pintu kamar. Mine mendengus kesal. Tante Dida selalu mengganggu waktu favoritnya setiap hari dan Mine membenci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mine sayang .. lunch dulu honey .. ayah dan ibu mu nggak makan di rumah hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Bukan kah setiap hari ayah dan ibu memang nggak pernah melewatkan makan siang bersama saya?'. Kedua orang tua Mine selalu sibuk mengurusi perusahan garment sang ayah. Harapan Garment. Mine sebenarnya mengharapkan kedua orangtuanya untuk selalu memberinya waktu sedikit untuk melewatkan makan siang atau makan malam di rumah. Namun semua itu hanya sebatas impian gadis cuek ini. Orangtuanya terlampau .. terlampau sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya tante Da .. sebentar lagi."&lt;br /&gt;"Cepat yah sayang .. tadi tante minta bi Parti memasak sup makaroni kegemaranmu."&lt;br /&gt;"Iya tante Da .. saya keluar makan."&lt;br /&gt;"Tante tunggu di meja makan yah sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine memberengut memandang Tide yang seperti terbuai pada lembutnya bulu-bulu boneka panda coklat. Segera dipakainya sandal dengan kepala bug's bunny dan keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo sayang .."&lt;br /&gt;"Tante Dida makan juga?"&lt;br /&gt;"Iya dong, tante temani kamu makan yah?"&lt;br /&gt;"Nggak usah tante, saya nggak butuh ditemani."&lt;br /&gt;"Mine, please jangan bersikap ketus begitu."&lt;br /&gt;"Hak saya kan?"&lt;br /&gt;"Iya itu hak mu, tapi urusan perutmu adalah urusan tante juga."&lt;br /&gt;"Tante nggak usah kelewat repot ngurusin saya deh, saya bisa mengurus diri sendiri kok."&lt;br /&gt;"Ayo makan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Dida tau, ngga ada habisnya bila dia mencoba adu mulut dengan gadis keras kepala ini. Mine duduk dan menunggu piringnya diisi nasi dan sop makaroni kegemarannya. Senang rasanya bila makaroni lembut itu mengisi mulutnya penuh. Makaroni, kegemaran Mine dalam setiap kesempatan. Tante Dida hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Mine. 'Gadis ini nggak kekurangan, dia hanya butuh sesuatu yang bisa merubahnya menjadi lebih bertoleransi'. Mine makan dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayam gorengnya Min?"&lt;br /&gt;"Nggak suka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selera makan Mine memang sedikit payah. Bila orang lain menginginkan makanan yang enak-enak, Mine memilih yang sebaliknya. Tante Dida tersenyum, paham betul watak putri tunggal majikannya ini. Putri tunggal yang kelewat judes .. meskipun nggak pernah dimanja. Bagaimana mau memanjakan? Mine sendiri seolah menolak untuk dimanjakan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan Mine langsung masuk kembali ke kamarnya dan mendapati Tide tertidur pulas. Dielusnya bulu lembut Tide dengan telinga mendengar alunan mp3 yang mengalun sendu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear lie ..&lt;br /&gt;...............&lt;br /&gt;Get out of my mouth&lt;br /&gt;Get out of my head&lt;br /&gt;Get out of my mind&lt;br /&gt;...............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian tadi siang di kelas kembali mengisi benaknya. Denis yang congkak. Denis yang sok jagoan. Denis yang sok tau! Mine mendengus kesal. Denis yang sok jadi pahlawan kelas! Denis yang berani menantangnya. Denis yang berani mencekal tangannya. Denis yang berani melemparkan kata-kata pedas untuknya. Denis yang sejak kelas 1 telah menjadi perhatiannya. Perhatian? Mine menggigit bibirnya sendiri. Ditepisnya pikiran itu .. dia sama sekali nggak memberi perhatian apa pun pada Denis. Dia benci Denis, dia benci semua manusia!! Tak terasa matanya basah. Mine menangis ... Kejadian saat kelas 6 SD itu kembali terputar di kepalanya. Mine membenci semua manusia!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan!! Saya masih kecil pak .. jangan .."&lt;br /&gt;"Tapi kamu begitu cantik untuk dilewatkan Mine .. kamu cantik .."&lt;br /&gt;"Jangan pak .. saya akan laporkan .."&lt;br /&gt;"Diam!! Kamu nggak punya hak apa pun anak kecil!! Nggak punya!! Berani melapor atau pisau ini menancap di tubuhmu??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-bersambung-&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109375452066847510?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109375452066847510/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109375452066847510' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109375452066847510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109375452066847510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/08/si-jutek-2.html' title='Si Jutek!!  [[ 2 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109331652859511399</id><published>2004-08-24T11:59:00.000+09:00</published><updated>2004-08-24T12:02:08.596+09:00</updated><title type='text'>Si Jutek!!  [[ 1 ]]</title><content type='html'>Mine memandang keramaian itu dari jauh. Cukup hanya dari jauh, Mine nggak berniat melangkah lebih dekat. Salah-salah malah wajahnya yang jadi sasaran tonjok dan baku hantam itu. Anak-anak berseragam putih abu semakin banyak yang tertarik dan membentuk lingkaran yang lebih besar lagi. Mine menarik napas kesal dan membuang pandangannya ke ruangan guru. Hei para guru, see .. lihat!! Perkelahian antara anak IPA dan Bahasa terjadi. Bukan seluruh anak IPA dan Bahasa sih, hanya dua orang yang memang telah lama memendam dengki dan hari ini menyatakan kedengkian mereka dengan saling bahu hantam. Cuih. Mine meludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang berkelahi Min?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anisa, salah seorang anggota OSIS datang menghampirinya. Anisa menatap kemurunan itu juga dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah Nis .. saya nggak tau."&lt;br /&gt;"Loh, bukannya kamu dari tadi melihatnya?"&lt;br /&gt;"Bukan berarti saya harus tau siapa yang berkelahi dan karena alasan apa kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anisa terdiam, memandangi Mine dengan pandangan tak mengerti. Anisa tau, Mine gadis yang terkenal paling cuek di sekolah mereka, smu Biru. Mine gadis yang tak ingin tau urusan orang lain dan tak mau urusannya dicampuri orang lain. Gadis aneh yang herannya dapat bersekolah bersama mereka di smu Biru. Menurut Anisa, Mine seharusnya bersekolah di smu luar biasa .. khusus anak-anak yang suka akan individualisme. Anisa meninggalkan Mine yang tersenyum sinis menatap punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine melengos begitu pak Rahman berlari-lari menghampiri kerumunan teman-temannya, disusul pak Roby, pak Gefar dan bu Jessica. Mine mendengus kesal melihat teman-temannya yang menyingkir satu persatu. Kedua murid cowok yang saling tinju itu pun dilerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa-apaan kalian ini!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentak pak Gefar marah. Suaranya menggelegar sampai-sampai terdengar jelas dari jarak sejauh Mine berdiri menyaksikan. Dan Mine nggak heran begitu melihat Genio dan Denis saling menatap penuh marah dengan baju terkoyak-koyak dan wajah biru lebam. 'Cowok kok kayak banci' batin gadis itu. Pak Rahman memegang lengan Genio, pak Roby dan bu Jessica memegang tangan Denis yang sosoknya memang jauh lebih besar dan tinggi dari Genio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerumunan pun bubar dan Mine melangkahkan kakinya kembali ke kelas. Kelas 3 Bahasa 1, yang menjadi pilihannya setelah melepaskan bangku kelas 2. Duduk diam di meja dan membolak balik buku Sejarah Budaya sambil bergumam kecil. Seakan tak peduli pada kejadian barusan. Teman-temannya kembali ke kelas karena lonceng tanda masa istirahat telah usai. Kelas langsung ramai dengan cerita yang cukup seru. Yang jelas, teman-temannya mendukung Denis, Genio memang pantas mendapat ganjaran atas kata-katanya selama ini yang menyatakan anak Bahasa itu GOBLOK semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uff .. saya pengennya sih Denis meng KO Genio saat pak Rahman belum datang!!"&lt;br /&gt;"Yea, telad dikit!! Rasain deh Genio .. berantem taunya tarik-tarikan baju!"&lt;br /&gt;"Pokoknya jangan sampai Denis di skors .. kita bakal ngamuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan dan celoteh teman-temannya memenuhi kepala Mine. Gadis itu muak. Untuk apa mereka membela Denis atau (mungkin) Genio? Itu urusan mereka yang berkelahi, nggak perlu satu kelas ikut dilibatkan. Hanya mencari susah saja. Mine memperhatikan tingkah teman-temannya satu per satu dan nyeletuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, saya nggak ikutan membela Denis, ga ada untungnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Mine, tepat saat Denis masuk ke kelas. Semua terdiam, menatap Mine dengan pandangan yang melecehkan. Teman yang nggak tau tenggang rasa .. berbagi rasa. Mine cuek, kembali membaca buku Sejarah Budaya nya dan mengenal kembali kehidupan masa prasejarah yang dulu pernah dipelajarinya saat kelas 1. Tatapan Denis yang tajam pun nggak dianggapnya. Gadis itu asik dengan dunianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf tuan putri Mine yang terhormat? Kamu nggak ikutan membela saya? Oh .. thank's God! Karena saya juga nggak butuh dukungan dari siapa pun, apalagi dari gadis sesombong kamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Denis cukup keras. Teman-teman lain memilih kembali ke bangku masing-masing dan duduk dalam diam. Mine nggak menghiraukan ucapan Denis barusan. 'Untuk apa?' begitu batinnya bicara. Bila nggak ada untungnya, untuk apa membalas ucapan Denis? Buang-buang waktu saja. Nggak puas dengan sikap Mine yang anti pati begitu, Denis menghampiri meja Mine dan menggebrak meja itu hingga Mine kaget dan meraba dadanya .. jantungnya serasa copot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kaget? Kenapa nggak kena serangan jantung sekalian trus koit? Dengar ya Tuan putri yang terhormat, saya ulangi .. saya nggak membutuhkan dukungan kamu sampai kapan pun!!"&lt;br /&gt;"Bagus .."&lt;br /&gt;"Bagus .. dan jangan mengomentari apa pun!"&lt;br /&gt;"Saya punya hak untuk mengomentari apa pun, bukan hak kamu untuk melarang selama negara pun nggak melarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Denis bagai bara api yang ingin membakar gadis itu hidup-hidup. Baru saja Denis ingin membalas ucapan Mine, bu Karen telah masuk kelas dengan setumpuk kertas dan menenteng tas kerjanya. Denis melirik sinis pada Mine dan menuju bangkunya sendiri. Mine, tenang dan diam menanti pelajaran berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak .. tes Sejarah Budaya!"&lt;br /&gt;"Huuuu kemarin ibu nggak bilang kalau hari ini ada tes deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temannya mulai ribut mempermasalahkan tes mendadak ini. Bu karen menarik napas panjang dan tersenyum. Mine menatap bu Karen tanpa kedip dalam posisi duduk yang siap menerima tes dalam bentuk apa pun. Otak Mine memang paling brilian dari teman-teman sekelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No comment! Dan tolong diperhatikan, kejadian tadi betul-betul hanya membuat malu sekolah. Denis, ibu harap kamu nggak mengulangi lagi perkelahian tadi. Bisa-bisa kamu di skors!!"&lt;br /&gt;"Saya nggak janji bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Denis menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harusnya bisa .. kalau nggak menuruti emosi yang merugikan diri sendiri dan orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine menimpali dengan suara yang cukup keras. Denis menggertakan giginya. Ingin rasanya di menampar Mine saat itu juga! Saski teman sebangku Mine mencolek tangan gadis cuek itu dan berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Min .. sudah .. jangan nyeletuk lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine melirik Saski dan diam kembali. Bu Karen mulai membagi kertas soal tes Sejarah Budaya dan kembali ke meja guru di depan kelas, memperhatikan anak-anak mengerjakan soal tes tersebut. Sebenarnya bu Karen ingin mengajarkan bab-bab berikutnya dari mata studi yang dipegangnya ini, namun niat mengajarnya batal, dia ingin memberi pelajaran pada kelas ini. Terutama pada Denis yang menurut para guru sok jagoan karena merasa diri paling laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua puluh menit Mine maju ke depan kelas dan menyerahkan pekerjaannya pada bu Karen. Soal tes itu begitu mudah baginya, setiap hari jawaban dari soal-soal itu dibacanya, dipelajarinya. Nggak heran, Mine selalu menjadi juara kelas. Juara kelas yang congkak di mata teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah selesai Mine? Cepat sekali?"&lt;br /&gt;"Sudah bu, ibu boleh mengetes saya secara lisan kalau nggak percaya."&lt;br /&gt;"Ibu percaya .. kamu boleh duduk kembali dan diam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mine menurut. Saat kembali ke bangkunya itu lah matanya bersirobok dengan mata Denis yang tajam tertusuk ke arahnya. Mine menyerngit dan kembali duduk. 'Kenapa harus marah? Kamu memang salah Den ..' batin Mine kembali berbisik. Saya nggak pernah mengenalmu sebagai siswa yang punya niat belajar demi cita-cita. Saya mengenalmu sebagai siswa yang paling sok jagoan dengan menggenjet teman-teman yang lain. Saya nggak pernah mau kamu genjet dengan cara apa pun! We are too different at all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dring bel tanda usainya waktu sekolah menjerit-jerit. Teman-temannya menarik napas lega. Bahkan ada yang sedikit kesal karena nggak mampu mengerjakan tes dengan baik. 'Siapa suruh nggak belajar?' kata hati Mine kembali. Gadis itu tersenyum puas dan merapihkan buku-bukunya ke dalam tas. Pulang dan bermain bersama Tide dan mendengar mp3 di kamar adalah waktu terindahnya dalam sehari. Tide pasti telah makan. Sesaat setelah bu Karen keluar kelas, teman-temannya pun ikut keluar, saat itu lah Mine mendapati sosok Denis berdiri di hadapannya. Mine nggak mengindahkannya dan menyingkir melalui bangku Saski, tapi Denis menarik tangannya, kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya masih ada urusan denganmu."&lt;br /&gt;"Saya rasa kita nggak ada urusan apa pun. Seperti katamu, thanks God karena saya nggak ingin melibatkan diri dalam masalahmu."&lt;br /&gt;"Plis deh tuan putri yang congkak .. kamu itu nyebelin tau!"&lt;br /&gt;"Saya tau .. saya sadar, jadi menyingkirlah karena saya ingin pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas menjadi sepi. Teman-temannya tau, Denis masih belum puas atas sikap Mine yang cuek bebek seperti itu. Apa mau dikata? Sikap Mine memang menjengkelkan dan terus melekat erat pada gadis itu sejak kelas 1!! Denis kukuh mencengkeram tangan Mine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit, lepaskan."&lt;br /&gt;"Oh .. tuan putri mengerti rasa sakit juga?"&lt;br /&gt;"Semua  manusia begitu."&lt;br /&gt;"Lucu sekali tuan putri Mine yang terhomat!! Hahahahaha .. lucu sekali!! Karena tuan putri nggak tau rasanya disakiti!!"&lt;br /&gt;"Saya tau."&lt;br /&gt;"Nggak .. no no no, jangan membantah .. kamu nggak tau, makanya kamu ngga pernah mau tau pada sekelilingmu, karena kamu mati rasa!! Kamu bahkan nggak tau, saya membela kelas ini mati-matian dari pelecehan Genio! Karena saya sakit hati pada kata-katanya!!"&lt;br /&gt;"Itu urusanmu bersama Genio. Kalau nggak mau dibilang goblok, belajar lah, supaya jadi pintar dan nggak dilecehkan, oke? Saya harus pulang!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali hentak tangan Mine terhempas ke meja, Denis meninggalkannya sendiri menahan rasa sakit akibat benturan tulang-tulang jarinya dan meja kayu yang keras. Mine meringis sedikit dan segera keluar kelas. Dia ingin pulang ke rumah, bercanda bersama Tide. Melupakan cowok goblok itu, melupakan semua masalah yang datang hari ini. 'Mengapa orang lain begitu sulit mengerti saya?' 'Mengapa kelakuan saya seperti sampah di mata mereka?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-bersambung- &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109331652859511399?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109331652859511399/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109331652859511399' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109331652859511399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109331652859511399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/08/si-jutek-1.html' title='Si Jutek!!  [[ 1 ]]'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109280847072297087</id><published>2004-08-18T14:51:00.000+09:00</published><updated>2004-08-18T14:54:30.723+09:00</updated><title type='text'>Here We Are</title><content type='html'>"Vi, boleh aku bicara denganmu?" aku menoleh. Ah Marina, tentu saja kamu boleh bicara, bukan kah kita adalah teman meskipun bukan lah sahabat?&lt;br /&gt;"Tentu saja boleh, sebentar yah." segera kubayar makanan yang telah mengisi perutku saat makan siang tadi dan menghampiri Marina yang sedang duduk menanti diriku di sebuah meja kantin yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, ada hal yang penting banget?" tanyaku. Marina menggeleng dan mengajakku duduk berhadapan dengannya. Dalam dua menit, lima menit, sepuluh menit Marina masih terdiam. Come on girl, don't wasting my time. Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan. Kepalaku dipenuhi laporan keuangan dengan nominal yang membuat mataku sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak penting-penting amat sih, tapi aku rasa kamu harus mengetahuinya." wow, aku harus mengetahuinya? Rasa penasaran menyelubungi jiwaku, menuntut Marina melalui tatapan penuh rasa ingin tau.&lt;br /&gt;"Apa itu?" tanyaku to the point. Aku adalah orang yang terkadang tak dapat berbasa-basi. God, kerjaanku masih banyak .. ugg.&lt;br /&gt;"Sudah berapa lama kamu jalan bareng Yuda?" Yuda? Cowokku itu? Sudah berapa lama yah? Lima bulan? Enam barangkali .. hei hei, ada apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurutmu berapa lama?" yeah, aku balik bertanya dan Marina cukup terkejut dengan pertanyaanku. Duh cewek yang satu ini, sedia payung sebelum hujan dong.&lt;br /&gt;"Lima bulan .." aha! Tepat sekali. Pemerhati 'relationship' rekan sekerja yah?&lt;br /&gt;"Betul, lima bulan lewat beberapa hari kurasa." lanjutku membenarkan. Marina menarik napas panjang dan dapat kulihat jemarinya bergetar. What the hell happen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vi, Yuda itu buaya. Dia playboy. Bajingannya perempuan,.." ya ya ya, apa lagi? Oh aku tau, Yuda adalah perayu kelas wahid, pengoleksi wanita, penghancur harapan perempuan dan apa lagi yah? Terlalu banyak kejelekan seorang Yuda yang sempat teringat dalam otakku saat ini.&lt;br /&gt;"Bukan hal yang baru kan?" dia mengangguk setuju dan melanjutkan kata-katanya. Aku mendengarkan. Seharusnya ada 'sesuatu' yang telah terjadi sehingga Marina mengajakku berbicara serius hanya untuk membahas kebiadaban seorang Yuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku adalah kekasih Yuda." aku tertawa. Betul kah? Kekasih Yuda yang tak kuketahui? Menjalin cinta diam-diam? Bila Marina adalah kekasih Yuda, lalu aku apanya? Sedangkan dalam lima bulan terakhir kami merupakan pasangan termesra satu kantor!&lt;br /&gt;"Uhm, really?" aih, masih sempatnya aku mengatakan 'really' untuk pernyataan yang seharusnya membuat hatiku terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu .. bukan sekarang." hah! Mau rasanya aku meninggalkan Marina tanpa perlu mendengar ocehan yang tak ada untungnya bagiku. Tapi dia memintaku untuk bicara, jadi kulayani saja.&lt;br /&gt;"Oke, dulu mungkin kalian pacaran .. backstreet dan membuat tak seorang pun tau termasuk aku. Lalu sekarang kalian nggak ada hubungan apa-apa lagi karena Yuda memacari ku. Lalu??" rentetan kata-kata itu terucap dengan pelan tapi pasti. Ya, aku ingin Marina tau bahwa aku sama sekali tak terpengaruh dengan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin mengingatkan kamu Vi. Jauhi Yuda, dia hanya akan membuat perasaanmu melambung terus dihempaskan tak kenal ampun." aku terpana. Seorang mantan pacar menjelek-jelekkan si mantan di hadapan kekasih si mantan? Ah bahasaku kacau dan Marina rasanya lebih kacau dari aku.&lt;br /&gt;"Itu saja?" tanyaku tergesa.&lt;br /&gt;"Bukan hanya itu ... " menggantungkan kalimat adalah kebiasaan yang buruk. Karena orang akan melanjutkan kalimat itu dengan kata-kata yang tak sedap bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Aku masih mencintai Yuda .. hatiku sakit setiap kali melihat kemesraan kalian di kantor. Yuda amat nggak adil padaku. Saat memacariku dia menutupi hubungan kami dan saat bersamamu dia mempertontonkan kemesraan kalian di hadapan semua orang termasuk aku." wow! Cemburu seorang wanita. Lalu Marina ingin aku berbuat apa? Memutusi Yuda dan membiarkan cowokku itu kembali padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila kamu masih mencintainya, mengapa dulu kamu biarkan dia pergi meninggalkanmu?" pertanyaan yang wajar bukan?&lt;br /&gt;"Karena dia nggak mencintaiku lagi Vi .. setelah .. setelah enam tahun!!" what? Enam tahun! Enam tahun bukan lah waktu yang singkat seperti lima bulan bersama Yuda. Enam tahun .. wajar lah bila Marina merasakan kehilangan yang amat sangat dan masih menyimpan cinta yang begitu besar pada Yuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak tau hubungan kalian ternyata begitu lama. Hmm .. Marina, pekerjaanku banyak sekali hari ini, aku to the point saja yah? What do you like me to do now? Broke from Yuda and leave him then he can comeback to you?" huahhh .. kata-kata ku .. menohok sekali.&lt;br /&gt;"Bukan itu. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya nggak ingin kamu terluka sama seperti yang aku rasakan saat ini." ujar Marina. Aku dapat melihat butiran bening terkumpul di sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Marina, thanks banget karena kamu telah memperingatkanku. Akan aku camkan baik-baik di dalam hatiku. Sekarang aku kerja lagi yah. Dah .." ku tepuk pipinya lembut dan membiarkan gadis itu mematung di sana. Yeah, aku muak dengan Marina. Gadis itu terlalu mellow menghadapi realita hidup. Bukan lah hal yang baru bila Marina terkenal cengeng dan suka bertele-tele dalam segala hal. Sama halnya dengan leletnya cara dia berpikir dan bertindak. Sedangkan Yuda? Cowokku itu adalah si gesit yang dapat diandalkan untuk semua bidang pekerjaan. Aku mencintai Yuda karena dia mencintaiku. Aku tak mencintai masa lalu nya yang kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuda memang cowok playboy yang suka gonta ganti pacar. Tahun-tahun belakangan saja telah beberapa kali Yuda terlibat hubungan asmara dengan rekan sekerja. Hebatnya, pada masa itu Yuda masih menjalin cinta bersama Marina, hal yang baru kuketahui dari pernyataan Marina. What the suck life! Mengapa Marina bertahan? Mengapa pula Yuda bertahan bersama Marina dalam enam tahun yang penuh dengan cinta ke tiga, ke empat atau ke sembilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei sweety .. ngelamun! Aku laporkan pak bos loh kalau ngelamun lagi." aha, ini dia my Yuda. Berdiri di hadapanku dengan senyumnya yang memikat dan pesonanya yang penuh karisma. I love you Yud! Seburuk apa pun masa lalu mu. Sebangsat apa pun kamu pernah menghancurkan hati wanita-wanita yang lain.&lt;br /&gt;"Kalau ngelamunin hero kan nggak masalah." dia tertawa. Barisan giginya yang putih terpamerkan diantara sepasang bibir yang penuh. Uhm, I want your lips now Yuda .. ah, ini kantor yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What happen? Sepulang dari kantor cabang bersama bos tadi aku dicegat Marina di depan kantor dan dia bercerita soal pertemuanmu dengannya. Kamu nggak marahi dia kan?" aku ingin tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;"Marahin? Marahin karena kalian ternyata telah enam tahun pacaran selama ini? Tentu saja sebelum kamu memacari aku. Oh, tentu tidak." jawabku pasti. Yuda sedikit terkejut lalu tersenyum lagi.&lt;br /&gt;"That's why I love you Vi .. you're different from them." oh yeah. Aku juga mencintaimu Yud, lebih dari apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuda kembali pada pekerjaannya so do I. Duh ribetnya rumus-rumus pembukuan ini. Setiap akhir bulan aku berkutat dengannya dan aku masih saja dibuat gregetan saking gemasnya dengan keribetannya. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaan yang tersisa agar nanti aku tak terlambat pulang. Lebih dari itu, aku tak ingin Yuda menungguiku menyelesaikan pekerjaan ini. Yeah .. akhirnya selesai juga, aku layak dapat penghargaan. Pembukuan akhir bulan terselesaikan tepat waktu. Save and report now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku yakin, bukan kamu yang ingin berbicara dengannya namun dia lah yang ingin berbicara denganmu .. am I rite miss Vi?" aku terkikik sendiri. Yuda, all your words make me feel so great!&lt;br /&gt;"Tepat .. hero selalu tepat hehehe." dia mencubit pipiku gemas. Ah, aku inginkan bibirmu, bukan sekedar cubitan sayang di pipiku Yud.&lt;br /&gt;"Dia selalu begitu. Entah kenapa dia nggak dapat melupakan cinta kami yang telah lama terkubur." penjelasan yang tak kuminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tau .. dia yang bercerita padaku .. aku kaget loh hero .. soalnya selama ini hero sama sekali nggak menceritakannya padaku." Yuda tertawa. Hei, be carefull .. kita di jalanan ramai sekarang! Hati-hati mengendarai mobilmu Yud, mobil yang baru saja menjadi milikmu, buah kerja kerasmu selama ini.&lt;br /&gt;"Rasanya sudah saatnya aku membeberkan kisahku bersama Marina tempo-tempo dulu. Boleh?" aku senang mendengarnya. Yuda ingin jujur padaku, jarang-jarang kan seorang playboy mau bicara jujur kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bicara lah .. apa pun yang akan hero beberkan nggak akan berpengaruh atas cintaku pada hero." ujarku pasti.&lt;br /&gt;"That's why I love you sweety .. kamu beda .. kamu membuatku memiliki perasaan untuk tidak boleh kehilangan dirimu dan cintamu." duh, wajahku pasti lah bersemu merah.&lt;br /&gt;"Sudah lah, sekarang ceritanya." tuntutku. Yuda menarik napas dalam. Aku meliriknya sekilas .. humm macho and gentle. For me, Yuda is everything. My soul, my heart, my love and my hero!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enam tahun yang lalu aku pacaran dengan Marina. Cinta yang tak ingin aku publikasikan ke orang-orang karena saat itu, hmm you know lah, aku masih suka gebet sana sini hehehe. Hubungan yang romantic and full of love. Everyday is a love day for me. But when time pass me by,.. minute by menute, day by day, month by month .. I can feel the real thing .. I don't love her at all. I can't love her cuz she's not the woman that I looking for. Marina kelewat cengeng. Kita selalu saja beda pendapat dan bertengkar. Marina pencemburu yang unggul dan selalu mencurigaiku." awal cerita yang bagus.&lt;br /&gt;"Karena hero pantas dicemburui kan? Hero adalah playboy cap kapak, hehehe." aku tertawa diiringi tawa Yuda. Dia mengacak-acak rambutku gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yap, you're rite miss Vi. Aku mulai kehilangan selera melihatnya. Empty, I feel nothing when I look at her. I realized, there's no love anymore and our relationship going for nothing!! Dua tahun bersamanya telah membuatku yakin dan pasti untuk memutuskannya. Tapi apa yang terjadi? Marina meraung-raung putus asa dan menjerit penuh nista. Marina nggak ingin aku pergi darinya. Aku kukuh karena aku harus! Aku nggak mau menjadi tempat marah-marah dari cemburu seorang wanita yang nggak lagi membuat hatiku tersentuh! Aku jenuh Vi, bosan bila terus menerus dicemburui tanpa alasan. Bosan dengan pertengkaran demi pertengkaran yang selalu tercetus bila kami bertemu akibat beda mind and view!! Aku ingin berhenti menjadi playboy, untuk itu aku membutuhkan The Woman, the rite woman yang bisa memborgol hatiku." hmmm .. aku mengerti. Bagaimana Marina tak cemburu? Yuda ibarat the most wanted man on our office! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu apa yang membuatmu bertahan? Sampai-sampai hubungan kalian harus berjalan hingga enam tahun?" tanyaku kembali. Aku begitu bergairah mendengar cerita ini.&lt;br /&gt;"Karena Marina mengatakan bahwa dia mengidap kanker otak .. yang selama dua tahun sama sekali nggak aku ketahui .. dia memohon padaku untuk mengijinkan dia memilikiku hingga Tuhan mengambil nyawa nya." wow, hebat! Ini baru namanya cerita yang seru. Cerita yang paling seru dari semua kisah hidup Yuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku manusia, mendengar hal itu membuat hatiku sedikit tersentuh. Oke, aku akan menemani dia tapi tanpa cinta. And you know what? Empat tahun berikutnya aku seperti orang gila yang terus menerus mengikuti kehendaknya. Terus terang, aku kasihan pada sakitnya, cinta untuknya telah lama mati. Dalam empat tahun itu aku mencoba menjalin cinta yang baru dengan beberapa wanita, rekan kerja kita .. kamu pasti tau siapa mereka .. tapi lagi-lagi aku gagal karena Marina mendatangi mereka, menyuguhkan cerita yang sama persis dengan yang kamu dengar tadi siang. Aku pasti akan hal itu. Wanita-wanita itu nggak dapat menerima realita yang ada dan memilih untuk meninggalkanku." huaah .. kejam sekali Marina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengekangan hak asazi tanpa kemanusiaan!" rutukku tiba-tiba. Yuda tersenyum simpul dan mengacak rambutku kembali.&lt;br /&gt;"Ya, dan yang lebih sadis lagi, ternyata Marina adalah wanita sehat wal afiat tanpa sakit seperti yang dikatakannya padaku. Sayang sekali empat tahunku terbuang percuma demi seorang Marina." what? Ck ck ck, wanita seperti itu apa pantas dicintai? Aku juga wanita, mungkin tak layak aku berpikiran seperti ini, namun sikap dan sifat Marina begitu menjemukan dan menjengkelkan siapa saja yang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"And then .. when I saw you although not at the first time, I feel something happen in my heart. Kamu begitu berbeda, pintar, supel, humoris dan penuh gairah hidup. Ini adalah wanita yang aku butuhkan untuk melengkapi hidupku. Aku memacarimu." aha .. I love you then Yud!&lt;br /&gt;"Wuihhhhh tersanjung deh aku hihiihi." timpalku.&lt;br /&gt;"Kamu adalah wanita berpikiran dewasa yang nggak peduli pada masa lalu ku sebagai cowok bajingannya wanita dan segudang cerita jelek tentang hobby ku memacari banyak wanita." ya, ku akui, aku terjerat padamu dan tak ingin cinta yang bersemi di dalam hatiku ternodai dengan masa lalu mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh hero .. masa lalu mu telah lewat dan nggak ada guna nya lagi diungkit. Bagiku, saat ini adalah merasakan indahnya cinta bersama mu dan meyakinkan hatiku sendiri bahwa hero yang ini adalah hero yang berbeda dari yang pernah wanita-wanita itu kenal. Hero yang ini adalah hero yang memberiku cinta. Dan meskipun hero ingin menggebet wanita lain, aku tak peduli ... yang penting aku bahagia. Itu saja. Bila Marina dapat membuat wanita-wanita itu menjauhi hero dan memutuskan hubungan begitu saja dengan ceritanya, maka aku tidak. Aku sama sekali nggak terpengaruh." ujarku pasti. Yuda tertawa dan mengerem mendadak. Duh, lampu merah lagi!! Pada kesempatan itu Yuda menatapku penuh sayang dan mengecup lembut bibirku. Padahal aku menginginkan lumatan bibirnya .. lebih dari sebuah kecupan. Hei Vi ... ingat, ini di tempat umum!! Yea yea .. aku jadi malu sendiri dengan keinginan yang menggebu-gebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lah sebabnya aku mencintaimu Vi .. sangat! Kamu berbeda dari mereka. Pola pikirmu yang modern dan berlogika membuatku terkagum-kagum. Bila semua yang kuinginkan telah kudapatkan darimu, untuk apa lagi aku mencari yang lain? Hanya membuang waktu ku! Aku tak mau sebagian kecil saja waktu kita terbuang untuk mencari yang lain .. camkan itu baik-baik. Bila dulu aku playboy maka sekarang aku adalah pecinta sejati!!" cieee aku tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;"Ck ck ck .. hebat dong aku?" Yuda mengangguk setuju. Kami menang? Iya! Kami berdua menang!! Bila saat ini kami menang menghindar dari badai, aku berharap besok kami mampu menghalau badai yang lebih besar lagi. Wish me luck!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Yuda kembali melaju membelah jalanan yang ramai. Aku duduk di sampingnya, mendengarkan tembang lawas dari radio. Yuda, aku mencintaimu, seperti kamu mencintaiku. Aku mencintaimu karena kamu berbeda, seperti kamu mencintaiku karena aku berbeda dari yang lain. Aku wanita  yang praktis dalam berpikir, demikian pula dirimu. Aku hidup dalam masa sekarang mu, bukan dalam masa lalu mu. Karena masa lalu yang pahit hanya akan membawa susah hati .. untuk apa memikir kan masa lalu bila aku telah bahagia dengan masa sekarang mu? Yuda .. tak salah aku memanggilmu hero .. you're my soul, my heart, my love and my hero!! Luv you Yud!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh--&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109280847072297087?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109280847072297087/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109280847072297087' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109280847072297087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109280847072297087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/08/here-we-are.html' title='Here We Are'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109175765476915286</id><published>2004-08-06T10:41:00.000+09:00</published><updated>2004-08-17T10:26:23.803+09:00</updated><title type='text'>Sketsa Hati {5}</title><content type='html'>Semua telah terbuka. Tembok tinggi menjulang yang kuciptakan selama ini untuk Rini telah rubuh. Tabir itu menguak dan membeberkan apa saja yang selama ini diselimutinya dengan aman. Seperti pintaku pada Tuhan, Rini dapat menerima semua ini dengan hati lapang. Rini menerimanya dengan ikhlas. Yang perlu kami berdua lakukan sekarang adalah menata kembali hidup ini agar lebih mantap merenda hari yang menanti kami di depan.&lt;br /&gt;Aku tau .. aku tau .. aku tau .. malam dimana dia menelpon. Malam dimana aku tergesa keluar kamar begitu mendengar dering telepon. Namun langkahku terhenti, aku mendengar Rini meneriakkan satu kata .. Papa! Aku membiarkan saja, toh Rini telah tau semua ini, biar saja dia mendengar suara papanya sendiri. Ah, dia selalu saja begitu. Selalu tau dan merasakan sesuatu pasti telah terjadi padaku. Dia selalu datang di saat aku tengah dirundung susah dan sakit. Dia adalah cintaku. Lihat lah, betapa cinta itu begitu indah meskipun tak dapat kurengkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia pun pasti tau kalau tabir ini telah terkuak. Lihatlah, Rini adalah dirimu! Pada Rini aku menemukan dirimu. Benang merah yang menjadi tali bathin kita begitu kuat. Namun bila Tuhan memang menggariskan semua harus seperti ini, maka biarkanlah nyanyian jiwa dan hembusan cinta ini terus seperti ini. Tanpa pernah terganti dan tak perlu dipaksa. Biarkan semua ini berjalan seperti apa yang telah digariskan Tuhan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri memandangi senja yang datang dari balik jendela. Kejadian itu telah sebulan lamanya lewat. Aku percaya Rini, seperti aku percaya pada dia. Kututup jendela dan menarik gordyn beludru hijau lalu berganti baju. Adzan maghrib telah berkumandang, memanggil para umat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT. Rini telah menantiku dengan senyum mengembang. Bersama kami melangkah menuju mushola. Tak lupa setelah itu mampir ke warung sate pak Mamat yang selalu menyuguhkan senyum begitu melihat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Citra Ardiansyah. Ardiansyah pada akhir namaku telah menjadi milikku sejak 14 tahun yang lalu. Dan untuk alasan apa pun, nama itu tak akan pernah ingin aku gantikan dengan yang lain. Seperti cinta yang terpatok mati di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Lukisan hati .. hanya terbentuk berupa sketsa namun kokohnya tak pernah goyah sampai kapan pun. Sampai Tuhan memberiku takdir yang lain. Terima kasih Tuhan untuk semua ini. Aku bahagia. Bukan kah bahagia adalah kunci hidup? Karena aku bahagia, aku telah memiliki kunci hidupku sendiri, aku masuk ke dalamnya dan menatanya bersama bahagia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bahagia yang sendiri, aku masih memiliki Rini, buah cinta aku dan dia. Rini yang selama ini terus kujejali dengan kebohongan demi kebohongan. Tapi toh akhirnya muara kebohongan itu adalah kejujuran yang mau tak mau harus terungkap dengan cara apa pun. Rini dan aku adalah cintanya. Dia adalah cinta kami berdua. Aku bahagia. Sekali lagi .. aku bahagia melihat kebahagiaannya bersama istri pertamanya dan putra-putranya. Aku bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait Cintaku,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deras hujan yang turun,..&lt;br /&gt;Mengingatkan ku pada dirimu,..&lt;br /&gt;Aku masih disini untuk setia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang waktu berganti,..&lt;br /&gt;Aku tak tau engkau dimana,..&lt;br /&gt;Tapi aku mencoba untuk setia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat malam datang,..&lt;br /&gt;Menjemput kesendirianku,..&lt;br /&gt;Dan bila pagi datang,..&lt;br /&gt;Ku tau kau tak disampingku,..&lt;br /&gt;Aku masih di sini untuk setia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang waktu berganti,..&lt;br /&gt;Aku tak tau engkau dimana,..&lt;br /&gt;Tapi aku mencoba untuk setia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat malam datang,..&lt;br /&gt;Menjemput kesendirianku,..&lt;br /&gt;Dan bila pagi datang,..&lt;br /&gt;Ku tau kau tak disampingku,..&lt;br /&gt;Aku masih di sini untuk setia,..&lt;br /&gt;Aku masih di sini untuk setia,..&lt;br /&gt;Aku masih di sini untuk setia,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara hati Rini::..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan terangi malam diam sribu bahasa::..&lt;br /&gt;Menanti sepercik harapan dalam khayalan::..&lt;br /&gt;Fajar yang berkilau datang membuka hari::..&lt;br /&gt;Sinarmu memberi harapan yang bersahaja::..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah warna pada cahaya::..&lt;br /&gt;Menjadi lukisan pagi::..&lt;br /&gt;Bukalah renda agar cahaya::..&lt;br /&gt;Sinari damainya hati kehidupan::..&lt;br /&gt;Sinarmu memberi harapan yang bersahaja::..&lt;br /&gt;Lihatlah warna pada cahaya::..&lt;br /&gt;Menjadi lukisan pagi::..&lt;br /&gt;Bukalah renda agar cahaya::..&lt;br /&gt;Sinari damainya hati kehidupan::..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dia.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cinta yang dulu tlah hilang kini berseri kembali&lt;br /&gt;Tlah kau coba lupakan dirinya hapus cerita lalu&lt;br /&gt;Dan lihatlah dirimu bagai bunga di musim semi&lt;br /&gt;Yang tersenyum menatap indahnya dunia&lt;br /&gt;Yang seiring menyambut jawaban sgala gundahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau badai menghadang&lt;br /&gt;Ingatlah ku kan slalu setia menjaga mu&lt;br /&gt;Berdua kita lewati jalan berliku tajam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap waktu wajahmu yang lugu slalu bayangi langkahku&lt;br /&gt;Telah lama kunanti dirimu tempat ku kan berlabuh&lt;br /&gt;Cahya hatiku yakin lah kekal abadi selamanya&lt;br /&gt;Seperti bintang yang sinarnya terangi sluruh ruang di jiwa&lt;br /&gt;Membawa kedamaian ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau badai menghadang&lt;br /&gt;Ingatlah ku kan slalu setia menjaga mu&lt;br /&gt;Berdua kita lewati jalan berliku tajam&lt;br /&gt;Resah yang kau rasakan&lt;br /&gt;Kan jadi bagian hidupku bersama mu&lt;br /&gt;Letakkanlah segala lara di pundakku ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:-tuteh@9Julai04^end"&gt;-tuteh@9Julai04^end&lt;/a&gt; of the story-&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109175765476915286?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109175765476915286/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109175765476915286' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109175765476915286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109175765476915286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/08/sketsa-hati-5.html' title='Sketsa Hati {5}'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109114900600873274</id><published>2004-07-30T09:45:00.000+09:00</published><updated>2004-07-30T09:56:46.006+09:00</updated><title type='text'>Sketsa Hati {4}</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Narasi Rini Ardiansyah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mama berusia 18 tahun, mama telah dua kali 365 hari lulus dari smu. Mama tak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena masalah ekonomi. Nenek menderita penyakit yang notabene membutuhkan banyak biaya. Semua itu terjadi saat mama lulus smu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama akhirnya memilih bekerja pada sebuah warnet sebagai operator. Pekerjaan itu membawa hidup mama pada gerbang dunia maya yang penuh kelicikan dan kebohongan. Tapi mama wanita jujur yang selalu mempercayai insting dan feeling. Mama kemudian mengenal seorang pria bernama Ardiansyah, pria usia 28 yang bekerja pada perusahaan asing di China. Dialah papaku. Menyukai kata-kata pria itu, mencintai kata-kata pria itu ternyata menyeret mama ke dalam arus cinta yang tak dapat dibendung lagi. Mama mencintai pria yang sama sekali belum pernah ditemuinya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta mama berlanjut dengan saling mengirim email, chatting dan sms. Terkadang papa menelpon mama meskipun waktu bicara mereka hanya satu atau dua menit. Mungkinkah cinta itu begitu besarnya? Sampai-sampai mama pernah menolak lamaran pria-pria yang mencoba menyuntingnya. Mama pernah mencoba mencintai salah satu dari pria-pria itu, namun sayang, cinta mama pada papa begitu besar. Mama tak sanggup pindah ke lain hati. Pria itu terluka dan mama tak pernah mau mencoba lagi. Hati mama telah mati rasa terhadap pria lain selain papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian dan peduli papa adalah kunci utama yang telah membuka hati mama untuk mencinta. Mama bahagia, itu lah yang diceritakan mama padaku. Papa memiliki pesona dan kharisma seorang pria sejati. Pada papa, mama bisa bermanja-manja, bisa marah-marah, bisa menangis sekaligus tertawa pada saat yang bersamaan. Papa adalah satu-satunya pria yang mampu membuat wajah mama memerah saking tersipunya meskipun mereka tak saling bertatap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup setahun mama dan papa pacaran, sampai pada satu titik puncak dimana bahagia dan sakit bertahta di udara. Dua hal yang sama-sama dilimpahkan papa pada mama. Papa pulang ke Indonesia, langsung menemui mama. Malam bertabur bintang, desiran angin malam dan senyum genit sang bulan menemani mereka menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan yang telah lama dinantikan mama, 1 tahun. Ternyata waktu 1 tahun itu tak pernah cukup untuk dapat mengetahui papa seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa jujur pada mama, papa ingin menikahi mama karena papa mencintai mama. Namun ternyata papa telah mempunyai kebahagiaan yang lain yang tak dapat ditembusi mama sama sekali. Papa telah menikah dan memiliki dua orang putra. Mereka adalah abang-abangku juga bukan? Papa menyerahkan semua keputusan pada mama. Tinggalkan papa dan membunuh cinta di hati, atau terus memilih papa dan menjadi orang kedua dalam hidup papa. Apa yang dipilih mama???? Mama memilih pertimbangan ke 2! Mama bersedia dinikahi papa dan hidup dalam cintanya untuk papa. Mama rela menjadi istri kedua demi cintanya pada papa!! Pecinta sejati kah mama?? Atau kebodohan seorang gadis usia 19 tahun?! Mama adalah wanita, demikian pula istri pertama papa. Bukan kah sesama wanita tak pantas untuk saling merebut pria yang dicintai? Itu lah yang penjadi pedoman mama sampai mama memilih pertimbangan ke 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu satu minggu, papa dan mama mengurusi surat-surat pernikahan pada lembaga pernikahan Islam, KUA. Lalu mereka resmi menikah. 1 minggu berikutnya adalah 7 hari terindah dalam hidup mama tanpa pernah tergantikan oleh kebahagiaan yang lain. Mereguk nikmatnya cinta di sebuh hotel tanpa perlu orang lain tau. Nenek dan semua saudara mama tak pernah tau bahwa mama telah menikah, memiliki buku nikah sah dan menyerahkan hidupnya secara total pada papa, pria yang ditemuinya di ruang maya dan dicintainya setengah mati. Ah .. cinta!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai istri ke dua, mama cukup tau diri dan tak banyak menuntut pada papa. Karena bagi mama, dengan dinikahi papa, kebahagiaannya terlengkapi. Papa kembali ke kotanya sendiri, menemui istri pertamanya dan abang-abangku disana. Sedangkan mama telah menetukan pilihannya. Hidup tanpa papa, cukup dengan cinta papa di dalam hatinya. Semuanya terbongkar oleh keluarga mama begitu mama mulai merasakan kehadiranku di dalam rahimnya. Mama hamil. Paman-paman marah dan menuntut jawab dari mama, siapa? Mengapa? Untuk apa? Hanya satu yang bisa diberikan mama sebagai jawaban. Buku nikah, sah! Sah sebagai istri papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebisuan keluarga mama pada akhirnya memberi mama peluang untuk membenahi hidupnya sendiri. Papa menghubungi mama, bahagia mendengar kehamilan mama dan mengirimkan sejumlah uang untuk mama. Uang itu, tak pernah terpakai hingga kini. Uang itu, masih terus berada dalam tabungan mama yang lain, uang itu disimpan mama untukku. Keluarga mama akhirnya turun tangan. Para paman dan tante mulai membuat cerita yang cukup masuk akal. Mama menikah diam-diam dan suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku lahir ke dunia sebagai yatim. Yatim yang sama sekali bohong! Aku masih memiliki papa! Aku masih memiliki pria yang dicintai mama seumur hidupnya! Namun menurut cerita mama atau hanya untuk menyenangkan hatiku(?), saat mama melahirkan, papa datang ke kota ini untuk memeluku, menciumku dan menggendongku sampai aku terbuai tanpa seorang pun tau. Cukup sampai disitu, karena papa harus kembali ke China, kembali pada tuntutan pekerjaannya. Betapa ribetnya mama mengurusi akte kelahiranku. Betapa pusingnya mama mengurusi sekolahku dan membiayai hidupku sampai sekarang. Nenek yang begitu baik jatuh iba lalu memberi mama modal untuk membuka usaha warnet, karena nenek tau, hanya warnet lah yang menjadi pilihan dan ketertarikan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnet yang maju, pendapatan yang besar, manajemen yang memuaskan itu menghasilkan satu buah rumah untuk mama. Rumah kami, rumah mama dan aku. Rumah yang kutempati sejak usiaku 3 tahun! Rentang waktu 14 tahun aku hidup, semua ini tertutup begitu rapat. Aku tak tau dimana makam ayahku berada. Aku tak tau kemana harus kucari nisan bertuliskan Ardiansyah itu! Bagaimana aku bisa mencarinya? Papaku belum lagi meninggal, papaku masih ada di kota itu, yang akhirnya dipindahkan bekerja dari China di kota itu kembali dan berkumpul bersama istri pertamanya juga para abang-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Rini Ardiansyah, saat ini yang aku inginkan hanyalah satu, membahagiakan mamaku. Mama yang hidup penuh cinta pada papa tanpa perlu menuntut untuk memiliki papa secara utuh. Mama yang telah mengajari aku untuk menjadi manusia baik, moral dan akhlak. Mama yang telah menyerahkan hidupnya pada cinta yang memberinya kebahagiaan terbesar tanpa perlu tergantikan. Aku mencintai mamaku. Aku juga mencintai papaku. Bila Tuhan mengijinkan, ingin sekali rasanya aku mendengar suara papaku. Agar aku dapat seperti mama, merasa terlengkapi tanpa perlu dilengkapi. Aku cinta papa dan mama!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo? Perlu sama siapah?"&lt;br /&gt;"Citra?"&lt;br /&gt;"Bukan, ini Rini."&lt;br /&gt;"Rini? Ini ..."&lt;br /&gt;"Papa???"&lt;br /&gt;"Rini?""Papa?"&lt;br /&gt;"Rini!!"&lt;br /&gt;"Papa!! Rini sayang papa!!"&lt;br /&gt;"Papa juga .. anen Rini .. jadi gadis baik yah?"&lt;br /&gt;"Rini sayang papa!!"&lt;br /&gt;"Papa lebih sayang lagi padamu Rin. Jaga mama baik-baik yah?"&lt;br /&gt;"Iya papa."&lt;br /&gt;"Mama dimana?"&lt;br /&gt;"Mama sudah tidur .."&lt;br /&gt;"Katakan pada mama,.. papa merasakan sesuatu sampai papa .."&lt;br /&gt;"Sampai papa menelpon .. karena itu lah yang selama ini telah terjadi diantara papa dan mama. Setiap kali papa merasakan perasaan tak nyaman, papa akan menelpon mama. Bukan kah begitu pa?"&lt;br /&gt;"Iya sayang .. Rin .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut!! Tut!! Telepon ditutup segera. Ah .. apakah abang-abangku itu mendekati papa? Atau istrinya? Yang jelas aku bahagia. Dia papa ku .. tiada tapi ada. Ada tapi tiada ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:-tuteh@9Julai04^bersambung"&gt;-tuteh@9Julai04^bersambung&lt;/a&gt;-&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109114900600873274?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109114900600873274/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109114900600873274' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109114900600873274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109114900600873274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/07/sketsa-hati-4.html' title='Sketsa Hati {4}'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109063322884790242</id><published>2004-07-24T10:35:00.000+09:00</published><updated>2004-07-24T10:40:28.846+09:00</updated><title type='text'>Sketsa Hati {3}</title><content type='html'>Begitu langkah kakiku terayun memasuki rumah, ku dengar sayup-sayup lagu yang pernah menjadi kegemaranku. Lagu yang kemudian kuputuskan sendiri menjadi lagu kami, lagu aku dan dia. Meskipun dulunya dia menolak menjadikan lagu ini sebagai 'lagu kita' toh aku tetap kukuh. Biar saja tak menjadi lagu kita, biar saja menjadi laguku!! Duet Air Supply yang kusuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;When you say, "I miss the things you do"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I just want to get back close again to you&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;But for now, your voice is near enough&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;How I miss you and I miss your love&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;And though, all the days that pass me by so slow&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;All the emptiness inside me flows&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;All around and there's no way out&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I'm just thinking so much of you&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;There was never any doubt&lt;br /&gt;I can wait foreverI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;f you say you'll be there too&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I can wait forever if you will&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I know it's worth it all, to spend my life alone with you&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;When it looked as though my life was wrong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;You took my love and gave it somewhere to belong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I'll be here, when hope is out of sight&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I just wish that I were next to you tonight&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;And though, I'll be reaching for you even though&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;You'll be somewhere else, my love will go&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Like a bird on it's way back home&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I could never let you go&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;And I just want you to know&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I can wait forever&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;If you say you'll be there too&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I can wait forever if you will&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I&amp;nbsp;know it's worth it all, to spend my life alone with you&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah aku buktikan, aku akan menunggu selamanya. Selama Tuhan masih memberiku waktu untuk bernafas dan tersenyum menyambut hangatnya sinar mentari, maka aku akan terus menanti. Selama Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup bersama rasa ini, maka aku akan terus menanti. Meskipun muara penantianku bukan pada asa yang selama ini menemani impian-impianku untuk hidup bersama dia. Rini keluar dari dalam kamarnya dan lagu ini semakin keras terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama sudah pulang? Suka sama lagunya?" ah Rini. Tentu saja aku menyukai lagu ini! Ini lagu ku! Pernyataan rasa hatiku pada dia!&lt;br /&gt;"I... iya Rin, mama suka." jawab ku terbata. Kulepas sepatu dan blazer. Bi Surti membawakan segelas air putih untukku. Aku duduk di meja makan bersama Rini. Kami terdiam sampai dentingan nada itu berakhir. Tak ada kelanjutan? Tak diulang kah lagu itu? Ah, Aku begitu meresapinya. Jujur saja kuakui, aku terlena dengan lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama masih suka menunggu juga?" aku terkejut, kupandangi Rini yang kali ini berani menatap kedalaman mataku. Mengapa? Mengapa Rini berani menatapku seperti itu? Dan mengapa pula aku seperti dilingkupi ketakutan dengan pandangan mata gadisku ini?&lt;br /&gt;"Menunggu? Menunggu apa Rin?" tanyaku pura-pura bingung. Tuhan!! Tolong aku! Jangan biarkan semua ini terbongkar. Jangan biarkan gadisku ikut merasakan kehilangan yang amat dalam.&lt;br /&gt;"Menunggu papa." deg! Jantungku seperti dihantam godam dan itu membuat ulu hatiku nyeri. Ini kah rasa tak enak yang sempat terbersit sepintas lalu tadi? Jantungku kian cepat berpacu. Loteng!! Bodohnya aku membiarkan Rini membersihkan loteng! Tentu saja dia akan memeriksa isi setiap kardus yang ada disana dan membaca diary itu!! Arhh!!!&lt;br /&gt;"Papa telah .." aku tak bisa meneruskan kata-kataku. Ucapan Rini berikutnya seakan memotong pita suaraku dan memaksaku untuk patuh mendengarkannya.&lt;br /&gt;"Mama bohong kan dengan cerita itu? Nenek juga bohong kan? Tante-tante dan para paman juga berbohong kan?" mataku basah. Lihatlah Citra, dia telah 14 tahun sekarang, sudah saat nya dia mengetahui dan mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku menggigit bibir pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papa masih hidup kan? Papa sekarang berada di kota yang nggak jauh dari kita kan? Papa hidup bersama keluarganya sendiri kan? Rini masih punya papa!! Papa Rini belum meninggal seperti yang mama ceritakan sejak dulu!" aku memejamkan mataku, air bening keluar dari sudut-sudut mataku. Rini, tau kah kamu bahwa begitu susahnya mama memisahkan kamu dari semua realita pahit ini? Begitu susahnya mama mengurusi akte kelahiran kamu! Begitu sulitnya mama menghadapi semua ini sendiri. Begitu sulitnya mama menjejali otakmu dengan cerita bohong itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma,.. Rini telah membaca semuanya tanpa satu pun tersisa. Rini nggak jadi membersihkan loteng setelah dua buah diary ini Rini temukan dalam kardus yang diletakkan paling sudut dan tersembunyi. Rini mohon, jangan sembunyikan apa-apa lagi dari Rini .. ceritalah ma, Rini ingin mendengarkan semua cerita itu dari mama, malam ini juga,..." aku menarik napas panjang. Sesak napas. Setiap kali sesak napas begini, aku pasti mengingat dia,.. suamiku, suami sah ku!! Meskipun aku hanya menjadi istri keduanya .. tapi dia suamiku juga. Aku mengetahui dirinya luar dalam .. seluruhnya! Sampai pada asma yang sama-sama kami idap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskan kuceritakan semua ini pada gadisku yang penuh tuntutan ini? Haruskah? Harus .. aku harus! Karena dia adalah bagian dari cerita ini. Dia adalah buah cinta cerita ini. Aku menarik napas dalam kembali. Yang kurasakan saat ini adalah menelan jelaga hitam yang pernah kuperbuat dulu. Seperti butiran pasir yang memasuki kerongkonganku hingga aku rasanya perlu tersedak dan muntah agar semua ini dapat kuceritakan. Wajah Rini adalah wajah dia. Senyum Rini, gerak-gerik Rini dan tatapannya yang menusuk adalah milik dia pula. Rini adalah putri sahnya pula dari pernihakannya yang kedua bersamaku. Pernikahan yang kami sembunyikan. Pernikahan yang kemudian diketahui oleh keluargaku saat aku mulai merasakan kehadiran seorang Rini di dalam rahimku.&lt;br /&gt;Dia memiliki dua kebahagiaan sedangkan aku cukup satu. Karena aku bahagia. Apa kah Rini dapat mengerti bahwa bahagia adalah kunci kehidupan yang paling utama? Dengan bahagia manusia tak akan punya niat mencoba mencari masalah. Itu lah yang kupilih. Dan itu lah realita yang mau tak mau harus kuceritakan pula pada gadisku ini. Tuhan, malam ini Rini harus mengetahui semuanya dari aku sendiri meskipun cerita itu telah dibacanya dari dua buah diary usang yang sempat menjadi pelarianku dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, aku mohon, kuatkan aku agar cerita ini nantinya dapat selesai mengalir dari bibirku tanpa perlu aku tersedak atau terisak. Kuatkan pula hati gadisku agar dia tak perlu membenci papanya sendiri karena nasib memang tak memihak pada aku dan suamiku sendiri. Tuhan, biarkan malam ini menjadi saksi terbukanya rahasia hidupku yang paling dalam .. lukisan jiwaku, sketsa hatiku yang selama ini kujaga rapat sampai-sampai tak ada celah sedikitpun kubiarkan terbuka. Biarkan Rini mengetahui, alasan mengapa mama nya terlihat sering melamun dan terkejut bila ditegur. Semua itu untuk satu rahasia .. satu sketsa hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:-tuteh@9Julai04^bersambung"&gt;-tuteh@9Julai04^bersambung&lt;/a&gt;-&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109063322884790242?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109063322884790242/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109063322884790242' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109063322884790242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109063322884790242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/07/sketsa-hati-3.html' title='Sketsa Hati {3}'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109045669872395258</id><published>2004-07-22T09:29:00.000+09:00</published><updated>2004-07-22T09:38:18.723+09:00</updated><title type='text'>Sketsa Hati {2}</title><content type='html'>"Mbak, pemasukan kemarin banyak sekali!!" Juliet, salah seorang operator warnetku menyerahkan laporan pembukuan dan sejumlah uang padaku. Jam masih menunjukan pukul delapan namun ketepatan waktu bekerja telah kuterapkan sejak dulu, sejak warnet ini di buka, hingga warnet satunya lagi ikut dibuka. Ya, aku bangga pada diriku sendiri, cermin kepintaran dia yang kupakai membuahkan hasil yang memuaskan bagiku. Di warnet ini semua kegiatanku berpusat. Kepala operator warnet cabang akan mendatangiku pada jam yang sama untuk melaporkan pendapatan kemarin dan setelah itu aku langsung menuju bank untuk menyimpannya. Untuk kelangsungan warnet dan tentu saja kelangsungan hidupku bersama Rini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam berapa kamu tutup warnet semalam Jul?" tanyaku perhatian. Gadis usia dua puluhan ini selalu menyukai perhatian. Bukan kah aku harus pandai mengambil hatinya agar dia tak sampai kehilangan dedikasi dan kejujuran dalam bekerja?&lt;br /&gt;"Jam sembilan mbak, capek banget, soalnya banyak usernya." jawab Juliet sembari menghitung pendapatan kemarin dan mencocokkannya.&lt;br /&gt;"Alhamdulillah kalau banyak user, pendapatan pun meningkat. Tapi kamu sabar dulu yah Jul, saya belum bisa menaikkan gajimu dan operator yang lain." hiburku padanya. Juliet tersenyum dan menatapku penuh sayang.&lt;br /&gt;"Mbak, mbak Citra sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, jadi mbak nggak usah sungkan sama saya." katanya lagi. Aku mengangguk setuju dan menandatangi pembukuan manual itu. Juliet kembali membereskan warnet dan aku menunggu kedatangan Saras, ketua operator dari warnet cabang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kulihat Saras di depan ruang kerjaku. Gadis ini usianya sepantaran dengan Juliet, namun kematangannya melebihi Juliet. Tak salah aku mempercayainya mengurusi warnet cabang.&lt;br /&gt;"Pagi mbak!! Saya selalu telat kemari!" kata Saras.&lt;br /&gt;"Nggak mengapa. Toh bank belum dibuka pada jam-jam begini." balasku. Saras duduk di hadapanku dan mengeluarkan pembukuan beserta amplop berisi uang pendapatan kemarin.&lt;br /&gt;"Maaf yah Sar kalau mbak selalu merepotkanmu setiap hari kerja begini. Maklum, mbak nggak ngerti pembukuan elektronik dan rasanya pas banget dengan pembukuan model kuno begini." kataku. Saras tertawa, memamerkan barisan giginya yang putih.&lt;br /&gt;"Nggak apa lah mbak, toh buktinya, dengan pembukuan kuno begini usaha warnet mbak kian maju!" pujinya. Ah, meskipun dipuji begitu, pipiku tak dapat merona saking tersipunya. Aku hanya bisa dibuat tersipu oleh dia. Hanya dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya selesai Saras pamit kembali ke warnet cabang dan tak lupa menggoda Juliet dan Rufus. Aku menyukai anak-anak muda yang setia ini. Mereka memiliki jiwa bekerja yang kuat dan memiliki keinginan untuk maju, secara positif tentu saja. Terkadang aku mengajak mereka menikmati suasana cafe atau sekedar piknik bersama pada hari minggu. Karena setiap hari Minggu warnet ditutup. Mereka membutuhkan hari libur juga kan? Sama seperti aku. Tapi tidak dengan cintaku pada dia, cinta ini tak butuh untuk diliburkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh tepat aku berangkat ke bank untuk menyimpan pendapatan kemarin dan langsung kembali ke warnet. Hampir dua jam waktuku habis di bank, maklum saja lah, tanggal muda. Kesibukan bank mencapai puncaknya dan aku harus sabar mengantri. Saat aku tengah membaca koran hari ini, Juliet masuk ke ruang kerjaku.&lt;br /&gt;"Mbak, telepon dari Rini." ah gadisku itu! Kulihat, jam telah menunjukan pukul satu, tentu saja dia telah pulang sekolah. Kuraih telpon yang tersambung secara pararel. Sampai mendengar salah satu saluran ditutup baru deh aku bicara di telpon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sayang? Sudah makan? Bi Surti masak semur kegemaranmu kan? Sudah sholat kan?" tanyaku. Pertanyaan yang dulu sering dia lontarkan padaku. Dari seberang Rini tertawa dan menjawab.&lt;br /&gt;"Iya sudah. Makasih yah ma. Oh iya ma, hari ini Rini ingin memberesi loteng, boleh kan?" Rini memang selalu bersemangat dan penuh ide. Loteng yang sekaligus gudang itu memang sudah lama terlupakan olehku.&lt;br /&gt;"Tentu saja boleh. Kalau menurutmu ada barang yang nggak diperlukan lagi, buang saja Rin." kataku.&lt;br /&gt;"Iya ma. Nanti Rini bersih-bersih dan menata kembali barang-barang di sana." ujarnya semangat. Aku tertawa senang.&lt;br /&gt;"Bagus!! Tapi kalau capek jangan diteruskan. Jangan sampai waktu sholatmu terganggu, apalagi waktu belajar." saranku.&lt;br /&gt;"Sip!! Oke ma, Rini beres-beres dulu yah." aku tersenyum. Ah, senyum yang tak mungkin dilihat oleh gadisku itu. Ku tutup telepon dan meneruskan membaca, menambahi wawasanku agar aku tak menjadi orang yang paling belakang mengetahui berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tiga jam lagi waktuku di sini. Bosan membaca koran, aku beranjak ke ruang user dan melihat penuhnya pengunjung hari ini. Alhamdulillah, Tuhan memberiku kemudahan dalam menjalani hidup ini meskipun dalam kesendirian. Terkadang masih ada yang nyeri dari dalam hati ini bila mengingat ini semua dapat berlangsung berkat bantuan dan saran dia. Dia yang penuh ide dan nasihat, dia yang penuh cinta dan sayang. Sayang sekali kami tak dapat bersatu dalam raga, cukup dalam jiwa. Jiwa kami menyatu erat dan tak dapat dipisahkan lagi. Itu lah alasan mengapa aku memilih untuk terus sendiri sampai saat ini. Dia dan pesonanya telah membuat hatiku mati rasa untuk pria lain yang mencoba mengusiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinting kah aku dengan semua ini? Aku pernah mencoba bertanya pada angin laut yang berhembus menampar wajahku dan menerbangkan anak-anak rambutku. Namun tak satu pun jawaban yang dapat kutemui di sana. Pernah pula aku mencoba bertanya pada pekatnya malam dengan taburan bintang di langitnya yang menghitam, namun tak pernah jua kutemukan jawabnya. Artinya aku tak sinting! Artinya wajar saja aku menentukan hal ini untuk kujalani. Bukan kah aku manusia yang tak pernah memiliki kesempurnaan? Kesempurnaan sejati hanya dimiliki oleh sang khalik! Bukan aku, bukan pula dia. Aku kembali ke ruang kerjaku dan melamun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melamun bukan lah pekerjaan sia-sia yang baru saja kulakukan. Sudah sejak dulu aku sering melamun. Berkhayal tentang mimpi indahku untuk bersama dia tanpa pernah tau apakah mimpi itu dapat berakhir nyata pada akhirnya? Sampai sekarang mimpi-mimpi itu terus menemani kesendirian yang kupilih ini. Bila manusia hidup untuk sesuatu yang nyata, sesuatu yang dapat mereka raih dan dekap, maka aku tidak. Aku memilih untuk hidup dalam mimpi dengan impian yang sama sekali tak dapat kusentuh, apalagi kudekap. Dekap? Aku pernah didekapnya! Aku pernah memberinya senyum kepuasan setelah ijab kabul! Aku telah menyerahkan diriku secara total pada dia! Hanya pada dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa kah dia disana? Memikirkan aku seperti aku memikirkannya? Merindukan aku seperti aku merindukannya? Menginginkan aku seperti aku menginginkannya? Mengharap ciumanku seperti aku selalu mengharapkan ciuman panasnya? Membutuhkan aku seperti aku membutuhkan dirinya atas diriku dan menguasai seluruh sarafku yang lumpuh begitu melihatnya? Tuhan, bila aku telah menjadi gila karena semua ini, aku mohon, jangan pernah sembuhkan aku, karena dengan kegilaan ini aku menemui kebahagiaan. Kuhidupkan kembali komputer, mendengar alunan lembut musik yang keluar melalui celan-celah serabut speaker active. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak cerita ada suka ada duka&lt;br /&gt;Cinta yang ingin ku tulis bukanlah cinta biasa&lt;br /&gt;Dua keyakinan pisah masa'alah pun tak sama&lt;br /&gt;Ku tak ingin dia ragu mengapa mereka selalu bertanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku bukan diatas kertas cinta getaran yang sama&lt;br /&gt;Tak perlu dipaksa tak perlu di cari&lt;br /&gt;Karena ku yakin ada jawabnya,..&lt;br /&gt;Andai ku dapat merubah semua hingga tiada orang terluka&lt;br /&gt;Tapi tak mungkin ku tak berdaya&lt;br /&gt;Hanya yakin menunggu jawabnya,.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji terikat setia masa merubah segala&lt;br /&gt;Mungkin dia kan berlalu ku tak mau mereka tertawa &lt;br /&gt;Diriku hanya insan biasa milik naluri yang sama&lt;br /&gt;Tak ingin berpaling tak ingin berganti&lt;br /&gt;Jiwaku sering saja berkata,..&lt;br /&gt;Andai ku mampu ulang semua kupasti tiada yang curiga&lt;br /&gt;Kasih kan hadir tiada terduga&lt;br /&gt;Hanya yakin menunggu jawaban,.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya istana cinta ini hanya istana yang terbuat dari pasir, maka keajaiban tangan Tuhan telah bermain bersamanya sehingga istana pasir ini begitu kuat dan terus berdiri kokoh sampai detik ini. Bila cinta ini hanya dipandang selayaknya kupu-kupu kertas, maka keagungan Tuhan pula lah yang telah memberi kupu-kupu kertas ini nafas penuh cinta sehingga kupu-kupu kertas ini masih terus mengepakkan sayapnya tanpa kenal lelah. Jika dia memiliki dua kebahagiaan, biarlah aku cukup dengan satu kebahagiaan saja. Bersama Rini, akan kutepis segala badai yang menghadang langkahku. Bersama Rini aku akan membuktikan pada dunia kalau rasa ini tak perlu mereka tertawakan, karena ini bukan lelucon tanpa lakon dan layar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar. Nafasku sedikit tersengal. Sudah jam empat dan aku harus pulang. Meskipun Juliet dan Rufus tak membutuhkan aku, aku harus terus di sini sampai batas waktu yang telah kudisiplinkan pada diriku sendiri. Selebihnya waktuku hanya untuk Rini di rumah. Ah gadisku itu, sudah selesai kah dia membereskan loteng? Ku harap sudah, agar aku masih dapat menemaninya berceloteh tentang sekolahnya, temannya, gurunya dan suasana hatinya saat ini. Sekelebat kurasakan rasa tak enak di hati, namun segera kuhalau .. aku pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung-&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109045669872395258?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109045669872395258/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109045669872395258' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109045669872395258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109045669872395258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/07/sketsa-hati-2.html' title='Sketsa Hati {2}'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-109011261108391271</id><published>2004-07-18T09:59:00.000+09:00</published><updated>2004-07-18T10:03:31.083+09:00</updated><title type='text'>Sketsa Hati  {1}</title><content type='html'>Matahari senja semakin tak tampak seiring dengan bergulirnya waktu yang semakin tua untuk satu hari ini. Di depan jendela ini aku berdiri mematung menatap lukisan alam di kala senja yang tercoret melalui kuas sang Pencipta, Penguasa alam semesta. Senja,.. usiaku pun semakin senja. Tak terasa telah 33 usiaku sekarang. Sebentar lagi aku telah menjadi wanita dengan usia berkepala 4! Betapa cepatnya waktu berlalu dan aku masih saja seperti ini, menggantung sejuta impian di langit biru dan berharap keajaiban itu akan terjadi. Keajaiban yang terus menerus bermain dalam pikirku yang sempit ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana kah hari-hari itu perginya? Sampai-sampai aku tak merasakan perginya mereka? Kemanakah aku selama ini? Sampai-sampai tak menyadari usiaku sendiri? Ya, aku tau. Sejak 19 aku telah merasakan berhentinya usiaku di saat itu. Aku yang sekarang, tetap merasa layaknya aku yang dulu, gadis usia 19 yang penuh mimpi. Aku hanya dapat bermimpi tanpa mampu berbuat apa pun untuk meraih mimpi itu meskipun hati kecilku amat menginginkannya. Sampai sekarang pun aku terus bermimpi. Mimpi seorang wanita kesepian dengan cintanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan maghrib mulai berkumandang dari mushola terdekat. Bergegas kututupi jendela, menarik gordyn hijau muda berbahan satin dan berganti baju. Sudah saatnya sholat. Karena dengan sholat kudapati kemurnian hati dan kedamaian jiwa. Karena dengan mendekatkan diri pada Allah aku akan merasa lebih kuat untuk merajut hidup yang tersisa ini, bersama impian-impian mulukku. Lebih kuat dari masa itu, masa dimana aku masih bersama dia, merangkai manisnya cinta di usia muda. Aku tak muda lagi, 33 tahun sudah usiaku kini. Aku seharusnya telah menjadi wanita dewasa yang mampu berpikir lebih dewasa menggunakan logika dan berdasarkan realita yang ada. Tapi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma, sholat yuk?" suara itu, suara putri tunggalku yang amat kucinta."Ayuk Rin." kami bersama-sama menuju mushola dan sholat berjamaah bersama jemaah yang lain dalam kekhusyukan do'a dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, sang pemilik abadi hidup ini. Kepada Dia yang sudah memberiku hidup juga kesempatan untuk mengenal dunia secara luas dan meyiapkan waktuku untuk bertemu dengan dia dalam hidupku yang sederhana ini. Dia yang dulunya, sampai sekarang pun, telah memberiku masa yang paling indah yang pernah ku kecap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sholat aku mengajak Rini menuju warung sate ayam yang terletak di ujung gang rumah kami yang terletak di tengah pemukiman rakyat jelata namun kami berdua bahagia. Pat Mamat, si tukang sate, langsung tersenyum senang begitu melihat kedatanganku bersama Rini."Bu Citra, silahkan duduk. Pesan berapa porsi bu?" tanya pria tua itu ramah. Aku menghormati pak Mamat, tanpa memandang dirinya hanya seorang tukang sate yang mencari makan dengan menggantungkan nasib pada rejeki pembeli setiap harinya."Ma! Ditanya pak Mamat tuh, pesan berapa porsi?" aku gelagapan. Aku tau, Rini sering menemukanku sedang melamun dan terkejut begitu ditegur. Gadisku ini telah 14 usianya, sebentar lagi tumbuh menjadi remaja periang."Dua saja yah? Mama nggak makan malam ini, masih kenyang Rin. Dua saja, buat kamu dan bi Surti." jawabku segera. Rini menarik bibirnya kesal."Mama tuh harus makan biar nggak ngelamun terus!" ah dia,.. pemerhati yang jeli. Kuakui, terkadang aku tak dapat banyak komentar terhadap Rini. Rini begitu mirip dia. Pintarnya, telitinya, kritikannya, sampai pada pola pikirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sosok gadisku ini, aku menemui sosok dia. Mereka begitu mirip satu sama lain. Matanya, alisnya, pipinya yang tembem, sampai pada bibirnya yang penuh! Rini adalah cloning dia dan setiap kali aku menatap gadisku ini, rasa haru biru menyelubungi lubuk jiwaku, menghadirkan butir-butir air mata terbias di pelupuk. Pak Mamat telah selesai dengan satenya. Usai membayar segera kuajak Rini pulang, menikmati indahnya malam dengan taburan bintang dan senyuman manja bulan di atas langit yang menghitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma, kenapa sih mama sering banget ngelamun?" tanya Rini padaku dengan pandangan lurus ke depan. Rini tak berani menatap mataku, entah kenapa."Masa sih? Kamu ada-ada saja deh. Kadang-kadang sih iya, tapi sering banget enggak lah." kilahku. Aku tak mau Rini mengorek apa pun dariku."Ah mama selalu begitu kalau ditanya. Rini kan sudah besar ma, sudah empat belas tahun! Mama sudah bisa berbagi bersama Rini." katanya tanpa menoleh padaku. Kulirik dia, persis sekali garis wajah mereka. Rahangnya,.. rahang yang pernah kusentuh dulu. Aku tak ingin berkomentar lebih jauh, lebih baik diam dari pada terus berdalih padanya. Itu hanya akan membuat rasa penasaran di hatinya kian menggunung! Aku tau persis sifat dia, sifat yang diturunkan secara utuh pada Rini. &lt;br /&gt;Di rumah, bi Surti telah menyiapkan peralatan makan. Rini mengajak pembantu paruh baya itu makan bersama dan aku kembali ke kamarku. Di kamar ini, kamar yang kutempati sendiri tanpa dia, aku dapat melakukan apa saja. Termasuk mendengarkan alunan lagu-lagu melankolis dan hanyut bersama iringan lembut yang mengisi ruang telingaku. Memejamkan mata kemudian merasakan sentuhan dia atas diriku. Sepenuhnya aku milik dia. Dia yang telah pergi jauh bersama cinta kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamamu kulewati lebih dari seribu malam,..Bersamamu yang kumau namun kenyataannya tak sejalan,..Tuhan bila masih kudiberi kesempatan,..Ijinkan aku untuk mencintainya,..Namun bila waktu ku telah habis dengannya,..Biar cinta hidup sekali ini saja,..Tak sanggup bila harus jujur,..Hidup tanpa hembusan nafasnya,..Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali,..Sekali lagi untuk mencintainya,..Namun bila waktuku telah habis dengannya,..Biarkan cinta ini,.. hidup untuk sekali ini saja,.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara lembut Glen mengisi relung-relung hatiku yang paling dalam. Memberi kehangatan pada kisi-kisi batin yang haus akan cintanya. Hanya cinta dia, karena aku takkan pernah dapat melahirkan cinta yang baru untuk bahagia. Cukup seperti ini dan aku bahagia. Bersama cintaku, bersama Rini yang menjadi buah cinta aku dan dia. Cinta yang terlarang menurut sudut pandang orang lain, namun cinta yang indah menurut sudut pandangku sendiri. Cinta yang telah membuatku merasa lengkap menjalani hidup ini meskipun dalam kesendirian abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah semakin merambat tua. Mataku semakin terasa berat diserang kantuk dan membuatku terus-terusan menguap dari tadi. Sudah saatnya aku tidur, membiarkan mata dan diri ini istirahat setelah seharian capek menjalankan tugasku. Tugas sebagai seorang ibu dan sebagai seorang pemilik dua buah warnet yang cukup maju. Detak-detak detik jam di dinding berpacu bersama jantungku dan hembusan nafasku yang mulai teratur. Letih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung-&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-109011261108391271?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/109011261108391271/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=109011261108391271' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109011261108391271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/109011261108391271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/07/sketsa-hati-1.html' title='Sketsa Hati  {1}'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108738059834152712</id><published>2004-06-16T19:06:00.000+09:00</published><updated>2004-07-02T19:20:23.440+09:00</updated><title type='text'>It's Me</title><content type='html'>^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108738059834152712?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108738059834152712/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108738059834152712' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108738059834152712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108738059834152712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/06/its-me.html' title='It&apos;s Me'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108667925352270173</id><published>2004-06-08T16:18:00.000+09:00</published><updated>2004-06-08T16:20:53.523+09:00</updated><title type='text'>Kopda</title><content type='html'>"Ketemuan."&lt;br /&gt;"Hah? Ketemuan?"&lt;br /&gt;"Rite."&lt;br /&gt;"Sama siapa?"&lt;br /&gt;"Yonas."&lt;br /&gt;"Gebetan elu di irc itu?"&lt;br /&gt;"Rite."&lt;br /&gt;"Yonas yang pic nya cakep itu?"&lt;br /&gt;"Rite again."&lt;br /&gt;"Yang sebulan ini meng sms elu hampir setiap hari?"&lt;br /&gt;"Hu`uh."&lt;br /&gt;"Oh Pipi!! Selamat!"&lt;br /&gt;"Ah elu Mi, selamat untuk apa sih?"&lt;br /&gt;"Selamat untuk kalian berdua."&lt;br /&gt;"Hei hei, gue dan Yonas bukan apa-apa."&lt;br /&gt;"Hmm .. tapi akan ada apa-apa setelah kopda."&lt;br /&gt;"Yakin banget lu?"&lt;br /&gt;"Yakin!"&lt;br /&gt;"Bleh."&lt;br /&gt;"Karena, kali ini gue ngga akan tinggal diam!!"&lt;br /&gt;"Maksut lu?"&lt;br /&gt;"Well, Pipi yang manis. Masih ingat kah siapa dirimu?"&lt;br /&gt;"Gue masih waras tau!"&lt;br /&gt;"Oke, bukan hanya masih waras hehehe."&lt;br /&gt;"Ugh."&lt;br /&gt;"Elu itu, sahabat gue sejak smp."&lt;br /&gt;"Basi ah."&lt;br /&gt;"Elu itu sahabat smu gue."&lt;br /&gt;"Basi kuadrat."&lt;br /&gt;"Elu itu sahabat kuliah gue."&lt;br /&gt;"Ami!! Stop it stupid girl!"&lt;br /&gt;"Wait, gue belum selesei. Elu itu super cuek dan tomboy."&lt;br /&gt;"Stop it or .."&lt;br /&gt;"Or what? Tunggu dulu dong."&lt;br /&gt;"Awas lu."&lt;br /&gt;"Elu itu Pi, saking cuek dan tomboynya sampai ga sadar .."&lt;br /&gt;"Gue sadar Mi .. see, gue masih idup!"&lt;br /&gt;"Hihih, bukan itu maksut gue."&lt;br /&gt;"So?"&lt;br /&gt;"Elu ga sadar, bahwa dengan kecuekan dan ketomboyan tersebut, cowok-cowok menjadi takut ngedeketin. Cowok-cowok brasa ngeri dekat-dekat elu. Masih ingat kah, setahun lalu si Frangky, teman chat elu itu?"&lt;br /&gt;"Yeah, si banci."&lt;br /&gt;"Oh no, dia bukan banci Pi. Tapi dia cowok normal!"&lt;br /&gt;"Normal apa nya? Jelas-jelas dia banci! Begitu lihat gue, dia langsung ngibrit entah ke mana dan putus kontak sampai detik ini."&lt;br /&gt;"Justru itulah, dia normal. Coba bayangkan .."&lt;br /&gt;"Oke gue bayangkan .. bayangkan apa dulu?"&lt;br /&gt;"Jangan becanda! Gue serius tau! Bayangkan saja, mana ada cowok yang mau kopda sama cewek yang penampilannya ngasal banget di sebuah resto kelas atas?!!"&lt;br /&gt;"Frangky terlalu berlebihan menilai gue."&lt;br /&gt;"Engga lah Pi."&lt;br /&gt;"Hmm .. so?"&lt;br /&gt;"Frangky, anggap saja kisah lalu yang menjadi pahit karena gue ngga turun tangan. Tapi kali ini gue akan turun tangan!"&lt;br /&gt;"Maksut elu?"&lt;br /&gt;"Kita akan menampilkan sosok Pipi, yang manis, lembut, memakai gaun dan amat cantik! Bukan Pipi yang asal dengan jeans belel dan kaos oblong atau kemeja cowok! Bukan Pipi yang memakai kanvas, melainkan selop!"&lt;br /&gt;"Hah?! Gila lu Mi!"&lt;br /&gt;"Gue ngga gila. Elu yang gila kalau menolak campur tangan gue."&lt;br /&gt;"Gue ngga mau."&lt;br /&gt;"Harus mau. Kalau elu masih nganggap gue sahabat, elu harus mau."&lt;br /&gt;"Jangan bawa-bawa persahabatan dalam hal ini."&lt;br /&gt;"Harus!"&lt;br /&gt;"Mi?!"&lt;br /&gt;"Harus! No komen. By the way, kapan kalian akan ketemuan?"&lt;br /&gt;"Rabu besok. Sore, di Frusto."&lt;br /&gt;"Frusto? Tempat apa itu?"&lt;br /&gt;"Kata Yonas sih cafe anak muda gitu deh."&lt;br /&gt;"Cool .."&lt;br /&gt;"Kok?"&lt;br /&gt;"Oke Pipi sayang. Rabu, artinya dua hari lagi. Artinya, Rabu siang gue tunggu elu di kamar gue. Ngga ada komentar .."&lt;br /&gt;"Tapi Mi ... Yonas itu ... gue .."&lt;br /&gt;"Psst .. eits .. ga ada komentar .. gue budek!"&lt;br /&gt;"Mi?"&lt;br /&gt;"Gue cabut dulu, janjian sama nyokap, biasa .. ke salon langganannya."&lt;br /&gt;"Oke, ati-ati yah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu, sepotong percakapan Pipi dan Ami. Dua sahabat dekat. Persahabatan mereka terjalin sejak lama. Sejak sama-sama masih memakai seragam putih biru. Keduanya lantas sama-sama terdaftar pada smu yang sama, kelas yang sama bahkan jurusan yang sama pada kelas tiga! Lulus smu, kaki keduanya seperti terikat erat! Mereka memilih universitas yang sama, ngambil hukum dan jumlah sks pun sama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi yang cuek dan tomboy. Kontras bersahabat dengan Ami yang feminin dan jago dandan. Pipi yang selalu dijauhi cowok, kontras dengan Ami yang menjadi pujaan para cowok. Pipi yang selalu memakai jeans belel, kontras dengan Ami yang selalu memakai rok. Pipi yang berambut cepak, kontras dengan Ami yang berambut panjang berkilau. Pipi yang wajahnya sepi dari make up, kontras dengan wajah Ami yang 'tiada hari tanpa make up'. Pipi yang demen banget sama F1, kontras dengan Ami yang demen sama F4. Kali ini Ami bertekat, sahabatnya itu harus mendapatkan si Yonas. Ngga peduli si Yonas hanya teman chat Pipi sebulan belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Yonas, cowok kedua setelah Frangky, adalah cowok yang pernah begitu dekatnya dengan Pipi meskipun hanya lewat ruang chat dan sms. Ami ngga peduli. Ami ingin Yonas terkesima pada sahabatnya dan ngga tahan untuk menolak jatuh cinta. Toh mereka telah dekat lewat kata-kata. Sekarang saatnya menvisualisasikan cewek idaman bayangan Yonas ke dalam sosok Pipi. Pipi harus dirombak habis-habisan, begitu Ami bertekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi sendiri sebenarnya enggan merubah imagenya dari cewek cuek dan tomboy menjadi begitu feminin. Untuk apa? Toh suatu hari nanti Yonas akan tau bagaimana Pipi yang sebenarnya. Pipi kan ngga mungkin memakai rok setiap hari setelah mereka kopda? Bukannya Pipi ngga butuh cowok, tapi Pipi ngga mau cowok yang mencintainya karena penampilan saja, lebih dari itu, dia butuh cowok yang mau mengerti keadaannya. Dia ga bisa feminis! Meskipun, seperti apa yang dibilang Ami, mana ada sih cowok yang mau dekat-dekat cewek tomboy dan cuek seperti dirinya? Well, pasti ada, cuma mereka ngga tau dimana cowok seperti itu bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siang ini, Pipi ga bisa lepas lagi dari Ami. Pukul satu siang Pipi sudah duduk manis di kamar Ami yang bernuansa pink. Rapih, penuh bunga dan amat kental rasa wanita disitu. Beda dengan kamar Pipi yang berantakan dan penuh poster ferrari dan si Shumacher kesayangannya. Sebelumnya Ami telah memilih begitu banyak blouse dan rok yang sekiranya pantas dipadu padankan dengan warna kulit Pipi yang kecoklatan. Di ranjang besi itu, Pipi masih melihat beberapa gaun tergeletak pasrah. Melihat model gaun-gaun itu, perut Pipi seperti diputarbalikkan ngga menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke class .."&lt;br /&gt;"Huhuhu."&lt;br /&gt;"Oke, kita mulai. Elu udah sms si Yonas?"&lt;br /&gt;"Udah."&lt;br /&gt;"Apa katanya?"&lt;br /&gt;"Dia sedikit heran aja sih, ngga jemput gue di rumah, tapi disini."&lt;br /&gt;"Never mind. Leave it. Oke, sudah menetukan pilihan?"&lt;br /&gt;"What? Pilihan apa? Presiden?"&lt;br /&gt;"Begggooooo, itu ada gaun, ada blouse dan rok, ada cardigan dan tanktop. Elu mau pake yang mana?"&lt;br /&gt;"Actually, gue bingung."&lt;br /&gt;"Ga heran sih. Ya udah, gue yang pilih yah?!"&lt;br /&gt;"Jangan yang ribet!"&lt;br /&gt;"Ngga lah. Karena Yonas memilih cafe anak muda, rasanya cukup pantas kalau elu memakai rok jeans panjang ini, dipadu sama tanktop putih dan cardigan biru. Hmm tinggal rambut elu di kasih bando trus wajah elu gue sulap sedikit."&lt;br /&gt;"Mi, please .."&lt;br /&gt;"Diam! Jangan banyak komentar!!"&lt;br /&gt;"Apa itu?"&lt;br /&gt;"Alas bedak, diam napa sih? Jangan bergerak."&lt;br /&gt;"Mi, kan tadi udah bedaknya."&lt;br /&gt;"Tadi kan bedak tabur, sekarang bedak padat, biar riasan ngga lekas luntur. Hmm alisnya gue rapihkan dikit, pinsil alis itam aja, elu ga cocok yang coklat."&lt;br /&gt;"Udah?"&lt;br /&gt;"Belum! Diam!"&lt;br /&gt;"Miiiii ga usah lipstick yah?"&lt;br /&gt;"What? Ini cocok .. rada pink. Jadi kesan cewek feminin itu pasti ada biar pun rok yang elu pake itu rok jeans!"&lt;br /&gt;"Mi .. aduh, wajah gue kok berat .."&lt;br /&gt;"Belum biasa, nanti juga terbiasa."&lt;br /&gt;"Miiiiiiiiiii"&lt;br /&gt;"Apa seh!!!! Tinggal rambut dikasih bando trus elu ganti baju."&lt;br /&gt;"Miiiiii!!!"&lt;br /&gt;"Elu mau diam ga sih?"&lt;br /&gt;"Hp gue bunyi."&lt;br /&gt;"Oh! Sorry .. nih tangkep."&lt;br /&gt;"Sms dari Yonas."&lt;br /&gt;"Sip, cepet dibaca dulu! Siapa tau di berubah pikiran ngajak elu ke resto mewah romantis! Jadi elu masih punya waktu buat memilih gaun!"&lt;br /&gt;"Sepuluh menit lagi dia sampai."&lt;br /&gt;"What? Cepat cepat .. lepasin itu jeans .. ya ampun Pi .."&lt;br /&gt;"Jangan komentar, short ini harus gue pake!"&lt;br /&gt;"Oke oke .. cepet ini tanktopnya .. cardigan!! Jangan lupa parfum!! Itu, cari parfum gue yang aromanya orchid itu!!"&lt;br /&gt;"Iya iyaa .. duh .. yang rada maskulin dikit .."&lt;br /&gt;"Ga ada! Cepet! Disini ga ada koleksi axe elu!!"&lt;br /&gt;"Iya ini juga udah cepet."&lt;br /&gt;"Eitsssssss jangan lupa."&lt;br /&gt;"Lupa? Semuanya udah kan? Sesuai kehendak elu kan? Bedak udah, lipstick udah, rambut udah dibando, apa lagi?"&lt;br /&gt;"Selop! Eits, jangan selop .. hmm ini aja, sepatu tali ini saja."&lt;br /&gt;"Ami! Itu tujuh senti!"&lt;br /&gt;"Kenapa dengan tujuh senti?"&lt;br /&gt;"Ketinggian."&lt;br /&gt;"Ah elu Pi. Berada di ketinggian aja ngga takut, masa make sepatu yang hak nya tujuh senti takut? Banci ah."&lt;br /&gt;"Ya deh, terserah elu."&lt;br /&gt;"Tradaaa ... sukses!!"&lt;br /&gt;"Eh hp gue .."&lt;br /&gt;"Jangan lupa tas tangannya Pi. Inget, jalannya jangan grasa grusu kayak preman. Yang lembut, kalau perlu jalannya pelan aja .."&lt;br /&gt;"Mi .."&lt;br /&gt;"Ya yah?? Si Yonas epon?"&lt;br /&gt;"Rite."&lt;br /&gt;"Trus?"&lt;br /&gt;"Dia udah di depan rumah elu."&lt;br /&gt;"Horeee .. ayok keluar cepet!!! Inget jalannya."&lt;br /&gt;"Iya iyaa, bawel!!"&lt;br /&gt;"Demi kebaikan elu .."&lt;br /&gt;"Ati ati Pi .."&lt;br /&gt;"Iya .. duh susahnya sepatu ini!!!"&lt;br /&gt;"Pi .."&lt;br /&gt;"Yaa."&lt;br /&gt;"Pi!!"&lt;br /&gt;"Ya, entar, gue udah lihat kok orangnya di pic, emang cakep, tapi gue mesti  liat bawah terus nih, biar ngga terantuk tauk!"&lt;br /&gt;"Pi .. "&lt;br /&gt;"?????"&lt;br /&gt;"?????"&lt;br /&gt;"Hai Pi!" suara Yonas. Berat dan ramah.&lt;br /&gt;"Pipiiiiiiiiiiiii!!!! Dia naik harley!!!!!!!!!!!" Ami histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipi ngakak lebar. Ami bengong. Apa gunanya usaha dia sekian jam tadi bila si Yonas tunggangannya harley? Bukan mobil, bukan taxi, bukan pula bajaj. Ami mengigit bibir, sedikit kecewa. Pipi masih ngakak, lupa kalau gaya ngakaknya amat ngga cocok sama penampilannya. Yonas, yang ngga tau apa-apa ikutan Pipi ngakak. Yonas tertawa dengan alasannya sendiri. Ami masih diam, ngga percaya pada pandangan di depannya ini. Oh God!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rada beda dari pic nya yah Pi?" ujar Yonas tanpa turun dari harley. Pipi masih terus menghabiskan sisa tawa, perpegangan pada kusen pintu, takut jatuh.&lt;br /&gt;"Kenapa? Lebih cantik kan?" Ami seperti mendapat angin segar.&lt;br /&gt;"Oh bukan .." bantah Yonas.&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;"Pipi jadi kayak banci!!" dan tawa Pipi pun tambah meledak. Ami manyun.&lt;br /&gt;"Sorry. I didn't meant .." Wajah Yonas tampak bersalah.&lt;br /&gt;"Ga pa pa Nas." Sambar Pipi cepat.&lt;br /&gt;"Iya, ga pa paaaaaaaaa." Sambung Ami dengan tampang cemberut.&lt;br /&gt;"Maksut gue, gue ngga menyangka bakal menemui Pipi yang seperti ini." Ujar Yonas cepat. Ami bengong.&lt;br /&gt;"Mending elu turun dulu deh Nas, duduk dulu." Saran Ami. Yonas pun menurut. Pipi hati-hati melangkah menuju kursi di teras rumah Ami. Yonas duduk bersila di lantai. Gila, Yonas ternyata setali tiga uang sama Pipi, bisik hati Ami. Anaknya cuek berat dengan jeans belel, kaos oblong dan kemeja cowoknya. Lain dari itu, Yonas memang cakep. Ami duduk di samping Pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nas, semua ini hasil karya Ami loh." Seru Pipi cuek. Ami menginjak kaki sahabatnya itu.&lt;br /&gt;"Oh yah?"&lt;br /&gt;"Hu`uh, biar gue terlihat lebih feminin di hadapan temen cowok dari irc!!" sembur Pipi dengan tampang rada meringis. Kakinya sakit diinjak Ami.&lt;br /&gt;"Hahahahaha .. kenapa harus begitu?"&lt;br /&gt;"Loh! Kan emang harus begitu Nas! Biar elu ga perlu menolak untuk jatuh cinta pada Pipi! Para cowok pada umumnya .." kata-kata Ami yang spontan itu membuat Yonas bengong. Pipi memerah wajah. Duh.&lt;br /&gt;"Ngga semua cowok begitu kan? Lagian gue udah jatuh cinta kok!!" jawab Yonas jujur.&lt;br /&gt;"Iya sih .. Pipi sendiri udah bilang begitu .." Ami meragukan kepercayaan dirinya pada ucapannya sendiri. So what?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Denger yah. Sejak awal gue kenal Pipi di irc dan kita saling tukar pic, gue udah cinta mati sama dia! Penampilannya yang tomboy dan terkesan cuek di pic itu membuat gue ga mau melepaskan dia begitu saja." Yonas bicara.&lt;br /&gt;"Enak aja, emang gue hewan ternak?!" Pipi membantah.&lt;br /&gt;"Jatuh cinta yah?!" Ami semakin bengong.&lt;br /&gt;"Hihihi, kata-kata Pipi di ruang chat, cocok sama pic yang diberinya." Lanjut Yonas lagi. Pipi tersenyum dikulum. Ami serius mendengarkan.&lt;br /&gt;"Gue yakin, ini lah cewek yang gue cari selama ini. Apa adanya dalam bertutur, terbuka dan tomboy!" Ami mau pingsan rasanya. Semua argumennya mental oleh ucapan Yonas barusan.&lt;br /&gt;"Makanya, karena itu lah gue lantas memilih naik harley menjemput Pipi. Bukan mobil." Pipi kali ini tertawa semakin keras.&lt;br /&gt;"Pi, plis deh. Elu menang .. elu menanggggg." Jerit Ami sambil memukul pundak sahabatnya itu.&lt;br /&gt;"Jadi tadi, gue ketawa, rasanya lucu gitu loh ngeliat Pipi tertatih-tatih berjalan dengan sepatu ber hak tinggi. Kan katanya suka pake sepatu kanvas, suka pake celana jeans, suka kemeja cowok .. jadi gue udah yakin banget, Pipi ini pasti satu selera sama gue. Dan bagi gue, sebulan rasanya lebih dari cukup buat kopda, makanya gue tadi yakin banget milih harley. Eh ga taunya .." Yonas menatap Pipi yang masih tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah udah .. oke, kalian berdua silahkan melanjutkan kopda ini! Yang jelas, gue hanya mau denger berita baiknya saja Pi. Oke? Yang jelas gue udah berusaha." Ami menarik napas lega.&lt;br /&gt;"Iya iya, biar bagaimanapun, gue thanks berat ke elu Mi. Elu itu care banget sama gue. Elu baik banget .. meskipun usaha elu kali ini sedikit gagal, tapi gue akan tetap mengenangnya seumur hidup!" tambah Pipi.&lt;br /&gt;"Oke, itu lah Pipi yang gue kenal." Yonas menimpali.&lt;br /&gt;"Nah, gue ganti baju dulu yah." Pipi melepas sepatu milik Ami.&lt;br /&gt;"Loh? Kok ganti baju Pi? Baju yang mana?!" tanya Ami.&lt;br /&gt;"Baju yang tadi."&lt;br /&gt;"Kaos jelek dan cenala jeans itu?"&lt;br /&gt;"Rite."&lt;br /&gt;"Tapi PI .."&lt;br /&gt;"Udah .. ga pa pa. Masa sih gue naik harley pake rok? Ga lucu ah. Sekalian gue mau hilangkan make up ini, uhhh berat rasanya wajah gue.!"&lt;br /&gt;"Hmm ya udah .. sepatu elu di kolong lemari gue."&lt;br /&gt;"Oke sist!"&lt;br /&gt;"Sast sist .. gundul ah! Gue gagal!!"&lt;br /&gt;"Hihihi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Pipi dan Yonas pamit dari rumah Ami. Yonas dengan penampilannya yang cuek, cocok dengan penampilan Pipi yang ga kalah cuek. Kaos oblong, celana jeans dan sepatu kanvas! Tak lupa ransel biru navy nya melekat di pundak. Harley gede itu pun brem brem ngilang dari pandangan Ami. Ami menarik napas lega. Ah akhirnya. Ternyata Yonas telah mencintai Pipi sejak mereka tukaran pic. Ternyata ada juga cowok yang ngga menilai cewek dari penampilan. Buktinya, Yonas adalah cowok yang keluar dari persembunyiannya, yang dicari Pipi selama ini. Ami tersenyum ikut bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pi .."&lt;br /&gt;"Hmm."&lt;br /&gt;"Pi, pulang jam berapa?"&lt;br /&gt;"Sembilan."&lt;br /&gt;"Wa, ngapain aja sih?"&lt;br /&gt;"Mesra-mesraan."&lt;br /&gt;"Sirik deh gue!! Pi!! Buka mata dong! Merem mulu nih anak!"&lt;br /&gt;"Masih ngantuk!"&lt;br /&gt;"Loh, katanya pulang jam sembilan."&lt;br /&gt;"Efeknya Mi .. gue baru bisa merem jam empat subuh!"&lt;br /&gt;"Ah sebodo! Gue mau denger ceritanya!"&lt;br /&gt;"Ngantuk!!"&lt;br /&gt;"Pi!! Jam tujuh neh! Bangun bangun!!"&lt;br /&gt;"Jam tujuh elu ke kamar gue hanya buat denger cerita?"&lt;br /&gt;"Iya lah. Ini hal ajaib!"&lt;br /&gt;"Ajaib apanya?"&lt;br /&gt;"Elu dideketin dan dicintai cowok karena apa adanya elu."&lt;br /&gt;"Wajar lah .. "&lt;br /&gt;"Loh kok."&lt;br /&gt;"Elu di deketin dan dicintai cowok juga karena apa adanya elu Mi."&lt;br /&gt;"Maksutnya?"&lt;br /&gt;"Bego."&lt;br /&gt;"Biyarrrr!! Dooohhh bangun napeh?!!"&lt;br /&gt;"Bawel ah! Iya iya gue bangun!!"&lt;br /&gt;"Nah, trus?"&lt;br /&gt;"Ya itu tadi, standart cowok kan beda-beda Mi."&lt;br /&gt;"Hmmm iya sih .. "&lt;br /&gt;"Makanya ..."&lt;br /&gt;"Iya sihhhhhh makanya gue gatot!"&lt;br /&gt;"Salah sendiri."&lt;br /&gt;"Nah yahhh kalau udah gini gue disalahin."&lt;br /&gt;"Huehue, maksut gue, elu tuh ga mau denger opini gue, apa kata gue, langsung main paksa, no komen lah, demi persahabatan lah hihihi."&lt;br /&gt;"Kan semua demi elu Pi."&lt;br /&gt;"Iya, thanks banget."&lt;br /&gt;"Sama-sama lah."&lt;br /&gt;"Kalau bukan karena kejadian kemarin pun, rasanya gue dan Yonas ga bakal sehangat itu .. "&lt;br /&gt;"Ouw!!!!!"&lt;br /&gt;"Dudutz! Maksut gue, kita pasti kaku .. "&lt;br /&gt;"Hmmm??"&lt;br /&gt;"Iya kaku .. pasti canggung."&lt;br /&gt;"Betul! Dengan kejadian kemaren, timbul hal lucu dan kalian berdua malah ketawa bebas, ngetawain gue!"&lt;br /&gt;"Hihihi ..  iya, kita jadi kayak dua teman lama yang baru ketemuan!!"&lt;br /&gt;"Jadi sukses nih?"&lt;br /&gt;"Rite, very succes!"&lt;br /&gt;"Makan-makan dong kita."&lt;br /&gt;"Boleh, ke Frusto aja yuk? Suasananya asik, ada live band lagi."&lt;br /&gt;"Wah .. asik dong .. yuk yuk, mandi gih!"&lt;br /&gt;"Oke .."&lt;br /&gt;"Sip."&lt;br /&gt;"Mi .."&lt;br /&gt;"Hmm."&lt;br /&gt;"Ami!!"&lt;br /&gt;"Iya iya! Apa seh? Gue belum budeg tau! Ngomong aja!"&lt;br /&gt;"Thanks yah!"&lt;br /&gt;"Never mind. We're sister, and there's no thanks between us!"&lt;br /&gt;"Oke .."&lt;br /&gt;"Pi .."&lt;br /&gt;"Apa, gue ga jadi mandi kalau gini caranya."&lt;br /&gt;"Hehehe .. Pi .. Selamat yah. This is happy ending from your cyber world!"&lt;br /&gt;"Rite .. happy ending. Gue sendiri ga nyangka."&lt;br /&gt;"Ga nyangka apa?"&lt;br /&gt;"Ga nyangka kalau akan secepat ini cinta itu bersemi."&lt;br /&gt;"Yeaaahh kopda kopda!!!"&lt;br /&gt;"Hihihi kopda!"&lt;br /&gt;"Udeh sono mandi!!!!!!! Gue ngga tahan pengen ke Frusto!"&lt;br /&gt;"Oke, jadi gue mandi nih?"&lt;br /&gt;"Lu tu yeee!!!"&lt;br /&gt;"La la la .. kopda .. kopda .." senandung Pipi trus ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108667925352270173?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108667925352270173/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108667925352270173' title='2 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108667925352270173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108667925352270173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/06/kopda.html' title='Kopda'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108656936647264450</id><published>2004-06-07T09:45:00.000+09:00</published><updated>2004-06-07T09:49:26.473+09:00</updated><title type='text'>Taruhan</title><content type='html'>Dua minggu ini aku bersikap menjauhi Reni. Aku seperti makhluk paranoid begitu melihat sosoknya, dimanapun dan kapanpun! Oh, bukan karena Reni itu cewek super jelek yang paling dihindari cowok-cowok satu sekolah. Bukan juga karena Reni mengidap penyakit menular, catatan : yang sakit itu kan aku hehehe. Tapi karena satu hal yang membuat aku malu tanpa syarat! (ternyata, masih punya malu juga aku ini, hehehe). Aku betul-betul terpukul setelah pertemuanku dengannya dua minggu yang lalu itu. Aku sungguh menyesal, kenapa jadi ikut taruhan bersama Jodi dan Anwar? Ah aku, makhluk tolol yang tak pernah pakai otak untuk berpikir! Selalu dengkul yang aku gunakan untuk berpikir. Dan hasilnya? Aku menjadi paranoid begitu melihat sosok Reni!! By the way, memangnya dengkul bisa dipakai untuk berpikir?! Sutralah .. aku ini kok, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian sebulan yang lalu di rumah Jodi.&lt;br /&gt;"Tiga juta." Ujar Jodi.&lt;br /&gt;"Tiga juta?!" semprotku berapi-api. Tiga juta man! Aku yang kehausan duit ini pun, menjadi gelap mata!&lt;br /&gt;"Kecilll. Tabungaku masih banyak!!" balas Jodi.&lt;br /&gt;"Kamu sendiri ikutan juga Jod?" tanya Anwar.&lt;br /&gt;"Ikut dong .. kalau aku kalah, duitnya akan kuserahkan pada salah satu dari kalian yang bisa mendapatkan murid baru itu."&lt;br /&gt;"Segala cara bisa ditempuh kan?" tanyaku lugu.&lt;br /&gt;"Bisa. Asal, kalian tidak membocorkan masalah taruhan ini ke dia."&lt;br /&gt;"Ya jelas tidak mungkin lah Jod. Itu sama saja bunuh diri!"&lt;br /&gt;"Oke. Kalau begitu semuanya beres. Dalam waktu satu bulan sudah harus ada hasilnya. Siapa pun dari kita bertiga yang berhasil menjadi pacar Reni, dia lah yang berhak mendapatkan tiga juta itu."&lt;br /&gt;"Akurr." jawabku dan Anwar bebarengan.&lt;br /&gt;"Sip kalau gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reni adalah murid baru di sekolahku. Murid baru yang pindah ke sekolahku dua bulan lalu itu memang patut dapat empat jempol. Anaknya cantik, putih, berambut panjang dan senyumnya memikat. Hati setiap cowok pasti langsung rontok begitu dikasih senyum sama Reni. Bersyukurlah, Reni sekelas denganku. Duduk di bangku kedua deretan tiga dari pintu. Aku sendiri duduk di bangku paling belakang deretan terakhir dari pintu dengan teman semeja bernama Anwar. Anak Irian yang lugunya ampun-ampunan deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri lagi, aku langsung jatuh hati sama makhluk yang bernama Reni ini. Meskipun setelahnya, aku lantas diketawain habis-habisan sama Anwar. Something wrong heh? Menyukai cewek cantik itu kan wajar dan normal. Kalau aku sampai jatuh cinta sama Anwar, itu baru namanya tidak normal. Dasar Anwar, ternyata dia pun menyukai Reni. Well, kita berdua dapat saingan berat, Jodi. Jodi bukan teman sekelas kita, tapi dia teman club basket sekolah. Anaknya ganteng dan hampir membuatku jatuh cinta!! Ah aku, jadi malu bilang itu huehuehue. Oke, intinya kami bertiga adalah cowok-cowok haus cinta yang terlihat akrab namun bersaing dalam urusan mendapatkan Reni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut aku pribadi sih, Reni lebih respek ke aku. Dan Anwar pernah menyiramiku dengan kuah bakso begitu hal tersebut ku katakan padanya. Ck ck ck, dasar cowok tidak tau diri! Begitulah umpatan yang mengikuti semangkuk kuah bakso di kaos olah ragaku. Loh, kenyataannya kan begitu? Reni lebih suka pulang sekolah bersama denganku, yaitu naik angkot. Tak pernah dia mau bila diajak Anwar naik tiger 2000 milik cowok Irian itu atau Kuda milik Jodi. Reni lebih suka memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan dari pada Anwar. Jodi apalagi, Reni hampir tak pernah mau melirik cowok tajir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku merasa amat beruntung. Sebenarnya, aku bisa mendekati Reni tanpa embel-embel taruhan duit tiga juta itu. Tapi aku kan manusia, wajar dong mataku menjadi lebih hijau dari kacang hijau ketika Jodi menawarkan taruhan itu pada kami, aku dan Anwar. Apa salahnya untuk mencoba? Toh kalau Reni mau kuajak pacaran, bukan hanya cintaku yang bersambut, duit tiga juta itu pun menjadi milikku tanpa syarat! Bayangkan, hari gini aku masih bisa mendapatkan duit tiga juta tanpa harus bersusah payah membanting tulang! Catatan : aku hanya bisa banting tulang, ngga bisa banting daging, tubuhku ini, kata teman-teman, mirip papan penggilasan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, aku yang miskin ini masuk dalam lingkaran taruhan Jodi. Dalam hati, aku bertekat, duit tiga juta plus Reni harus menjadi milikku! Dan karena aku ini tipe cowok yang paling tidak bisa merayu, secara blak-blakan aku ngomong ke Reni kalau aku suka dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian dua minggu lalu di perpustakaan.&lt;br /&gt;"Ren, aku mau bicara, boleh?" tanyaku hati-hati.&lt;br /&gt;"Boleh. Ada apa?"&lt;br /&gt;"Hmm .. mengingat kebersamaan kita selama ini, maksutku, hmm, aku adalah cowok yang paling sering menemani kamu ke perpustakaan dan setiap pulang sekolah, maka wajarlah kalau aku .. "&lt;br /&gt;"Ya .. kamu kenapa Fir?"&lt;br /&gt;"Aku mencintai kamu Ren."&lt;br /&gt;"Really?!"&lt;br /&gt;"Iya, bener Ren."mMelihat binar indah matanya, semangat optimisku mencuat! Yess, Insya Allah aku bisa mendapatkannya!&lt;br /&gt;"Duit tiga juta itu dibagi dua sama aku yah?" makjang!! Tes tes .. keringat mulai membanjiri jidadku.&lt;br /&gt;"Maksutmu apa?" tampang luguku ini biasanya berhasil.&lt;br /&gt;"Aduh Firman. Gosip taruhan tiga juta untuk mendapatkan aku antara kamu, Jodi dan Anwar begitu santer!! Bila aku ke kantin, maka desas desus itu pasti terdengar." aahhhhh!!! Hati kecilku menjerit. Siapa sih yang membocorkan rahasia itu?! Aku jelas tidak, Anwar atau Jodi barangkali?!&lt;br /&gt;"Ah .. itu bohong Ren .. aku jujur cinta kamu .. tanpa duit tiga juta pun aku tetap akan bilang begini."&lt;br /&gt;"Tanpa duit tiga juta pun? Artinya benar dong ada duit tiga juta?" ampun!! Dia lebih pintar bersilat lidah dari aku. Dalam otakku, satu bundel tiga juta itu terbang bersama sayap putih dan mentertawakan aku dibawahnya.&lt;br /&gt;"Firman, aku bilang sesuatu yah .."&lt;br /&gt;"Bilang saja Ren .." sungguh, semangatku yang berapi-api tadi hilang sudah. Musnah!!&lt;br /&gt;"Sebenarnya, tanpa taruhan pun aku mau kok jadi pacar kamu. Tapi sekarang aku tidak bisa menerima cinta kamu. Aku tidak mau di cap sebagai cewek gampangan dengan nominal tiga juta. Selama ini aku sering mengajakmu ke perpustakaan, karena aku merasa begitu senangnya berduaan denganmu. Tapi sayang ... taruhan itu ... aku tidak bisa Fir .. tidak bisa." Aku lemes. Inilah balasan untuk seorang cowok mata duitan!!&lt;br /&gt;"Oke, kita lupakan taruhan itu ... maukah .."&lt;br /&gt;"Tidak Firman. Aku tak mau jadi pacar kamu."&lt;br /&gt;"Tapi Ren, tadi kamu sendiri bilang kalau kamu juga mencintai aku."&lt;br /&gt;"Bukan mencintai, baru suka. Aku memang suka dan senang bila sedang bersama kamu Fir. Aku sendiri berharap, rasa itu bisa berubah menjadi cinta."&lt;br /&gt;"Beda tipis."&lt;br /&gt;"Tipis, tapi tetap tak akan tersentuh sekarang Fir. Maaf."&lt;br /&gt;"Ren .."&lt;br /&gt;"Aku duluan yah Fir." Dan aku, cowok termalang di dunia ini hanya bisa memandang punggungnya menghilang di balik pintu perpustakaan. Oh Firman!! Nasibmu tak sesuai dengan namamu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di rumah Jodi, siang setelah kejadian di perpustakaan.&lt;br /&gt;"Nah nah .. kalian berdua .. hayo ngaku!!" semprotku kesal.&lt;br /&gt;"Ngaku??" Jodi dan Anwar menatapku keheranan.&lt;br /&gt;"Iya, ngaku!! Salah satu dari kalian pasti telah membocorkan soal taruhan itu ke teman-teman!!" teriakku histeris. Mama Jodi langsung tergopoh-gopoh berlari ke ruang tamu.&lt;br /&gt;"Ada apa?!" tanya mama si Jodi. Wajahnya kuatir sekali.&lt;br /&gt;"Ah engga tante .. ini si Firman, lagi latihan drama .." jawab Anwar.&lt;br /&gt;"Oh, tante kira epilepsinya kumat." Begitu mamanya Jodi berlalu, kedua kunyuk itu pun tertawa dengan puasnya. Dasar!!&lt;br /&gt;"Sorry Fir, mama selalu tanyain kamu, kemana si Firman Jod? Kok jarang kelihatan?! Aku iseng-iseng jawab, epilepsinya kambuh mam." Anwar tambah tergelak, kulempari dia dengan bantal kursi.&lt;br /&gt;"Oke, stop your laught Anwar!! Dengar yah, tadi siang aku hampir saja sukses mendapatkan Reni! Tapi dengan santainya Reni .. bla bla bla .." kuceritakan kejadian di perpustakaan waktu istirahat tadi siang di sekolah.&lt;br /&gt;"Huahahahaha!!" Jodi ngakak. Anwar ikutan ngakak.&lt;br /&gt;"Kalian! Jangan tertawa diatas penderitaanku!"&lt;br /&gt;"Kita jelas tidak membocorkan rahasia ini Fir .. aku tertawa karena .. karena .. huahahaha .. epilepsi!!" mata Anwar sampai berair akibat tertawa.&lt;br /&gt;"Hmm, aku tidak pernah bilang ke siapa pun soal taruhan itu .. kecuali sama Stefen, si banci fans beratku itu." Celoteh Jodi.&lt;br /&gt;"Apa? Katamu taruhan ini adalah rahasia kita. Aku menjaganya agar tidak sampai bocor!! Eh kamu malah bilang ke Stefen!!" rutukku.&lt;br /&gt;"Keceplosan Fir .. tau kan Stefen, bagaimana tingkahnya di lapangan basket. Sudah seperti istri saja! Khawatir ini .. cemasin itu .. aduh Jodii, kepalamu ngga apa apa tertimpa bola basket tadi? Aduh .. ufh .. dan aku tanpa sadar bilang ke dia, eh Stefen, ngaca yah, kamu itu cowok! Deketin cewek dong, masa aku yang diincar terus. Atau ikutan aku, Firman dan Anwar saja, taruhan tiga juta buat dapatin Reni!" cerita Jodi. Aku dan Anwar menatap Jodi dengan perasaan yang amat sangat terhina. Anak ini, belum pernah makan sepatu apa yah?!!!!!&lt;br /&gt;"Nah itu!! Itu!! Disitulah salahnya!! Mulut Stefen itu sudah seperti ember bocor yang ngga mempan di tambal! Desas desus itu!! Pasti bermula dari Stefen!! Pantas saja Reni jadi tau! Pantas saja aku ditolak mentah-mentah meskipun dia menyukaiku!" semprotku lagi. Ugh, mau rasanya kuhantam wajah ganteng Jodi hingga terbelah menjadi dua! Tidak konsekuen! Tidak dapat menjaga rahasia!!&lt;br /&gt;Jodi terdiam .. Anwar menatapku, juga dalam diam. Ah, hilang sudah segalanya. Reni dan duit itu. Ah, persetan dengan tiga juta!!!&lt;br /&gt;"Sorry Fir .. sorry banget." Ujar Jodi memecahkan kebisuan diantara kami. Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Aku malu pada Reni. Sungguh! Mukaku terasa panas setiap kali mengingat kejadian di kantin tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini, aku memilih untuk tetap tinggal di kelas. Dua minggu berlalu, tapi berita itu masih saja hangat.  Menurut Anwar, setiap kali dia ke kantin, selalu saja ada yang menyapanya begini,&lt;br /&gt;"Giliranmu War, dapatkan si Reni dan tiga juta itu!! Hahahah!!" lucu yah? Bukan hanya aku yang jadi bahan tertawaan teman-teman, Jodi dan Anwar pun bernasib serupa. Sebenarnya olok-olok itu dapat aku lewatkan tanpa perlu ditanggapi. Tapi Reni? Tidak, aku tak bisa berhadapan dengannya lagi. Aku tak lagi menemaninya ke perpustakaan. Setiap pulang sekolah pun, kubiarkan dia naik angkot duluan, setelah itu baru deh aku berani menginjakan kaki di halte. Paranoid banget begitu melihat sosok Reni di kejauhan. Firman yang malang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Jomblo karya Adhitya itu terus kubolak balik. Sudah sekian kali aku membacanya. Yeah, jomblo. Kelas sepi, aku sendiri menatap kosong pada papan tulis yang masih tertera rumus-rumus kimia. Pikiranku seruwet rumus-rumus itu, hatiku sesukar persamaan-persamaan  yang dihasilkan. Persamaan satu, persamaan dua .. ah .. Reni!! Penyesalan selalu datang terlambat yah? Deg, tau-tau muncul satu sosok di depan pintu kelas. Oh tidak, itu Reni! Wajahku langsung terasa panas. Malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reni mendekatiku dan duduk dihadapanku, membalik bangku didepanku terus menatapku tajam. Ufss, yang cowok aku atau Reni sih? Come on Firman, be a man! Memangnya aku banci?!&lt;br /&gt;"Hai Fir."&lt;br /&gt;"Hai."&lt;br /&gt;"Aku lihat, kamu mulai menjauhiku setelah kejadian itu."&lt;br /&gt;"Hmm .. tidak kok Ren. Hanya perasaan kamu saja."&lt;br /&gt;"Firman, anak kecil pun pasti tau, tak usah berkelit."&lt;br /&gt;"Oke oke .. aku memang menjauhi kamu."&lt;br /&gt;"Kenapa? Apa aturan taruhan kalian adalah, menjauhi cewek yang ditaruhkan bila gagal?!"&lt;br /&gt;"Jangan sebut-sebut taruhan itu!"&lt;br /&gt;"Oke oke .. sorry .. lalu?!"&lt;br /&gt;"Aku malu .. itu saja."&lt;br /&gt;"Malu pada siapa?"&lt;br /&gt;"Pada kamu! Pada siapa lagi?!"&lt;br /&gt;"Kenapa harus malu padaku?!"&lt;br /&gt;"Ren .. please .. aku ngga pandai merangkai kata .."&lt;br /&gt;"Hehehe, kayak lagu aja Fir."&lt;br /&gt;"Kenyataannya begitu."&lt;br /&gt;"Itu lah yang membuat aku suka padamu Fir. Kamu selalu apa adanya. Kamu bukan tipe cowok yang suka merayu .. kamu begitu menyenangkan."&lt;br /&gt;"Jangan menghiburku dengan kata-kata klise seperti itu Ren."&lt;br /&gt;"Aku serius Fir!"&lt;br /&gt;"Seserius cintaku padamu Ren?! Seperti itu?!"&lt;br /&gt;"Ngg .. "&lt;br /&gt;"Engga kan Ren?! Aku salah jalan! Aku malu! Dengar ini, persamaannya sederhana saja. Ada dua jalan di depanku. Keduanya berakhir padamu. Jalan pertama, jalan mulus seperti biasa. Jalan kedua, ada cafe ditengahnya yang menjual minuman bernama tiga juta. Dan aku sebagai manusia memilih jalan kedua, wajar kan? Aku manusia. Sayang .. jalan kedua tak semulus jalan pertama dan aku .. malu."&lt;br /&gt;"Fir .. lupakan masalah taruhan itu .. lupakan tiga juta itu. Kamu tau, Stefen dipukuli Jodi di lapangan basket!!"&lt;br /&gt;"Apa?!"&lt;br /&gt;"Hu`uh, dia kesal. Gara-gara Stefen taruhan kalian bocor kemana-mana. Bahkan kalian bertiga diolok habis-habisan sama teman-teman. Dengan atau tanpa aku bilang ke kamu soal itu, toh kalian akan tetap jadi bahan olok-olokan teman-teman." Kupandangi wajahnya. Sumpah, dia cantik banget!&lt;br /&gt;"Reni .. aku mencintaimu."&lt;br /&gt;"Aku tau."&lt;br /&gt;"Jadi, maukah kamu menerimaku dan juga mau melupakan masalah taruhan itu?!"&lt;br /&gt;"Melupakan masalah taruhan itu ... hal yang mudah. Tapi menerima cintamu? Itu sulit Firman! Bila aku menerima kamu, artinya aku .."&lt;br /&gt;"Kamu menjadi gadis dengan nominal tiga juta kan? Sesuatu yang begitu hangat dibincangkan orang akan sulit lepas dari kita .. Itu sama saja Ren, kamu tak bisa melupakan hal ini begitu saja."&lt;br /&gt;"Hmm .. Firman .. masalahnya .."&lt;br /&gt;"Sudahlah Ren .. just forget it."&lt;br /&gt;"Firman .."&lt;br /&gt;"Leave me now!!!" dia kaget. Biar saja. Aku toh sudah bosan dengan semua ini. Muak rasanya berhadapan dengan diriku sendiri. Aku keluar kelas, meninggalkan dia sendiri di kelas. Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka aku yang akan pergi. Menangis kah dia? Terserah! Aku muak!! Bila dia tak dapat menerima keadaan ini, aku pun sama. Aku lebih terpuruk dari dia! Cinta oh cinta, begitu sulit memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur soreku begitu terganggu dengan ketukan halus di pintu kamar. Heran, masih saja ada orang yang suka mengganggu kegiatan 'penggemukan' diriku ini.&lt;br /&gt;"Yaaaaaaaa aku bangun!!!" di pintu kulihat mama berdiri dengan senyum dikulum.&lt;br /&gt;"Ada apa ma?"&lt;br /&gt;"Ada cewek tiga juta di depan." Hah?! Ufss, Reni. Untuk apa dia datang ke rumahku yang super sempit ini? Untuk apa? Untuk lebih mempermalukan aku? Lihat saja, mama sampai merasa geli melihat tampangku.&lt;br /&gt;"Hai Fir."&lt;br /&gt;"Hai. Ada perlu?"&lt;br /&gt;"Iya ... "&lt;br /&gt;"Perlu apa?" tanyaku to the point.&lt;br /&gt;"Firman, boleh kita bicara?"&lt;br /&gt;"Boleh, bicara saja."&lt;br /&gt;"Maafkan aku yah .."&lt;br /&gt;"Ya ya ... it's oke, mamaku sendiri mentertawakan aku."&lt;br /&gt;"Setelah aku cerita baru mama mu mau membangunkan tidurmu."&lt;br /&gt;"Oh yah?! Hebat dong kisahku itu, masukkan saja ke guiness of book!"&lt;br /&gt;"Firman ... bisakah kamu bicara lebih pelan dengan kepala dingin?"&lt;br /&gt;"Oke .." kutarik napas panjang.&lt;br /&gt;"Karena aku mencintaimu dan kamu pun sama, aku tak mau melepaskan cinta kita begitu saja." Seperti nyanyian surgawi kata-kata yang baru kudengar ini.&lt;br /&gt;"Apa gunanya? Toh aku tak bisa memacarimu. Toh kita tak bisa memproklamirkan ke hadapan teman-teman kalau kita pacaran!"&lt;br /&gt;"Aku sudah bilang .. tidak sekarang .. tapi nanti. Kita taruhan saja yuk?! Beberapa bulan lagi kita lulus kan? Bila kamu masih mencintai aku, nyatakan lagi cintamu begitu kita kuliah! Sanggup? Lagi pula, untuk apa memproklamirkan hubungan kita di hadapan teman-teman? Itu akan lebih mempermalukan kamu dan aku!!"&lt;br /&gt;"Permainan apa lagi ini? Rumit!"&lt;br /&gt;"Ya ... itu lah. Karena aku ngga mungkin menerimamu sekarang. Keadaannya tidak memungkinkan. Please Fir, mengertilah aku!"&lt;br /&gt;"Cewek sulit dimengerti."&lt;br /&gt;"Cowok pun begitu."&lt;br /&gt;"Egois!"&lt;br /&gt;"Sama! Hentikan Fir .. take it or not?!"&lt;br /&gt;"Apanya?"&lt;br /&gt;"Duhh masih mabuk mimpi .. taruhan kita .."&lt;br /&gt;"Yeah .. boleh lah .."&lt;br /&gt;"Bagus kalau gitu. Jangan lupa, besok temani aku ke perpustakaan yah?"&lt;br /&gt;"Apa masih boleh?"&lt;br /&gt;"Masih dong .. selalu hanya kamu yang pantas temani aku ke perpustakaan Fir."&lt;br /&gt;"Tersanjung .."&lt;br /&gt;"Tersayang .."&lt;br /&gt;"Kehormatan .."&lt;br /&gt;"Si Doel .."&lt;br /&gt;"Roda-roda Cinta .."&lt;br /&gt;"Bajaj Bajuri!"&lt;br /&gt;"Oh hahah .. sudah lah .. oke Ren. Hmm sore ini keluar yuk, aku mandi dulu yah."&lt;br /&gt;"Oke .."&lt;br /&gt;"Taruhan .. hehehe .."&lt;br /&gt;"Hush, sudah sana mandi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lah. Aku, Firman yang sering di cap papan penggilasan, cowok tak tau diri dan pernah malu habis-habisan gara-gara masalah taruhan akhirnya harus menunggu. Menunggu sampai kuliah. Setelah itu, Reni akan menjadi milikku. Ribetnya cinta!! Tetap ada taruhan juga pada akhirnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108656936647264450?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108656936647264450/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108656936647264450' title='4 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108656936647264450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108656936647264450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/06/taruhan.html' title='Taruhan'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108408513590095469</id><published>2004-05-09T15:45:00.000+09:00</published><updated>2004-05-09T15:50:05.826+09:00</updated><title type='text'>TRUE COLORS</title><content type='html'>Revi berdiri mematung, bersandar pada pohon johar yang tumbuh sepanjang jalan Soekarno. Ini kota Ende tercintanya, tempat dia lahir dan dibesarkan. Tempat cewek berambut cepak itu menghabiskan masa-masa sekolah sejak sd hingga smu. Kota kecil yang merupakan salah satu kabupaten dari propinsi NTT yang terletak di pulau Flores ini memiliki banyak kenangan bersamanya. Kenangan tumbuh kembang sebagai bocah dengan segudang bahagia bersama bapak dan mama nya. Di sini pula dia mengenal Joe, cinta pertamanya. Ende adalah kota cinta baginya, dulu, sekarang dan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, saya Joe."&lt;br /&gt;"Reva."&lt;br /&gt;"Nama mu kah? Nama yang bagus."&lt;br /&gt;"Trims. Sekolah dimana Joe?"&lt;br /&gt;"STM. Murid pindahan dari Surabaya."&lt;br /&gt;"Oh I see, baru kali ini saya melihatmu."&lt;br /&gt;"Ya .. dan baru kali ini saya ikut ngebasket di lapangan ini."&lt;br /&gt;"Kecil yah?"&lt;br /&gt;"Hu`uh, tapi bagus kok. Meskipun hanya punya dua lapangan basket umum, tapi banyak peminatnya."&lt;br /&gt;"Begitulah. Lapangan ini jauh dari kesan bagus dan terurus. Lihat saja, banyak rumput dan sampah yang berserakan."&lt;br /&gt;"Tapi suasananya menyenangkan."&lt;br /&gt;"Betul, itulah mengapa saya lebih suka ngebasket disini setiap minggu pagi, dari pada ikut teman-teman ngebasket di sekolah."&lt;br /&gt;"Looking for something in here?"&lt;br /&gt;"Hmm not really. Suasananya saja kok yang beda. Bosan saja bertemu teman-teman setiap hari nya. Disini saya bertemu teman-teman dari sekolah lain yang punya minat sama."&lt;br /&gt;"Oke, sampai nanti ya Rev, saya harus pulang. Sampai ketemu minggu depan."&lt;br /&gt;"Oke, dah .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joe murid pindahan dari Surabaya. Menurut beberapa temannya yang mengenal anak-anak STM, Joe dipindahkan orangtuanya ke Ende karena dia pernah terlibat dalam kasus narkoba bersama beberapa sahabatnya di kota buaya itu. Tapi menurut pengakuan Joe pada minggu-minggu berikutnya pertemuan mereka, Joe pindah ke Ende mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai Kapolres Ende. Mana yang benar? Reva sama sekali tak ingin mencari tau meskipun sangat mudah baginya untuk mencari tau. Itu hidup Joe, tak ada alasan baginya untuk ikut campur bila ternyata Joe memang benar-benar pernah terlibat kasus narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ende kota kecil. Hampir semua masyarakatnya saling kenal dan bersaudara. Gosip-gosip miring pun mudah beredar dalam tempo menit. Seperti pertemuannya bersama Joe setiap minggu pagi di lapangan basket, yang menyebabkan munculnya gosip mereka pacaran. Reva hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Begitu mudahnya orang menyebar gosip di Ende, tanpa perlu bantuan media cetak atau elektronik! Reva tergelak begitu teman-temannya menanyakan hubungannya bersama Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pacaran sama Joe Rev?"&lt;br /&gt;"Susi, itu hanya gosip! Jangan percaya."&lt;br /&gt;"Tapi fakta-fakta .."&lt;br /&gt;"Fakta yang mana? Saya dan Joe sering terlihat ngobrol berdua di lapangan basket?"&lt;br /&gt;"Ya itu."&lt;br /&gt;"Bisa saja saya ngobrol berdua Romi, Kiko, Arman dan Verina, teman-teman dari smu yang lain di lapangan basket! Apakah saya akan digosipkan pacaran dengan salah satu dari mereka?"&lt;br /&gt;"Bukan begitu masalahnya. Kamu tau kan Joe."&lt;br /&gt;"Tau .. anak STM. Pindahan dari Surabaya."&lt;br /&gt;"Iya! Semua orang tau itu, seperti orang-orang tau kalau dia pernah .."&lt;br /&gt;"Stop it Sus. You know, semua orang pernah berbuat salah!"&lt;br /&gt;"Tapi narkoba .. kamu tau kan bagaimana kota kita tak dapat menerima orang-orang seperti itu?!"&lt;br /&gt;"Seperti apa Sus? Dia manusia seperti kita juga kan?!"&lt;br /&gt;"Reva, tunggu saja sampai orangtuamu mengetahui akan hal ini."&lt;br /&gt;"Tak ada hubungannya dengan orangtuaku dan jangan bawa-bawa mereka dalam hal yang tidak ada kebenarannya ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reva merasa heran. Kenapa orang-orang, teman-temannya, begitu bersikap ikut campur dalam hubungannya bersama Joe. Padahal dirinya dan Joe tak pacaran seperti dugaan mereka. Mengapa mereka tak mencampuri hubungan cinta teman-temannya yang lain? Well, Reva tau jawabnya. Karena Joe adalah anak seorang Kapolres di kota kecil ini! Cemburu sosial kah? Entah lah. Atau karena Joe, seperti kata mereka, penah terlibat dalam kasus narkoba di Surabaya. Tapi itu hak Joe kan? Menurut Reva, Joe baik. Paling tidak, cowok itu tak mengajaknya masuk ke dalam lumpur kesalahan apa pun. Mereka mempunyai minat yang sama pada basket dan bertemu setiap minggu pagi. Itu saja. Reva tak melihat dimana sisi kesalahan persahabatannya bersama Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggu pagi besok kamu tidak usah ke lapangan basket Reva."&lt;br /&gt;"Kenapa pak? Apa alasannya?"&lt;br /&gt;"Kamu itu kurus dan ceking! Tak usah berolah raga lagi. Tidur-tiduran di rumah itu lebih bagus dari pada ngebasket."&lt;br /&gt;"Loh, sejak smp saya sudah ngebasket di sana pak."&lt;br /&gt;"Bapak hanya tak mau kamu ke sana lagi."&lt;br /&gt;"Asalannya?"&lt;br /&gt;"Tak ada alasan. Hanya kekhawatiran orangtua terhadap anaknya."&lt;br /&gt;"Bapak mendengar gosip miring itu? Bapak terlalu percaya pada omongan orang!!"&lt;br /&gt;"Reva, setiap orangtua tak mau anaknya .. terlibat .."&lt;br /&gt;"Pa! Ini semua karena Joe?!"&lt;br /&gt;"Begitulah .. bagus kalau kamu sadar."&lt;br /&gt;"Pa .. Joe itu hanya sahabat Reva! Kita pun bertemu secara tidak sengaja karena memiliki hobby yang sama! Tak ada alasan untuk .."&lt;br /&gt;"Hentikan. Bapak tidak mau mendengar ocehan yang bukan-bukan lagi."&lt;br /&gt;"Yang bukan-bukan itu bapak .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesal, itu pasti. Bapaknya bukanlah tipe orangtua yang suka memilih-milih sahabat anaknya. Tapi seseorang, atau siapapun pasti telah memberikan informasi yang tidak benar kepada orangtua Reva. Akibatnya? Reva terpaksa mendekam di dalam rumah setiap minggu pagi! Padahal, rutinitas ngebasket setiap minggu pagi di lapangan koni yang sederhana itu telah dijalaninya sejak smp. Hanya gara-gara orang iseng dan gosip miring, semua kesenangannya itu terpaksa dihentikan. Tapi sampai kapan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, perasaan Reva semakin tak menentu. Mungkin benar bila dirinya telah jatuh cinta pada Joe. Siapa sih yang menolak untuk jatuh cinta pada cowok itu? Di luar dari gosip tentang narkoba dan keterlibatan Joe, dia adalah cowok yang cukup sempurna. Reva menyadari, hampir sebulan tak bertemu Joe, perasaannya semakin tersiksa. Dia merindui Joe amat sangat! Cinta kah ini? Reva sendiri tak ingin berangan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rev, saya perlu bicara sama kamu."&lt;br /&gt;"Hei! Dari mana kamu tau nomor telepon rumah saya?"&lt;br /&gt;"Ada deh, kamu kan cukup populer, anak-anak di lapangan basket rata-rata mengenalmu dengan baik."&lt;br /&gt;"Ah bisa saja kamu."&lt;br /&gt;"Bisakah? Bisakah kita ketemu?"&lt;br /&gt;"Hmm Bisa .. kapan?"&lt;br /&gt;"Besok siang sepulang sekolah saya jemput yah?"&lt;br /&gt;"Jangan!!! Besok siang, temui saja saya di lapangan basket, di bawah pohon ketapang bagian sudut .. oke?"&lt;br /&gt;"Oke .. saya tunggu ya besok."&lt;br /&gt;"Oke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama Reva tak mendengar suara Joe. Cukup besar pengaruh suara itu di telepon, membangkitkan perasaan yang menggebu-gebu dalam hatinya. Sebenarnya, apa sih kesalahan Joe? Memang, semua remaja baru yang datang ke Ende akan menjadi sorotan utama semua orang. Meskipun berbeda sekolah, tapi bila si remaja cukup oke dalam hal tampang dan prilaku, dia akan menjadi sorotan yang paling utama. Dia akan menjadi bahan omongan para remaja putri. Dan, pasti ada yang akan mencari-cari kesalahan atau hal-hal buruk dari yang bersangkutan. Apalagi, Joe adalah anak seorang Kapolres!! Pantas rasanya dia menjadi pusat perhatian. Kedekatan mereka pun menjadi perhatian hampir semua anak smu di Ende. Ah, itu lah hidup dan realita dari sebuah kota sekecil Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Rev, lama kamu tak kelihatan setiap minggu pagi."&lt;br /&gt;"Iya, saya dilarang bapak."&lt;br /&gt;"Gara-gara saya?"&lt;br /&gt;"Maybe .."&lt;br /&gt;"Pasti. Saya tau kok gosip miring yang beredar seputar diri saya dan gosip miring yang mengikuitnya begitu kita terlihat akrab."&lt;br /&gt;"Itulah hebatnya sebuah kota kecil! Huehuehue .."&lt;br /&gt;"Awalnya saya tidak terima. Ayah sampai marah-marah dan ingin mencari tau sumber dari semua gosip itu. Tapi saya melarang."&lt;br /&gt;"Oh yah?"&lt;br /&gt;"Hu`uh. Keluarga kami merasa heran dengan kehidupan disini. Bayangkan, saya yang tidak tau apa-apa soal narkoba diisukan pernah terlibat narkoba dan itu menjadi alasan saya pindah ke sini! Padahal saya pindah sekolah ke Ende hanya karena mengikuti ayah yang selalu berpindah tempat tugas."&lt;br /&gt;"Hmm .. maafkan lah kami, orang-orang kota kecil ini Joe."&lt;br /&gt;"Kamu tak perlu meminta maaf Rev. Kamu pun korban dari semua ini. Saya lah yang harus minta maaf. Karena saya, kamu dilarang bapakmu untuk ngebasket tiap minggu pagi disini."&lt;br /&gt;"Ya ... orang tua .. biasa lah Joe."&lt;br /&gt;"Saya paham kok Rev. Tapi .. saya .. Rev, saya .."&lt;br /&gt;"Kamu kenapa Joe?"&lt;br /&gt;"Saya cinta kamu Rev. Maaf kalau saya terlalu blak-blakan. Di saat saya ingin mengutarakannya, kamu malah dilarang bertemu saya, secara tidak langsung sih .. "&lt;br /&gt;"Kamu mencintai saya?"&lt;br /&gt;"Iya .. gosip kita pacaran mungkin lebih dulu merebak sebelum saya sempat bilang ini."&lt;br /&gt;"Gosip itu .. terlalu banyak gosip!!"&lt;br /&gt;"Ya .. so .. bagaimana Rev?"&lt;br /&gt;"Well, setelah kebersamaan kita .. mustahil rasanya kalau saya bilang tidak mencintai kamu .. Saya pun cinta kamu Joe, tapi keadaan??"&lt;br /&gt;"Keadaan kadang tak berpihak pada kita yah?"&lt;br /&gt;"Iya .. dan itu membuat segalanya menjadi sulit."&lt;br /&gt;"Saya tau."&lt;br /&gt;"Saya tak mengerti."&lt;br /&gt;"Kita jalani saja .. boleh kan?"&lt;br /&gt;"Boleh .."&lt;br /&gt;"Oke .. sudah saatnya pulang, nanti ayahmu bertambah marah .. kalau ada yang lihat bagaimana .. huehue ..."&lt;br /&gt;"Hehehe .. oke Joe, saya pulang dulu yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reva masih terus berhubungan sama Joe. Lewat sms, lewat telepon, lewat feeling. Mereka sama-sama merahasiakan hubungan cinta mereka, menolak datangnya gosip-gosip baru yang lebih pedas. Manusia, sungguh suka sekali saling mencampuri urusan manusia lainnya. Selepas smu, Joe kembali ke Surabaya, melanjutkan kuliahnya pada sebuah Institut Teknik. Sedangkan Reva melanjutkan kuliah pada salah satu universitas ternama di Surabaya juga. Mereka semakin sering bertemu, berbagi suka dan duka, membagi tawa, mentertawakan masa lalu, masa smu yang begitu tidak masuk di akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang. Bila dulu gosip narkoba yang berkaitan erat dengan Joe hanya sekedar gosip miring, kali ini Joe betul-betul terlibat di dalamnya! Dua tahun mengenal Joe lebih dari siapa pun, Reva menyadari kejanggalan yang muncul dalam diri Joe. Joe berkelit, tapi Reva terus menuntut .. Yang diinginkan gadis itu hanyalah kejujuran seorang Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur saja Joe, it's oke for me .."&lt;br /&gt;"Oke .. saya jujur, sudah empat bulan ini saya .. mengkonsumsi shabu-shabu."&lt;br /&gt;"Joe!! Shabu-shabu!!"&lt;br /&gt;"Ya .. ini kenyataan, bukan lagi sekedar gosip Rev. Pengaruh teman-teman kampus amat besar. Saya terjerumus!"&lt;br /&gt;"Kamu .. oh My God!!"&lt;br /&gt;"I'm sorry Rev .. sorry .. selama ini saya berusaha menyembunyikannya dari kamu."&lt;br /&gt;"Joe .. dengar saya baik-baik. Saya mohon kamu hentikan semua itu! Bila kamu mau hubungan kita terus berlanjut, hentikan mengkonsumsi barang haram itu! Pikir baik-baik efeknya! Ayahmu akan malu bila dirinya sendiri lah yang akan membekukmu!! Kita notabene tak mungkin bisa bersama ... saya ..."&lt;br /&gt;"Saya akan berusaha Rev, demi cinta kita. Kamu masih mencintai saya kan?"&lt;br /&gt;"Bila saya tak mencintai kamu, tak mungkin saya sekhawatir ini Joe."&lt;br /&gt;"Thanks dear .. thanks .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hanya isapan jempol belaka. Joe justru semakin terjerumus dalam kubangan lumpur hitam dunia narkoba. Berkali-kali dia bersumpah untuk menjauhi dan berhenti, berkali-kali pula sumpahnya itu terlupakan. Reva putus asa. Sudah tak dapat menemukan cara untuk menyadarkan Joe .. tak ada cara untuk menyelamatkan cinta mereka, tapi dia cinta Joe! Amat sangat. Inilah kesulitan terbesar dalam hidupnya. Lebih sulit dari saat dirinya dilarang sang bapak untuk ngebasket setiap minggu pagi agar tak perlu bertemu Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita itu diterimanya pada Minggu pagi, Minggu pagi yang bila sedang berada di Ende akan dilewatinya dengan berkumpul bersama para pecinta basket di lapangan koni. Minggu pagi yang cerah ... tapi tak secerah berita itu. Sms yang masuk di hp-nya begitu mengejutkan, langit terasa runtuh menimpa kepalanya. Reva menangis. Menangisi kebersamaannya bersama Joe. Menangisi cinta mereka yang berada di ujung tanduk .. Menangisi kepergian Joe akibat over dosis. Setelah sms itu, masih ada telepon dari ibu Joe, mereka sama-sama menangis. Untuk cinta yang berbeda namun sama besar porsinya pada sosok Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setelah bertahun-tahun kejadian itu lewat dan Reva telah bekerja pada salah satu perusahaan Multi Organisation di Surabaya, dia pulang kembali ke Ende untuk berlibur. Menyusuri jalan Soekarno dan jalan Hatta. Duduk di bawah pohon ketapang pada salah satu sudut lapangan basket. Kembali memutari lapangan bola kaki dan berdiri bersandar pada pohon Johar yang tumbuh rindang di sepanjang jalan itu. Dari tempatnya berdiri, nampak satu dua anak-anak pecinta basket mulai mendribel bola basket dan mencetak gol. Disini .. dia dilahirkan, disini dia mengenal cinta, disini dia mengenang kembali cinta itu. Satu hal yang diingatnya, Joe, tetap berusaha jujur padanya, Joe .. memberinya spirit true colors agar dapat menjadi yang lebih baik bagi dirinya sendiri. I love you Joe .. bisik batin Reva perlahan. Perlahan matahari turun di balik pulau Ende yang membiaskan warna kuning keemasan .. true colors....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh, 8 Mei 2004&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108408513590095469?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108408513590095469/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108408513590095469' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108408513590095469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108408513590095469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/05/true-colors.html' title='TRUE COLORS'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108243616274668307</id><published>2004-04-20T13:42:00.000+09:00</published><updated>2004-04-20T13:46:46.513+09:00</updated><title type='text'>I MISS U LIKE CRAZY</title><content type='html'>Kamar kost Juan di daerah Janti, Jogja.&lt;br /&gt;Di kamar kost yang tak luas itu, terdapat satu kasur, satu lemari, satu meja belajar berikut komputer dan printer, satu rak sepatu dan sandal dan satu pigura foto yang berdiri dengan manisnya disamping komputer, berjejer dengan weker imut berwarna biru. Biru, warna favorit cowok ceking itu. Juan, anak rantau dari Flores yang melanjutkan kuliah di kota Jogja, ngambil Hukum dan telah masuk semester dua. Setahun sudah dia menjadi mahasiswa UII, Universitas Islam Indonesia. Perokok berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pigura foto itu berwana biru, lebih tua sedikit dari weker imut. Disitu, tersenyum dengan manisnya seorang gadis hitam manis, berambut ikal dan berlesung pipi. Pipi gadis itu, temben nian! Yakin deh, orangnya pasti gendut. Giginya berbaris rapih dan putih, menghiasi senyumnya. Foto yang setahun ini menemani setiap waktu Juan di kamar kost. Foto yang selalu memberinya semangat belajar. Gadis di dalam foto itu adalah Jeni. Sahabat smunya. Jeni, gadis usil dan suka men-cap dirinya. Mereka berdua ibarat tom and jerry. Kalau satunya usil, satunya pasti mencak-mencak. Keduanya kalau ketemuan pasti saling nge-cap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeni sendiri ikut kursus di Jogja juga. Kurus komputer, kursus bahasa, kursus menjahit dan sebagainya. Pokoknya kursus yang nambah pengetahuan deh, emang ada kursus yang ngurangin pengetahuan? Sutralah, ga tau ini kok. Nah, Juan dan Jeni ini sering ketemuan, sekali seminggu, setiap malam minggu. Padahal mereka ga pacaran, hanya terikat sebagai sahabat dekat. Sama-sama berasal dari Flores, eks dari smu yang sama dan menimba ilmu di kota yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar kost Jeni, di daerah Condong Catur, Jogja.&lt;br /&gt;Di kamar kost yang lumayan gede itu, ada satu lemari baju, satu filecabinet yang isinya underwear dan asesoris, satu rak sepatu, satu keranjang baju buat laundry, satu meja belajar berikut komputer, Satu jam dinding tweety, satu rak tivi lengkap sama vcd playernya, satu kasur dan satu kamar mandi. Rata-rata, nuansanya kuning menyilaukan. Jeni sama kayak Juan, perokok berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeni, cewek gendut yang suka banget sama warna kuning, bikin seger mata katanya. Apa ga salah tuh? Sutralah, favorit orang ini kok. Kamar Jeni lebih mewah dari Juan, juga beda harga. Disamping komputernya, ada pigura foto berwarna kuning dengan ornamen tulip yang isinya adalah foto Juan. Sahabat setianya sejak smu. Sahabat yang selalu dijadikannya tempat menumpahkan kata-kata kasar dan umpatan dengan balasan yang lumayan pedas juga. Juan yang kerempeng dengan tampang 'kasihanilah saya tuan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ju, foto saya masih di samping kompi?" tanya Jeni suatu sore, Sabtu sore, saat mereka menghabiskan waktu berdua menyusuri Malioboro.&lt;br /&gt;"Masih, padahal, lebih bagus foto Doraemon loh Jen." jawab Juan. Jeni terkekeh.&lt;br /&gt;"Huhuhu. Tau gitu mending itu foto saya kirim ke tom cruise, dia kan pernah rengek2 minta foto saya."&lt;br /&gt;"Tom cruise aja bangga, saya dong dibanggakan!" seru Juan.&lt;br /&gt;"Kamu? Bentar bentar, 'lalu ngakak dengan dahsyatnya' ngapain banggain papan penggilasan kayak kamu Ju? Malu-maluin deh." Jeni masih ngakak. Juan tersenyum simpul. Jeni menyulut sebatang rokok, demikian pula Juan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mending papan penggilasan, daripada Fuso kayak kamu? Uhikzz menuh-menuhin tempat." balas Juan.&lt;br /&gt;"Fuso yang bikin kamu bermimpi setiap malam kan?" tanya Jeni lugu.&lt;br /&gt;"Iya, mimpi buruk!! Nightmare deh pokoknya kalau abis liat foto kamu Jen." mereka ngakak lagi.&lt;br /&gt;"Ju, ga terasa yah, udah setahun kita disini." ujar Jeni.&lt;br /&gt;"Iya, ga terasa udah setahun, saya jadi neg tiap malam minggu keluar sama kamu Jen hihihi."&lt;br /&gt;"Wahaha, kok sama Ju?! Habis jalan sama kamu, saya muntah-muntah loh." cerita Jeni.&lt;br /&gt;"Oh yah? Padahal saya ga ngapa-ngapain ... berabe neh, emak bapak kamu di Flores bisa nuntut saya tanggung jawab dong."&lt;br /&gt;"Oh my G, jangan!! Jangan sampai kamu deh yang tanggung jawab. Biarkan tom cruise yang bertanggung jawab." Juan terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagian kasihan anaknya, bakal terlahir dengan wajah memalukan di dunia, persis kamu!" ledek Jeni.&lt;br /&gt;"Loh, itu kan dominan dari 'ibu'nya." balas Juan.&lt;br /&gt;"Ibunya cakep gini kok!" sambar Jeni.&lt;br /&gt;"Cakep? Huahahahaha, cakep dari hongkong! Fuso .. fuso .." Juan sok geleng-geleng kepala, prihatin.&lt;br /&gt;"Penggilasan ga tau diri, kerempeng, jelek!!" umpat Jeni. Juan terkekeh.&lt;br /&gt;"Jelek tapi kalau ditaksir Dian Sastro kan lumayan Jen." Juan siul-siul.&lt;br /&gt;"Dian Sastro kalau lagi buta hihihi." ledek-ledekan gitu terus terjadi sampai mereka capek trus istirahat minum di warung pinggir jalan, menikmati es degan yang segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin emak telpon ke kost." Jeni kembali berbicara.&lt;br /&gt;"Ngapain telpon? Kamu itu pantasnya ditempeleng, bukan di telpon wahaha." ledek Juan. Tapi kali ini Jeni tidak membalas, wajahnya sedikit suram.&lt;br /&gt;"Ju .. saya disuruh pulang ke Flores kalau kursus terakhir, bahasa Jerman saya kelar." ujar Jeni. Juan tersedak es degan yang diseruputnya.&lt;br /&gt;"Apa? Pulang? Oh No! Ga boleh pulang!" seru Juan kaget.&lt;br /&gt;"Emang kamu menteri? Bikin Undang-Undang, dilarang pulang kampung bagi manusia yang lagi nimba ilmu di Jogja." Juan tertawa.&lt;br /&gt;"Kalau jadi menteri, kamu malah saya bikinkan UU, harus tidur bareng di kost saya." Jeni terkikik.&lt;br /&gt;"Amit-amit, jangan sampai deh." sambar Jeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jen, please ngasih alasan dong ke emak dan bapak kamu, bilang kamu harus ikut ujian ulang kek, apa kek, yang penting jangan pulang ke Flores dulu." pinta Juan dengan wajah tanpa dosa, tanpa beban.&lt;br /&gt;"Oh yeahhhh, kamu pikir segampang itu? Duit mereka sudah banyak habis cuman buat saya. Kamu mau biayain saya disini?!" semprot Jeni.&lt;br /&gt;"Lha, kan anak bungsu, biar saja duit mereka habis buat kamu Jen. Kalau perlu, bagi dua sama saya." balas Juan.&lt;br /&gt;"Pala kamu peyang!" Juan tertawa senang.&lt;br /&gt;"Saya terus terang, ga sanggup biayain kamu Jen. Bagi Fuso, biayanya tinggi." ledek Juan.&lt;br /&gt;"Jelas ga sanggup. Biayain diri sendiri aja ga sanggup, apalagi saya? Ngaca tuh, kerempeng kayak tripleks gitu kok." balas Jeni.&lt;br /&gt;"Kerempeng tapi seksi huaahahaha." mereka tertawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, intinya, saya tetap harus pulang ke Flores begitu kursus Jerman saya selesai. No comment!"&lt;br /&gt;"Siapa juga yang mau ngasih koment. Trimakasih deh." Juan tersenyum.&lt;br /&gt;"Padahal, sebenernya saya ga rela ninggalin Jogja Ju, ga rela ninggalin kamu sendirian di sini, bisa-bisa kamu pulang ke Flores tinggal kentut sama tulang aja." ujar Jeni kalem.&lt;br /&gt;"Weee pulang gih sono!!!!!" Jeni terkekeh. Mereka lanjut jalan lagi, menyusuri Malioboro yang selalu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kursus Jerman kamu kapan selesainya?" tanya Juan. Jeni menarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;"Minggu depan ujian, nunggu hasilnya seminggu lagi. Kalau lulus, bulan depan saya sudah harus pulang." ada nada kecewa dalam nada suara Jeni.&lt;br /&gt;"Ikut kursus lagi dong Jen. Kursus menguruskan badan gitu, biar ga kayak fuso." usul Juan. Jeni melotot.&lt;br /&gt;"Enak aja kursus diet, gendut is seksi tauk!"&lt;br /&gt;"Huahahaha, hanya orang-orang bego dan buta yang bilang gendut itu seksi, please Jen, dunia belum buta!" Jeni melepaskan sebelah sepatunya.&lt;br /&gt;"Upz, salah ngomong... la la la .." Juan siul-siul. Jeni tersenyum penuh arti dan memakai sepatunya kembali. Dan kepala Juan tak jadi benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulang yuk Jen, dah malam." ajak Juan.&lt;br /&gt;"Oke. Saya juga masih harus belajar, minggu depan ujian." sahut Jeni. Keduanya lantas pulang ke kost masing-masing. Jeni naik taxi ke Condong Catur dan Juan naik kendaraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu berlalu. Minggu ini Jeni mengikuti ujian terakhirnya dari rangkaian kursus bahasa Jerman yang diikutinya. Hasil belajarnya mati-matian membawa berkah. Dia sanggup mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah. Ada satu atau dua nomor yang agak susah, tapi rasanya itu bukan masalah. Tiga hari ujian akhirnya selesai. Siang ini, usai ujian terakhir Jeni tak langsung pulang, melainkan mampir dulu di kost Juan. Juan yang lagi asyik membaca buku KUHP yang tebalnya makjang itu kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tumben Jen, kangen yah?" Jeni melepaskan ranselnya di lantai dan tiduran di kasur Juan.&lt;br /&gt;"Kangen sama kamu? Rugi dong .." jawab Jeni.&lt;br /&gt;"Widih siapa bilang rugi? Selalu menguntungkan bila berhubungan sama Juan!" Jeni tertawa sambil menatap plafon kamar Juan. Pintu dibiarkan terbuka, mencegah terjadinya gosip miring, meskipun di kost Juan, bukan hal tabu lagi bila pacar-pacar temannya menginap disitu. Kost cowok yang 'agak' bebas.&lt;br /&gt;"Tadi ujian terakhir. Tinggal nunggu hasilnya minggu depan, sekaligus kalau lulus, ngurus sertifikatnya." terang Jeni. Juan melepaskan buku tebal itu di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu betulan nih pulangnya? Minta waktu lagi dong ke emak dan bapak." Juan duduk di dekat Jeni, menyalakan sebatang rokok. Jeni bangkit duduk bersila, mengambil rokok Juan dan menyulutnya satu. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam dan menghembuskan asapnya sekuatnya.&lt;br /&gt;"Saya kesal Ju. Saya masih ingin disini." Juan manggut-manggut.&lt;br /&gt;"Jangan kayak ayam jago aja kamu, manggut-manggut ga karuan!" cerocos Jeni. Juan, lagi-lagi hanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahahaha. Biar ayam, tapi jago kan?"&lt;br /&gt;"Najis deh." rutuk Jeni.&lt;br /&gt;"Kalau pulang nanti naik apa Jen?" tanya Juan.&lt;br /&gt;"Kapal laut, ke Surabaya dulu kayaknya." jawab Jeni.&lt;br /&gt;"Mending renang aja Jen hihihi, biar kurus gitu."&lt;br /&gt;"Musang! Keburu diterkam hiu saya." mereka tertawa lagi. Suasana ramah dan menyenangkan bila kedua sahabat ini bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau pulang, saya harus jadi anak baik dong Ju. Ga bisa ngerokok lagi. Padahal, hidup tanpa rokok itu sama juga dengan mati."&lt;br /&gt;"Ya mati aja deh, ga ada yang bakal tangisi kok Jen, suer!"&lt;br /&gt;"Iya, abis mati, saya jadi hantu trus cekek kamu biar ikut mati juga hehehe."&lt;br /&gt;"Trus jadi deh berita santer, sepasang hantu jahil hiihihi."&lt;br /&gt;"Iya, hantu yang satunya gendut imut, satunya lagi kerempeng mengerikan." &lt;br /&gt;"Walah, imut??? Item mutlak?? Hihihi."&lt;br /&gt;"Weeee .. eh kalau saya beberes, bantuin yah Ju."&lt;br /&gt;"Asssiiikk ketemu temen-temen kost kamu yang cakep-cakep itu? Asikk deh. Biar mata rada fresh dikit, muak lihat tampang kamu melulu Jen." dan bantal Juan mendarat manis di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ju, kalau saya pulang nanti, kamu akan tetep inget saya kan?" tanya Jeni.&lt;br /&gt;"Ya tetep lah Jen, kita kan sahabat sejati. Keburukan kamu itu yang jelas paling utama saya ingat. Utang-utang dilunasi yah Jen, biar ga ada yang nagih ke saya." jawab Juan.&lt;br /&gt;"Huhuhuhu. Ngaca nih ceritanya? Utang kamu kan lebih banyak Ju, utang di warung terutama. Heran deh, banyak makan kok tapi ga pernah gemuk. Orang kok isinya tulang melulu." sambar Jeni cepat.&lt;br /&gt;"Daripada kamu? Orang kok isinya perut semua muanya! Hihihihi." Juan terkekeh. Mereka masih ngobrol ngalor ngidul lagi hingga sore. Selepas sholat Ashar Jeni pun pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah hari itu, Juan dan Jeni nampak asik di kost Jeni. Ada beberapa teman kost Jeni yang menemani mereka dan itu membuat semangat Juan meledak-ledak. Dia jadi bertenaga mengepak barang-barang Jeni. Melihat itu, Jeni tergelak. Dasar Juan, mata keranjang. Ga tau apa tampang ga sesuai sama hasrat. Blas Jeni ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jadi juga Jeni pulang ke Flores. Juan mengantarnya. Barang-barang Jeni dipak di dos-dos trus dikirim lewat titipan kilat. Jeni sendiri hanya bermodal ransel dan satu tas pakaian ganti buat di kapal. Naik bis malam, tiba di Surabaya subuh. Keduanya lantas ke kost salah seorang teman yang sebelumnya telah dihubungi Jeni. Yang mana teman mereka itu dimintai tolong buat beli tiket kapal. Semalam di Surabaya, esoknya Jeni pun diantar ke pelabuhan Perak Surabaya.&lt;br /&gt;"Jen, jangan nangis yah." pinta Juan pede.&lt;br /&gt;"Saya ga nangis, cuman nyesel aja, kenapa dulu kita bersahabat, berat juga ternyata menyadari kita bakal pisah gini." ujar Jeni tulus.&lt;br /&gt;"Yeah, si kerempeng yang selalu membuat kamu kangen .. hihihi." Jeni meninju lengan Juan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KM Titian Nusantara membawa Jeni kembali ke Flores. Juan masih terus berdiri di dermaga, menatap Kapal tersebut terus menjauh, berbaur dengan kapal-kapal lainnya. Jeni, selamat kembali ke kampung halaman! Jeni pun demikian, terus memandangi tubuh Juan yang semakin kecil dan berubah menjadi titik kecil di kejauhan. Flores, I'm coming home!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tahun ke empat perpisahan mereka. Setelah kepergian Jeni, tahun pertama mereka masih saling kirim kabar. Namun, 3 tahun berikutnya mereka sama sekali hilang kontak. Setiap kali dihubungi di rumahnya, Jeni pasti tak ada. Kata orangtuanya sih, Jeni ke kampung, kampung yang mana? Kadang mereka bilang, Jeni sibuk. Sibuk apa sih Jeni sampai melupakannya begitu saja?! Oh no, ada apa gerangan? Juan ingin sekali bertanya soal Jeni ke orang tuanya, paling tidak mereka tau keadaan Jeni. Tapi niat itu selalu diurungkannya, Juan yakin dalam hati, Jeni masih tetap seperti Jeni yang dulu. Meskipun mereka menjadi aneh seperti ini, kehilangan kontak! Dia amat menyayangi Jeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, nama Jeni telah terpatri kuat di dalam hati Juan. Oh tidak, dia mencintai gadis ndut yang sering dipanggilnya Fuso itu! Adakah rindu di hati Jeni seperti rindu yang dia rasakan? Sanggupkah Juan terus terlena tanpa Jeni disisinya? Oh, seperti lirik lagu saja. Juan terkekeh. Bila Jeni tau ini, dia pasti bakal di ledek habis-habisan. Dia ternyata memang kangen pada Jeni! Pada canda tawa yang selalu memeriahkan kebersamaan mereka selama itu. Dia ternyata mencintai Jeni. Kesadaran yang timbul setelah Jeni pergi. Kesadaran yang timbul akibat rasa rindunya yang menggunung. Miss you like crazy Jen. Sungguh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan, diwisuda dengan gelar Sarjana Hukum. Nilai-nilainya memuaskan. Bahkan salah satu dosennya menawarkannya kerja sebagai pengacara di sebuah firm yang baru dibuka. Juan menolak, dia ingin pulang kampung dulu. Dia ingin memamerkan ke-sarjanaannya pada Jeni, membuktikan kalau dirinya akhirnya bisa meraih gelar tersebut. Juan masih ingin kembali ke Jogja, ingin kerja di Jogja, makanya kost-nya telah dibayar lunas untuk tiga bulan ke muka. Jadi kamarnya ga disewakan. Sebagian besar barang-barangnya pun masih di situ. Juan pulang ke Flores. I miss you Jeni, so much. Batin Juan berkali-kali. I want to meet you. Miss you .. Masihkan kamu sama seperti yang dulu? Seperti yang tertulis dalam surat-surat yang telah lama terhenti? Suaramu masih sama seperti yang saya dengar di telepon saat dulu awal perpisahan kita? Juan terus membatin. Oh, yang diinginkan olehnya sekarang adalah bertemu Jeni, sahabat setianya, yang dicintainya, justru bukan orangtua dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KM Titian berlabuh di pelabuhan Ippi, Ende, Flores. Juan turun dari kapal, menapakkan kakinya di tanah Flores yang 5 tahun telah ditinggalkannya. Dengan senyum ramah Juan menyapa satu dua orang yang 'mungkin' dikenal dan mengenalnya. Dia pun naik ojek, pulang ke rumah. Setelah melepas rindu dengan keluarganya, Juan langsung menelepon rumah Jeni. Sedang apa kah si tukang cap yang satu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haloooo..." suara anak kecil disana. Oh, barangkali salah satu keponakan Jeni.&lt;br /&gt;"Halo adek, tante Jeni ada?" tanya Juan pasti. Si kecil terdiam.&lt;br /&gt;"Tante Jeni tidak ada om, Jeni itu mama .. nama mama Jeni .." tess!! Seperti dipanah ribuan anak panah, Juan tak mampu berkata-kata lagi. Telepon kembali diletakkannya tanpa menjawab atau berkomentar. Jadi, setelah setahun mereka surat-suratan dan telpon-telponan tehenti, Jeni menikah? Jeni menikah dan tak mau lagi berhubungan dengannya? Suck Juan!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan sontak marah. Marah pada apa dan siapa saja. Dia rindu setengah mati pada Jeni, ga bisa melepaskan pesona Jeni yang ndut itu dari pikirannya. Ga bisa melupakan semua kebersamaan mereka. Sial, dia merindukan Jeni, melebihi musafir merindukan setetes air. Juan kesal. Hari itu dia tak jadi membongkar pakaiannya yang masih di dalam tas. Juan mandi trus makan. Orangtuanya sedikit heran melihat perubahan Juan yang drastis. Baru tiba dengan segudang tawa, cerita dan foto-foto yang menyenangkan, eh, sekarang dia malah terlihat bete abis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan memutuskan untuk pulang besok malam, dengan KM Titian Nusantara yang kembali dari Kupang dan menuju Perak. Orangtuanya jelas kaget. Mereka masih rindu pada Juan yang telah meninggalkan mereka 5 tahun lebih lamanya. Lalu sekarang dia ingin kembali ke Jogja? Juan mengemukakan alasan yang tepat. Dia dipanggil kerja, peluang ini ga mungkin disia-siakan olehnya begitu saja. Maka, dengan berat hati, orangtuanya pun menyetujui niat Juan untuk kembali besok malam dengan KM Titian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan pun meninggalkan tanah Sanua, hanya dalam satu hari! Dia tak ingin berlama-lama disitu, untuk apa? Jeni telah menjadi milik orang lain. Nama mama Jeni .. polos anak kecil itu bicara. Jeni, taukah kamu kalau saya merindukan kamu lebih dari segalanya? Lebih dari perempuan yang telah melahirkan saya? Juan mau nangis rasanya. Jangan Juan, kamu cowok, ga boleh nangis, begitu batinnya terus memberi semangat. Dalam perjalanan kembali ke Jogja, pikiran Juan tak bisa lepas lagi dari Jeni. Telah menikah, punya anak, ngurus keluarga. Pantas saja sibuk. Sampai-sampai bercerita padanya saja Jeni ga mau. Huaaaaahhh, di dek paling atas, Juan berteriak sekuatnya. Melepaskan kesal dan rindunya pada Jeni. Malam telah lama jatuh, bintang-bintang bersinar di atas langit, di kejauhan nampak titik-titik lampu perahu nelayan. Bila mereka melewati pulau, maka nampak titik-titk kecil lampu-lampu di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jogja, kembali pada kenangannya bersama Jeni. Meskipun berat, Juan berusaha melupakan Jeni. Dia menghubungi dosennya yang pernah menawarkannya kerja. Dan dia diterima kerja tanpa harus melewati banyak birokrasi yang mbulet. Pengacara muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juan bekerja dengan tekun. Tiga bulan gaji pertamanya dikirim penuh ke Flores. Bulan-bulan berikutnya, orangtuanya meminta dia untuk berbagi saja, jangan semuanya dikirim ke Flores. Nanti bagaimana dia menyokong hidupnya sendiri? Kebutuhan pokok Juan ditanggung perusahaan. Berapa sih besarnya pengeluaran seorang bujangan? Tapi toh orangtuanya ngotot, Juan harus menabung. So, satu tahun berlalu dengan kerja dan kerja. Juan melakukan itu agar pikirannya bisa sedikit melupakan Jeni. Sering dia dikenalkan oleh teman-teman kantornya dengan cewek-cewek cantik yang seksi. Cocok untuk seorang pengacara muda. Namun Juan menolaknya mentah-mentah. Pikirannya, terutama hatinya masih belum bisa berpaling dari Jeni. Jeni yang telah menjadi milik orang lain. Pigura foto biru itu pun masih setia berdiri dengan manisnya disamping komputer di kamarnya. Jeni, bayangmu saja masih betah tinggal terus di dalam lamunan saya, bagaimana saya bisa melupakan kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat-lambat lagu dari Marcell terdengar dari radio miliknya,&lt;br /&gt;Semuanya tlah terjadi, cintaku telah pergi&lt;br /&gt;Tak ingin kusendiri, tanpa dirimu lagi&lt;br /&gt;Tak mudah, menepis cerita indah&lt;br /&gt;Semusim, tlah kulalui &lt;br /&gt;Tlah kulewati, tanpa dirimu&lt;br /&gt;Tetapi bayang wajahmu, masih tersimpan dihati ...&lt;br /&gt;Tak pernah kubayangkan, kau putuskan cintaku&lt;br /&gt;Kucoba tuk lupakan, semua tentang dirimu&lt;br /&gt;Tak mudah, bagiku, melupakanmu&lt;br /&gt;Semusim, tlah kulalui &lt;br /&gt;Tlah kulewati, tanpa dirimu&lt;br /&gt;Tetapi bayang wajahmu, masih tersimpan dihati ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, lebih dari semusim! Lebih dari semusim Marcell! Bukan semusim saya melewati hari-hari tanpa Jeni dan keceriaannya. Meskipun masa-masa itu belum cinta yang tersadari, sebatas persahabatan. Kini, cinta itu muncul setelah rasa rindu yang meluap-luap. Tapi apa daya, Jeni telah benar-benar pergi dari hidupnya bersama keceriaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Juan disibukkan dengan urusan perceraian klien-nya. Klien wanita yang cerewetnya bukan main. Mumet rasanya Juan mendengar gerutuan kliennya itu yang suaranya cempreng dan bicara dalam irama yang sangat cepat. Menjelang sore Juan pulang ke kost, siap-siap persidangan pertama besok pagi jam sepuluh. Juan mandi dan bersantai sejenak di depan komputernya. Foto Jeni dengan pipinya yang tembem menatapnya, tersenyum manis. Duh Jeni ... dosa saya, masih terus memajang foto kamu yang telah bersuami, bisik hati Juan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan dikamarnya mengagetkan konsentrasinya nge-game minesweeper. Boom!! Huh, meledak deh.&lt;br /&gt;"Iya sebentar, siapa!!" Juan menyeret kakinya membuka pintu kamar." deg, hati Juan meledak. Seperti menginjak bom. &lt;br /&gt;"Jeni!!!!?????" disitu, di pintu kamar, berdiri dengan anggunnya Jeni. Sosoknya sedikit kurus, lebih manis. Juan terpana. Inikah Jeni?&lt;br /&gt;"Iya saya!! Kenapa? Kaget? Kayak liat artis aja." ujar Jeni, masih dengan cueknya, nyelonong masuk kamar Juan, rebahan di kasurnya. Juan masih berdiri mematung di pintu.&lt;br /&gt;"Kerreeemmppeengg!!! Sini dong!! Masa berdiri terus disitu? Mau gantiin tugu Jogja kamu?! Kangen neh!!" teriak Jeni dari dalam kamar. Kangen? Juan dengan hati-hati duduk disamping Jeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerempeng .. maaf ya, selama ini saya ngilang hehehehe." wow, mudah sekali bilang maaf. Juan terdiam. Wajahnya masam.&lt;br /&gt;"Ju .. oi!! Ketemu saya malah ngelamun. Ga kangen saya?" tanya Jeni.&lt;br /&gt;"Amat sangat Jen .. amat sangat." jawab Juan serius. Mau rasanya dipeluknya Jeni.&lt;br /&gt;"So what?? Eh, kluar yuk, jalan-jalan ke Malioboro. Seperti dulu. Masih belum ada yang menggantikan posisi saya kan?" usul Jeni. Menggantikan? Tidak ada dan saya tidak mau, batin Juan.&lt;br /&gt;"Nanti dulu .. kamu sama siapa ke sini Jen?" tanya Juan ingin tau. Sama suaminya kah?&lt;br /&gt;"Saya kesini sendiri dong Ju! Sama siapa lagi?!" jawab Jeni sengit.&lt;br /&gt;"Ga sama suami dan anak?" Juan langsung pada pokok hal yang ingin diketahuinya langsung dari Jeni. Sekian lama memendam rasa, untuk apa bertele-tele? Jeni melotot, dahinya berkerut. Kembali bantal mengenai kepala Juan, dug!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What?! Suami?! Ngaco kamu Ju!! Ga tau apa kalau saya itu hanya bisa memikirkan kamu?!" well, Juan mau pingsan rasanya mendengar itu. Wajah Jeni memerah seketika. Jeni lalu terkekeh.&lt;br /&gt;"Kenapa ketawa? Apa kamu ga tau kalau saya juga selalu memikirkan kamu selama hampir enam tahun kamu menghilang seperti ditelan bumi?! Kamu tau, saya pulang ke Flores usai di wisuda. Tujuan saya yang utama adalah bertemu denganmu. Setelah semua surat dan telepon saya tak terbalaskan selama tiga tahun!? Kamu tau, saat menelepon ke rumahmu dan yang menerima adalah seorang anak kecil yang mengaku Jeni adalah nama mamanya?! Kamu tau perasaan saya saat itu Jen? Hancur!! Saya langsung kembali ke Surabaya dengan kapal yang sama dalam waktu sehari di Ende. Saya ga bisa melupakan kamu Jen, saya cinta kamu!!!! Ngerti kamu?!" cerocos Juan tanpa jeda, tanpa mau memberikan kesempatan pada Jeni untuk menyela sebelum semua rasa dihatinya tertumpahkan. Jeni terperangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu-tunggu .. suami? Siapa yang menikah Ju? Saya? Mana mungkin saya menikah dengan pria lain kalau yang ada di hati saya hanya kamu? Meskipun, menurut saya kamu mana mau memiliki rasa yang sama dengan saya?!" balas Jeni tak mau kalah.&lt;br /&gt;"Lalu?!" todong Juan penasaran.&lt;br /&gt;"Hmm .. saya menghilang yah? Hehhehe. Setahun setelah pulang ke Flores, saya diterima kerja pada sebuah LSM yang mengurusi program pendidikan anak-anak putus sekolah. Lokasinya di Moni. Jauh dari Ende dan ga punya fasilitas telepon sama sekali. Terus terang, saya amat sibuk Ju, apalagi begitu mereka tau saya menguasai banyak bahasa. Trus, LSM itu memberikan pendidikan pada anak-anak putus sekolah yang berada di desa-desa sekitar kampung Moni. Well, amat sangat sibuk. Saya bahkan ga diijinkan pulang ke Ende bila keadaan tidak mendesak. Saya tenaga andalan mereka selain Lisa, gadis asal Philipina." cerita Jeni.&lt;br /&gt;"Lalu? Anak kecil yang menerima telepon itu?!" tanya Juan, ingin tau sekali.&lt;br /&gt;"Dia anak angkat saya Ju. Dia terlahir dari orangtua yang tidak siap menerimanya. Tinggal bersama kakek neneknya dan tak terurus. Saya bawa dia pulang ke Ende, tinggal bersama emak dan bapak." jawaban Jeni kemudian seperti air es yang mengalir ke hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, selama ini saya salah persepsi? Saya .. saya .. kacau!!" ujar Juan.&lt;br /&gt;"Yup!! Amat sangat kacau!! Hahahaha. Dasar kerempeng! Papan penggilasan!!" ledek Jeni.&lt;br /&gt;"Fuso!! Fuso .. Fuso, saya sadar, setelah kepergian kamu, setelah hilang kontak dari kamu, saya ternyata mencintai kamu amat sangat .. maafkan untuk rasa yang tumbuh dalam persahabatan kita." ujar Juan jujur. Jeni tersenyum.&lt;br /&gt;"Sama Ju. Tapi untuk apa minta maaf? Toh ternyata saya juga menyadari, saya mencintai kamu. Saya kangen pada hari-hari kita. Makanya saya minta cuti. Malah LSM tempat saya bekerja mau memberi saya beasiswa untuk mempelajari bahasa Prancis! Jadi saya bisa enam bulan disini." Juan balas tersenyum. Diraihnya Jeni kedalam pelukannya. Pelukan pertama sebagai seorang kekasih, bukan sahabat.&lt;br /&gt;"I miss you like crazy, Fuso .." ujar Juan pelan di telinga Jeni.&lt;br /&gt;"Miss you too krempeng, more than crazy." jawab Jeni pelan. Malam itu, keduanya jalan-jalan kembali di Malioboro, menyusuri jalan kenangan mereka, penuh canda, penuh ledekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setahun lebih saya hidup dengan pikiran yang salah. Saya bahkan meninggalkan Flores begitu cepat karena perasaan saya hancur .. hancur yang sebetulnya tidak ada." Jeni terkekeh.&lt;br /&gt;"Sok ahhhhhhhhhhhhh kerempeng sekarang hebat dah kalau ngomong. Mentang-mentang dah jadi pengacara mudah hihihi." Juan tersipu. Ah, paling tidak kini dia telah kembali bersama Jeni, kembali menjalin sesuatu yang indah bersama gadis yang sudah tidak terlalu ndut itu. Dalam suasana yang lain, bukan hanya persahabatan, tapi juga cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kuulangi lagi, &lt;br /&gt;Kata cintaku padamu,&lt;br /&gt;Yakinkan dirimu,&lt;br /&gt;Masih kah terlintas di dada,&lt;br /&gt;Keraguanmu itu,&lt;br /&gt;Susahkan hatimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takkan ada cinta yang lain,&lt;br /&gt;Pastikan cintaku hanya untukmu,&lt;br /&gt;Pernahkah terbesit olehmu,&lt;br /&gt;Aku takut kehilangan dirimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah satu bait kenangan,&lt;br /&gt;Cerita cinta kita, tak mungkin terlupa,&lt;br /&gt;buang semua kenangan mulukmu itu,&lt;br /&gt;percaya takdir kita, aku cinta padamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takkan ada cinta yang lain,&lt;br /&gt;Pastikan cintaku hanya untukmu,&lt;br /&gt;Pernahkah terbesit olehmu,&lt;br /&gt;Aku takut kehilangan dirimu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah nanti terulang nanti,&lt;br /&gt;Jalinan cinta semu,&lt;br /&gt;Dengarlah bisikku,&lt;br /&gt;Bukalah mata hatimu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuteh, 12 April 2004&lt;br /&gt;song : Semusim by Marcell &amp; Takkan Ada Cinta Yang Lain by Dewa19&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108243616274668307?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108243616274668307/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108243616274668307' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108243616274668307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108243616274668307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/04/i-miss-u-like-crazy.html' title='I MISS U LIKE CRAZY'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108200224008255985</id><published>2004-04-15T13:10:00.000+09:00</published><updated>2004-04-15T13:14:37.373+09:00</updated><title type='text'>SEGI TIGA</title><content type='html'>Inez memperhatikan sepasang muda mudi yang berjalan di kejauhan. Meskipun mall tampak ramai, namun pandangan mata Inez tak mampu lepas dari mereka. Bila mereka orang lain yang tak Inez kenal sama sekali, it's oke lah, not her bussines. Tapi mereka ada Anto dan Mira. Dua orang yang dekat dengannya. Mira adalah sahabat setianya dan Anto adalah kekasihnya! Lama Inez memperhatikan mereka, mesra dan saling canda, oh Tuhan, ini kah kenyataan dibalik setia kawan Mira dan kesetiaan Anto yang sering diucapkannya? Inez masih menatap mereka kian lama menjauh. Gadis itu masih terus duduk di sudut resto waralaba, menghabiskan minumnya. Pantas saja, sikap Anto akhir-akhir ini jadi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, bukan menjauh .. bukan! Anto lebih perhatian, lebih sayang padanya. Padahal Anto itu tipe cowok cuek, Inez hafal sifat-sifatnya, mereka telah pacaran 3 tahun! Mira, sahabat Inez yang tentu saja dikenal pula oleh Anto. Mereka bertiga kuliah pada universitas yang sama, namun beda fakultas. Inez dan Mira di fakultas sastra, sedangkan Anto di fakultas Teknik. Oh .. jadi ingin mempermainkan gue yah? Ingin berbohong yah? Ingin selingkuh? Bosan sama hubungan kita To? Huh, Inez menggeram kesal. Dan Mira, hohoho, you're bitch!! Ga disangka, persahabatan kita hanya bisa bertahan sampai di sini. Lagi-lagi Inez membatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke oke .. kalau itu memang mau kalian berdua, oke! Gue layani, gue ikutan jadi aktor dalam naskah kalian berdua, rutuk Inez dalam hati. Gadis itu tersenyum puas, gembira atas ide yang muncul di kepalanya. Gue ga akan sakit hati, gue pengen bikin kalian seperti orang ketakutan, sport jantung, was-was dan sebagainya .. dan kalian, akan seperti orang yang berjalan di medan ranjau .. Inez tertawa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue sore tadi ke salon Nez, ngantar mama .. tau kan mama hehehe. Ke salon aja harus gue yang nemenin." ujar Anto di telepon. Malam ini, Inez ingin tau, apa yang akan dikatakan Anto bila dia bertanya sore tadi kemana, ingin tau, kebohongan apa yang akan dikatakan Anto padanya.&lt;br /&gt;"Oh ya? Tapi perasaan yang nerima telpon gue sore tadi, mama elu deh To .. " ujar Inez santai, dia ingin mempermainkan perasaan Anto juga.&lt;br /&gt;"Masa sih? Si bibi kali Nez, suer tadi sore gue nemenin mama ke salon." sumpah, mau rasanya Inez tertawa, oh yeaaaaahh, sumpah!! Begitu mudahnya kalian para cowok bilang sumpah! Sumpah palsu!&lt;br /&gt;"Yasud kalau gitu, gue mau bobok! Oh iya To, besok kuliah kan? Ketemuan yah, ada yang ingin gue bicarakan, soal mall .." Inez menggantung kalimatnya.&lt;br /&gt;"Mall?? Ma .. maaksud elu apa Nez?" gotcha!! Rasa-rasanya Inez mendengar degup jantung Anto yang kian berpacu.&lt;br /&gt;"Mailing list maksut gue .. ada temen yang ngajak ikutan mailing list, tapi sumpe gue kurang paham maksutnya apa .." well, Inez mendengar Anto menarik napas lega, kesian deh eloe!&lt;br /&gt;"Oke .. sampai ketemu besok yah. By the way, kenapa elu ga mau sms gue aja Nez?" tanya Anto kemudian.&lt;br /&gt;"Oh .. lagi malas aja bawa hp, ribet deh huehue .. see ya." jawab Inez sembari meletakkan gagang telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kena lu sekarang To!! Nganter mama ke salon? Oh yeahhh. Salon dari hongkong? Jelas-jelas sore tadi tangan Anto melingkar mesra di pinggan Mira. Jelas-jelas mereka berdua berjalan berduaan seperti sepasang merpati yang tengah dilanda asmara. You both lie to me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inez tengah menunggu Anto di kantin kampus yang ramainya aujubilleh. Itu mahasiswa pada kelaparan pa yah? Atau pengen ngilangin stress akibat dua atau tiga jam berhadapan sama dosen killer? Wow, Inez memesan batagor kesukaannya plus satu gelas soda gembira, duduk menanti Anto. Mira ga nampak batang idungnya sejak tadi. Kemana dia? Jangan-jangan lagi hepi di kamar, akibat senangnya jalan berdua pacar teman sendiri!! What a hell!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan Anto muncul, kemeja biru kusut dan blue jins. Ranselnya menggantung jenuh di pundak.&lt;br /&gt;"Hi sayang .. udah lama nunggunya?" tanya Anto. &lt;br /&gt;"Iya, lumayan lama neh. Mending gue nunggunya di mall, sambil cuci mata." tess, wajah Anto nampak berubah sedikit eskpresinya. Inez tertawa dalam hati. Emang enak dikerjain? Ga enak lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"To, gue mau ngomong soal mailing list nih .. elu ngerti ga?" tanya Inez disela-sela menyeruput soda gembiranya.&lt;br /&gt;"Itu kayak forum gitu Nez, email kita di add disitu, surat yang dikirim kita ke alamat mailinglist, bakal masuk ke semua anggotanya, gitu deh garis besarnya." terang Anto.&lt;br /&gt;"Oh oke .. eh by the way, where's Mira? Gue ga liat dia sejak pagi." tanya Inez. Anto nampak sedikit grogi.&lt;br /&gt;"Ga tau yah, elu kan teman dia Nez, telpon apa sms kek .." saran Anto. Inez tersenyum puas.&lt;br /&gt;"Nanti aja, hp gue ga kebawa nih." elak Inez. Mereka pun makan dalam diam begitu pesanan Anto datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sabtu ini, sejak pagi Inez dah ngomong ke Anto kalau dia ga usah diapelin, ada urusan keluarga. Anto pun dengan gembiran menjawab.&lt;br /&gt;"Oke deh sayang .." huah, seneng yah, biyar bisa ngapelin si Mira? Di rumah Inez malah menelepon Mira.&lt;br /&gt;"Hei Mir, sorry menggangu .. lama hp gue nonaktif neh hehehe. Pa kabar?" tanya Inez.&lt;br /&gt;"Hei, kabar baik Nez, thanks for asking yah hehehe." ngekek lu?! Batin Inez.&lt;br /&gt;"Eh Mir, gue mo nanya sedikit hal neh, boleh?" tanya Inez, lagi-lagi Inez menangkap nada grogi di seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh boleh Nez, apa sih yang ga boleh buat elu?" seloroh Mira.&lt;br /&gt;"Semua boleh dong .. heheh boleh selingkuhan juga dong Mir hihihi." kata-kata Inez yang diselipin becanda itu justru membuat napas Mira memburu.&lt;br /&gt;"Ehh maksut lu?" tanya Mira hati-hati.&lt;br /&gt;"Maksut gue yang mana?" Inez balik bertanya.&lt;br /&gt;"Oh .. just forget it .. mau nanya apa tadi Nez?" tanya Mira lagi. Sumpah, Inez ngakak dalam hati, nada suara Mira .. bergetar!&lt;br /&gt;"Mau nanya soal psikologis nih, memang rada beda dari apa yang kita pelajari, tapi ini permintaan Siska, sepupu gue yang kuliah di psiko, dia pengen tau pendapat 3 orang lagi soal cinta segitiga gitu. Paling tidak dia harus punya sepuluh essay, kurang tiga neh .. ya udah, dia minta ke gue, elu dan Anto." cerocos Inez, ga peduli sama degup jantung Mira yang kian berpacu.&lt;br /&gt;"Loh .. kok diam Mir???? Boleh kan?!" serang Inez lagi.&lt;br /&gt;"Oh boleh boleh .. kapan mau diambil tulisannya? Brapa halaman?" tanya Mira cepat-cepat.&lt;br /&gt;"Senin besok. Satu lembar folio aja Mir, anyway, thanks ya .. gue mo pergi ke rumah sodara neh .. see ya Mir .." Inez buru-buru menutup telepon dan tertawa bebas. Hebat sekali dia, esay soal cinta segitiga? Bwahahaha, Inez ngakak selebar-lebarnya. Sejak kemarin, pintu hatinya telah tertutup bagi Anto, dia akan melepaskan cinta mereka, dan segitiga yang memuakkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, Inez tiba di kampus tepat jam sepuluh, kuliah baru dimulai pukul sebelas, masih ada satu jam lagi nih, mending ke kantin aja. Di kantin biasanya paling cepat tersebar kabar apa pun, kabar burung, kabar gajah, pokoknya kantin itu ibarat tempat ngerumpi paling joss deh. Inez duduk di tempat favoritnya, memesan satu gelas teh hangat dan mulai membuka-buka kamus Inggrisnya.&lt;br /&gt;"Betul, gue lihat sendiri .. Mira sama Anto .. mesranya kemaren malam mereka berdua nonton. Coba kalau Inez ampe tau .. dia past .." suara itu ga meneruskan omongannya, Inez menatap penuh senyum pada tiga cewek yang tanpa sadar membicarakan 'segitiga' antara dia, Anto dan Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"INEZZZ!?!?!?!" ketiganya serentak histeris. Inez tertawa dan mengajak mereka duduk bersamanya.&lt;br /&gt;"Heiiiiii ... kok jadi histeris gitu sih? Sini, gabung yuk!" ajak Inez ramah. Kiki, Fera dan Masta, tiga cewek biang gosip di kampus mereka. Dulu Inez paling benci mendengar omongan ketiganya, tapi hari ini, hatinya amat sangat gembira.&lt;br /&gt;"Nez, sorry .. kita tadi ga bermaksut .." Masta buka suara, mewakili kedua temannya. Inez tersenyum ramah.&lt;br /&gt;"Udeh .. gue dah tauk kok, thanks aja kalian ikutan tauk hehehe." seru Inez. Ketiganya terkejut, lebih terkejut dari kepergok Inez tadi.&lt;br /&gt;"Dimana kalian ngeliatnya?" tanya Inez lagi sambil meminum teh hangatnya. Kiki, Fera dan Masta saling pandang. Mereka, sedikit dibuat bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan gue yang liat kok Nez, tapi Fera." ujar Masta. Inez melemparkan pandangan ke Fera. Si genit.&lt;br /&gt;"Uhm, semalam gue kan diajak keluar sama Roni, trus kita milih nonton, pas lagi ngantri karcis, Roni nyikut gue sambil bilang ngeliat Anto sama Mira. Gue jelas kaget, lha wong Anto itu kan pacarnya elu Nez." cerita Fera. Inez tersenyum puas. Kena lagi kalian!&lt;br /&gt;"Well, thanks deh .. oia, minum apa makan, pesen aja, gue yang bayar." ujar Inez sambil melanjutkan membaca kamus. Ck ck ck, kamus aja dibaca, dasar anak sastra. Ketiganya duduk diam saling lirik, minum pesanan. Inez ga memperdulikan mereka, asyik dalam kamus nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sebelas kurang lima Inez pamit pada ketiganya yang anak ekonomi.&lt;br /&gt;"Gue duluan yah, gue bayar sekalian .. ada kuliah sejarah Inggris nih .. see ya guys!" Inez melambai pada mereka menuju ruang kuliah.&lt;br /&gt;Di ruang kuliah, Mira telah duduk menanti dosen, sama seperti teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;"Dorr!!" Inez mengagetkan Mira, gadis itu kaget dan tertawa.&lt;br /&gt;"Nez, ini essay yang elu minta itu." Inez menerima essay itu.&lt;br /&gt;"Waduh, bagus banget Mir, sayang gue kemarin malah lupa ngomong ke Anto." Inez menyadari kalau dia justru ga bilang ke Anto soal essay itu.&lt;br /&gt;"Gpp, gue udah bilang duluaannnn .. eh .." Mira keceplosan.&lt;br /&gt;"Ohyah? Bagus dong, thanks yah, elu memang teman yang paling baik deh Mir!" kata Inez cuek sambil duduk disamping temannya. Pura-pura ga melihat paras wajah Mira yang berubah sedikit pucat. Teman terbaik heh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi elu harus cerita ke gue dong .. masa anak-anak lain dah pada tau, gue yang temen elu sendiri lum tau?" pancing Inez.&lt;br /&gt;"Ce ce cerita apa Nez?" tanya Mira bingung. Kena lu sekarang Mir. Batin Inez.&lt;br /&gt;"Cowok baru elu .. maren ada yang lihat elu di bioskop ama cowok .. suit suit, siapa sih Mir, gue kok ga tau?!" ujar Inez dengan tampang lugu. Mira berubah pucat, butir-butir keringat membasahi keningnya. Wah, jangan-jangan bentar lagi semaput lu Mir, batin Inez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, enggak Nez .. " oh, bukan elu yah Mir?!! Dasar!! Inez tersenyum penuh arti, lebih cenderung ke sinis, tapi cewek itu berusaha tertawa .. sinis.&lt;br /&gt;"Masaaa sih Mir? Anak-anak jelas tadi cerita-cerita di kantin loh, santer lagi. Gue jadi aneh, masa gue yang temen deket lu malah ga tau apa-apa sih? Ayo, jangan sembunyiin apa pun dari gue dong Mir. Gue kan ga pernah sembunyiin apa pun dari elu, termasuk hubungan gue sama Anto." ucapan Inez membuat Mira hampir pingsan. Gadis itu cepat-cepat mengeluarkan buku-buku dari tasnya. Inez menatap dengan pandangan tak berdosa. Dosen yang masuk kemudian menyelamatkan Mira. Dosen yang lumayan killer itu memang ga suka ada mahasiswa/i yang ngobrol di setiap kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke .. open your book, page 203 bla bla bla .. read it, 30 minutes again I will make a little test." yeah, Inez langsung terjun ke dalam sejarah bangsa Inggris-nya. Mira pun demikian. Tapi Inez tau, saat ini Mira seperti si pandir yang ketakutan. Rasain deh lu. Tes 30 menit sesudahnya dapat dikerjakan Inez dengan hasil yang memuaskan. Mira menarik napas panjang.&lt;br /&gt;"Kenapa Mir?" tanya Inez.&lt;br /&gt;"Gue ga bisa kerjain satu pun .." gimana bisa Mir, elu terbawa rasa bersalah!&lt;br /&gt;"Kok bisa? Apa gara-gara jatuh cinta ya Mir? Elu sih, yang konsen dong, harus bisa bedakan, mana saat harus serius sama kuliah, mana saat kita bisa asik terbawa lamunan .. tanya gue dong ahahaha." goda Inez tambah puas. Mira menunduk lesu, memasukan buku-bukunya dan segera pamit pada Inez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nez, kayaknya gue ga enak badan nih, gue duluan pulang yah." Inez menatap tak percaya, pulang yah? Takut?&lt;br /&gt;"Ga ikut kuliah berikut?" tanya Inez sok alim.&lt;br /&gt;"Ga usah deh Nez .." jawab Mira.&lt;br /&gt;"Ya udah kalau gitu, gue sms si Anto yah, biar dia anterin elu pulang, kasihan kan, elu pulang sendiri dalam keadaan sakit gini ..." tawar Inez, oh ..&lt;br /&gt;"Eh .. ngg ga usah Nez, gue pulang sendiri aja .. thanks yah." Mira buru-buru keluar ruang kuliah. Inez menatap punggung Mira dengan senyum puas. Biar mampus sekalian lu Mir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inez segera meng sms Anto, minta ketemu di kantin. Tak lama Anto pun muncul di depan Inez.&lt;br /&gt;"Hei .. eh To, Mira dah ngomong soal essay ga? Dudutz deh gue, malah lupa ngasih tau elu .. semoga elu ga lupa .. itu penting banget lagi." cecar Inez.&lt;br /&gt;"Iya gue bawa, Mira ngasih tau gue .." ujar Anto sambil mengeluarkan selembar folio essay.&lt;br /&gt;"Thanks yah say .. by the way, kapan Mira ngomong? Dia telpon atau sms?" tanya Inez, memancing.&lt;br /&gt;"Dia ngomong kok .. eh .. telpon .. bukan bukan, dia sms gue kok Nez." Anto kelabakan menjawab pertanyaan Inez. &lt;br /&gt;"Ya sudah deh kalau gitu. Eh dia sakit loh To, kita ke rumah nya yuk?!" ajak Inez. Anto membeliak.&lt;br /&gt;"Ke rumah Mira?!!!" Inez mengangguk mantap.&lt;br /&gt;"Ga deh .. elu sendiri .."&lt;br /&gt;"Duh elu gimana sih To, temenin gue kenapa, gue butuh elu nemenin gue disaat temen dekat gue sakit. Mira itu ibarat jantung gue juga, kita temen dekat To. Please temenin gue yah." bujuk Inez penuh harap, tampangnya dah kayak orang pesakitan juga. Anto akhirnya ngalah.&lt;br /&gt;"Oke, tapi gue ga turun dari mobil yah, elu aja yang masuk, jangan lama-lama." ujar Anto.&lt;br /&gt;"Emang kenapa sih elu? Mira bukan kena aids tau, ga biasanya deh." Inez pura-pura merajuk. Anto menarik napas pasrah. Yess, batin Inez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Mira bercat hijau lumut dengan ubin dengan warna senada. Inez langsung memencet bel rumah.&lt;br /&gt;"Hallo tante .. Mira ada? Katanya sakit .." ujar Inez perhatian. Mamanya Mira tersenyum manis.&lt;br /&gt;"Ada tuh di kamar, sakit dia .. tapi pulang kuliah wajahnya pucat Nez, ke kamarnya gih .." tawar mamanya Mira. Inez mengangguk mantap.&lt;br /&gt;"Eh bentar tante .. Inez manggil Anto dulu." seru Inez. Mama nya Mira terkejut.&lt;br /&gt;"Anto? Oh .. tentu saja dia sudah tau yah Nez. Kalian putus baik-baik kan?" tess, jadi ini lah yang terjadi. Inez tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Mira sudah dianggap Inez seperti mama sendiri. Apa yang dirasakan Inez kadang dicurhatin juga ke mama nya Mira. Otomatis wanita baya yang baik itu tau kalau Inez pacaran sama Anto, bahkan mereka pernah ke rumah Mira di malam minggu kalau bosan ke tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi. Inez diam, ngajak Anto ke dalam, Anto awalnya menolak, tapi akhirnya nurut juga. Mereka berdua menuju ke kamar Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mira terbaring di kasur, lemes. Mira shock melihat Inez muncul bersama Anto di pintu kamar.&lt;br /&gt;"Hei Mir!! Gue dateng nih, jenguk jenguk heheheh. Ayo To, masuk!" ajak Inez sambil narik tangan Anto. Mira bertambah pucat, Anto seperti orang kehilangan tenaga.&lt;br /&gt;"Aduh Mir, cowok lu dah tau lum? Mana nomernya, gue eponin yah?" tawar Inez. Sumpah, Inez rasanya pengen ngakak saat itu juga. Inilah skenario yang kalian bikin yang tanpa kalian sadari, gue ikut di dalam skenario kalian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Mira datang membawakan nampan berisi dua gelas sirup dan sepiring kue.&lt;br /&gt;"Aduh tante ... ngerepotin hehehe. Makasihhh." ujar Inez ramah. Anto dan Mira saling pandang.&lt;br /&gt;"Justru tante yang harus bilang makasih ke kamu Nez. Biar pun telah putus sama Anto dan Anto pacaran sama Mira, tapi kamu tetap menjadi teman yang baik bagi mereka ..." ujar mama si Mira terharu. Mira langsung menutup matanya dan Anto terduduk lemas di kursi. Mama Mira keluar dengan senyum bahagia. Inez tersenyum kepada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke kalian berdua. End of the story, hehehe. Selamat yah, atas jadiannya Mira dan Anto .. bermain api di belakang Inez. Oh malangnya Inez .. Hm, gosip itu paling besok-besok beredar juga di kampus. Well, gue sudah tau semua ini, jauh sebelum orang-orang tau, gue diam aja, gue pengen tau, sampai dimana kalian berdua sanggup bersandiwara." Mira mulai menangis. Anto terdiam, ga tau harus bilang apa.&lt;br /&gt;"Nez... huhuhu gue minta maaf Nez .. gue .." Mira memohon. Inez tersenyum.&lt;br /&gt;"Untuk apa maaf? Untuk kesalahan yang seharusnya elu sadar itu ga boleh? Juga buat my beloved Anto .. dear .. you lie to me ..!!" seru Inez. Anto semakin dalam menunduk, seperti tertuduh di tengah ruang pengadilan.&lt;br /&gt;"Nez .. gue khilaf .." ujar Anto.&lt;br /&gt;"Plis deh To, khilaf????!! Kasihan Mira kalau ternyata elu khilaf, kasihan diri elu sendiri juga .. ck ck ck .." Mira sesenggukan, malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian berdusta sama gue. Teganya, padahal Mira adalah sahabat setia gue dan Anto adalah pacar gue. Teganya kalian mengarang cerita ke tante kalau gue dan Anto dah putus! Tante yang bagitu baik dan percaya sama dusta kalian!! Teganya kalian berbohong dengan wajah bayi tanpa dosa di depan gue!" maki Inez. Dia ga marah .. dia hanya .. meneruskan skenario Anto dan Mira.&lt;br /&gt;"Skenario kalian bagus .. sayang akhirnya ga bagus seperti ini yah? Gue, ga sakit hati, untuk apa? Sejak awal gue lihat kalian berdua di mall, mesra, cinta gue sudah gue tarik dari Anto .." ujar Inez lagi.&lt;br /&gt;"Nez .. plis hentikan .. gue mohon .. maafkan gue .. Nez .." Mira memohon dalam tangis. Inez ga peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nez .." Anto mencoba buka suara.&lt;br /&gt;"Sudah lah To, mau dibilang apa? Nasi sudah menjadi bubur kan? Berbahagialah kalian diatas kebohongan .. hmm gue pulang duluan yah To, kekasih baru Mira, sahabat gue sendiri." Inez melenggang santai membuka pintu kamar Mira. Dia agak kaget melihat mama Mira berdiri dengan air mata berlinang menatapnya, mengharu biru. Dengarkan beliau semua yang dikatakan Inez tadi?&lt;br /&gt;"Inez .." Inez menatap perempuan baik hati itu, memeluknya hangat.&lt;br /&gt;"Jangan sampai kamu ga datang ke sini lagi gara-gara ini yah sayang, kamu anak baik .. tante suka berbagi denganmu .. maafkan Mira .. maafkan Anto." oh my God!! Inez tersenyum.&lt;br /&gt;"Ga pa pa kok tante, iya saya janji pasti datang ke sini lagi." ujar Inez segera berlalu dari situ. Keluar dari rumah Mira .. menarik napas panjang, menghirup udara siang yang panas .. LEGA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, segitiga ini berakhir sudah. Dia ga sakit hati, untuk apa? Untuk cowok seperti Anto? Cuihhh ga rela rasanya sakit hati gara-gara Anto. Inez tersenyum bangga pada dirinya sendiri. G'bye seti tiga .. Inez pulang ke rumah dengan perasaan PLONG bukan main. Terserah apa yang akan terjadi pada Mira dan Anto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya tersiar kabar bahwa Mira terpaksa putus kuliah, karena mamanya ga sanggup membiayai lagi. Anto pun berniat pindah kuliah. Oh, ga sanggup menahan malu? What ever lah, batin Inez. Yang penting dirinya merasa lega banget. Dunia belum berakhir kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuteh, 8 April 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108200224008255985?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108200224008255985/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108200224008255985' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108200224008255985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108200224008255985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/04/segi-tiga.html' title='SEGI TIGA'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108148235112274684</id><published>2004-04-09T12:45:00.000+09:00</published><updated>2004-04-09T12:49:39.686+09:00</updated><title type='text'>Cinta  Itu ...</title><content type='html'>Aku masih disini, di bangku taman kota yang ramai. Menatap kosong pada sekitar yang ramai pengunjung. Aneh rasanya, aku sendiri ditemani sepi dan senyap sedangkan disekitarku semua nampak saling berpasang-pasangan atau bersama keluarga melewatkan sore yang indah di taman kota. Taman kota, sebulan belakangan aku menghabiskan lebih banyak dari waktuku di sini. Setelah kuliah aku pasti ke sini, duduk di bangku panjang yang dinaungi pohon beringin sambil menatap lepas pada rerumputan hijau. Setelah mandi sore, aku pun pasti ke sini, membawa discman dan sebuah majalah sambil duduk santai di bangku taman yang sama, pemandangan yang sama dengan pengunjung yang berbeda. Hanya aku yang sama, pohon beringin yang sama, bangku taman yang sama dan petugas taman yang sama yang tentu bosan melihat sosokku setiap hari selalu duduk di tempat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan terakhir aku memang seperti makhluk dengan separuh nafas, dimana nafas lainku diterbangkan Glen. Separuh jiwaku dibawanya terbang entah ke negeri ke sembilan, atau ke atas langit biru. Glen yang selama ini menjadi panutan dan cintaku, ternyata memang bukan untukku. Aku yang ringkih, malangnya telah memberikan seluruh cinta ini tanpa syarat kepada cowok ambon yang penuh kharisma itu. Sebulan, waktu yang terlalu singkat bagiku untuk bisa melupakan bayang-bayang Glen dari hidupku. Sebulan untuk melupakan setelah lima tahun menjalin cinta? Lima tahun penuh cinta dan kebersamaan yang sangat berarti bagiku? Seribu tahun pun rasanya tak cukup untuk hati ini melupakannya. Melupakan sosok ganteng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang gadis lemah, seperti yang pernah diungkapkan Glen padaku. Aku gadis ringkih yang mudah dibodohi oleh siapa pun. Terlalu percaya pada orang, sepenuhnya mencoba menjadi bagian dari hidup orang lain. Aku ternyata tak mendapat ganjaran yang setimpal dari ketulusan hati, justru semua itu dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan dari Glen, orang yang pernah mengatakan semua itu padaku. Tak heran bila aku menjadi manusia lumpuh bathin seperti ini karena cinta, karena cintaku telah kuberikan semuanya, tanpa sisa pada Glen. Malang oh malang nasibku, Glen yang kucinta dan kupercayai sepenuh hati, malah mengkhianatiku dan menikamku dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi kekasih Glen saat kelas satu smu hingga kami lulus smu dan melanjutkan pendidikan di kota pelajar ini. Masuk pada universitas yang sama dan fakultas yang sama kian mendekatkan kami hari demi hari. Pandangan syirik teman-teman sekolah waktu masih smu dulu kembali kurasakan saat masuk kuliah. Glen yang ganteng, wajah timur nan eksotis dengan tinggi melampaui rata-rata menurut mereka mungkin tak sebanding dengan diriku yang tidak cantik dan amat mungil. Aku mempercayai Glen, separuh nafasku itu, mengecap manisnya cinta bersama. Glen nyaris sempurna, he has everything. He gives me all his life. Paling tidak, itulah yang kurasakan saat menjadi miliknya dan memilikinya. Tapi kini semua itu tinggal kenangan yang hampir tak mampu aku lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangku taman kota masih tetap disini, menungguku setiap sore menghabiskan waktu, mendengar lagu atau membaca majalah, memperhatikan orang-orang yang nampak begitu bahagia. Mengapa kebahagiaan yang mereka temui di taman ini tak jua kudapatkan? Mengapa hanya kesedihan dan kesedihan yang pedih lah yang terus menghiasi perasaanku? Tak mudah memang melupakan Glen, namun lebih tak mudah lagi menerima kenyataan pahit akibat pengkhianatannya pada cinta kami. Cinta yang terjalin indah pada awalnya dan berakhir dengan kepahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang gadis lemah. Menghadapi cobaan seperti ini saja rasanya seperti mati. Aku memang bodoh. Begitu mengagungkan cinta yang tak seharusnya aku puja, tapi dulu aku atau siapa pun tak tau bahwa cinta itu salah kan? Aku memang gadis aneh. Tidak berusaha bangkit dari jatuh, berusaha sedikit, namun belum pulih seratus persen, tapi akan aku coba. Mungkin betul kata orang, hidup sendiri lebih menyenangkan, namun menurutku, hidup bersama Glen dengan cinta kami itu lebih menyenangkan. Oh, bagaimana aku bisa melupakan dia bila setiap desah nafasku selalu menyebut namanya? Kapan aku bisa berhenti mendatangi taman kota dengan tujuan melupakan Glen? Kapan aku bisa bila setiap memoriku meloncat ke arahnya begitu melihat kemesraan orang lain? God help me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tepat dua bulan perpisahan menyakitkan kami. Di sore yang dingin, aku kembali berada di taman kota, duduk pada bangku yang dinaungi pohon beringin dan menatap ke arah pengunjung yang lain. Mereka, para pengunjung itu, mungkin memiliki masalah yang lebih berat dariku, tapi mereka nampak bahagia, terpancar dari wajah yang tersenyum dan sinar mata yang hangat. Sedangkan aku? Masih terus membatu-hati, marah pada ulah Glen dan merutuki diriku setiap hari hanya karena dikhianati olehnya. Hanya karena? Oh, cinta kami begitu indah, apakah ada cinta yang lebih indah dari cinta kami sebelum ini? Entahlah, aku tak tau, karena sampai detik ini belum kutemukan atau tak ingin lagi kutemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugusan awan mulai kelam, menghitam dan pasti sebentar lagi akan turun hujan. Bangkitlah, untuk apa duduk sendiri di taman kota, dibawah siraman hujan lebat menangisi cinta yang hilang, sedangkan orang-orang mulai meninggalkan keindahan taman satu persatu. Di kejauhan nampak petir menyambar dan guntur bersahut-sahutan. Aku pulang ke kost, mengganti baju, menyeduh secangkir teh panas dan duduk menghadap jendela menyaksikan hujan yang mulai turun ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa kah Glen saat ini? Menghangatkan Mirna dengan pelukan kokohnya? Pelukan yang dulu selalu melindungiku dan menenangkan jiwaku? Bodoh bodoh!! Masih saja sosoknya menghiasi kepalaku, sedangkan dia belum tentu memikirkan aku. Masih saja hatiku berontak mengingat kenangan manis kami berdua, sedangkan sekarang Glen telah menjadi milik orang lain dan memiliki cinta yang lain. Cinta itu indah, cinta itu menyakitkan. Aku telah merasakan keduanya, keindahan cinta yang menggelora dan kepedihan cinta yang mengoyak batinku tanpa ampun. Saat seperti ini aku berharap akan ada kepedihan yang melampaui kepedihan hatiku saat ini hingga pedih hati akibat ulah Glen bisa pergi dari sini, hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuseruput teh yang mulai menghangat, hangatnya menjalari kerongkonganku dan perutku. Teh yang manis, sayang cintaku tak semanis teh ini. Diriku pun tak semanis teh ini. Mirna, sosoknya mungkin sepadan dengan rasa secangkir teh manis. Mirna memang manis dan tinggi tentu saja, tak seperti aku yang kecil mungil. Mirna memiliki segala cira rasa seorang wanita, cantik, manis, proposional yang tentunya cocok bersanding dengan Glen, ramah dan punya banyak teman. Glen dan Mirna, sepasang kekasih baru, tersenyum diatas duka ku. Ah, yang benar saja, Mirna tak salah, dia menerima Glen karena Glen berkata cinta, bukan merebut Glen dariku. Haruskah aku menyalahkan Mirna? Tentu tidak, sekali lagi, Glen lah yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan!! Sampai kapan aku terus berkutat dengan mimpi buruk ini? Sampai kapan kepedihan ini berlalu. Kepedihan yang selalu mengaitkan Glen di dalamnya dan Mirna disampingnya. Aku harus bangkit, aku harus bisa melupakan semua ini, harus harus harus! Ketukan di kamar membuyarkan lamunanku, kuletakkan cangkir teh di meja dan membuka pintu. Hilar, teman kostku menyerahkan sepucuk surat.&lt;br /&gt;"Dari siapa?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Dari Glen, tadi siang diserahkannya padaku, baru sore ini aku ketemu kamu." jawab Hilar. Aku tersenyum, mengucapkan terima kasih dan kembali ke jendela, duduk disana menatap hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat dari Glen, beramplop putih. Untuk apa surat ini setelah 2 bulan perpisahan kami? Lebih tepatnya untuk apa dia mengirim surat? Haruskan kubaca atau kubuang saja? Bila kubaca, tentu niatku melupakan Glen akan terhambat, bila kubuang, isi surat itu tak mungkin kuketahui. Hatiku berperang sendiri, baca atau tidak? Dengan tangan gemetar kurobek salah satu sisi amplop putih itu dan membuka lembar suratnya perlahan. Tanganku bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf Glen ... masih seperti yang dulu, tak rapih namun lumayan. Kubaca baris pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Fla ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh .. dear, masih pantaskan dear itu untukku? Kubaca isinya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fla, aku menulis surat karena susah bagiku untuk menemukanmu di kampus. Kemana saja? Hp mu sering dimatikan yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana pun aku pergi bukan urusanmu lagi Glen! Jangan coba-coba memarahi atau menghakimiku karena dirimu tak dapat menemukanku di kampus! Aku terus membaca isi surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencarimu kemana-mana Fla, banyak hal yang ingin kuceritakan dan kubagi denganmu, meskipun dirimu pasti akan meludahi aku. Fla, aku salah, aku lah yang begitu bodoh menyukainya, suka, bukan cinta, itu kusadari begitu menjalin sesuatu dengannya.&lt;br /&gt;Mirna bukan untukku Fla, Mirna bukan dirimu, yang kucinta dan mencintaiku. Mirna berbeda darimu, dia tak sepertimu yang mau menerima semua kekuranganku apa adanya. Dia bukan kamu, yang mau menggunting kuku-ku bila mulai tumbuh, yang mau mengomeliku bila celana jinsku tak kucuci sebulan lamanya. Dia hanya tau menghinaku dengan semua kekuranganku tanpa mau berbuat sesuatu untuk kekurangan itu. Aku menulis ini bukan untuk membandingkan, karena tak pantas dirimu dibandingkan dengan siapa pun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik napas dalam-dalam ... Glen ... hem ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini aku temui arti cintaku padamu. Aku berada disisi dia, hanya sebagai sosok tinggi yang dibanggakannya, bukan sebagi sosok kekasih yang saling menerima dan memberi. Terus terang, bagaimana aku bisa mencintai Mirna bila yang ada di kepalaku hanya dirimu bila bersamanya? Aku berkata ini bukan untuk menyesali Fla, namun untuk meraih kembali cintamu, bersujud pun aku mau. Terlalu banyak yang ingin kusampaikan, namun surat ini tak mampu memuat semuanya, bertemulah denganku Fla, hidupkan hp-mu, karena akan banyak sms yang kukirim tertunda disana. Sms yang sejak sebulan lalu selalu kukirim untukmu dan gagal. Aku sesungguhnya tak bisa pindah ke lain hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;Glen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulipat kembali surat itu. Di luar hujan mulai reda, meniggalkan rintik gerimis di sore hari. Langit mulai cerah dengan warna jingga yang mulai membias di cakrawala. Surat Glen kuletakkan di meja dan meraih cangkir teh yang mulai dingin, sedingin udara sore ini. Surat dari Glen. Sebulan lalu mengirim sms padaku? Hp ku memang tak pernah aktif setelah dia berpaling dariku, aku memilih menyimpan Hp itu di lemari. Kutarik napas dalam, mencoba mencerna dan mengerti apa yang sedang terjadi padanya. Apa yang sedang berkecamuk di dalam batinnya. Glen, taukah kamu, cintaku pun tak bisa pindah ke lain hati? Tau kah kamu, aku terus merutuki diriku yang malang ini karena tak bisa melupakan cinta kita? Tau kah kamu, di sudut batinku aku selalu berharap hal seperti ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah ke lemari, mengambil benda mungil yang kubiarkan membisu di sana. Hp kuaktifkan. Betul, begitu banyak sms yang masuk, sms 1 minggu lalu. 25 sms dalam satu minggu! Aku yakin, sms-sms nya sebulan terakhir banyak yang expired. Kubaca satu persatu sms itu ... hem .. Glen? Maaf? Kembali? Bersujud? Meraih kembali cintaku? Lima tahun dalam hubungan yang indah? Kangen? Tak bisa pindah ke lain hati? Glen!!! Aku pun begitu! Kutatap rintik hujan yang mulai reda seiring dengan dering ringtone risalah hati - dewa. Call masuk dari Glen. Haruskah kuterima? Aku belum siap. Bukan belum siap menerima telepon darinya, lebih lagi aku belum siap berhadapan dengannya. Mendengar suaranya sama artinya dengan mengembalikan semua cinta dan kenangan di hati yang 2 bulan terakhir ini, yang ingin kuhilangkan namun tak mampu. Mendengarkan suaranya sama dengan melemahkan hatiku untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang kutunggu, bukankah aku selalu berharap dia kembali? Ini bukan suatu kebetulan, ini jalan yang diberi Tuhan untukku setiap mendengar rintihan hatiku. Dia Yang Diatas sana, barangkali tak mau membiarkan aku dimiliki pria lain, yang tak mengerti keadaanku selain Glen. Aku menapat layar Hp dan menarik napas dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .."&lt;br /&gt;"Fla! Oh, thanks God!"&lt;br /&gt;"Ya .."&lt;br /&gt;"Fla, lagi dimana?"&lt;br /&gt;"Di kost."&lt;br /&gt;"Aku kesana yah sekarang, hujan sudah berhenti."&lt;br /&gt;"Jangan sekarang Glen."&lt;br /&gt;"Please Fla, sekarang. Aku ga mau semua ini berlarut-larut."&lt;br /&gt;"Tapi aku belum ...."&lt;br /&gt;"Sekarang, tunggu aku yah .."&lt;br /&gt;"Glen, tapi .. oh .. aku ..."&lt;br /&gt;"Okay, sampai ketemu setengah jam lagi. bye"&lt;br /&gt;"Glen!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat, Glen sudah menutup pembicaraan tanpa memberiku pilihan. Aku melempar Hp ke ranjang dan duduk lagi di depan jendela. Teh manisku telah habis. Surat Glen menatapku dari meja penuh harap. Cinta itu ... indah, sakit, indah ... Ah .. entahlah. Aku memang gadis ringkih, setelah dikhianati mau saja dihubungi. Maukah aku kembali dalam pelukannya? Pelukan yang selalu kurindukan selama ini? Maukah aku kembali pada cintanya? Cinta yang telah membuatku seperti orang dengan separuh nafas 2 bulan terakhir? Hatiku deg degan, aku harus mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mandi kudengar ketukan halus di pintu. Hilar kah itu? Kubuka pintu, dan kutemui sosok Glen disana. Berdiri mematung, tertunduk menatapku dengan pandangan penuh cinta, masuk tanpa perlu kupersilahkan lagi trus duduk di dekat jendela, tempat yang baru saja kududuki sebelumnya, merasakan kepedihan akibat cintanya yang berpaling. Kututup pintu kost dan duduk di ranjang, menghadapnya tanpa kata. Diam, membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fla." aku mengangkat wajahku, menatap kedalaman bola matanya.&lt;br /&gt;"Aku minta maaf." ujarnya tulus.&lt;br /&gt;"Ya .." jawabku. Sungguh, aku tak dapat berkata-kata.&lt;br /&gt;"Sejujurnya, aku ga bisa mencintai gadis lain selain dirimu. Tak ada cinta yang lebih manis dari cinta kita berdua. Aku mohon, maafkanlah perbuatan bodohku. Maafkan aku .. meskipun aku tau, tak mudah bagimu untuk memaafkanku setelah perbuatanku padamu." kata-kata itu mengalir lancar dari bibirnya. Barangkali, dia telah menyiapkannya sebulan terakhir?&lt;br /&gt;"Ya .. aku .." dia menatapku lagi.&lt;br /&gt;"Fla, aku tau, mungkin ga mudah bagimu untuk menerimaku lagi. Tapi yakinlah, aku tetap seperti Glen yang kamu kenal dahulu. Glen yang mencintaimu apa adanya seperti dirimu mencintaiku. Fla, gila rasanya hidup tanpa dirimu dan cinta kita ... lima tahun Fla .. aku begitu bodoh Fla ... aku ... aku ... khilaf." aku tertunduk. Khilaf ya .. manusia, siapa pun, tentu bisa khilaf. Dan Tuhan, untuk apa pun dosa manusia, masih mau memaafkan. Masa aku tak bisa memaafkannya? Wanita super apakah diriku sampai tak mau memberi maaf untuknya, sedangkan hatiku masih terus padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fla, bicaralah, jangan diam begitu, bicara apa saja, kalau perlu maki aku, agar batinmu puas." ingin rasanya aku tertawa. Memakimu? Untuk apa? Aku sudah cukup puas dengan merutuki diriku sendiri karena tak bisa melupakan dirimu Glen! Aku begitu mencintaimu sampai-sampai mencoba menghibur perasaanku sendiri dengan bertandang ke taman kota setiap hari!&lt;br /&gt;"Fla??" Glen berjalan ke arahku, berlutut di depanku, meraih tanganku lembut. Selembut tatapan matanya yang penuh harap, seperti harapan surat yang baru saja kubaca tadi. Mataku mulai basah. Bukan karena pedihnya saat dia berkhianat, namun pada cinta kami yang begitu kuat yang ternyata tak mampu tergantikan oleh cinta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Glen, aku mencintaimu." itu saja yang bisa kuucapkan, mewakili seluruh kata-kata yang ada di kepalaku.&lt;br /&gt;"Oh Fla, thanks God!" dia meraihku untuk duduk bersamanya di karpet dan memelukku hangat, seperti pelukan yang selalu kurindukan.&lt;br /&gt;"Jangan pernah melukaiku lagi Glen, karena tak akan ada maaf untuk itu. Karena aku mungkin memilih mati dari pada menahan sakit dihati." kataku kemudian. Glen mengangguk mantap, mengecup lembut bibirku. Kecupan yang selalu aku inginkan bila berdua dengannya.&lt;br /&gt;"Tak akan! Tak akan! Cukup sekali dan itu tak akan terulang lagi." kata-kata Glen, sekali lagi menghangatkan hatiku yang membeku selama 2 bulan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu ... indah ... sakit ... indah ... Ah, biarlah .. yang penting sekarang aku telah kembali meraih cinta itu ke dalam rangkulan jiwaku. Taman kota mungkin akan terus aku datangi, namun tidak dengan kesedihan. Aku akan membagi kebahagiaan ini bersama taman kota, yang selama ini terus kulimpahi dengan kesedihan dan kepedihan. Cinta itu telah kembali, menyatu erat dengan cinta yang ada di hatiku. Cinta itu ... sejuta rasa yang akan ditimbulkan oleh cinta. Aku cinta Glen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuteh, 31 maret 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108148235112274684?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108148235112274684/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108148235112274684' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108148235112274684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108148235112274684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/04/cinta-itu.html' title='Cinta  Itu ...'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-108053776609887843</id><published>2004-03-29T14:22:00.000+09:00</published><updated>2004-03-29T14:26:19.996+09:00</updated><title type='text'>LUV part.4</title><content type='html'>Minggu siang yang cerah, cenderung panas. Flo dan Lisa siap-siap berangkat. Sesuai janji, Cova akan menunggu mereka terlebih dahulu di TP. Cowok itu sekalian nunut mobil temannya. Flo nampak manis meskipun kesan mandirinya tetap melekat dalam diri gadis Flores berkulit hitam manis itu. Rambutnya yang berpotongan shaggy dibiarkan lepas. Jeans belel, sepatu kanvas dan ransel adalah pakaian kebesaran gadis itu bila keluar rumah. Entah itu ke kampus, ke rumah teman, atau ke mall seperti siang ini. Lisa, terlihat lebih feminin dengan balutan rok jeans dan tank top yang dipadu cardigan. Kedua kakak beradik itu segera menuju TP, naik angkot dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun di KFC, samping TP, keduanya jalan sebentar ke TP. Di depan Mc Donald dah ada Cova. Ya ampun, Flo menahan degup jantungnya yang bedetak ga berirama dan lebih kencang saat melihatnya. Cakep bener! Cool banget si Cova. Hati Flo seperti dialiri listrik, dia cinta sama Cova!&lt;br /&gt;"Heii .. dari tadi Va?" tanya Lisa. Cova mengangguk sambil melirik Flo yang pura-pura mengalihkan pandangannya ke tempat lain.&lt;br /&gt;"Lumayan kak. Mau sms-in tadi, tapi ga jadi, nunggu aja deh, sambil cuci mata." jawab Cova santai. Spontan Flo nyeletuk.&lt;br /&gt;"Masih mau cari cewek jawa yah?" Cova melotot, Flo tersadar. Aduh, untung nama Ningsih ga sampai terucap tadi. Gimana kalau Lisa sampai tau? Berabe dah. Flo bungkam.&lt;br /&gt;"Loh kok cewek jawa, apa adik kakak masih kurang Va?" tanya Lisa sambil mengajak keduanya masuk.&lt;br /&gt;"Ngg suka kan ga berarti cinta kak." jawab Cova cepat sambil matanya melotot ke arah Flo. Flo hanya bisa membalas dengan tampang bersalah yang ga habis-habisnya.&lt;br /&gt;"Oh gitu, awas loh eheehe." seru Lisa lagi. Mereka tertawa. Aroma musk Cova menyengat hidung Flo, Cova tercinta!!&lt;br /&gt;Mereka putar-putar, dari lantai satu ke lantai dua, dan seterusnya. Dari tp 1 ke tp 2 dan 3 dan seterusnya. Capek putar-putar, cuci mata, liat barang bagus, ngecengin cowok cewek, trus mereka turun lagi ke lantai dasar, ke Cimo Cimi, tempat favorit Lisa kalau dia ke tp. Tempatnya asyik. Dekat sama texas, trus dindingnya terbuat dari kaca, jadi sambil hang out, makan dan minum, mata bisa jelalatan liat keluar, merhatiin orang yang jalan. Seru deh pokoknya.&lt;br /&gt;"Eh, kakak ke toilet bentar, kebelet." Lisa meninggalkan Cova dan Flo berdua disitu. Hati Flo mulai ga tenang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Flo..." Cova mencoba mencairkan kebisuan diantara mereka.&lt;br /&gt;"Maap Va, saya ga sadar tadi ngomong ..." sambar Flo sebelum Cova selesai bicara. Cova menggeleng kuat.&lt;br /&gt;"Bukan soal itu. Ini soal kita." ujar Cova cepat. Flo terbeliak. Soal kita? Soal hubungan mereka?&lt;br /&gt;"Maksutmu?" tanya Flo. Bukannya pura-pura bego. Flo sebenarnya sudah bosan dengan semua ini. Bosan menunggu cintanya terbalas oleh cowok ganteng yang timur banget wajahnya, yang bikin cewek-cewek di Cimo Cimi siang itu menatap dengan tatapan iri. Apalagi tragedi di kost-an Cova sore itu, ciuman yang dahsyat! Ciuman yang membuat Flo berharap Cova telah meninggalkan Ningsih dan telah mulai mencintai dirinya.&lt;br /&gt;"Maksut saya ... hmmm saya dan Ningsih telah pisah .." Flo kaget juga mendengarnya meskipun ada harapan dihatinya untuk itu. Flo menatap mata Cova lekat-lekat.&lt;br /&gt;"Lalu?!" tanya Flo.&lt;br /&gt;"Ga ada lalu, ga ada lanjutan. Just broke! Like glass fall down on the floor." jawab Cova. Flo bingung, hatinya senang mendengar hal itu, tapi apakah dengan putusnya hubungan mereka Cova bisa berbalik mencintainya, memenuhi tuntutan cincin tunangan yang melingkar di jari mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Flo .. hei, kok ngelamun?" tanya Cova. Flo tersadar. Dulu atau sekarang, pesona makhluk ganteng di hadapannya ini tak pernah pudar, meskipun dirinya telah berusaha sekuat mungkin melupakannya. Menghindar agar tidak bertemu berminggu-minggu memang cukup membantu. Namun begitu mereka bertemu lagi, melihat sosok Cova lagi, getaran itu langsung terasa, ga berkurang sedikitpun porsinya. &lt;br /&gt;Cova menatap wajah Flo di depannya. Wajah yang flores banget, dengan rambut ikal di shaggy, dengan senyum manis menawan. Seperti bidadari Sanua yang turun dari langit. Bidadari .. Cova mencoba tersenyum, bidadari yang dilupakannya kah? Flo memang bidadari untuknya, masa sekolah yang membahagiakan. Bagaimana Flo dengan berbaik hati mau membantunya ngerjain pe er atau belajar bersama, mengisi otaknya yang kosong dengan pengetahuan. Masa smp dan smu yang menyenangkan. Sampai Ningsih pindah ke Ende, mengisi sisi hatinya yang lain. Ningsih adalah kekasih untuk satu sisi hatinya dan Flo adalah bidadari untuk sisi hati yang lain. Kini sisi kekasih itu telah punah untuk Ningsih. Cewek jawa yang dulu dikejarnya setengah mati! Cova menatap wajah Flo di hadapannya lagi, mau kah bidadari ini mengisi sisi itu? Melengkapinya dengan cinta pula? Cinta dari wanita terhadap laki-laki, bukan cinta dari seorang misan kepada misan lainnya. Hidupnya tanpa Flo ga berarti. Hidupnya tanpa Ningsih masih berarti. Kenapa matanya buta selama ini?! Kenapa mata batinnya juga ikut-ikutan buta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka duduk dalam diam. Lisa masih belum muncul. Cova kembali bersuara.&lt;br /&gt;"Flo, saya mau bicara serius .. boleh?" tanya Cova akhirnya. Flo menatap wajah Cova lekat-lekat dan mengangguk.&lt;br /&gt;"Boleh .." jawabnya.&lt;br /&gt;"Soal cincin ini, soal kita, soal tunangan ..." Cova menggantungkan kalimatnya. Flo menanti harap-harap cemas.&lt;br /&gt;"Y..yaa .. kenapa?" tanya Flo lagi. Cova menarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;"Flo .. kamu cinta saya?" tanya Cova blak-blakan. Flo terdiam. Pertanyaan macam apa itu! Kalau dijawab, ya, Flo jujur, perasaannya ke Cova memang seperti itu. Tapi .. Cova melanjutkan.&lt;br /&gt;"Flo, saya mencintaimu." Flo kaget. Itu pernyataan yang ditunggunya sekian lama! Melewati hari-hari senang dan sedih selama ini, untuk hal ini!&lt;br /&gt;"Cova?" Flo mencoba mencerna kata-kata yang selalu dinantinya itu baik-baik.&lt;br /&gt;"Kenapa? Terlalu cepat ya? Setelah putus sama Ningsih, saya lalu bilang cinta ke kamu? Hal yang saya sendiri ga ngerti kok Flo. Saya selama ini buta sama cewek jawa, saya selama ini menjadi pengejar cinta, padahal cinta yang sebenarnya itu ada disini, di hadapan saya. Flo, sulit bagi saya untuk menjelaskan perasaan saya." Cova menatap mata Flo dalam. Mencoba mencari jawab disitu. Benarkah seperti kata Ningsih saat masih sekolah dulu, Flo sebenarnya mencintainya?&lt;br /&gt;"Cova, .. I've been waiting for that sentences for a long time .. sure .. for a long time Va .." mata Flo berkaca-kaca. Cova meraih tangan Flo lembut, meremasnya dan menjanjikan cinta di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisa muncul seperti sebuah skenario filem, tepat saat mendebarkan berlalu. Tangan keduanya masih bersatu dalam genggaman lembut.&lt;br /&gt;"Nah ya .. " goda Lisa dengan kedipan mata. Flo menarik tangannya cepat. Wajah cewek hitam manis itu memerah.&lt;br /&gt;"Kakak kok lama sih ke toilet." tanya Flo, sekedar mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;"Oh, tadi ketemu teman kakak di atas, jadi agak lama hehehe." mereka tertawa. Tawa yang diartikan lain oleh Cova dan Flo, tawa bahagia. Setelah mengisi perut, mereka memutuskan untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah kisah drama romantis, selalu berakhir dengan happy ending, ya kan? Malam ini di balkon kost Cova, cowok ganteng itu tengah sms-an sama Flo, misan yang selama ini selalu menemaninya ibarat cahaya yang tak pernah pendar dimakan waktu. Sesuatu yang dirasakan dalam hatinya mencuat, itu kah cinta? Cinta untuk Flo, yang selama ini tertutup kabut cintanya pada Ningsih? Cova menatap bintang-bintang di langit sambil berbisik "Thanks God."  Di kamar kost Flo, gadis itu sedang membalas sms-sms Cova yang lucu dan menggoda, tentu saja dengan volume sms yang nol persen kecuali getarnya. Soalnya Flo ga mau sms-an nya mengganggu Lisa yang tengah belajar, berkutat dengan buku-buku tebal yang ga dipahaminya. Dalam hati Flo berbisik "Thanks God, finally you give him to me." Flo tersenyum sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tuteh, 4 Maret 2004&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-108053776609887843?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/108053776609887843/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=108053776609887843' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108053776609887843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/108053776609887843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/03/luv-part4.html' title='LUV part.4'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-107974834202989154</id><published>2004-03-20T11:05:00.000+09:00</published><updated>2004-03-20T11:09:03.543+09:00</updated><title type='text'>LUV part.3</title><content type='html'>Ini hari Rabu, hari yang ditunggu Cova karena Ningsih berjanji akan datang ke Surabaya menemuinya. Pagi-pagi cowok itu bangun dan membersihkan kamar kostnya lalu mandi. Tak lupa membawa pakaian kotor ke tukang cuci. Maklum, kost Cova ga seperti kost Lisa dan Flo yang punya jasa laundrynya. Biarpun begitu, Cova enjoy kok. Lagi pula teman-teman kostnya asik-asik semua. Anak gaul yang paling tau tempat nongkrong asik di kota buaya ini. Sehabis beres-beres dan mandi, Cova berjalan kaki ke RSJ Menur. Lima menit dirinya telah nampak duduk menunggu dibawah pohon johar yang rimbun sepanjang jalan. Duduk mengaso di trotoar Cova memperhatikan sekitar, angkot yang lewat, becak, para mahasiswa dan tak lupa motor. Cova teringat tiger 2000 merah miliknya di Ende yang saat ini pasti dipakai ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit Cova menunggu, dia kehausan. Chek hp, jam sepuluh kurang lima menit, harusnya sosok Ningsih telah ada dalam pelukannya sekarang. Cova beranjak dari situ menuju warung di seberang jalan untuk membeli rokok dan sebotol coca cola. Duduk di bangku warung memperhatikan seberang jalan. RSJ Menur berdiri dengan megahnya. Siapa yang tau kalau di dalam gedung itu terdapat ratusan orang sakit jiwa? Cova terkekeh sendiri. Cowok itu mengamati semua angkot yang berhenti di sekitar pagar rumah sakit. Namun sosok Ningsih belum datang juga. Dihisapnya rokok dalam-dalam, menikmati aroma djisamsoe yang jantan. Itu lah salah satu alasan mengapa Cova memilih kost yang jauh dari Flo dan Lisa, biar dirinya bisa menikmati rokok sepuasnya. Baru kemudian Cova teringat, kenapa tidak di smsnya sang pujaan hati? Dengan tampang blo'on Cova memencet tombol hp nya. =Ningsih, kamu dimana?= Namun sayang, pesannya gagal, tak terkirim, dengan kata lain, Ningsih sedang menonaktifkan hpnya.  Cova mendengus kesal. Dimatikannya hp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duapuluh menit lewat dari jam sepuluh, nampak sebuah mobil, mazda, berhenti di tempat Cova duduk tadi. Mata Cova menyipit, seorang wanita turun dari dalam mobil. Itu kan Ningsih?!!! Cova berdiri dan Ningsih saat itu pas melihatnya. Gadis jawa yang semakin ayu dan feminin itu menyeberang jalan menghampiri Cova. Hampir saja Cova memeluk Ningsih kalau tidak diingatnya ini di tempat umum!&lt;br /&gt;"Ningsih!!!" teriak Cova, padahal gadis itu tinggal lima langkah lagi mendekatinya.&lt;br /&gt;"Pst Cova .. jangan ribut! Bersikap biasa yah ... Cova, duduk lah, saya perlu bicara padamu." Cova nampak bingung.&lt;br /&gt;"Bersikap biasa bagaimana? Eh, kita ke kost yuk ..." ajak Cova tak sabar, namun Ningsih menggeleng pasti.&lt;br /&gt;"Cova, saya ga punya waktu banyak. Ini hal yang saya sembunyikan dari kamu selama ini, dalam sms dan telepon kamu. Cova ... saya kesini bersama suami saya, dia menunggu di mobil. Saya tadi bilang mau ketemu teman lama, dan dia bersih keras mengantar. Cova, maafkan saya yah .. saya harus menemui kamu sendiri untuk bicara, saya ga mau lewat telepon atau sms. Saat pulang kemarin, saya dijodohkan eyang kakung sama kerabatnya, saya ga bisa menolak Va, itu keputusan keluarga." bicara Ningsih cepat, tanpa nada, datar dan seperti dikejar setan. Cova seolah melihat hantu dihadapannya. Jijik pada kebohongan Ningsih selama ini! Cova ga mau bicara, menanggapi pun enggan.&lt;br /&gt;"Cova, .. maafkan saya .. saya pamit .. saya ga mau suami saya curiga." Ningsih bangkit dan berlalu.&lt;br /&gt;"Jangan pernah hubungi saya lagi, kamu bagi saya sudah mati!" kata-kata itu meluncur keras dari bibir Cova. Ningsih ga menoleh lagi, masuk ke mazda dan hilang seiring dengan berlalunya mazda dari situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati Cova garang bukan main. Ini kah cinta seorang gadis jawa yang selalu diagungkannya?! What a suck! Dirinya seperti barang rombeng yang dibuang ke tempat sampah tanpa ampun. Semua angan-angannya tentang kebersamaannya dan Ningsih kini terbang, hilang dikaburkan angin, menguap oleh panasnya Surabaya. Dalam hitungan menit, Ningsih merubah cintanya menjadi angkara tak bertepi. Cova tak langsung pulang ke kost. Diikuti kemana arah hatinya ingin pergi. Naik angkot dari Menur, Cova turun di Sahid dan berjalan kaki menuju Delta Plaza. Hingar bingar plaza membuat hati Cova tambah kesal. Naik turun eskalator, sempat mengisi perutnya di Pujasera, Cova jalan tanpa arah. Hatinya begitu benci melihat gadis-gadis jawa dengan dandanan modis hilir mudik tanpa tujuan. Tsah!! Jalan tanpa arah, sebentar sudah di lantai satu, lalu tiba-tiba di lantai empat. Cova seperti orang linglung. Lalu masih dengan rasa marah di hati, menjelang sore Cova akhirnya pulang. Jalan kaki lima menit ke Sahid, dan naik angkot dari situ ke Menur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba depan kost, Cova melihat Flo! Untuk apa Flo kemari? Flo menatap Cova garang. Buang waktu dari tadi hanya untuk menunggu kedatangan misannya ini. Hatinya, masih ga bisa berbohong, melihat sosok Cova, cinta yang terkubur itu seolah ingin bangkit dan berteriak.&lt;br /&gt;"Cova! Dari mana saja kamu?! Saya telpon ke hp ga masuk-masuk dari tadi." semprot Flo kesal. Rupanya gadis itu telah menunggu lama. Di meja teras kost terdapat satu cangkir teh yang telah kosong.&lt;br /&gt;"Apa urusanmu?!" bentak Cova. Flo menggeram marah. Dilemparinya bungkusan ditangannya ke tubuh cowok itu.&lt;br /&gt;"Nih!!!! Saya kesini hanya mau bawain kiriman dari tante Ratna untuk kamu karena kebetulan hari ini saya ada kuliah siang!" Flo meraih ranselnya dan berlalu. Namun Cova lebih gesit menyeret tangannya masuk ke kost yang juga di tingkat dua, bedanya, tangga ke tingkat dua itu terletak di luar rumah. Flo berusaha melepaskan cengkeraman tangan Cova. Kesetanan Cova menghempaskan Flo di kasur dan kemudian menindih gadis itu. Dengan beringas bibir Cova menyerang wajah manis Flo. Awalnya Flo kaget, bengong. Aroma musk Cova yang jantan seperti melumpuhkan persendian tubuhnya. Namun kesadarannya pulih, dia berontak lagi, keras dan berusaha teriak, namun bibir Cova dengan buas membungkam bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cova ga berbuat lebih jauh dari itu. Sampai Flo lemas, menyerah pada tenaganya yang terkuras, ciuman Cova mengendur. Cova tersadar melihat air mata di pipi misannya.&lt;br /&gt;"Cova, kenapa kamu lakukan ini?! Hargai saya! Hargai saya please!" Flo menangis di sudut ranjang, sedang Cova duduk lesu dihadapannya. Cova menatap Flo dalam.&lt;br /&gt;"Maaf, saya terbawa emosi tadi. Tapi, toh kamu senang juga kan?! Menurut isu yang saya dengar, kamu mencintai saya ..." sekilas kata-kata Ningsih di lapangan basket saat masih smu dulu, melintas di benaknya. Flo terkejut mendengarnya. Apa Cova bisa merasakan teriakan cinta dihatinya?!&lt;br /&gt;"Ga pantas Cova!!!!!" Flo menghapus air matanya.&lt;br /&gt;"Apanya yang ga pantas? Kita toh sudah tunangan dan ga ada yang berani melarang saya untuk berbuat itu!" Flo terperangah. Tunangan? Hal yang sejenak dilupakannya itu terngiang di telinga. Dilihatnya cincin tunangan di jarinya. Cincin itu juga masih ada di jari Cova.&lt;br /&gt;"Saya pulang .." Flo bangkit. Cova menahannya.&lt;br /&gt;"Saya antar. Rapihkan dulu pakaian dan rambutmu ... saya ambil bungkusan tadi dibawah." Cova keluar kamar, mengambil titipan yang dibawa Flo tadi. Untungnya, sore itu teman-teman Cova ga nampak batang hidungnya. Kalau ga kuliah, paling juga ke warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang maghrib mereka sampai di kost. Nampak banyak pasien yang mengantri. Flo sempat menyapa dokter Feri, dokter muda cakep yang praktek disitu. Cova masih ingin ikuti langkah Flo.&lt;br /&gt;"Tidak Cova, disini teman cowok ga boleh masuk kluar bebas. Pulanglah, apa pun yang terjadi tadi, lupakan." Flo bilang permisi pada para pasien dan naik ke tingkat dua. Masuk ke kamar, Lisa tengah membaca buku.&lt;br /&gt;"Hei! Kok pulangnya rada telat?" tanya Lisa. Flo ga tau harus bilang apa. Mengantar kiriman Cova? Kenapa bisa lama begitu? Flo merutuki dirinya sendiri, sebenarnya dia bisa saja menitipkan bungkusan itu pada pemilik kost yang berusia senja, namun ada sisi hatinya yang menolak. Dirinya menunggu.&lt;br /&gt;"Uhm, tadi masih diajak Cova jalan-jalan kak." jawab Flo senormal mungkin.&lt;br /&gt;"Bagus lah kalau begitu. Kalian ini tunangan, tapi kakak ga pernah sekalipun melihat Cova jemputin kamu ke sini atau telpon. Gitu dong, kalau sudah tunangan itu, harusnya lebih mesra! Kalian berdua kebanyakan diamnya sih!" nasihat Lisa mau tidak mau membuat Flo tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mandi. Lama di kamar mandi, memperhatikan wajahnya di cermin. Bibir itu, tadi baru saja dilumat habis oleh bibir Cova. Flo gamang, senang kah? Atau harusnya marah? Cova punya dalih, boleh melakukan itu, karena toh mereka telah terikat cincin tunangan. Tapi cara Cova yang kasar tadi membuat otak Flo berpikir keras. Kenapa? Hal itu pantas, bila tanpa paksaan seperti tadi. Flo berontak, ga ingin diperlakukan semena-mena oleh Cova. Tadi Cova nampak marah .. marah pada siapa? Flo menggeleng lesu, menyelesaikan mandinya dan memesan satu jus tomat di kantin mini. Dibawanya gelas jus itu ke kamar.&lt;br /&gt;"Mau kak?" tawarnya ke Lisa. Lisa menggeleng.&lt;br /&gt;"Ga usah, makasih. Kakak harus belajar keras, besok ada ujian. Kamu minum aja, nanti jam delapan kita cari makan di luar, oke? Sekarang kakak belajar dulu." Flo mengangguk setuju, tiduran di kasur. Besok ada kuliah pagi, namun enggan rasanya kalau harus bangun pagi-pagi untuk kuliah jam setengah delapan itu. Tak berapa saat Ruly meneleponnya, disusul kemudian sms dari Nia. Flo senang pada kedua temannya itu. Merek bertiga selalu kompak. Hp Flo bergetar ... dirinya sengaja ga pakai nada, takut mengganggu konsentrasi belajar kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=Flo, maafkan saya. Sikap saya tadi sore, memalukan. Besok kuliah apa? Saya mau ngajak kamu keluar==Cova Hp. Flo membaca sms itu berulang kali. Angin apa gerangan yang menggerakkan hati cowok itu untuk sms? Flo menarik napas panjang. Jerit-jerit kecil dari dasar hatinya kembali menguak setelah sekian bulan diterlantarkan. Ciuman Cova kembali melintasi benaknya. Flo merutuki dirinya lagi. Rasa cinta itu ga bisa pergi juga dari hatinya. Cova adalah malaikat pelindung yang 'dulu' selalu menjaganya tanpa letih. Cinta itu tumbuh dengan bebasnya, sampai Ningsih masuk dalam ruang gerak mereka. Flo merasa tersingkir dan berusaha mengubur cinta itu dalam-dalam. Sayang, cinta itu tak mau pergi juga. Bahkan setelah kejadian yang cukup memalukan tadi, dia seakan bersemi lagi dan lagi di dalam hati Flo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan yuk!" Lisa membuyarkan lamunannya. Flo meraih sandal dan mengikuti kakaknya keluar kost menuju warung nasi goreng yang aromanya tercium kemana-mana. Flo memilih nasi goreng biasa, ga pakai telur ceplok, bukan nasgorkam apalagi pakai ayam goreng crispy. Sedangkan Lisa memilih nasgorkam yang nyumi itu. &lt;br /&gt;"Gimana kuliahmu Flo? Lancar?" tanya Lisa saat pesanan telah di depan mata. Flo menyeruput teh botol.&lt;br /&gt;"Lancar kak. Bahkan terkesan saya lah yang paling pintar di kelas hehehe. Semua mata kuliah yang saya ambil rasanya tak begitu sulit." jelas Flo sembari mengunyah.&lt;br /&gt;"Baguslah kalau begitu. Kalau ada kesulitan apa-apa, tanya ke kakak saja, kalau kakak bisa, pasti dibantu deh. Oke? Oh iya, hari minggu nanti kita jalan-jalan ke TP yuk! Cuci mata sekaligus bikin fresh otak. Puyeng nih kakak belajar terus." tawar Lisa. Mata Flo berbinar.&lt;br /&gt;"Asikkk boleh boleh. Saya terhitung dua kali ini dong ke TP hihihi. Kampungan banget yah kak?" ujar Flo cekikikan. Lisa tertawa sambil mengacak rambut adiknya.&lt;br /&gt;"Itu justru bagus! Artinya kamu sungguh-sungguh kuliahnya! Ingat, perusahaan orang tua kita membutuhkan tenaga handal sepertimu utnuk memanage dan melanjutkan usaha mereka kelak." Flo mengangguk mantap.&lt;br /&gt;"Nanti sekalian ajak Cova. Kita bertiga saja ke sana." Cova .... Flo kembali teringat pada ciuman itu. Hatinya bergetar, seperti ada arus listrik yang masuk ke dalam tubuhnya. Flo seperti melayang bila mengingatnya. Tapi dihati Cova ada Ningsih. Flo tau, Cova lebih menyukai cewek jawa, bahkan mencintai Ningsih setengah mati. Dari mana Cova tau kalau dirinya mencintai cowok ganteng itu? Flo ingat kata-kata Cova tadi, "Maaf, saya terbawa emosi tadi. Tapi, toh kamu senang juga kan?! Menurut isu yang saya dengar, kamu mencintai saya ..." Whatever Cova .. saya memang mencintai kamu, dan sialnya cinta ini tak mau pergi juga meskipun telah diusir!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengisi perut, Lisa dan Flo pulang ke kost. Sempat ngobrol sebentar sama Wilda dan Heni, dua teman mereka di lantai atas. Saling goda dan ketawa ketiwi. Saat jam di ruang bawah berdentang sepuluh kali Lisa benar-benar menguap dan keduanya pamit tidur.&lt;br /&gt;Malam itu Flo ga bisa tidur. Pikirannya melayang ke langit ke tujuh, delapan, sembilan dan seterusnya. Kejadian tadi lagi-lagi mengganggu pikirannya dan membuatnya ga bisa memejamkan mata. Diingatnya ajakan Cova untuk keluar besok, Flo meraih hpnya mengirim satu sms ke Cova =Va, jalan2nya nanti hari minggu, sekalian keluar sama kak Lisa=, terkirim. Lewat tengah malam baru gadis itu bisa tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari situ, di kost Cova, cowok itu tengah melamun, duduk di balkon dan menatap bintang yang bertaburan di langit. Tumben malam itu banyak bintang. Langit Surabaya yang tercemar biasanya enggan disinggahi bintang. Pikiran Cova kembali pada kejadian hari ini. Pada Ningsih yang sekarang dibencinya bukan main! Hasratnya pada cewek jawa hilang sudah. Kebohongan gadis itu membuat Cova geram bukan main. Sialnya saat hatinya masih kesal, Flo malah melemparinya dengan bungkusan yang isinya satu kaleng sambal goreng hati kegemarannya dan kripik pisang yang selalu dicemilnya di Ende. Juga ada surat dari ibunya yang mengharapkan hubungannya dengan Flo baik-baik saja. Cova diharapkan bisa menjaga Flo dan Lisa tentunya selama di Surabaya. Hampir saja tadi dia tak mampu memenuhi permintaan isi surat ibunya yang telat dibaca itu. Cova ingat bagaiman Flo memohon padanya untuk menghargai gadis itu. Menghargai perasaannya kah? Betulkan kata Ningsih dulu. kalau Flo sebenarnya mencintai dirinya? Sikap marah Flo saat mereka jadian rasanya cukup membuat pikiran Cova terbuka. Cova menghabiskan lima batang rokok sebelum akhirnya diserang kantuk dan masuk kamar. Ketika hampir tertidur, hpnya berbunyi =Va, jalan2nya nanti hari minggu, sekalian keluar sama kak Lisa= Cova trus tertidur, mimpi ... diterbangkan ke alam mimpi yang tak terjamah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;To be continued!!&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-107974834202989154?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/107974834202989154/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=107974834202989154' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107974834202989154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107974834202989154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/03/luv-part3.html' title='LUV part.3'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-107966967723761726</id><published>2004-03-19T13:14:00.000+09:00</published><updated>2004-03-19T13:17:57.390+09:00</updated><title type='text'>LUV  part. 2</title><content type='html'>Km Titian Nusantara membelah lautan lepas. Di kapal, Cova beda kamar dari Flo, namun yang menyakitkan, Cova membiarkan Ningsih sekamar sama Flo. Flo lebih banyak diam, tidur dan keluar sendiri mengelilingi kapal besar bermuatan hampir 50 buah truk Fuso. Truk besar milik perusahaan ekspedisi dari Flores. Flo menghirup angin laut yang menerbangkan rambutnya. Menatap kosong pada lautan biru dan pulau-pulau yang nampak dari kejauhan. Sedapat mungkin dirinya menghindari kontak bicara dengan Ningsih dan Cova. Hatinya sakit. Inilah akibat yang harus ditanggungnya bila ingin terus melanjutkan kuliah. Flo mendesah .. pasrah pada keadaan dan nasib yang menaunginya. Kaleng Coca cola ditangannya telah kosong, dibuangnya ke tempat sampah. Flo mengelilingi kapal lagi, dari dapur ke kantin, dari kantin ke mushola, dari mushola ke ruang hiburan .. terus ke dek-dek, naik turun tangga, melepaskan beban di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan hatinya mulai tumbuh benih cinta pada Cova? Sejak mereka sd, smp atau smu? Barangkali sejak sama-sama smu. Saat itu Cova memang tumbuh menjadi sosok yang memukau matanya. Setiap hari, dijemput Cova ke sekolah dengan Tiger 2000 dan diantar pulang kembali. Tak jarang Cova mengajaknya jalan-jalan keliling kota kecil Ende dengan tiger merah itu. Hati Flo berbunga-bunga. Cova menyebutinya dengan nama Flo sejak smp. Saat itu darah jahilnya tumbuh dan lebih suka memanggil Floresian dengan Flo. Flo menyukainya, nama yang manis. Memang bukan rahasia lagi kalau Cova tergila-gila pada semua hal yang berbau jawa. Termasuk menyukai gadis belia keturuan jawa yang bertaburan bagai bintang di langit. Ningsih, pindah ke Ende ketika ujian kenaikan kelas dua hampir dimulai. Wajahnya yang ayu, kulitnya yang putih bersih, dan tutur katanya yang halus langsung membuat Cova tak bergeming bila sedang memandangnya. Dan akhirnya menjelang Ebtanas, Cova mampu meraih bintang di langit, mendapakan cinta Ningsih. Flo mendesah ... Dua hari sudah perjalanan ini. 48 jam berlalu, saatnya Titian Nusantara berlabuh di pelabuhan Perak Surabaya, gudang Zamrud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Perak Surabaya Flo mengangkut ransel besarnya. Gadis Flores harus bisa mandiri. Untunglah, yang dibawa Flo hanya itu. Di pelabuhan Perak, kak Lisa telah menanti kedatangan adik perempuan satu-satunya itu dan Cova, misan mereka. Wajah Lisa tak beda jauh dari Flo, namanya juga saudara kandung, hanya saja rambut Lisa dibiarkan tergerai sampai ke punggung. Sedangkan Ningsih terus naik bis ke Sidoarjo bersama salah seorang saudaranya yang menjemput. Flo bertekad, mulai hari ini, saat kakinya menginjak pulau Jawa, tak boleh dirinya dekat-dekat Cova lagi, meskipun hatinya ingin. Dirinya harus bisa, apa pun yang terjadi harus mampu membiarkan cowok itu berkutat dengan hidupnya sendiri dan cintanya pada Ningsih. Flo menarik napas panjang. Sesuatu yang baru akan dimulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Lisa membawa Flo ke kostnya di bilangan Ngagel, sedangkan Cova dititipkannya pada salah seorang cowok Flores yang kostnya tak terlalu jauh dari situ. Kamar kak Lisa berada di tingkat dua, berderet dengan lima kamar lainnya. Tak ada kamar mandi dalam, semuanya mandi di kamar mandi umum. Teman-teman kost kak Lisa baik-baik, Flo menyukai mereka. Pada lantai satu terdapat tujuh kamar lagi. Lima kamar di isi anak kost, dua kamar khusus bagi para dokter beristirahat. Dokter? Ya, lantai satu juga merupakan tempat prakter tiga orang dokter di bidang akupuntur modern. Disamping tempat praktek terdapat satu toko kosmetik dengan Marisha Haque sebagai modelnya, kosmetik bernuansa islami itu terus menslogankan kata halal untuk setiap produknya. Otomatis, setiap pergi dan pulang di sore hari, anak-anak kost kadang melewati para pasien yang mulai antri sejak jam dua siang. Di dekat kamar praktek terdapat dapur mini, seperti kantin mini yang dikelola oleh istri salah seorang dokter. Dijual berbagai macam juz, roti panggang juga indomie siap saji. Tempat yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melepas lelah dan mandi, Flo diajak Lisa makan di warung depan kost. Sambil makan mereka saling bercerita dan melepas rindu.&lt;br /&gt;"Kenapa memilih Stiesia sih Flores .. " Lisa masih saja memanggil Flo dengan Flores, bukan Flo, seperti yang lainnya. Baginya nama Floresian itu indah.&lt;br /&gt;"Uhm, ya pengen saja. Ugh kakak, masa manggil Flores sih, Flo dong! heheh. Ya pengen aja sih kak kuliah di Stiesia. Pernah kakak kelas yang kuliah di situ datang ke sekolah, mempromosikan Stiesia di hadapan kami. Ya sudah, saya langsung terpikat." Lisa mencubit gemas pipi adiknya. Tak berapa lama hp Lisa berbunyi. Flo membiarkan kakaknya membalas sms yang masuk itu sembari menikmati nasi ayam yang lumayan enak. Surabaya yang panas. Lisa segera meneguk teh botolnya cepat-cepat.&lt;br /&gt;"Flo, kita ke tempat Martin yuk. Cova kayaknya kelaparan disana, kata Martin barusan, dirinya sama sekali ga nyediain makanan penyambutan. Padahal kakak tau, Martin itu memang kere, awal bulan saja sudah kere, apalagi akhir bulan! Ayuk! Eh eh .. bentar .. bu, pesen nasi dua dibungkus yah." Lisa memesan nasi bungkus dua untuk Martin dan Cova. Setelah membayar, Lisa mengajak Flo ke kost Martin. Flo menghabiskan minumnya dan mengikuti Lisa. Hatinya tak tenang, mengingat ada Cova disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kost Martin hanya berjarak dua blok dari kost Lisa. Berjalan kaki sepuluh menit keduanya sampai. Yang pertama dirasakan Flo adalah pandangan mata para penghuni kost cowok yang nakal. Lisa cuek saja sambil berbisik.&lt;br /&gt;"Ga usah ditanggapi kalau ga suka, oke?" Flo mengangguk pelan. Disitu mereka diperbolehkan langsung masuk ke kamar Martin. Cova nampak santai tiduran di kasur Martin, dan Martin sedang asik di depan komputer.&lt;br /&gt;"Hoi!! Kalian berdua ngapain? Belum makan? Cova, temen kakak yang satu ini memang kere, jadi kamu harus nahan lapar hehehehe." gurau Lisa.&lt;br /&gt;"Aduh kak Lisa, kenapa ga bilang dari tadi sih .. kak Martin juga, kenapa diam-diam saja, kan Cova bisa ngajak kak Martin keluar makan." seloroh Cova, merasa tak enak juga sama Martin.&lt;br /&gt;"Just, take it easy lah!" Martin mematikan komputer dan gabung dengan ketiga saudara itu lesehan di karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah Martin, ini adik saya, Flo namanya. Dia nanti kuliahnya di Stiesia." Martin manggut-manggut. Tapi dalam hati kecil Flo yakin, teman kakaknya ini sebenarnya tengah menahan lapar, dan dia pun tersenyum.&lt;br /&gt;"Tapppiiiii jangan sembarangan kamu, Flo dan Cova telah tunangan bertepatan dengan hari kelulusan mereka, unik bukan? Menurut cerita ibu lewat telepon, Flo dan Cova memang sudah dijodohkan sejak lahir. Beda usia hanya dua bulan, udah gitu sama-sama lahir saat subuh. Makanya orangtua kami ngotot menjodohkan mereka heheeh." jelas Lisa panjang lebar. Martin manggut-manggut lagi. Flo menunduk, enggan menanggapi urusan tunangan ini. Sedangkan Cova mengeraskan rahangnya ... Lisa masih terus berceloteh sampai ga terasa satu jam sudah mereka menghabiskan waktu dengan dominan cerita dari Lisa. Hati Flo bergelora oleh cinta, namun ditekannya perasaan itu kuat-kuat ke dasar hati yang paling dalam.&lt;br /&gt;"Eh kak, kok nasinya dibiarkan saja? Kasihan tuh kak Martin, keliatannya lapar banget." bisik Flo akhirnya. Lisa seolah tersadar dan tertawa.&lt;br /&gt;"Aduh maaf ya .. sampai lupa kalau tadi bawain kalian nasi bungkus. Dimakan yah, kita pamid dulu." kedua gadis kakak beradik itu pamit pada penghuni kost yang lain dan pulang, dengan janji keesokan harinya mencarikan kost buat Cova. Lisa merasa tak enak bila Cova harus terus nebeng di kamar Martin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian masuk yang cukup melelahkan bagi Flo, namun untunglah namanya terpampang jelas di papan pengumuman sebagai mahasiswi yang diterima. Sedangkan Cova, tak ada satu pun ujian yang diikutinya berhasil. Atas anjuran pak Jack, Cova disuruh ikut kursus dulu, bahasa Inggris, komputer atau matematika. Apa saja, asalkan putra satu-satunya itu ga sampai menganggur di Surabaya. Mengingat kemampuan Cova dalam ketiga hal itu minus. Sebulan kemudian mereka ga ketemuan lagi. Flo sibuk sama orientasi pendidikan atau Ospek, sedangkan Cova sibuk cari-cari tempat kursus. Tapi Flo tau, Cova lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menelepon Ningsih di Sidoarjo. Apalagi saat keduanya dibelikan hp baru berikut nomornya, Cova lebih leluasa meng-sms Ningsih. Meskipun hanya lewat sms atau missedcall, namun hati Cova bahagia rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flo sendiri lebih suka menghabiskan waktunya di kamar kost. Kuliah belum betul-betul dimulai. Apalagi kesibukan Lisa sebagai mahasiswi kedokteran semester lima membuat waktunya tersita habis untuk urusan kuliah. Pagi jam delapan Lisa telah berangkat kuliah, soalnya Unair letaknya lumayan jauh dari kost mereka. Pulangnya sudah sore. Itu pun setelah mandi, Lisa langsung berkutat lagi dengan buku-buku tebal penuh istilah kedokteran yang tak dimengerti Flo. Flo sendiri mendapat banyak teman baru. Yang paling dekat adalah Ruly dan Nia. Kadang Flo asik sendiri dalam dunia sms dengan kedua sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cova, dengan surveinya sendiri mendapat kost di bilangan Menur Pumpungan. Sial bagi Flo, kost Cova terletak tepat disamping Stiesia. Masuk gang sih, namun rasanya kesal bila dirinya seolah dibayangi Cova terus menerus, padahal belum tentu Cova membayanginya. Cowok ganteng itu sering nampak di wartel depan gang, menelepon Ningsih, sang pujaan hati.&lt;br /&gt;"Ningsih, kapan kamu ke Surabaya? Katanya mau kuliah disini." kejar Cova suatu sore saat menelepon gadis ayu itu. Tak ada suara dari seberang.&lt;br /&gt;"Ningsih?" Cova bertanya-tanya.&lt;br /&gt;"Va, saya belum tentu kuliah di Surabaya ..." kata-kata Ningsih membuat hati Cova kesal bukan main. Ningsih tak menepati janji! Kalau tau begini, mending dirinya ga usah menahan hasrat mendekati cewek jawa yang setiap hari menjadi pemandangan utamanya.&lt;br /&gt;"Kenapa? Ningsih, saya sayang kamu, saya cinta kamu .. please, saya kangen!" hampir berteriak Cova pada kata kangen.&lt;br /&gt;"Kan kita bisa sms-an setiap hari Va." bujuk Ningsih. Cova mendengus kesal.&lt;br /&gt;"Sms saja ga bisa memuaskan semua kangen di hati saya tau! Ya sudah, kalau minggu depan ga ada kelas komputer, saya ke Sidoarjo. Alamat rumah kamu masih sama kan? Yang kamu beri saat kita masih di Ende kan?" Cova ga tahan bener menyikapi Ningsih yang lemah lembut.&lt;br /&gt;"Jangan!!!!!!!" teriak Ningsih dari seberang membuat telinga Cova berdengung. Ningsih berteriak padanya? What a hell?&lt;br /&gt;"Heh? Kenapa?!!!" balas Cova ga kalah keras.&lt;br /&gt;"Begini saja, saya yang akan ke Surabaya minggu depan, hari Rabu saya tiba disitu, oke? Naik bis ga sampai dua jam kok. Alamatmu di Menur itu kan?! Nggg tapi kita ketemuannya di depan rumah sakit jiwa saja yah Sekarang saya dipanggil bapak nih, dah." Ningsih menutup telepon tanpa memberi Cova waktu buat berkomentar. Cova membanting gagang telepon dan membayar sejumlah rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cova kembali ke kost, tiduran disana sampai malam menjelang. Ningsih!! Teriak batinnya ... Ningsih ... Cova bermimpi ... Cova pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;To be continued!!&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-107966967723761726?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/107966967723761726/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=107966967723761726' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107966967723761726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107966967723761726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/03/luv-part-2.html' title='LUV  part. 2'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-107949381721560492</id><published>2004-03-17T12:23:00.000+09:00</published><updated>2004-03-17T12:26:54.450+09:00</updated><title type='text'>LUV part. 1</title><content type='html'>Flo, disingkat dari Floresian. Flo menyukai nama kecilnya ini, nama kecil yang diberi Cova misannya, anak om Jack. Flo, gadis Flores yang unik. Tak seperti gadis lainnya yang lebih suka mementingkan urusan dandan, dia lebih memilih naik sepeda keliling Ende, kota mungil yang ramai atau sekedar nongkrong di perpustakaan mini salah seorang kerabat dekat ayahnya. Saat ini, gadis berkulit sawo matang itu duduk di kelas tiga bangku smu negeri. Dan selalu bangga menjadi orang Flores. Perasaannya pada Cova sebenarnya melebihi perasaan antara misan, namun Flo berusaha keras menutupi hasrat hatinya yang begitu besar pada sosok ganteng Cova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Flo, pak Ray dan bu Firda adalah orangtua pekerja yang giat demi anak-anak mereka. Flo anak kedua dari empat bersaudara. Kakak sulungnya, Lisa, saat ini tengah mengenyam pendidikan kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Adik setelah dirinya adalah Fiko, masih kelas satu smu. Mereka beda sekolah, Fiko lebih memilih smu Syuradikara yang terbilang paling elite dan terbonafid sekota Ende. Si bungsu Mondan masih duduk di bangku smp negeri. Kepintaran pak Ray dan bu Firda turun pada ke empat anak mereka. Semuanya cakap, pandai dan rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cova adalah misan cowok Flo yang gila. Gila pada hal-hal berbau jawa. Apa pun yang menyangkut pulau Jawa selalu membuat Cova bersemangat. Cova lebih tertarik pada gadis Jawa yang menurutnya ayu dan manis. Bahkan saat ini Cova sedang gencar-gencarnya mendekati Ningsih, gadis Sidoarjo yang ikut orangtuanya yang ditugaskan sebagai kepala bagian personalia di salah satu bank ternama. Bila Cova main ke rumah Flo, maka topik yang dibicarakan hanya seputar Ningsih dan impian Cova untuk kuliah di Jawa. Di kota mana saja, yang penting di pulau Jawa. Kalau sudah begitu, Flo hanya bisa cengar cengir menanggapi niat misannya itu. Namun jauh di lubuk hati Flo, gadis itu menyimpan sesuatu. Rahasia hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Jack dan tante Ratna adalah orangtua Cova. Pak Jack itu kakak lelaki satu-satunya bu Firda, tak heran, pak Jack amat menyayangi bu Firda yang lemah lembut. Kelembutan bu Firda dan keras hati pak Ray menyatu dalam diri Flo. Si hitam manis dengan rambut model shaggy kegemarannya. Berbeda dengan Flo, Cova itu anak tunggal yang cenderung manja dan malas. Namun dirinya selalu menjadi malaikat pelindung Flo. Tubuhnya berotot dan jagoan basket di smu negeri, tempat dirinya dan Flo mengenyam pendidikan saat ini. Pak Ray dan om pak Jack sama-sama pemilik modal dari perusahaan tenun ikat daerah yang terkenal di Ende. Sedangkan bu Firda seorang guru matematika pada sd swasta dan tante Ratna lebih memilih menjadi ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Flo terpaut dua bulan dari Cova. Flo lahir pada bulan Juni dan Cova di bulan April. Hubungan mereka dekat, sedekat anak kembar, kemana-mana selalu berdua, kecuali saat Cova lagi ngincar Ningsih, Flo terpaksa ditinggalkannya. Flo pasrah bila keadaannya seperti itu, soalnya Cova wataknya keras, bila ingin sesuatu harus terpenuhi. Biasanya untuk mengisi kekosongannya tanpa Cova, Flo naik sepeda keliling kota kecil Ende, atau ke perpustakaan. Banyak buku dan novel yang telah dilahapnya, tak heran, otak Flo memang cerdas. Beda dari Cova, cowok itu lebih mementingkan urusan cinta ketimbang pelajaran, maka tak heran bila malam hari Cova tergopoh-gopoh ke rumah Flo, sekedar pinjam catatan atau minta dibikinin pe er. Flo sih mau saja membantu misannya itu, lagian Cova pun sering membantunya. Cova itu ibarat malaikat pelindungnya. Siapa pun yang coba-coba menyakiti Flo, maka akan disakiti Cova terlebih dahulu. Namun kian lama, sesungguhnya hati Flo kian tak dapat melepaskan bayang-bayang Cova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, sebentar lagi keduanya memasuki masa Ebtanas. Dan Cova akhirnya dapat menggaet hati Ningsih. Dengan senyum bangga dipamernya surat cinta dari gadis Sidoarjo yang memang ayu itu saat Flo tengah membantunya mengerjakan pe er matematika.&lt;br /&gt;"Sukses ternyata ..." komentar Flo. Seperti ada yang hilang dari hari-harinya begitu tau Cova telah resmi menjadi pacar Ningsih. Seperti separuh dari hidupnya melayang di bawa pergi Ningsih. Flo mendesah.&lt;br /&gt;"Kok hanya begitu tanggapannya .." tuntut Cova sembari merapihkan anak rambut Flo yang jatuh ke wajah. Flo menepis tangan Cova keras.&lt;br /&gt;"Hei .. sakit tauk ..." protes Cova. Flo tersenyum. Seolah ingin menyembunyikan gejolak hatinya. Dirinya dilanda kemarahan besar, tepatnya cemburu mendengar Cova akhirnya meraih kebahagiaannya bersama Ningsih.&lt;br /&gt;"Biyarin .. kalau dilihat Ningsih, bisa memar saya ditonjoknya. Dah ah, pe er matematika kamu kerjain sendiri, ngantuk!" Flo melenggang santai masuk kamarnya, meninggalkan Cova sendiri di ruang tamu gigit jari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari mendekati Ebtanas Flo berjuang keras mati-matian. Bukan hanya karena ingin meraih nilai terbaik, melainkan agar dirinya bisa sedikit melupakan Cova. Kesal rasanya bila melihat Cova jalan berdua Ningsih di koridor sekolah. Rasa cemburu yang meluap-luap selalu membuatnya tak mampu bersikap manis pada Cova. Hatinya teriris-iris melihat kemesraan keduanya. Perasaan kesal karena orang terdekatnya seolah direbut Ningsih? Atau cemburu tanpa alasan? Flo melengos, cemburu pada Cova, pada misan sendiri, aneh terdengar di telinga. Tapi Flo masih belum bisa meredakan marahnya, cemburunya melihat itu semua. Flo, siapa sih kamu? Hanya saudara sepupu yang tidak ada artinya di depan Cova selain sebagai tempat meminjam catatan dan ngerjain pe er dia. Flo menarik napas panjang. Susahnya bila cinta bertepuk sebelah tangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cova sendiri sebenarnya menangkap gelagat yang ga enak dari Flo, hanya saja cowok itu masih menahan diri untuk tidak bertanya. Untuk apa? Cova mendengus kesal pada sikap Flo.&lt;br /&gt;"Kenapa Va?" tanya Ningsih perhatian. Koridor sekolah nampak lenggang, banyak siswa yang memilih kantin untuk menghabiskan jam istirahat.&lt;br /&gt;"Ga pa pa .. ga pa pa .." jawab Cova. Saat mereka akan berbelok ke lapangan basket, dilihatnya Flo berjalan menuju kelas. Aneh! Cova mencoba berkonsentrasi pada sosok manis disampingnya, namun otaknya masih saja terarah pada sikap Flo.&lt;br /&gt;"Va, bukannya saya mau merusak hubungan saudara antara kamu dan Flo, tapi kayaknya Flo cemburu deh melihat kita." Ningsih berhati-hati sekali memilih kata-kata, takut Cova malah salah menanggapi maksutnya.&lt;br /&gt;"Emang kenapa harus cemburu? Aduh Ningsih, Flo itu misan saya, hubungan kami sebatas hubungan saudara misan. Saya ga mau pikiran kamu teracuni pada hal yang ga benar seperti itu, oke?" ujar Cova panjang lebar. Ningsih hanya bisa tersenyum, manisnya gadis itu sungguh membuat Cova terpikat tanpa syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga minggu Flo menjauhi Cova dan itu membuat cowok itu sengsara. Ga ada tempat buat minjem catatan, ga ada peri yang mau membantunya ngerjain pe er. Apalagi jurusan Ipa yang ruwet. Cova menyesal dulu kenapa memilih Ipa? Dan kenapa pula para guru brengsek itu masukin dia ke kelas Ipa? Apa karena ayahnya termasuk orang terhormat di kota kecil ini? Brengsek! Malam ini Cova berkutat dengan rumus-rumus Fisika yang sumpah bikin bete. Akhirnya dengan langkah pasti cowok ganteng itu memacu motornya menuju rumah Flo. Mengingat motor, Cova tersadar, tiga minggu sudah Flo tak diboncenginya. Tak dijemputnya menuju sekolah dan pulang sekolah. Posisi itu telah digantikan Ningsih, pacarnya. Apa gara-gara itu sikap Flo jadi aneh belakangan ini? Atau apa yang disimpulkan Ningsih benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor Cova memasuki halaman rumah Flo. Pak Ray dan bu Firda, orangtua Flo tengah duduk di teras rumah. Mereka tersenyum senang begitu melihat kedatangan Cova.&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum paman bibi .." ujar Cova sopan. &lt;br /&gt;"Wa'alaikumsalam Cova .. lama ga keliatan kemana saja?" tanya bu Firda. Cova gugup mendengarnya. Ya, kemana saja dirinya? Terbang bersama mimpi indah yang ditawarkan Ningsih? Menghilang dari peredaran keluarga pamannya dengan sukses.&lt;br /&gt;"Uhm, saya banyak kerjaan bi, maklum, bentar lagi kan Ebtanas, banyak yang harus saya isi ke dalam otak hehehe." jawab Cova. Bu Firda manggut-manggut. Kali ini pak Ray berbicara.&lt;br /&gt;"Mau ketemu Flo? Dia lagi nonton tuh. Oh iya Cov, kalau nanti kalian telah selesai Ujian, paman perlu membicarakan sesuatu denganmu." Cova mengangguk mantap.&lt;br /&gt;"Boleh paman. Kalau gitu saya ke dalam dulu, temuin Flo." Cova masuk ke dalam rumah. Lebih ke dalam lagi, Flo lagi asik nonton vcd Doraemon kesayangannya. Cova mendekati gadis itu dari belakang, mengendap-endap trus menutup mata Flo dengan kedua tangannya. Flo terlonjak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heiii siapa nih!" bentak Flo. Namun aroma musk itu menyusup ke dalam ruang batinnya. Itu Cova. Flo melepaskan tangan Cova dari wajahnya dan menoleh.&lt;br /&gt;"Mau apa kemari?" tanya Flo ketus. Jantungnya memompa lebih cepat.&lt;br /&gt;"Kok ketus gitu sih Flo .. ada apa .. saya kesini mau .. biasa, minta tolong." Cova menyodorkan buku pe er Fisikanya ke Flo. Gadis itu ga menanggapi, malah semakin serius nonton Doraemon. Aduh, padahal Doraemon ga memerlukan seluruh tenaga buat ditonton. Cova duduk disamping Flo, ga tau harus ngomong apa. Sikap Flo yang aneh sejak dirinya jadian sama Ningsih membuatnya jadi takut bersikap dan berbicara. Fiko melintasi ruang tivi dengan cangkir ditangan.&lt;br /&gt;"Ehem ehem .. belajar apa belajar nih kak Cova ... hahaha. Fiko ke depan dulu ya, mau ngobrol sama ayah dan ibu." Flo blingsatan mendengar perkataan Fiko barusan. Cova tersenyum hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Flo, please bantuin saya dong .. nanti saya beliin coklat .. mau kan?" bujuk Cova, mencoba mencairkan ketegangan diantara mereka. Flo melengos.&lt;br /&gt;"Coklat? Apa ga bakal bikin Ningsih ngamuk tuh? Beliin buat dia dong, masa buat saya?" tanggapan dari Flo mengagetkan Cova meskipun dari rumah cowok itu telah siap mental pada sikap ketus Flo.&lt;br /&gt;"Flo!! Kenapa sih semua yang saya omongin atau lakukan harus ada hubungannya sama Ningsih?" tanya Cova. Flo mematikan vcd dan televisi dan berniat masuk kamar. Cova menarik tangan Flo hingga gadis itu terjerembab ke sofa dengan keras.&lt;br /&gt;"Apa-apaan sih kamu!!" bentak Flo. Cova menyilangkan telunjuknya di bibir gadis itu. Flo menampik tangan Cova.&lt;br /&gt;"Yang harusnya tanya begitu kan saya Flo. Kamu itu kenapa? Ada apa?" tuntut Cova. Ditatapnya wajah Flo lekat-lekat. Flo membuang pandangan ke arah televisi.&lt;br /&gt;"Jangan liat tivi, liat saya!" hardik Cova. Kristal bening itu mulai menguak di pelupuk mata Flo.&lt;br /&gt;"Ga ada apa-apa. Sini buku pe er kamu, saya kerjakan di kamar, besok ambil di kelas." usai bilang begitu, Flo merampas buku pe er Cova dan secepat kilat melesat ke kamar tanpa mendengar protes Cova lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar Flo menangis. Kristal bening itu melukis garis lurus dan kadang tak beraturan di pipinya yang mulus. Flo menangis. Hatinya teriris. Kenapa perasaan ini harus tumbuh di hatinya? Kenapa pula harus pada Cova? Bukan kepada cowok-cowok lain di sekolahnya? Apa ini akibat dari sikap Cova yang selalu melindunginya? Atau apa? Flo menghapus air matanya dan mulai mengerjakan pe er Cova. Sebenarnya bisa saja dia mencontek dari pe er miliknya yang sudah dikerjaan sejak sore tadi. Tapi gadis itu lebih suka mengerjakan kembali. Pe er itu kemudian diambil Cova di kelas keesokan paginya. Flo menitipkan pe er itu pada Saski, teman sekelas mereka.&lt;br /&gt;"Lalu Flo nya kemana? Pagi-pagi gini masa ke kantin sih? Setiap pagi, bibi saya selalu nyediain sarapan di rumahnya." protes Cova. Saski hanya bisa mengangkat bahu. Cova mendesah kesal. Sikap Flo benar-benar keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, Ebtanas tiba. Flo, seperti dugaan semua orang, lulus dengan nem tertinggi untuk kelas Ipa. Sedangkan Cova lulus dengan nilai pas-pasan dan cenderung ga lulus. Flo tersenyum bahagia saat orangtuanya dipanggil ke depan aula untuk menerima lembar nem, ijazah dan raport. Tiga hal yang akan mendukungnya menuju Surabaya. Gadis itu berencana melanjutkan kuliah di Stiesia Surabaya. Keputusan yang diprotes banyak pihak, termasuk Saski dan beberapa guru. Seharusnya otak brilian membawanya ke fakultas kedokteran seperti kakaknya, Lusi. Tapi Flo telah bulat pada tekatnya. Menjadi sarjana ekonomi dan mengurusi perusahaan keluarga lebih menyemangati langkahnya, ketimbang memilih fakultas mipa atau kedokteran. Lepas dari semua ketegangan itu, di rumah Flo secara mengejutkan dipanggil pak Ray untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Flo, niatmu ke Stiesia sudah pasti?" tanya pak Ray. Flo mengangguk mantap. Sesaat Cova seperti menghilang dari pikirannya.&lt;br /&gt;"Bagus, kalau gitu kita nunggu Cova. Ada hal yang harus ayah bicarakan dengan kalian berdua." Cova?! Flo tersandar lesu. Kenapa harus Cova lagi? Tak berapa lama, Cova muncul dengan tampang amburadul, baju smu yang putih telah berubah warna menjadi grafiti ngawur.&lt;br /&gt;"Ayok, duduk sini Cov." ajak pak Ray. Keduanya duduk dalam diam. Sesekali mata Cova melirik Flo yang diam membisu disampingnya.&lt;br /&gt;"Sebenarnya ini mungkin terlalu cepat. Tapi ayah ga mau tunda lagi, mengingat minggu depan Flo sudah harus berangkat ke Surabaya kalau ga mau ketinggalan ujian masuk." hati Flo berdegup. Cova salah tingkah.&lt;br /&gt;"Cova, Flo .. kalian harus tau rencana kami. Ayah dan om Jack telah membuat kesepakatan, kalian berdua boleh keluar Flores, kuliah di Jawa asal kalian memenuhi satu syarat dari kami." hati Flo tambah ga karuan. Gadis itu terpaku ditempat, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir pak Ray.&lt;br /&gt;"Kalian akan ditunangkan secepatnya hari ini juga. Moment yang bagus bukan? Sama-sama lulus lalu tunangan, kami sebagai orangtua melihat kalian cukup dekat. Sebentar lagi om Jack datang. Ibu-ibu kalian juga pasti sebentar lagi tiba. Membeli cincin untung tunangan dadakan ini rasanya ga terlalu sulit." deg!!! Sampai disitu wajah Flo pucat seketika. Wajah Cova sekeras batu. Flo menunduk dalam-dalam.&lt;br /&gt;"Ayah ke dalam dulu. Kalian ngobrol-ngobrol lah." pak Ray bangkit menuju kamarnya. Tangis Flo pecah saat itu juga. Cova memandangnya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?! Ngapain liat-liat gitu!" bentak Flo. Gadis itu gundah, antar senang, kesal atau marah pada keadaan ini? Seperti dirinya tak laku saja!&lt;br /&gt;"Kamu yang ngapain nangis! Ini ulah kamu kan?!" sembur Cova kesal. Flo melempar Cova dengan bantal. Hampir saja asbak ikutan jadi senjatanya.&lt;br /&gt;"Jangan sekali-kali menghina saya seperti itu! Ingat itu!! Saya mending ga usah kuliah kalau harus begini caranya!" Flo menangis. Rahang Cova gemeretuk. Brengsek!! Perjodohan yang brengsek! Maki Cova dalam hati. So how? Kalau dirinya ga nurutin kemauan keluarga ini, artinya dia ga bisa ikut Ningsih. Ningsih melanjutkan sekolahnya di Surabaya juga. Kalau mau keluar dari Flores, artinya dirinya harus mengikuti kehendak orangtua mereka. Fuck!! Maki Cova dalam hati. Lama mereka terdiam. Lalu Cova bicara.&lt;br /&gt;"Saya setuju perjodohan ini, tapi hanya untuk kebohongan. Kamu setuju? Kita ikuti saja kemauan mereka, toh tau apa mereka sama keadaan kita di sana nanti?!" ide itu tiba-tiba saja melintas di benaknya. Cova seolah mendapat ide penolong. Flo tengadah, manis sekali dia kalau bengong gitu.&lt;br /&gt;"Maksutnya?!" tanya Flo ... mengerti sih, tapi ga percaya.&lt;br /&gt;"Kita setuju saja sama niat orang-orang tua itu. Tapi kita tetap ga ada ikatan apa pun!!" Cova memegang bahu Flo, seolah memaksa gadis itu untuk menyetujui usulnya. Flo, mengangguk. Bimbang. Gamang.&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana kalau kak Lisa tau?" pikiran Flo amburadul. Gadis itu rasanya ingin terjun ke dalam lubang buaya.&lt;br /&gt;"Itu beres. Di depan kak Lisa, kita pura-pura saling cinta ... pokoknya gampang lah!" Cova menjentikan jarinya. Puas dengan ide cemerlang yang datang tiba-tiba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari itu, bersamaan dengan kelulusan mereka, keduanya pun tunangan. Sederhana tanpa ritual macam-macam, cincin tunangan melingkar dengan manis di jari keduanya. Selepas acara tunangan, keluarga Cova pamit pulang, Flo masuk ke kamar dan menangis lagi. Nasib seperti mempermainkannya. Dalam bimbang Flo mulai mengemasi barang-barangnya, surat-surat yang dibutuhkan di Jogja nanti. Demikian pula Cova. Cowok cakep itu memberesi urusannya, ketemuan sama Ningsih dan berjanji untuk berangkat bersama menggunakan satu kapal laut, Titian Nusantara. Flo sengaja meninggalkan dua kardus berisikan barang pribadinya yang nanti akan dikirim pak Ray setelah menetap Surabaya. Hari keberangkatan tiba, Flo menitikan air mata meninggalkan pak Ray, bu Firda, om Jack, tante Ratna juga kedua orang adiknya, Fiko dan Mondan. Km Titian Nusantara bertolak dari Dermaga Ippi Ende menjelang sore hari. Bias matahari senja seperti lukisan hati Flo yang gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;To be continued!!&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-107949381721560492?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/107949381721560492/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=107949381721560492' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107949381721560492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107949381721560492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/03/luv-part-1.html' title='LUV part. 1'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-107870596858986115</id><published>2004-03-08T09:32:00.000+09:00</published><updated>2004-03-08T09:35:53.216+09:00</updated><title type='text'>SEPENGGAL KISAH SEORANG PETUALANG</title><content type='html'>Bimo memandangi orang yang bersileweran disekitarnya. Bungurasih yang ramai, selalu ramai dan tak pernah sepi. Terminal yang berada diluar hiruk pikuk Surabaya namun tetap sibuk ini adalah terminal yang kesekian dari perjalanannya mencari jati diri. Bimo menyulut sebatang rokok dan mulai menghisap dalam-dalam. Paru-parunya dipenuhi asap dan dihembuskan kuat-kuat, sekuat dirinya berjuang mati-matian untuk tidak pulang ke Flores, tempat dimana kehangatan dan canda tawa keluarganya berada. Dimana Ema dan Bapaknya selalu menanti kepulangannya dari perjalanan panjang, yang baru dimulai atau bahkan akan segera berakhir? Bimo mendesah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis cantik lewat di depannya. Pakaian yang tak pantas untuk ukuran perjalanan jauh dengan kendaraan umum apalagi bis antar kota! Rok mini dan baju setengah terbuka. Kaca mata hitam bertengger di rambutnya yang terjuntai bebas di bahu. Rambut yang menutupi mulusnya punggung gadis itu dari sengatan matahari dan mata-mata nakal para sopir dan kondektur. Bimo terkekeh sendiri melihatnya. Seperti sebatang emas di tumpukan pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sesaat selepas gadis itu lewat memori cowok cuek itu melompat pada suatu masa, bagian dari hidupnya, Arini. Oh, berbeda sekali gadis itu dari Arini. Arini yang tomboy dan sama cueknya dengan Bimo dan suka berpetualang juga. Bimo terkekeh lagi. Arini itu gadis berwatak keras yang kadang susah ditebak apa maunya. Sahabat masa kecil hingga dewasa yang menemaninya melewati masa-masa sekolah yang sulit. Arini yang selalu siap bila dibutuhkan bahkan saat Bimo naksir cewek sekelas! Arini siap menjadi mak comblang. Cewek tomboy itu telah menjadi saudari tersayangnya meskipun kadang Bimo berlaku cuek dengan keberadaannya. Namun Arini yang juga cuek tak peduli, bagi Arini, Bimo pun saudara yang mengerti keadaannya. Yang juga siap membantunya bila dia butuh pertolongan. Arini sekarang sedang apa? Bimo tersenyum nakal. Hampir 6 bulan mereka tidak bertemu, apakah saudarinya itu telah menikah? Membayangkan Arini menikah dan memakai kebaya Bimo terkekeh lagi, lebih keras dan lebih lepas, sampai beberapa pasang mata menatap aneh kepadanya. Sebodo lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Bimo berniat menuju Yogyakarta. Kata orang kota pelajar dan penuh gadis-gadis cantik meskipun banyak yang sudah tidak gadis lagi. Sebelum Surabaya, Bimo sempat lama di Kupang, menjelajahi ibukota Propinsi NTT yang berdiri diatas pulau karang, Timor. Setelah Kupang, dengan ketidaksengajaan Bimo mengenal pak tua yang mengajaknya ke Sumba. Di Sumba Bimo tinggal di perkampungan para Rambu dan Umbu yang khas. Dengan kuda-kuda Sumba yang bergerak bebas setiap harinya di savana, padang rumput hijau yang terbentang luas. Bahkan Bimo sempat menjadi guru Bahasa Inggris untuk para bocah desa yang ingin sekali mempelajarinya dikarenakan bertebarannya wisatawan asing di situ. Sedikit uang yang didapatnya, cowok petualang ini pamit melanjutkan perjalannya menuju Denpasar menggunakan kapal laut dari Pelabuhan di Waingapu, Sumba Timur. Turun di Benoa, Bimo memulai perjalanan barunya di pulau Dewata dengan modal nekat dan cuek. Ringan, tanpa beban. Entah keberuntungan mungkin selalu menaunginya, dengan mudah pula dia dapat bekerja sebagai guide paruh waktu untuk sebuah agen wisata. Lumayan, dengan hasil menabung selama dua bulan, Bimo melanjutkan perjalanannya menuju Perak - Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya Bimo ke tempat temannya yang kuliah di kota buaya ini. Teman masa sma-nya yang paling Gila, si Tolip. Tolip sendiri kaget melihat kedatangan sahabatnya itu. Mereka menyusuri jalan-jalan Surabaya yang ramai di siang hari dan sepi di tengah malam dengan cerita masa lalu yang heboh. Mendengar cerita Bimo dari satu daerah ke daerah lainnya, sempat Tolip bertanya,&lt;br /&gt;"Sampai kapan?" pertanyaan yang selalu dielitnya. Ya, sampai kapan? Sebenarnya dirinya sedang mencari apa? Jati diri? Oh .. yah, jati diri.&lt;br /&gt;"Sampai ja'o menemukan jati diri, seperti apa bentuknya ... mungkin sampai Jakarta, mungkin sampai Batam .. who knows?" jawab Bimo santai. Dirinya sendiri waktu itu tak tau, sampai kapan petualangannya berakhir. Barangkali sampai dirinya sendiri sudah tak sanggup menahan rindu pada Flores? Bimo menggeleng ... entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas mas .. mau ke Jogja? Ayok mas, bis saya sebentar lagi berangkat!" seorang kondektur, sopir atau calo bis? Mengajaknya ikut bis, biasa, bukan patas. Bimo tersadar dari memo perjalananya dan tersenyum.&lt;br /&gt;"Nanti aja pak, belum niat berangkat, masih suka disini hehehe." jawab Bimo santai. Si bapak malah ikutan duduk disamping Bimo, menatap penat pada keramaian Bungurasih.&lt;br /&gt;"Rokok mas?" bapak tadi mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro dan menawarkannya pada Bimo. Cowok ini menyambut dengan sopan.&lt;br /&gt;"Terima kasih pak. Gimana pak, setiap hari makin ramai yah?" tanya Bimo sekedar berbasa basi.&lt;br /&gt;"Oh .. penumpangnya? Ya begitulah mas. Selalu ramai, ada saja orang yang melakukan perjalanan dengan bis, keuntungan buat kita kan? Kalau tau dulu saya bakal jadi sopir bis, kan nggak usah sekolah tinggi sampai dapat gelar sarjana .." pandangan mata bapak itu menerawang, entah kemana. Bimo ikut menerawang. Sekolah tinggi, namun hanya jadi sopir bis. Itu lah hidup!&lt;br /&gt;"Saya malah hanya tamatan smu pak." seru Bimo. Si bapak menoleh dan tersenyum bijak.&lt;br /&gt;"Nggak pa pa toh biar pun hanya lulusan smu, yang penting dalam hidup ini akhlak loh mas, bukan sekolahnya ... percuma juga sih sekolah tinggi-tinggi kalau akhlaknya tetap kayak penyu." ujar si bapak sambil menghembuskan asap rokok jauh-jauh. Bimo mengangguk-angguk. Kata-kata bapak itu betul. Seperti si Mahfut, temannya di Flores. Sekolah tinggi, pulang kampung malah jadi pemabuk dan penjudi, bahkan sempat jadi bandar sabu-sabu dan ditahan di sel. Bimo tersenyum mengejek. Buktikan dong kalau ijazah bisa bermanfaat! Apalagi untuk orang kecil seperti kita ... Bimo menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah mas, kalau gitu saya jalan dulu. Sampai ketemu." ujar si bapak sambil menawarkan satu batang rokok lagi pada Bimo. Bapak tersebut langsung cabut. Sampai ketemu ... kapan bisa ketemu lagi? Kalau dunia memang betul-betul hanya selebar daun kelor, pasti ketemu. Batin Bimo dalam hati. Bimo bangkit. Jalan-jalan keliling, melemaskan otot-otot kakinya dan mulai mencari-cari, bis mana yang segera berangkat, tanpa perlu menunggu lagi. Bis bapak tadi? Ah, bis itu masih saja berhenti di depan sana. Nanti saja lah berangkatnya, batin Bimo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimo masuk ke ruang tunggu, duduk santai disana sambil memperhatikan siaran televisi kecil 14" yang kabur di pojok ruangan. Dibelinya sebotol coca cola dan kembali duduk. Disampingnya duduk sepasang suami istri senja, dengan wajah cemas dan panik. Di depannya, agak jauh, nampak tulisan wartel. Sebenarnya ada keinginan untuk menelepon ema dan bapak di Flores setelah 6 bulan ini sama sekali tak kasih kabar. Perlukah? Perlukah orangtuanya tau dimana dia berada, masih hidup atau sudah mati, masih ingin berpetualang atau akan menyudahi? Bimo menggeleng sendiri, tidak. Untuk saat ini, tidak. Bimo masih belum mencapai Jakarta! Masih belum menemukan sebentuk jati diri yang dicarinya selama ini. Belum bisa membuktikan pada orangtua dan keluarganya kalau dirinya yang selama ini dianggap anak sombong keluarga ternyata mampu hidup mandiri, mampu menjaga diri mengelilingi sebagian Indonesia tanpa uang. Tanpa fasilitas orangtua yang selalu mendukungnya di Flores. Bimo ingin membuktikan itu. Dengan apa? Dirinya saat ini hanya seorang petualang biasa yang miskin dengan duit pas-pasan di dompet, cukup untuk perjalanannya sendiri. Bila duit itu habis, Bimo harus pandai mencari kerja paruh waktu agar bisa mendapat duit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adik mau kemana?" tiba-tiba pak tua bertanya. Pada dirinya kah? Bimo menoleh.&lt;br /&gt;"Saya pak?" tanya nya sopan. Pak tua mengangguk.&lt;br /&gt;"Iya .. adik mau kemana?" ulang pak tua yakin.&lt;br /&gt;"Oh, ke Jojga pak, tapi entahlah .." jawabnya asal.&lt;br /&gt;"Ke Jogja? Kami juga mau ke Jojga." sambung pak tua lagi. Satu tujuan dong, batin Bimo.&lt;br /&gt;"Pulang ke Jogja ya pak?" gantian Bimo yang bertanya.&lt;br /&gt;"Bukan, bapak dan ibu mau melihat anak yang kecelakaan kemarin di Jogja. Kasihan, waktu mau berangkat kuliah ketabrak ojek. Ibu dari kemarin nangis terus, takut anak kami kenapa-kenapa di sana. Namanya juga orangtua ya dik, pasti khawatir sama keadaan anak. Padahal anak kami yang satu itu paling bandel! Minta ampun deh kurang ajarnya sama orangtua...." Bimo seperti mendengar bapaknya sendiri yang berbicara. Orangtua ... namanya juga orangtua. Seperti itu juga kah kekhawatiran ema dan bapaknya di Flores? Melihat wajah ibu tua yang cemas, panik dan sedih, hati Bimo tersentuh. Seperti itu kah wajah ema? 6 bulan ini, bagaimana kah kabar mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimo seperti mendapat guru yang paling berharga di dunia. Pak tua ini seolah membuka matanya tentang kasih sayang, cinta dan perhatian orang tua terhadap anak. Bimo masih ingat wajah ema waktu dia mengutarakan maksutnya pergi. Bapak hanya diam dengan wajah membeku. Bimo menarik napas panjang. Beruntunglah pak tua dan istrinya, masih tau dimana keberadaan anak mereka. Alamatnya pasti jelas. Sedangkan dirinya? Orangtua yang masih tau dengan jelas keberadaan anaknya saja nampak khawatir seperti itu, bagaimana dengan orangtuanya? Bapak dan ema hingga saat ini tidak tau dimana dirinya berada, sedang apa, masih hidup atau? Bimo berperang melawan kata hatinya sendiri. Haruskah petualangnya berakhir sampai disini? Berakhir setelah sepasang suami istri senja ini bertutur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egonya mulai mencuat. Kalau pulang, artinya Bimo tidak mampu membuktikan dirinya mampu, mampu hidup tanpa orangtua, mampu menaklukan kota-kota yang dijelajahinya. Namun kalau tidak pulang, Bimo akan menyusahkan hati orangtuanya, orangtua yang selalu khawatir, itu pasti, tentang keadaan dirinya. Bimo tersentak sendiri. Dirinya harus pulang. Jangan mempertaruhkan nasib lagi, jangan berpetualang lagi, untuk apa? Untuk jati diri yang selalu dicarinya? Toh bentuk jati diri itu seperti apa Bimo tak tau. Untuk pembuktian dirinya mampu? Untuk apa? Toh lebih bagus lagi bila bisa membuktikan dirinya mampu, di depan orangtua. Untuk menuruti darah muda dan ego mudanya? Batin Bimo berseteru sendiri. Pelan-pelan dia berdiri, pamit pada sepasang suami istri senja itu, melangkah keluar terminal. Pulang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinaikinya bis menuju terminal Bratang. Turun di Bratang Bimo berjalan kaki menuju kost Tolip di daerah Menur. Lumayan dekat sih jaraknya. Disana Tolip kembali kaget melihat kedatangan sahabatnya.&lt;br /&gt;"Hoi!!! dua hari ngilang, kemana saja? Jadi ke Jogja seperti niatmu?" tanya Tolip saat Bimo tengah melepas penat di atas kasur tipis. Bimo menggeleng.&lt;br /&gt;"Ja'o mau pulang. Ke Jogja bisa kapan-kapan. Cukup sudah Lip. Ja'o harus pulang ... " hanya itu yang diucapkan Bimo, dia hampir tertidur.&lt;br /&gt;"Tidak ada yang mencari ja'o kan?" tanya Bimo lagi, matanya berat.&lt;br /&gt;"Tidak ada .. selama ini memang tidak ada." jawab Tolip. Jawaban terakhir yang didengar Bimo sebelum dirinya benar-benar tertidur! Pulas! Semua mimpi yang selama ini seolah menjauhinya seakan datang bertubi-tubi menghiasi mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Bimo pamit pada Tolip.&lt;br /&gt;"Kemana? Kembali ke Bungurasih? Jadi ke Jogja nih?" tanya Tolip. Bimo menggeleng mantap.&lt;br /&gt;"Tidak, ja'o mau pulang ke Flores, ja'o rindu Ende .. " jawab Bimo.&lt;br /&gt;"Oh, baguslah! Eja, akhiri saja semua omong kosong ini." ujar Tolip.&lt;br /&gt;"Ya .. oke, ja'o mau ke Perak dulu. Kalau Kirana pas mau berangkat, ja'o tidak kembali ke sini, oke?" mereka toz diudara dan berpelukan. Bimo meraih ransel kecilnya trus menuju jalan besar. Mencari angkot disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali ganti angkot Bimo akhirnya sampai juga di Perak. Beruntunglah saat itu km Kirana nampak dari kejauhan. Bimo berlari kecil menuju kapal, mencari-cari sopir ekspedisi yang mungkin dikenalnya. Bila ikut truk ekspedisi, Bimo tak perlu membayar, paling juga dua puluh ribu untuk si sopir. Sayang, tak satu pun sopir ekspedisi yang dikenalnya. Bimo duduk lesu. Memperhatikan satu per satu truk ekspedisi yang masuk ke kapal. Sampai kemudian bahunya ditepuk seseorang. Bimo menoleh.&lt;br /&gt;"Hei ..." sapa cowok itu.&lt;br /&gt;"Mau ke Ende?" tanya cowok itu. Bimo mengangguk.&lt;br /&gt;"Ikut saya saja, saya baru membeli mobil. Jual beli mobil Ende - Surabaya menguntungkan. Kalau mau, ya ikut saya saja. Kebetulan saya sendiri." seperti mendapat angin segar, Bimo mengiyakan. Diikutinya cowok tersebut ke dalam kapal, menuju kijang baru yang diparkir paling depan, tertutupi bodi truk yang seperti raksasa. Mereka terlibat obrolan panjang seputar jual beli mobil. Sampai pada obrolan tentang satu tenaga kerja yang dibutuhkan oleh cowok tersebut.&lt;br /&gt;"Yaaa ... biar saya punya teman lah kalau lagi ke Surabaya, kamu mau? Untungnya lumayan lah, kamu dapat lebih dari gaji pns golongan tiga di Ende, hahahaha ... Ini kartu nama saya." cowok itu memberikan satu kartu nama. Bimo mengenal jalan tempat cowok itu tinggal. &lt;br /&gt;"Nanti saya hubungi, pasti itu. Thanks yah atas tumpangannya." kata Bimo.&lt;br /&gt;"It's oke lah .. ke atas yuk, cari bangku .." mereka naik tangga menuju dek dua dan menemukan jok kosong di ruang penumpang satu. Bimo hanya bisa bilang Alhamdulillah atas kemurahan hati Allah atas keberuntungan yang selama ini selalu menaunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48 jam km Kirana membelah lautan menuju pelabuhan Ippi - Ende. Sepanjang perjalanan Bimo lebih suka duduk di dek paling atas, yang dilengkapi bangku-bangku kayu untuk duduk dengan satu teropong ditengahnya. Bimo menatap pulau-pulau hijau yang dilewati kapal. Pemandangan yang indah. Saat melewati Sumba, Bimo tersenyum mengenang hari-harinya di desa kecil Rambu dan Umbu. Bimo tersenyum senang. Saat 1 jam mendekati pelabuhan Ippi, km Kirana melewati pulau Ende, memutar di belakang gunung meja, kemudian meluncur mulus menuju pelabuhan Ippi. Hampir subuh saat Kirana betul-betul merapat di pelabuhan. Khas .. suasana yang khas membuat Bimo terharu. Ema, bapak, Bimo pulang ... Bimo mengucapkan terima kasih sekali lagi pada cowok yang telah memberinya tumpangan dan berjanji akan menghubungi cowok itu lagi, kemudian melesat turun, meloncati anak tangga dengan perasaan senang. Ini lah Ende, kampung halamannya ... Hari masih subuh, Bimo duduk santai lagi di pelabuhan, menikmati satu telur rebus dan sebotol coca cola yang dijual ine-ine bersarung. Nikmatnya menghirup udara Ende yang bersih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat matahari mulai nampak, kesibukan pelabuhan masih terlihat, masih banyak truk-truk besar yang belum masuk ke kapal dengan tujuan Kupang. Bimo meninggalkan pelabuhan, mencari ojek, pulang ke rumah. Rumah itu masih berdiri dengan gagahnya di tengah perkampungan yang masih sepi. Bimo menggedor pintu rumah. Ema pasti sudah bangun. &lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum ..." teriak Bimo, dari dalam terdengar langkah kaki. Pelan tapi pasti mendekati pintu.&lt;br /&gt;"Wa'alaikumsalam ..." pintu terkuak, ema berdiri terpaku menatapnya.&lt;br /&gt;"Ema ..." Bimo meraih tangan perempuan tua itu, dan menciuminya dengan segumpal rindu di dada. Mata Ema berkaca-kaca, menarik Bimo ke dalam pelukannya.&lt;br /&gt;"Pergimu lama sekali Bimo .. lama sekali, sampai bapak tak sanggup menunggu dirimu tanpa kabar berita." Bimo tersentak. Jantungnya bagai dipalu. Bapak?&lt;br /&gt;"Bapak .. bapak kenapa ema?" tanya Bimo tak sabar. Ema menarik tangannya, mengajaknya ke kamar ema dan bapak, duduk di atas pembaringan.&lt;br /&gt;"Bapak telah pergi dua bulan yang lalu Bimo ..." Bimo menangis! Seperti akhir dari segalanya, persendian tubuhnya melemah. Tak pernah terbersit di pikirannya bila pulang telah menjadi yatim. Tak pernah diduga kalau bapak tercinta akan pergi secepat ini, disaat dirinya tengah berada jauh, berpulau-pulau dari Flores, mencari sesuatu yang sampai kini tak dapat ditemuinya, tak dapat dibuktikannya! Bimo menangis dalam pelukan ema, bahunya tergoncang, jiwanya tergoncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gundukan tanah itu tak merah lagi. Bunga-bunga kering menghiasinya. Bimo duduk disamping ema, memegang buku yassin. Duduk dengan mata basah, tersedu-sedu. Dalam setiap do'anya, air mata terus menetes. Bapak pergi terlalu cepat! Dirinya bahkan belum membuktikan apa-apa. Bimo menangis, bukan menyesali petualangnya yang berakhir kesedihan seperti ini, bukan untuk semua jalan yang telah ditakdirkan sang Khalik, namun untuk kepergian bapak yang terlalu cepat. Terlalu cepat, Bimo belum bisa membuktikan apa-apa ... nothing ... Bimo menangis lagi. Ema memeluk pundaknya, menenangkan hatinya yang goncang. Saat mereka masih disitu, selesai membaca Yassin, saling bercerita, dari kejauhan nampak seorang cewek dengan tampang konyol, kaos oblong dan jeans kedodoran. Itu Arini.&lt;br /&gt;"Bimo jahaaaattt!!!!!!!! huhuhuhu ..." Arini bersimpuh di samping ema, menangis disitu. Bimo mengusap wajahnya sendiri, menarik Arini duduk bersamanya.&lt;br /&gt;"Ja'o memang jahat, tapi beri ja'o kesempatan sekali lagi, membuktikan pada ema dan almarhum bapak, padamu juga, kalau ja'o bisa menjadi sesuatu. Sesuatu yang ja'o cari selama ini ... Tapi semua itu akan ja'o buktikan di sini, bukan di tempat-tempat asing ..." ujar Bimo tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga pulang dengan sejuta perasaan berkecamuk di hati. Dari kejauhan lantunan Eagles merasuk ke jiwanya.&lt;br /&gt;I was standing all alone against the world outside, You were searching for a place to hide, Lost and lonely now you given me the world to survive, When we're hungry love will keep us alive, Don't you worry sometimes you've just gotta let it ride, The world is changing right before your eyes, Now I've found you there's no more emptiness inside, When we're hungry love will keep us alive ... I would die for you climb the highest mountain, Baby there's nothing I wouldn't do ... Love will keep us alive ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, perjalanannya mungkin berakhir, tapi petualangannya terhadap hidup sendiri masih akan terus berlanjut. Hope love will keep us alive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;tootyee, 24 Februari 2004&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6475665-107870596858986115?l=cerpentuteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/feeds/107870596858986115/comments/default' title='Commenti sul post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6475665&amp;postID=107870596858986115' title='0 Commenti'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107870596858986115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6475665/posts/default/107870596858986115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpentuteh.blogspot.com/2004/03/sepenggal-kisah-seorang-petualang.html' title='SEPENGGAL KISAH SEORANG PETUALANG'/><author><name>Tuteh</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6475665.post-107821493348236978</id><published>2004-03-02T17:08:00.000+09:00</published><updated>2004-03-02T17:11:50.623+09:00</updated><title type='text'>OH LIFE, SO BEAUTIFULL</title><content type='html'>Manda memacu sepeda federal metaliknya penuh semangat. Kegiatannya setiap pagi setelah sarapan secangkir kopi adalah memacu sepeda birunya itu dengan semangat hidup tinggi menuju toko buku yang terlekat di dekat pasar buah. Toko buku mungil itu nampak mencolok karena merupakan satu-satunya toko buku di tengah pasar buah. Cewek dengan rambut berkepang dua itu setiap harinya berkerja dengan mengelola toko buku mungil peninggalan bundanya. Bunda yang sebelum meninggal mewasiatkan semua miliknya kepada Manda. Rumah Manda yang dibeli ayah atas nama dirinya saat ini dikontrakan kepada suami istri pekerja yang jatuh hati sama model rumah yang sedikit kuno dan dekat dengan tempat kerja mereka. Manda setuju mengontrakan rumah itu, lagian dia sendiri capek kalau harus mengurusi rumah sebesar itu. Sebagai gantinya, Manda menyewa satu kamar kost besar yang punya kamar mandi nya sendiri. Biar lebih privacy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manda sendiri telah ditinggalkan ayah tercinta saat masih berumur lima tahun. Untunglah, sebelum meninggal ayah telah membeli tanah beserta rumah atas nama putri tunggalnya, Manda. Bunda, setelah ditinggal pergi ayah harus bekerja sendiri membanting tulang dengan mengelola toko buku mungil di pasar buah. Bunda wanita yang ulet, mampu membesarkan dan mendidik Manda dengan kedua tangannya sendiri, tanpa bantuan keluarga. Mengingat saat menikah dulu, ayah memberontak dari keluarganya. Pihak kakek nenek (dari ayah) tidak menyetujui ayah menikahi bunda. Dengan alasan bunda berasal dari kalangan rendah, rakyat biasa yang tidak memiliki harta sama sekali. Mereka mempunyai pilihan sendiri untuk ayah, wanita yang masih saudara jauh ayah, yang memiliki perusahaan sendiri. Untunglah, sebagai pegawai negeri, gaji pensiun ayah tidak sedikit. Setiap bulannya Manda mengambil gaji pensiun ayah dan ditabung, hidupnya dapat berjalan dari keuntungan toko buku. Biaya hidup untuk satu orang memang kecil, Manda sanggup menghidupi dirinya sendiri setelah bunda akhirnya pergi meninggalkannya dua bulan sebelum dirinya tamat smu. Manda sendiri tidak punya keinginan untuk kuliah. Lebih suka mengelola toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oma opa dari pihak bunda, yang berada di Ujung Pandang telah berkali-kali memanggilnya pulang. Merek tau, di kota metropolis mana mungkin cucu mereka mendapat perhatian dari pihak keluarga ayah. Namun Manda bersih keras tetap tinggal di dalam hingar bingarnya metropolis. Berusaha menghidupi dirinya sendiri. Dia berjanji, bila saatnya nanti sudah tidak mampu menghidupi dirinya lagi, dia bakal pindah ke Ujung Pandang dan harus kuliah di sana, seperti perintah opa. Setiap bulannya, opa dan oma masih mengirimkan uang untuk Manda. Karena bunda adalah seorang putri tunggal juga, maka opa dan oma merasa wajib mengirim sejumlah nominal setiap bulannya. Semuanya ditabung oleh cewek dengan rambut berkepang dua itu. Kalau belum butuh, mending uangnya ditabung saja, begitu selalu kata hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini Manda datang lebih dahulu. Toko bunga bu Intan yang terletak di depan toko bukunya belum buka. Demikian juga dengan toko bunga pak Atmo dan mbak Heli. Manda tersenyum lega. Selalu diingatnya kata bunda, bangunlah sebelum ayam berkokok, bukalah toko sebelum orang lain membuka toko mereka dan jangan lupa berdo'a. Manda tersenyum puas. Dibukanya pintu toko mungil itu, mulai menata buku-buku sesuai kelompoknya masing-masing. Buku masakan, buku cerita anak-anak, novel dan majalah. Sepuluh menit pekerjaannya telah selesai. Manda masih menunggu warung dekat pasar bunga buka. Kalau di rumah Manda hanya sarapan dengan secangkir kopi, di pasar Manda terbiasa sarapan nasi campur pinggir jalan yang rasanya lumayan enak. Hidup mandiri begitu, ngapain susah kan? Diletakkan ransel ke dalam laci meja dan duduk santai sambil denger radio. Kegiatan rutinnya setiap pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasyikannya mendengar radio terganggu saat bu Intan datang.&lt;br /&gt;"Halo non Manda!!" sapa bu Intan ramah. Manda menyukai wanita bertubuh gemuk ini. Orangnya ramah dan suka berbagi. Apa saja yang dipunyainya pasti dibagi untuk Manda. Dulu semasa bunda masih hidup, bu Intan adalah teman dekat bunda. Saling berbagi adalah kegiatan kedua ibu itu sebelum pasar mulai ramai.&lt;br /&gt;"Pagi bu Intan! Semoga hari ini ramai yah ..." jawab Manda sopan. Bu Intan tersenyum bijak sambil membuka pintu toko bunganya.&lt;br /&gt;"Insya Allah, amiennnn hehehe." balas bu Intan tulus. Manda kembali mendengarkan radio. Lalu mulai bermunculan mbak Heli dan pak Atmo. Juga pedagang bunga lainnya. Well, meskipun mereka berusaha di bidang yang sama, rejeki siapa yang tau kan? Kecuali Manda, dia betul-betul beda usaha. Pasar mulai ramai dengan celoteh para pedagang. Warung dekat pasar pun mulai nampak aktifitasnya. Manda memegangi perutnya yang kriuk kriuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Manda hendak memesan nasi ke warung itu, mbak Heli menghampirinya dengan dua rantang makanan.&lt;br /&gt;"Manda, nih mbak bawakan nasi kuning dari rumah. Enak loh hehehe. Bikinan emak di rumah. Cobain yah! Ga usah beli nasi di depan dulu." Manda tersenyum haru. Orang-orang ini, yang berada di sekelilingnya adalah orang-orang sederhana namun berhati mulia. Manda menerima rantangan berisi nasi kuning plus lauknya dari tangan mbak Heli.&lt;br /&gt;"Wah, makasih banget yah mbak hehehe. Manda sih ga bisa bawa beginian dari kost. Di sana hanya ada kopi dan gula hahaha." mereka tertawa. Tak berapa lama bu Intan gabung di depan toko buku Manda, ngobrol ngalor ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ketiganya lagi serius ngobrol tentang apa saja, munculah beberapa pria, pria muda berpakaian necis ke situ. Mbak Heli langsung menyikut Manda.&lt;br /&gt;"Man, yang tengah cakep loh, masih muda lagi hihihi ..." mbak Heli cekikikan. bu Intan meng-iya kan. Manda mengalihkan perhatiannya dari nasi kuning ke pria muda itu. Tinggi, hidungnya mancung dengan pakaian resmi yang bagus. Terlalu pagi untuk membeli bunga, begitu batin Manda. Sesaat mata Manda dan pria itu bersirobok, pria itu menatap tajam ke arah tokonya! Toko buku mungilnya. Pria itu menghampiri mereka. Mbak Heli tersenyum manis.&lt;br /&gt;"Selamat pagi. Maaf pagi-pagi saya mengganggu. Apa ada yang tau siapa pemilik toko buku ini?" tanya pria itu sopan. Tutur katanya manis. Dari cara dia berbicara nampak kalau dia terbiasa berbicara di depan umum. Tidak grogi dan sangat sangat tenang.&lt;br /&gt;"Saya." jawab Manda mantap. Diletakannya rantang di meja toko. Lalu kembali menjumpai pria itu.&lt;br /&gt;"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Manda tak kalah sopan. Well, meskipun dirinya bukan anak kuliahan, namun kesopanan dan tata cara berbicara selalu diterapkannya dengan baik. Ajaran bunda tercinta.&lt;br /&gt;"Oh.. kamu?" tanya pria itu tidak percaya. Manda menggangguk mantap.&lt;br /&gt;"Iya, saya pak. Ada apa?" tanya Manda. Hatinya mulai terasa tidak enak. Gelagat pria di hadapannya ini bukan seperti pembeli yang mencari novel picisan atau majalah lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu duduk di bangku plastik. Manda ikutan duduk. Pria ini membuatnya resah bukan main.&lt;br /&gt;"Uhm, maaf, nama kamu bu Wisnu?" tanya pria itu. Bu Wisnu adalah panggilan untuk bunda di pasar bunga. Diambil dari nama ayah, Wisnu Duarta.&lt;br /&gt;"Bukan, saya Manda, anak bunda. Bunda telah meninggal dan saya lah yang mengelola toko buku ini." jawab Manda sesantai mungkin. Dia tak ingin pria di hadapannya tau kalau hatinya sedang berdegup kencang. Bukan karena si pria yang gentle, namun takut, ada apa dibalik semua ini.&lt;br /&gt;"Oh .. baiklah. Saya orang baru." pria itu mengulurkan tangannya, disambut Manda. Ya taulah dirimu orang baru, batin Manda. Teman-teman pria itu entah menghilang kemana. Mencari bunga atau ...&lt;br /&gt;"Uhm, mungkin kamu ga kenal saya, saya saudara sepupu kamu." Manda tersentak! Saudara sepupu? Dari mana kah datangnya? Mata Manda membulat tak percaya. Terbiasa hidup sendiri sebagai anak tunggal tanpa saudara, apalagi saudara sepupu, itu membuat jantung Manda seolah dipacu lebih cepat.&lt;br /&gt;"Sepupu?!!!!!!!!!!!!!!" hampir saja Manda berteriak. Entah karena senang atau lebih tepatnya kaget.&lt;br /&gt;"Ya, saya anak Heru S. Duarta, kakak ayah kamu." dunia seolah berputar. Hidupnya yang tenang seolah dirusak ribuan kumbang. Manda memang tak tahu menahu soal keluarga ayah. Kata bunda dulu, tak usah mencari sanak saudara dari pihak ayah, mereka tidak mau mengenal kita. Mereka memiliki hidup papan atas yang lain dari kita. Ayah hanya pegawai negeri biasa yang meninggal di usia muda. Ayah lebih memilih menjadi pegawai negeri biasa yang diperintah atasan ketimbang menjadi direktur salah satu perusahaan kakek. Jadi, Manda memang tidak tahu menahu soal Heru S. Duarta juga soal kakek neneknya yang dikenal lewat foto. Ah, foto itu pun rasanya sudah raib.&lt;br /&gt;"Saya Wisnu." Manda kembali dibikin kaget. Wisnu? Otak Manda belum mampu dipaksa berpikir. Dari mana mereka tahu soal kami? Soal bunda? Soal toko buku ini? Manda bengong.&lt;br /&gt;"Hei, jangan bengong gitu dong. Saya lega, akhirnya bisa menemukan toko buku ini juga. Tadi pagi-pagi sekali saya ke rumah paman Wisnu, namun suami istri yang tinggal disana mengatakan kalau rumah itu telah dikontrak mereka dan pemiliknya tinggal di sebuah kost. Saya ke tempat kost kamu, namun kamu ga ada. Kata pemilik kost, setiap pagi kamu sudah ke toko buku. Saya kesini, awalnya saya langsung tau, kamu pasti Manda, anak paman Wisnu, tapi saya pura-pura menanyakan soal bu Wisnu, bibi saya." Manda tambah bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hal yang tidak diduga olehnya sama sekali. Bertemu sanak saudara dari pihak ayah. Malah anak dari pamannya sendiri. Lebih mengherankan lagi, dia diberi nama persis nama ayah, ditambahi S, Sosial Duarta. Wisnu S. Duarta. Manda memandang lekat-lekat wajah gentle dihadapannya. Dunia memang selebar daun kelor.&lt;br /&gt;"Saya cari kamu, dipanggil kakek." itu kata-kata yang paling tidak ingin didengarnya. Kakek memanggilnya? Kakek yang pernah menghina bunda? Kakek yang selama ini telah membuang ayah dari hidup mereka yang bergelimang harta?&lt;br /&gt;"Untuk apa? Apa saya harus percaya kamu adalah saudara sepupu saya? Apa saya harus percaya saya dipanggil kakek? Saya memang tau, saya memiliki kakek dan nenek yang tidak merasa memiliki saya. Mereka menolak ayah dan bunda. Saya sendiri tidak tau kalau ayah memiliki berapa saudara? Berapa adik? Berapa kakak? Saya bingung." jawab Manda. Pria itu tersenyum.&lt;br /&gt;"Kamu boleh tidak percaya bahkan mengingkari kakek dan nenek, juga papa saya dan saudara paman Wisnu yang lain. Tapi darah Duarta mengalir dalam tubuh kamu dan itu ga bisa kamu pungkiri." kata Wisnu tajam. Setajam matanya yang menikam bening bola mata Manda.&lt;br /&gt;"Saya tidak mengingkari mereka! Tapi mereka lah yang mengingkari kami! Mengingkari ayah, bunda dan saya!!!!! Saya mohon, pergi saja dari hadapan saya, pergi jauh dari hidup saya yang tenang ini." Manda meneteskan air mata. Hatinya teriris-iris. Ini luka masa lalu yang berdarah kembali. Luka ayah dan bunda, lukanya juga. Manda masuk ke dalam toko, duduk di kursinya, telungkup di meja dan menangis. Suara berita di radio terdengar. Manda tak peduli, dunianya seolah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Intan, mbak Heli dan pak Atmo yang diam-diam menyaksikan tontonan gratis itu menghampiri Wisnu. Entah apa yang mereka bicarakan, Wisnu kemudian pulang bersama beberapan temannya. Teman? Atau bodyguard? Manda tak peduli. Dia menangis. Bu Intan menemaninya di dalam toko. Membelai lembut kunciran rambutnya dan berusaha menenangkannya. Manda masih terus menangis. Sampai dirasakannya air mata seolah bosan keluar, Manda mengangkat muka. Dipandangnya bu Intan yang baik hati itu. &lt;br /&gt;"Bu .. saya ga tau harus bilang apa. Mereka tiba-tiba datang
